
Mungkin mereka akan membiarkan semua orang mengetahui kalau penerus keluarga terakhir Wijaya masih hidup. Akan tetapi, suatu saat nanti diantara mereka.. bisa saja ada benar-benar ingin melenyapkan Livia dari muka bumi ini untuk selama-lamanya.
"Baiklah. Kau tetap akan menggunakan nama Wijaya. Mulai sekarang kau memangil saya dengan Papa."
"B..baik papa."
Om David tersenyum mendengar hal itu, "Papa senang sekali mendengarnya. Nanti kau harus bersiap-siap ya untuk tinggal di rumah Papa."
Livia dan Robert saling menatap sejenak lalu, "Baik Pa."
******
Nia dan Hanna sedang berada di kafe langganan mereka. "Kau sudah mendengar berita yang lagi heboh?" tanya Hanna padanya.
"Aku tidak mau mendengar nama Livia disebut." ketus Nia.
"Kenapa kau jadi sangat membencinya sih?"
"Karena dia sudah merebut Kak Raka dariku."
"Kau tahu sendiri bagaimana masa lalu kelam yang harus dia hadapi, Ni. Aku rasa gadis seperti Livia tidaklah mungkin bisa merebut milik orang terlebih lagi ada Robert disampingnya."
"Hanna, sudah aku bilang jangan pernah sebut namanya di depanku."
"Kau tuh aneh Nia, hanya karena cowo kau jadi seperti ini. Oh iya, kau mau datang di acara ulang tahun perusahaan Jimmy?"
"Untuk apa aku datang?"
Hanna menggoda Nia, "Aku dengar Kak Raka akan datang loh."
Nia membulatkan matanya, "Sungguh. Aku mau datang kalau ada Kak Raka disana."
Hanna menggelengkan kepalanya, Nia menjadi tergila-gila pada Raka yang bahkan dia merasa Raka tak pantas jika disandingkan dengannya. "Narul juga akan datang kok. Kau yakin tidak mau datang kesana?"
"Kalau Raka datang maka, aku juga akan datang."
"Aku bingung apa yang kau sukai darinya? bahkan dia berani kasar pada Livia. Cowo macam apa itu, bisanya kasar dengan cewe saja."
Nia membereskan barang-barangnya, "Kalau kau terus membela Livia maka pergilah dengannya." Gadis itu pergi meninggalkannya sendirian.
Hanna menggelengkan kepala, "Kenapa Nia jadi berubah seperti ini?"
Ponsel Nia berdering, "Halo."
'Nia. Kau berada di kantor sekarang?' tanya Raka.
"Tidak. Kenapa?"
'Bisakah kau datang mampir ke kantor untuk menemuiku sebentar? Ada yang mau aku bicarakan.'
Nia tersenyum, "Oke. Aku akan segera kesana."
'Bye.' ujar Raka menutup panggilan teleponnya.
Yeni menatap tajam ke arah kakaknya, "Untuk apa kakak meminta Nia datang?"
Raka terkejut menatapnya, "Ash.. jangan tiba-tiba masuk ke ruanganku tanpa ketok terlebih dahulu."
"Aku sudah mengetok, namun kakak tidak mendengarnya. Kenapa kakak menyuruh Nia datang? Dia sudah tidak berkerja disini lagi begitupula dengan Ai Chan dan Hanna."
"Ash.. itu urusan kakak dengan Nia. Kau fokus saja dengan skripsimu."
"Tidak. Aku mau disini untuk mendengarkan apa yang kakak bicarakan dengan Nia." Yeni mengeluarkan laptop miliknya.
"Ash.. adik keras kepala." gumam Raka pelan.
Terdengarlah suara ketokan pintu, "Permisi. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak Raka." ujar sekertaris Raka.
"Hai Kak Raka.. Hai Yen." Nia tersenyum masuk ke ruangan kakak Yeni.
"Kakak mau membicarakan mengenai apa?" tanya Nia.
"Jadi gini, kakak mau kau datang bersama kami untuk datang ke acara ulang tahun perusahaan Jimmy. Bagaimana?"
Nia tersenyum, "Mau kak."
"Bagus. Nanti disana kau bantu kakak untuk membujuk agar Livia membatalkan perjodohan kakak dengannya. Bagaimana?"
"Kak, Livia jelas menolaknya karena dia sudah mempunyai kekasih. Gimana sih? Seharusnya kakak juga ikut bantu menolaknya bukan meminta bantuan aku dan Nia untuk membujuk Livia. Gimana sih jadi cowo?" Yeni sangat kesal akan sikap kakaknya yang tidak mau berubah.
"Jaga ucapanmu itu!"
"Kakak yang seharusnya jangan bersikap seperti pengecut. Jika kakak benar-benar menolaknya langsung saja ngomong pada Papa bukannya membawa Nia yang tidak tahu apa-apa jadi ikut terseret dalam masalah ini!"
"Kau!!" Emosi Raka sudah diambang batas.
Yeni berdiri menatap kakaknya, "Apa?"
"Sudah-sudah kalian ini.. jangan bertengkar seperti itu." Nia mencoba menenangkan mereka.
"Jangan ikut campur!" teriak mereka pada Nia.
Gadis itu menatap tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Mereka membentak dan berteriak padanya. Padahal Nia berniat baik untuk menenangkannya.
Semua ini karena Livia.
Dengan segera Nia pergi meninggalkan kakak beradik itu untuk mencari perhitungan dengan Livia.
"Kalau kau mengatakan kakak ini pengecut lalu, kau dan Hanna apa? Hah!?" Raka menaikkan nada suaranya, "Kalian berdua itu sama seperti kakak. Sama-sama pengecut. Tidak berani mengatakan apapun pada Livia, bahkan selama 4 tahun ini kalian berdua berteman dengannya seakan-akan tidak terjadi apapun. Kau kira kakak tidak tahu bahwa papa dan papanya Hanna juga Om David (papa Jimmy) ikut terlibat dalam rencana pembunuhan keluarga Wijaya."
"K..kau.." Yeni kehilangan kata-katanya karena terlalu terkejut akan apa yang kakaknya lontarkan.
"Kita sama adikku sayang." Raka membelai rambutnya lalu berbisik, "Kakak memang pengecut, kau juga sama pengecutnya karena menyembunyikan semua ini dari Livia. Kau dan aku berada dalam situasi yang sama bahkan situasimu kau jauh lebih buruk."
******
"Bagaimana apakah kau sudah memeriksa semua barang-barang agar tidak ada yang tertinggal lagi?" tanya Robert yang membantu pindahan Livia dari kost-annya ke rumah Jimmy.
Gadis itu tersenyum, "Sudah. Tidak ada barang yang tertinggal."
"Kau akan pindah kemana sih?" tanya Narul dan Ai Chan yang baru saja tiba di kost-an Nia juga Livia.
"Rumah Jimmy." jawab Livia pelan.
"Kau sungguh diangkat jadi bagian dari keluarga mereka ya?" Belum sempat Livia menjawab, Nia tiba-tiba datang menghampiri mereka lalu menampar Livia. "Ya ampun. Nia!!" teriak Narul.
"Kau.." Nia menunjuk ke Livia. "Kau ternyata bukan hanya merebut Raka dariku akan tetapi, kau sudah membuat Yeni dan kakaknya jadi ribut."
"Apa kau sudah gila?" Robert mendoronga Nia kemudian memeriksa keadaan Livia. "Kau baik-baik saja?"
"Apa maksudmu aku merebut Raka? Aku juga tidak pernah setuju akan perjodohan itu karena aku memiliki kekasih. Aku tahu kau kesal karena kau tidak bisa mendapatkan Raka, tapi tidak dengan melampiaskan semua emosimu padaku. Aku tidak salah apa-apa dalam masalah ini."
"Kalau kau merasa tidak salah apa-apa. Kenapa kau tidak meminta untuk membatalkan perjodohan kalian?"
"Aku sudah memintanya berulang kali agar membatalkan perjodohan ini!!"
"Nia minta maaf padanya." saran Ai Chan.
"Kenapa aku harus meminta maaf padanya dan kalian jadi membelanya sekarang. Seharusnya kalian berada di pihakku. Mentang-mentang sekarang Livia jadi keluarga kaya, kalian jadi ikutan memihaknya begitu?"
"Livia memang dari dulu sudah kaya, Nia." Ujar Narul. "Jangan buat keributan disini. Ada banyak tetangga yang melihat."
Nia tertawa kecil, "Ah iya. Aku lupa. Kau pernah mengatakan kalau kau adalah pewaris tunggal Wijaya yang dulu dikabarkan meninggal. Bagaimana aku bisa mempercayainya? Itu semua hanyalah omong kosong yang kau ngarang sendiri. Bahkan dari dulu tidak ada pemberitaan mengenai adanya anak dari keluarga tersebut." Nia menatap Narul dan Ai Chan, "Bagaimana bisa kalian mempercayai semua omong kosongnya dia yang jelas-jelas tidak ada bukti konkret yang menyatakan kalau dia adalah penerus keluarga Wijaya yang asli!?"
-To Be Continue-