
"Tiara akrab dengan Livia?" Om David menatap bingung. "Apa maksudnya itu?"
Baru kali ini ia mendengarnya, Jimmy tak pernah membicarakan hal itu. Masalah baru apalagi yang muncul. Sungguh menyusahkannya saja.
Bagaimana bisa Tiara akrab dengan gadis itu?
Sejak kapan mereka jadi dekat?
Ash.. ternyata hidup di penjara tak seenak yang ada di drama/sinetron, dimana ada televisi sehingga kau bisa mendengar berita apapun. Selama di penjara beliau sama sekali tidak mengetahui apapun yang terjadi di dunia luar sana, siapa sangka sehari setelah acara ulang tahun perusahaannya malah mendapatakan berbagai drama yang muncul dan itu sangat mengejutkannya.
"Puteramu tidak membicarakan kejadian semalam itu? Tiara tiba-tiba saja datang lalu menampilkan video yang berisi percakapan kita untuk membunuh Livia waktu itu." Papa Yeni tak menyangka jika Jimmy menyembunyikan hal itu dari papanya sendiri. Ternyata, anak dengan ayah sangatlah berbeda. Sungguh ajaib.
"Aku rasa dari tatapan terkejutnya itu sudah menunjukkan jawaban dari pertanyaanmu." jawab Papa Hanna yang menatap Om David sangatlah terkejut akan semua ini.
Papa Yeni menatap jam tangannya, "Kuberikan 5 menit agar kau mencari jalan keluarnya. Jika tidak, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
Tidak ada gunanya juga jika mengharapkan temannya yang terkurung dalam penjara, anaknya sendiri saja tak bisa diatur apalagi diminta untuk mencari jalan keluar atas kerugiaan yang dialami oleh perusahaan Kusuma.
Jika temannya itu tak bisa menemukan jawaban, lebih baik ia saja yang mencari dan memikirkan jalan keluarnya tanpa harus meminta persetujuan dari siapapun. Apalagi yang bisa diharapkan dari keluaga Kurniawan yang kini sudah hampir jatuh miskin itu.
Tidak ada.
Keluarga itu sudah tidak ada gunannya lagi, malah menyusahkan saja. Bukannya memberikan keuntungan malah nambah masalah dan kerugian.
Untunglah dengan bantuan koneksinya seluruh pemberitaan juga video-video itu telah hilang. Tapi, tak menutup kemugkinan akan adanya jejak digital yang tak bisa dihilangkan.
"Kau gila? Bagaimana bisa aku berpikir dalam waktu secepat itu?" balas Om David.
Papa Hanna tak mau terlalu ikut campur akan perdebatan itu, yang ia pentingkan hanya uang dan keluarganya saja. Wanita bernama Tiara tidak terlalu menggangu puterinya, Hanna. Mengenai kerugian akibat kebakaran itu juga tidak terlalu banyak untuknya, paling banyak adalah kedua orang temannya itu. Kerugian itu masih bisa ia tutupi dengan kekayaan yang dimilikinya.
"Oke. 5 menit berlalu. Aku akan mencari jalan keluar atas semua ini." Papa Yeni meninggalkan kedua temannya, membuang-buang waktunya saja hanya untuk menemui pria itu.
"Kau juga tak ikut pergi dengannya?" Om Dvid menatap Papa Hanna.
"Kenapa aku harus pergi mengikutinya?"
"Bukankah kau adalah ekornya yang selalu mengikuti sang majikan kemanapun ia pergi?"
Papa Hanna tertawa kecil, "Aku hanya penasaran akan apa yang mau dilakukannya. Puteriku sudah meminta bantuan pada temannya untuk menurunkan semua pemberitaan juga video mengenai pembicaraan kalian akan rencana membunuh Livia."
"Lalu, kenapa kau masih ada disini?"
"Kau mengusirku?"
"Ya."
Ucapan Om David membuatnya tertawa, "Kau sama sekali merasa bersalah pada gadis itu? Setelah membunuh orang tuanya, lalu merebut dan mengganti nama perusahaannya. Sekarang perusahaan itu hancur. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa marah dan bencinya dia padamu kalau mengetahui semua ini."
Om David terdiam, rasa bersalah itu sudah ada bahkan sejak kejadian 12 tahun yang lalu. Akan tetapi, rasa haus akan kekayaan lebih besar daripada penyesalannya. "Aku sudah tak mempunyai apa-apa lagi sekarang. Perusahaan itu sudah hancur dan tidak ada kantor cabangnya pula."
"Salah kau sendiri. Dulu kami menyarankan agar kau membuka kantor cabang tapi tak mau, karena keserakahanmu akan uang. Liat sekarang, kau jatuh miskin."
"Tidak. Aku masih ada uang asuransi dari kebakaran itu, Jimmy tengah berdiskusi dengan pengacara untuk dokumen-dokumen pengurusannya."
"Bagaimana dengan Livia? Semua orang tahu kalau kau berniat untuk membunuhnya. Aku jamin disaat persidanganmu nanti hukumanmu malah ditambah."
"Aku akan membayar orang untuk mengeluarkanku dari sini."
"Siapa juga yang mau meminjam uang darimu bahkan dari keluarga Kusuma juga enggan."
"Lalu, dari mana kau mendapatkannya?"
"Bukankah aku sekarang adalah ayah angkat Livia? Kau tentu tahu kalau putera keluarga dokter itu sangat ingin menikahi anak angkatku."
"Jangan bilang kau..."
Kalimatnya terputus saat Om David mengutarakan ide barunya, "Aku akan memanfaatkan hal itu untuk mendapatkan uang."
*******
"Pa, sudah waktunya makan malam." Janson menatap papanya yang masih berkutat dengan dokumen-dokumen milik Livia dan keluarganya. "Papa sedang apa?" Ia menghampirinya.
Pria paruh baya itu terlihat begitu berantakan, tidak sesuai dengan imagenya sebagai pensiunan pengacara ternama, beliau terdiam sembari membandingkan antara dokumen yang satu dengan lainnya. "Kita ternyata telah ditipu selama ini. Bagaimana aku bisa begitu bodoh tidak menyadarinya selama ini?"
Sang putera, Janson mengambil dokumen yang tadi dilihat oleh Papanya. Dokumen pertama adalah asli milik keluarga Wijaya yang sudah ditemukan oleh Livia beberapa waktu yang lalu, sedangkan dokumen lainnya adalah dokumen palsu yang dibuat oleh keluarga Kurniawan.
Pada dokumen milik keluarga Kurniawan menjelaskan kalau dokumen perusahaan Sapphire Blue baru dibangun tepat sebulan setelah kematian orang tua Livia yang dibangun sendiri oleh Om David (Papa Jimmy), sementara yang dipegang Livia adalah dokumen dimana adanya surat wasiat sang Papa yang dibuat jauh sebelum kematiannya tertulis seluruh aset akan jatuh ke tangan puterinya dan juga dokumen yang menyatakan balik nama kepemilikan Perusahaan Wijaya menjadi Sapphire Blue Corp.
Janson menatap Papanya, "Bukankah dulu Papa pernah memperlihatkanku surat wasiat dari keluarga Wijaya?" Ia memberantakan meja kerja Papanya untuk mencari surat wasiat tersebut dan menemukannya, "Di surat wasiat ini tertulis seluruh aset perusahaan Wijaya jatuh pada Livia, dan jika Livia meninggal maka, akan dibagikan secara rata untuk masyarakat menengah kebawah." Pria itu mengambil surat wasiat asli milik Livia yang sudah difotocopy, "Sangat berbeda kedua surat wasiat ini 'Pa. Bukankah papa ada disaat Keluarga Wijaya menulis surat wasiat itu?"
Papanya menggeleng pelan, "Tidak. Waktu itu Papa menyuruh orang kepercayaan untuk datang kesana karena Papa ada urusan mendadak. Aku tidak tahu kalau ternyata surat wasiat itu palsu dan orang kepercayaan Papa dulu sudah meninggal beberapa minggu setelah surat wasiat itu Papa bacakan di depan keempat orang kepercayaan keluarga Wijaya."
"Kita harus lapor pada polisi atas pemalsuan semua dokumen-dokumen ini 'Pa. Keluarga Kurniawan dan keluarga Kusuma harus mendapatkan hukuman atas apa yang mereka lakukan. Lalu, segera kembalikan perusahaan itu menjadi milik puteri Wijaya yang sekarang masih hidup."
Pengacara paruh baya itu menggeleng, "Kita tidak bisa."
"Kenapa?"
"Kau tahu sendiri kalau perusahaan itu sudah habis terbakar."
"Lalu?"
"Kau tahu siapa pelakunya?"
"Siapa?"
"Livia."
Janson terdiam. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Tak lama pria itu tertawa kecil, "Papa tidak berbohong 'kan? Bagaimana bisa ada orang yang sudah jatuh miskin 12 tahun, lalu saat tahu dia akan menjadi kaya raya karena perusahaan orang tuanya. Otomatis hidupnya yang sudah jelas akan terjamin dengan semua kemewahan lalu, urusan orang-orang itu tinggal dia lapor ke polisi kemudian mereka masuk penjara. Tapi, kenapa malah menghancurkannya? Aku sangat tidak mengerti akan jalan pikirannya 'Pa. Bagaimana bisa ada orang seperti itu?"
"Tenanglah Janson."
"Apakah ia mengatakan pada Papa apa alasan dibalik aksi brutalnya itu?"
"Yang hanya Papa tahu demi pembalasan dendam."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita tinggal menunggu rencana baru dari Livia, penerus Keluarga Wijaya yang sesungguhnya dan kita harus melindunginya. Kau jangan membantu mereka agar bisa mendapatkan uang asuransi. Berikan uang asuransi itu pada Livia."
-To Be Continue-