
1 ruangan film dikagetkan dengan teriakan para penyusup itu. Dengan segera mereka menekan lantai dasar dan lift turun. Begitu pintu lift terbuka mereka langsung lari terbirit-birit. Sebagian anak buahnya tampak bingung, begitu mereka berbalik hologram hantu wajah rusak itu menghampiri mereka dan ikut lari.
"Good Job." Yeni bertepuk tangan, "Bagaimana menurut papa dan mama?"
"Ya cukup memuaskan. Kalian hebat. Papa dan mama ke kamar dulu ya sudah larut malam."
"Iya kalian jangan malam-malam bergadang, besok telat masuk kantornya."
"Iya tante." Ujar teman-teman Yeni.
"Kak, kalau perusahaan kita nanti di cap berhantu bagaimana ?"
Kakak Yeni berdiri merenggangkan tangannya, "Bilang saja memang dulu itu bekas kuburan dan memang benar kok. Jadi, mereka tidak akan merasa curiga kalau hantu-hantu berkeliaran. Padahal memang tidak ada hantu sama sekali. Sudah jangan mengganguku. Mau tidur."
"Livia mana ?" Narul memandang ke sekeliling.
"Owh.. sudah selesai ya ?" Livia baru kembali.
"Kenapa lama sekali ?"
"Robert menelepon tadi."
Ai Chan tersenyum, "Kalian CLBK?"
"Tidak."
"Kau tetap mau berkerja disana ? Tidak mau 1 perusahaan denganku, Nia, Ai Chan dan Hanna?"
"Ga, Yen. Makasih. Hanya 3 bulan kok setelah itu akan aku pertimbangkan untuk berkerja di perusahaanmu." Tolak Livia.
"Ya sudah, aku ga maksa. Tunggu sampai Pak Jimmy pulang ke Jakarta aja baru kau balik ke tuh perusahaan."
Mungkin memang seharusnya ia cuti sementara sambil mengerjakan laporan OJT dan mencari tema untuk skripsinya.
Di lain tempat....
Tiara yang duduk di kursi roda melihat ponselnya berulang kali. Kenapa lama sekali orang suruhannya untuk melakukan hal sekecil itu ? tak lama orang suruhannya datang, "Kenapa lama sekali ?"
"B..boss kenapa tidak mengatakan kalau perusahaan itu ada hantunya ?" tanya salah satu orang suruhannya.
"Ini sudah jaman canggih kenapa kalian masih percaya akan adanya hantu ? Lalu, bagaimana kalian berhasil membuat kacau perusahaan itu ?"
Orang-orang suruhan Tiara saling memandang, "Maaf boss. Kami terlalu takut akan hantu disana yang tak terima tempat mereka diganggu."
Tiara mengacak rambutnya, "Kerja begitu saja tidak becus. Sudah sana pergi tidak ada bayaran kalian karena kalian gagal."
"Tidak bisa begitu donk boss. Ini kan harus sesuai perjanjian. Bayar kami 2 kali lipat."
"Kenapa saya harus membayar kalian kalau kerja kalian saja tidak becus ?"
Orang-orang suruhan Tiara tidak terima. Mereka mengambil tas dan ponsel wanita itu tak lupa mereka mendorongnya hingga jatuh ke tanah dan mereka pun pergi. "Arghh !!! Mereka yang membuatku seperti ini akan medapatkan balasannya."
"Ya ampun nona.." Seorang pelayan datang menghampiri Tiara dan membantunya duduk di kursi roda. "Bantu aku bawa ke kamar."
"Baik nona." Tak butuh waktu lama mereka tiba di kamar Tiara. Pelayan itu pergi meninggalkannya. Tiara mengambil laptopnya, ia tersenyum. Besok akan ada berita yang sangat heboh.
Esok paginya...
"Livia, bagaimana keadaanmu sudah membaik ?"
"Iya tante. Terima kasih sudah mengijinkan saya menginap disini."
Mama Yeni tersenyum "Kalian semua sudah tante anggap sebagai anak tante sendiri. Sering-sering lah main disini."
"Permisi tante, om." Livia berdiri tak jauh dari meja makan keluarga itu. "Kenapa menelepon pagi-pagi ?"
Robert tersenyum mendengar suara Livia disebrang sana, "Ada berita heboh. Aku kirimkan linknya ke WhatsApp mu. Dibaca saja dan jangan terlalu berpikir aneh-aneh ya. Kalau tidak jangan sampai kau, aku antar ke psikiater lagi."
Livia tersenyum, "Iya aku janji. Bye." Ia mematikan ponselnya dan membuka link portal berita. Matanya membulat namun, ia mulai mencoba belajar untuk tidak begitu memperdulikannya. Dengan malas ia kembali duduk di meja makan.
"Siapa?" Tanya Nia menatap Livia.
Livia membuka link tersebut dan memperlihatkan berita yang diberikan Robert pasanya, "Robert. Ini Bacalah."
Karena penasaran Hanna dan Narul yang duduk di sebelah Nia membaca judul berita tersebut dan membulatkan matanya. "Yen, baca ini."
Yeni mengelap mulutnya dengan serbet, "Apa sih, Ni?" Ai Chan dan kakak Yeni yang disebelah Yeni ikut membacanya. "Astaga, siapa yang membuat berita seperti ini ?" Yeni mengembalikan ponsel Livia yang masih menyala. Orang tua Yeni yang penasaran ikut mengambil dan membacanya.
HOT NEWS : CEO SB CORP. BERSELINGKUH DENGAN KARYAWAN BARU DI RUANGANNYA.
"Hanna, coba siapa yang menyebarkan informasi tersebut?" Perintah Yeni.
"Liv, kau tidak apa-apa kan ?" Tanya Nia khawatir.
"Tidak apa-apa kok tenang saja." Livia mencoba untuk tersenyum.
"Kayaknya Hanna tidak perlu hack untuk tahu siapa pelakunya." Ucap papa Yeni mengembalikan ponsel Livia.
"Kau baca baik-baik berita itu pasti menemukan siapa yang menyebarkannya." setelah mendengar ucapan papanya. Yeni mengambil ponsel Livia beberapa saat kemudian ia mengembalikan lagi ponsel itu. "Tiara sialan." Geramnya. "Livia coba kau telepon Jimmy."
"Tapi dia pasti di pesawat sekarang."
"Tidak. Tadi aku lihat berita pesawatnya delay 5 jam. Tolong sambungkan, aku mau bicara." Livia menurutinya.
Di Bandara...
Jimmy terlihat kesal karena mereka harus menunggu di bandara selama 5 jam. Ponselnya berdering..
Livia ?
Kenapa gadis itu meneleponnya ?
"Halo.."
"Kau !!! KENAPA KAU TIDAK BISA MENGURUS WANITAMU AGAR BERHENTI MENGGANGU SAHABATKU !!"
Jimmy menjauhi ponsel dari telinganya. Sungguh gadis ini sudah gila, pagi-pagi sudah berteriak. "Nona Yeni. Saya tahu anda mungkin lagi PMS namun, jangan berteriak sepertu itu juga ke saya. Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan."
"Kau baca sendiri berita yang sedang heboh di portal berita. Kalau kau tidak menyelesaikan masalah ini maka aku harus turun tangan. Dan kau tahu, jika aku sudah turun tangan maka perusahaanmu akan aku ikut seret juga. Aku harap kau ajari wanitamu kalau perlu kau ikat dia di kamar agar tidak menggangu kehidupan orang lain." Yeni mematikan ponselnya secara sepihak.
Ia membuka ponselnya untuk mencari tahu berita apa yang Yeni maksud, tak butuh waktu lama ia menemukan berita yang dimaksud itu. "Ck.. menyusahkan saja. Baiklah. Jika Tiara bisa berbuat gila maka ia pun juga bisa."
Jimmy menelepon Samantha (PR di perusahaannya), "Kau sudah baca berita heboh itu kan ?"
"Sudah pak."
"Kau buat press release dan katakan bahwa Justru Tiara adalah perusak hubungan orang. Bilang saja ke pers kalau saya dan Livia tengah menjalin hubungan pacaran. Jangan tanya macam-macam. Sebentar lagi saya mau naik pesawat ke Taiwan." Jimmy menutup ponselnya. Ia tersenyum sambil menarik kopernya diikuti oleh Bu Jasmine dibelakangnya.
Sebentar lagi akan ada 2 wanita yang murka. Yeni dan Tiara...
Beruntunglah ia pergi ke Taiwan selama seminggu. Setidaknya bisa membuat 'pekerjaan' untuk 2 orang itu.
-To Be Continue-