
"Tidak mau. Robert mau disini saja dekat Via."
"Ash anak itu.."
"Sudahlah sayang biarkan mereka." Papa Robert mencoba menenangkannya.
"Dia tidak bisa lepas sedikit dari Via, Pa." Keluh mama Robert.
Robert seakan tak memperdulikan orang tuanya, malah terus mengajak Livia untuk berbicang, "Kapan kau akan menyelesaikan masa magangmu ?"
:"Bulan depan. Sekarang uda 2 bulan aku berada disana."
Robert menatap orang tuanya, "Begitu kau selesai masa magangmu. Aku ingin menikahi Livia." Ucapannya membuat ketiga orang disana terbatuk-batuk saat mendengarnya
"Tidakkah terlalu cepat ?" Livia menatapnya.
"Bagus..Mama sangat setuju." Mama Robert memeluk Livia. "Mama mau kau jadi anak sekaligus menantu mama."
Robert kembali melanjutkan acara makannya, "Tidak juga. Lagi pula kita sudah berpacaran sejak SMA lalu menjelang aku dan kau mau kuliah kita harus purus, lalu sekarang ketika aku dipertemukan lagi denganmu. Aku tidak ingin jauh lagi darimu. Memangnya kau tidak mau menikah denganku ?"
Siapa wanita mana yang tidak ingin segera menikah dengan orang yang dicintainya ?
Tapi, ia masih terlalu muda.
Masih harus menyelesaikan 2 laporan OJT (On The Job Training) dan Skripsi dalam satu semester.
Masih ada masalah perusahaan papanya yang belum terselesaikan ?
Dia tidak bisa menikah dengan keadaan yang seperti itu.
Livia takut..
Takut jika ia tidak bisa fokus akan persiapan pernikahannya selama masih ada banyak masalah yang harus diselesaikannya.
Semoga saja...
Semoga Robert mau mengerti akan keadaannya...
Livia berdoa dalam hati agar pria itu tidak akan marah setelah mendengar penjelasannya.
"Tidak bisakah kita menikah setelah semua masalah ini selesai ? Jangn salah paham dulu, aku memang mau dan senang sekali kalau kau ingin menikahiku, menjadikan aku ibu dari anak-anakmu. Tapi, tidakkah terlalu cepat ? Maksudku, dengan aku yang masih harus menyelesaikan 2 tugas akhir perkuliahan, dengan masalah perusahaan papaku yang baru saja menemukan titik terang ? Aku merasa ini terlalu cepat."
Robert terdiam, namun ia mengganguk, "Baiklah. Aku merngerti." Jelasnya lalu mencium pipi Livia, membuat wajah gadis itu memerah. "Aku suka lihat wajahmu memerah."
Livia memukul pelan Robert, "Kau ini..Tidak enak ada di depan orang tuamu."
"Biarkan saja. Papa dan mama juga pernah muda kok. Kenapa kurang ?" Tanyanya yang mendapat pukulan dari Livia. "Oh, jadi kalau tidak ada papa dan mama kau mau ?"
Wajah Livia memerah..
Pria ini benar-benar...
Livia mencubit lengannya, "Jangan bicara seperti itu. Sopan dikit depan mereka napa."
"Sayangnya jika denganmu aku tidak bisa seperti itu. Gimana dong ?" Robert sangat suka menjahilinya.
"Jaga sikapmu."
Robert mencium pipinya sekali lagi, "Ini terakhir." Dia tak perduli akan gadis itu menatapnya tajam.
Papa dan mama Robert tertawa kecil, "Livia, papa dan mama sangat berterima kasih padamu. Kau membuat putera kami menjadi anak yang lebih baik bahkan dia sangat senang ketika kau menerima cintanya."
Livia menunduk pelan, "Tidak kok papa dan mama. Robert seperti itu karena papa dan mama sudah mendidiknya dengan baik. Tidak ada pengaruh apapun yang Livi berikan padanya."
Robert merangkulnya, "Jangan begitu. Buatku kau sangat istimewa kok." Ujarnya segera mencium pipi Livia lalu pergi.
"Robert !!" Pekik Livia yang membuat pria itu tertawa mendengarnya begitu pun dengan orang tua Robert.
Sudah lama mereka tidak melihat ada keributan kecil seperti ini.
"Livia." Ucapan mama Robert membuat Livia menatapnya, "Bagaimana pun kami sangat berterima kasih padamu. Dan kami harap kalian akan segera menuju ke jenjang pernikahan."
Livia tersenyum, "Amin.. papa dan mama makasih atas restu kalian pada kami berdua. Via senang sekali. Akhirnya, bisa merasakan kasih sayang lagi dari papa dan mama yang sudah lama tidak aku dapatkan." Gadis itu memeluk mama Robert.
"Sama-sama. Kami juga senang banget kalau kau akan menjadi menantu kami." Ujar Papa Robert padanya.
"Sepertinya aku juga harus menceritakan hubunganku dengan Robert pada Jimmy dan keluarganya. Bagaimana pun mereka pada awalnya berniat untuk mengangkat Livia jadi anak angkat mereka malah berakhir menjodohkanku dengan Jimmy." Ucapannya membuat papa dan mama Robert salint menatap
Livia terdiam setelah mengucapkan kalimat itu.
Ia sudah keceplosan.
Ash.. kenapa dia ceroboh sekali ?
Seharusnya hal itu tidak boleh dibicarakan ke mereka ?
Ash..
Dasar Livia ceroboh..
Duh....
Bagaimana ini ?
Livia tak berani menatap orang tua Robert, dia hanya menundukkan kepala merasa bersalah.
Berkali-kali dalam hatinya ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Sungguh ?" Tanya mama Robert memastikan sekali lagi.
"Maaf papa mama.. Livia keceplosan." Gadis itu berdiri lalu membungkukan badannya ke orang tua Robert, "Maafkan Livi, papa mama."
Mama Robert memegang bahu Livia, "Iya tidak apa-apa. Papa dan mama senang kok kalau kau mau jujur pada kami."
"Sungguh ?" Akhirnya Livia menatap mereka yang dijawab dengan anggukan mereka.
"Iya. Robert dan kau harus datang menemui mereka dan menjelaskan mengenai hubungan kalian ke mereka." Ujar Papa Robert padanya.
Robert yang datang entah dari mana datang merangkul Livia, "Tenang saja, 'Pa. Habis ini kami akan langsung ke orang tua Jimmy untuk menceritakan hal itu pada mereka. Ya kan sayang ?"
"I... iya.."
Syukurlah semua ini dapat segera terselesaikan dengan baik..
Lain kali dia harus berhati-hati dalam berbicara.
Mama Robert membereskan piring-piring diatas meja, "Mari ma. Livia ikut bantuin." Gadis itu membantu membereskan piring-piring.
"Mama, kan bisa menyuruh asisten rumah tangga untuk bersihin." Keluh Robert.
"Tidak apa-apa sekali-kali." Ujar mama Robert yang membawa beberapa piring bekas makan ke dapur lalu membersihkannya. "Via, kamu yang mengeringkan dan letakkan disana ya." Ujar mama Robert menunjuk sudut kecil di kiri daput tempat dimana terdapat banyak piring-piring tersusun rapi.
"Baik 'Ma."
Ponsel Livia berdering, "Sebentar ya Ma." Gadis itu pergi mengangkat telepon, "Ada apa sih ?" Tanyanya saat tahu siapa yang menelponnya. Jimmy.
'Aku hanya ingin tanya kau ada dimana ?'
"Rumah Robert kenapa ?"
'Aku butuh liburan. Aku lelah. Ayo kita jalan-jalan ke Bandung lagi.'
"Perusahanmu ?"
'Ada adikku dan mama yang mengurusinya. Lagi pula aku sudah minta ijin pada mereka. Bagaimana ?"
"Berapa lama ?"
"Aku tak tahu. Kita bisa mengingap di villa keluargaku. Bagaimana ?"
"Aku harus berkerja."
"Aku ini atasamu. Tenang saja aku akan memberikan nilai bagus pada laporan OJT (On The Job Training) milikmu. Kau boleh mengajak siapa saja."
"Kalau aku mengajak Yeni dan yang lainnya tak masalah ?"
"Tidak. Nanti malam berkumpul di rumahku saja."
"Baiklah nanti aku akan beritahu Robert dan yang lainnya." Livia menutup teponnya secara sepihak.
"Siapa ?" Robert datang menghampirinya.
"Jimmy mengajakku, kamu dan yang lainnya untuk berlibur ke Bandung. Kalau pada mau nanti malam berkumpul di rumahnya." Jelas Livia pada Robert, "Aku tak tahu berapa lama kita ada disana. Bagaimana menurutmu ?"
Robert mengganguk, "Boleh. Sekalian kita umumkan hubungan kita pada mereka semua secara langsung. Kalau begitu aku akan mengantarmu ke Kost agar kau bersiap-siap untuk nanti malam."
"Baiklah. Tapi, kita pamit pada papa dan mamamu dulu ya."
Robert mencium keningnya, "Baiklah sayang."
"Kalian mau kemana ?" Tanya papa Robert pada mereka.
"Oh papa.. Baru saja aku dan Livia mau menemui papa dan mama untuk pamit. Karena Jimmy mengajak kami semua untuk pergi liburan." Jelas Robert.
Mama Robert menatap sedih, "Yah.. padahal papa dan mama sangat berharap kalian bisa menghabiskan weekend di rumah ini. Sudahlah. Tapi boleh dengan satu syarat."
"Apa itu, 'Ma ?" Tanya Livia padanya.
"Mama tahu Livia sangat pintar bermain piano dan bernyanyi. Kebetulan disana ada piano. Boleh kau memainkanya dan bernyanyi untuk papa dan mama ?" Pinta mama Robert membuat puteranya dan Livia saling memandang.
"Baiklan kalau mama ingin mendengarkan Livi bermain piano, tapi itu sudah lama sekali. Namun, tidak ada salahnya jika Livi mencobanya." Ucap Livia berjalan ke arah piano.
"Kau ingin menyanyikan dan memainkan lagu yang dulu kita sukai dulu ?" Tanya Robert yang dijawab dengan anggukan Livia.
(Lagu : Rossa feat Afgan - Kamu Yang Ku Tunggu)
Telah ku temukan yang aku impikan
Kamu yang sempurna
Segala kekurangan semua kelemahan
Kau jadikan cinta
Robert kembali mengingat masa SMA saat pertama kali dia bertemu dengan Livia. Waktu itu, dia adalah kakak kelas yang sangat populer diantara banyak siswa, sangat berbading jauh dari Livia yang menyendiri dan dijauhi oleh orang-orang karena tidak mempunyai orang tua. Pada walnya, Robert tak begitu melirik Livia. Semakin lama ia memperhatikan gerak-gerik gadis itu malah semakin membuatnya begitu penasaran. Sehingga memutuskan untuk memberanikan diri berkenalan dengan Livia. Karena tidak ada salahnya untuk berteman kan.
Tanpamu ku tak bisa berjalan
Mencari cinta sejati tak ku temukan
Darimu aku bisa merasakan
Kesungguhan hati cinta yang sejati
Hari demi hari, mereka berteman mendapat banyak penolakan terlebih lagi pada siswa yang sangat tergila-gila pada sosok Robert. Kian hari mereka menyakiti Livia dan semakin membullynya agar menjauhi Robert. Buat mereka gadis seperti itu tidak cocok untuk Robert. Puncaknya, ketika Livia dipermalukan di depan seluruh sekolah saat upacara. Ada seorang temannya yang tak sengaja menyiram cat berwarna merah ke rok Livia yang berdiri di depan mereka. Siswa yang menjahili Livia berteiak mengatakan kalau Livia tengah datang bulan, saat itu rok putih yang mereka pakai jadi begitu kelihatan warna merah di bagian belakang rok Livia. Sontak Livia merasa sangat malu sekali, Robert datang dan menhampirinya dan menutup rok putih Livia yang penuh dengan cat merah dengan jaketnya.
Kamu dikirim Tuhan
Untuk melengkapiku tuk jaga hatiku
Kamu hasrat terindah untuk cintaku
Takkan cemas ku percaya kamu
Karena kau jaga tulus cintamu
Ternyata kamu yang ku tunggu
Sejak kejadian memalukan itu, Robert yang saat itu sebagai ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) mengatakan pada semua siswa untuk tidak memperlakukan Livia sebagai bahan bullyan karena hal itu sangat mencemarkan nama baik sekolah mereka. Dan ajaibnya, semua siswa jadi berhenti membully Livia. Secara perlahan keadaan kembali jadi normal, Robert kian lama kian dekat dengan Livia. Bahkan mengetahui masa kelam gadis itu.
Segala kekurangan
Semua kelemahan
Kau jadikan cinta
Tanpamu
Aku tak bisa berjalan
Mencari cinta sejati
Tak ku temukan
Darimu
Aku bisa merasakan
Kesungguhan cinta yang sejati
Setelah mengetahui masa kelam gadis itu bahkan traumanya tak membuat Robert membenci bahkan menjauhi. Justru pria itu merasakan adanya sebuah keinginan untuk selalu melindungi dan membuat bahagia gadis itu sebagai pergantian masa sedih dan kesendiriannya. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berpacaran. Dan beruntungnya orang tua Robert setuju bahkan sangat menyukai Livia.
"Wah.. kalian cocok sekali nyanyi duet begitu. Mama suka." Ucap mama Robert sambil bertepuk tangan, ia begitu bahagia melihat kedekatan puteranya dengan Livia.
"Papa, mau kalian nyanyi satu lagu lagi ya." Pinta papa Robert.
"Baik pa." Ujar Robert.
"Mau lagu apa ?" Tanya Livia lalu Robert berbisik padanya. Mereka mulai menyanyikan lagu kedua.
(Lagu : Zayn Malik, Zhavia Ward - A Whole New World)
I can show you the world
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?
I can open your eyes
Take you wonder by wonder
(Aku bisa tunjukkan padamu dunia
Yang bersinar, berkilau, mengagumkan
Terakhir kali kau biarkan hatimu memutuskan?
Bisa kubuka matamu
Membawamu melihat banyak keajaiban)
Over, sideways and under
On a magic carpet ride
A whole new world
A new fantastic point of view
No one to tell us, "No"
Or where to go
(Dari atas, samping dan bawah
Dengan naik karpet ajaib
Sebuah dunia baru
Sebuah sudut pandang baru yang fantastis
(Dimana) Tak ada yang bilang tidak pada kita atau (memberitahu) ke mana kita
harus pergi)
Or say we're only dreaming
A whole new world
A dazzling place I never knew
But when I'm way up here
It's crystal clear
(Atau yang berkata bahwa kita hanya sedang bermimpi
Sebuah dunia baru
Tempat mempesona yang tak pernah kutahu
Namun saat aku di atas sini, jelaslah semuanya)
That now I'm in a whole new world with you
(Now I'm in a whole new world with you)
Unbelievable sights
Indescribable feeling
(Bahwa kini aku berada di sebuah dunia baru bersamamu
Kini aku berada di sebuah dunia baru bersamamu
Pemandangan yang luar biasa
Perasaan yang tak bisa dijelaskan)
Soaring, tumbling, freewheeling
Through an endless diamond sky
A whole new world (don't you dare close your eyes)
A hundred thousand things to see (hold your breath, it gets better)
(Membumbung, terjun, berputar
Di langit berlian abadi
Sebuah dunia baru, Jangan tutup matamu
Banyak hal yang perlu dilihat
(Tahan nafasmu, keadaan mulai membaik))
I'm like a shooting star, I've come so far
I can't go back to where I used to be
A whole new world
With new horizons to pursue
(Aku seperti bintang jatuh
Aku telah datang sejauh ini
Aku tak bisa kembali
Ke tempat biasanya aku berada)
I'll chase them anywhere
There's time to spare
Let me share this whole new world with you
A whole new world (a whole new world)
A new fantastic point of view
(Akan kukejar mereka kemanapun
(Aku punya) waktu luang
Ijinkan kuberbagi dunia baru ini denganmu)
No one to tell us, "No"
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world (every turn, a surprise)
With new horizons to pursue (every moment, red-letter)
I'll chase them anywhere, there's time to spare
And then we're home (there's time to spare)
Let me share this whole new world with you
(Dengan horizon baru untuk diburu
Tiap saat sangatlah penting
Akan kukejar mereka kemanapun
(Aku punya) waktu luang
Ijinkan kuberbagi dunia baru ini denganmu)
A whole new world (a whole new world)
That's where we'll be (that's where we'll be)
A thrilling chase (a wondrous place)
For you and me
(Sebuah dunia baru
Di situlah tempat kita kelak
Pengejaran yang mendebarkan
Tempat yang mengagumkan
Untukmu dan untukku)
Orang tua Robert kembali bertepuk tangan lalu mengatakan, "Wah kalian berdua cocok sekali berduet." Puji Mama Robert.
"Makasih 'Ma. Tapi, Robert harus mengantar Livia ke kost-an nya dulu karena besok kami mau libur di Villa nya Jimmy bersama teman-teman LIvia yang lainnya." Ujar Robert.
"Yahh... ya sudah deh tidak apa-apa. Livia lain kali main lagi kesini ya ?" Pinta Mama Robert.
"Baik ma. Pasti." Ujar Livia.
******
Nia dan Narul berada di mobil Ai Chan, mereka sudah mendapatkan ijin cuti hari ini dari kantor masing-masing. "Kau yakin kita harus ke apartement Tiara ?" Tanya Nia yang merasa tidak yakin apakah ini keputusan yang bagus atau tidak.
"Jika tidak begitu maka kita tidak bisa mendapatkan informasi yang kita inginkan, Nia." Jelas Ai Chan yang tengah mengendarai mobil.
"Bagaimana jika dia berbohong pada kita ? Kau tentu tahu dia sangatlah jahat pada Llivia beberapa waktu yang lalu." Jelas Nia yang duduk disamping Ai Chan.
"Kalau bukan dari Tiara lalu pada siapa kita harus bertanya ? Yeni atau Hanna ? Mereka mana mau." Jelas Narul yang terduduk di kursi belakang membuat kedua temannya terdiam. "Kita dengarkan dulu apa yang dibicarakan Tiara baru nanti kita pikirkan apakah yang dikatakannya itu benar atau tidak."
"Baiklah." Ujar Nia dan Ai Chan secara bersamaan.
Ponsel mereka, Yeni dan Hanna pun berbunyi karena ada chat masuk dari Livia yang mengabakarn jika Jimmy mengajaknya dan mereka untuk berlibur bersama di Bandung entah berapa lama. Gadis itu menanyakan apakah mereka mau ikut atau tidak ? Jika ada yang ingin ikut bisa kumpul di rumah Jimmy nanti malam. "Kalian mau ikut tak ?" Tanya Narul usai membaca chat masuk dari Livia pada mereka.
"Aku ama Ai harus tanya ke Yeni dulu." Ujar Nia.
Tidak lama Yeni dan Hannna membalas chat Livia dan mengatakan mereka akan ikut. "Yeni dan Hanna akan ikut. Gimana kalian ?"
"Ai coba kau tanya ke Yeni." Ujar Nia yang sibuk menyetir.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di apartement Tiara, setelah memakirkan mobil mereka naik ke lantai atas.
Suara ketokan bel pintu membuat Tiara yang sedang tidur siang akhirnya terbangun, "Duh.. siapa sih siang begini datang ? menggangu saja." Dengan malas ia membuka pintu apartementnya, "Kalian ? Kenapa kalian datang kemari ?"
"Ada yang kami ingin bicarakan."
Tiara membuka pintunya, "Masuklah." Ketiga teman Livia masuk ke dalam yang diikuti oleh sang pemilik apartemen. "Duduklah." Dia terduduk, "Kalian ini menggangu saja siang begini. Cepat katakan apa yang kalian inginkan lalu pergi dari sini." Tiara berjalan ke arah dapur, "Siapkan makanan kecil dan minuman untuk mereka." Perintahnya pada sang pelayan.
"Baik nona." Pelayan itu membungkuk pada Tiara yang meninggalkannya.
"Kami ingin mengetahui kenapa kau berpura-pura sebagai penerus terakhir keluarga Wijaya ?"
"Kalian datang kemari hanya untuk menannyakan hal itu ? Astaga.. kalian ini tidak ada kerjaan apa ya ? Kalian itu babunya Livia yang saat dia mengalami kesulitan lalu kalian datang sebagai pahlawan kesiangan ? Itu masalahku dan masalahnya kenapa sih kalian semua ikut campur ?"
"Karena Livia terlalu baik. Setiap ada masalah ia akan pendam sendiri, kami tidak tahu apa yang dia pikirkan ataupun rencanakan. Tapi, sebagai teman dekatnya kami tentu tak ingin ada orang yang menyakitinya terlebih lagi wanita sepertimu." Nia menatapnya tajam.
Pelayan Tiara datang membawakan minuman untuk mereka, "Permisi, saya membawakan makanan kecil dan minuman." Begitu selesai pelayan itu pergi.
Tiara hanya tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tuh tak habis pikir dengan kalian ya. Jadi, kalian menggangap aku i ni wanita jahat ? Astaga.. Coba deh aku bertaya." Wanita itu mengubah posisinya duduknya, "Kalian pernah tidak.. sedikit saja.. terlintas di benak kalian kalau Yeni dan Hanna itu tidak sebaik yang kalian kenal ?"
Perkataan dari Tiara membuat Nia, Narul dan Ai Chan saling memandang ?
Mereka memang merasa Yeni dan Hanna menyembunyikan sesuatu ?
Tapi...
Ash....
Mereka semakin dibuat pusing akan semua ini.
Tiara tersenyum melihat reaksi yang diberikan oleh ketiga orang itu, "Perkataanku benar kan ? Bisa aja kan yang jahat bukan aku ? Kedua teman kalian itu yang harus diwaspadai."
"Kami ingin kau menceritakan apa yang kami tidak ketahui ?" Ujar Ai Chan.
"Jadi, kalian datang kemari hanya untuk itu ? Kenapa kalian tidak tanya kan sendiri pada teman kalian itu ?"
Narulita menatap Tiara, "Karena kami merasa kau tidaklah sejahat yang kami kenal."
Aneh...
Tidak sejahat yang mereka kira ?
Tiara tertawa kecil saat mendengarnya.
Apa sih yang ada di pikiran mereka ?
Sungguh ia tak habis pikir.
"Berikan aku satu alasan kenapa aku harus mernceritakan akan apa yang aku tahu pada kalian ?" Tanya Tiara penasaran.
Kenapa tidak mereka tanyakan sendiri pada Livia ?
Pada Yeni atau temannya yang satu lagi, ah.. Hanna.
Tentu saja dia tidak bisa mernceritakan semua hal pada mereka.
Dia tidak tahu apakah mereka sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura karena suruhan Yeni atau Hanna semata.
Tiara tidak mau memceritakan banyak hal ke mereka.
Dia harus memikirkannya matang-matang.
Jika, dia salah sedikit saja maka akan merubah semuanya.
"Kami hanya mau tahu kenapa kau mengaku sebagai penerus palsu keluarga Wijaya ?" Tanya Nia.
"Lalu, kenapa kalian yang pusing ? Livia malah biasa saja akan semua ini." Balas Tiara.
~To Be Continue~