Our Love

Our Love
Part 84



Sadarlah Jimmy.


Kau harus sadar bahwa Livia memang tidak ditakdirkan tercipta untukmu, tapi untuk pria lain di luar sana.


Pria itu harus merelakan Livia dengan pria lain.


Gadis itu bukanlah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.


Walaupun tidak bisa memiliki Livia, Jimmy berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan membantu gadis itu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah menjadi hak-nya.


Meskipun hal itu harus membuat papanya mendekam dalam penjara lebih lama juga keluarganya akan jatuh miskin.


“Kita pergi cari tempat makan siang dulu saja.” Saran Ai Chan membuat lamunan Jimmy buyar.


*****


Mama Jimmy datang mengunjungi suaminya (Pak David) di dalam penjara, “Ini makanan untuk papa yang sudah mama siapkan.” Ujarnya memberikan rantang makanan pada suaminya.


“Bagaimana dengan keadaan Jimmy ?” Tanya sang suami.


“Dia sekarang sedang berlibur di Villa Bandung bersama Livia dengan teman-temannya juga Robert. Puteramu mengatakan padaku kemarin malam, kalau Livia dan Robert sudah menjalin hubungan kembali.” Jelas mama


Jimmy.


Suaminya terdiam sesaat dan mengatakan, “Jika mereka sudah berbaikan ya sudah kita masih bisa untuk menjadikan Livia sebagai anak angkat. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Robert, mereka memiliki kenalan seorang dengan pangkat tinggi di kepolisian. Sudah cukup aku mendekam di penjara beberapa hari ini. Aku tidak mau masuk ke dalam penjara lagi. Bagaimana pun kita harus menjadikan Livia sebagai anak angkat kita.” Jelasnya panjang lebar.


“Kenapa sih kita harus mengangkatnya menjadi anak kita ? Bukankah sudah cukup ada Tasya dan Jimmy ?” Tanya mama Jimmy.


“Kau tentu tahu kita harus mengembalikan apa yang memang sudah menjadi hak gadis itu.” Jawab suaminya (Pak David/Papa Jimmy) dengan ketus.


Dia sungguh tidak habis pikir akan apa yang dipikiran suaminya.


Berulang kali dia bertanya namun jawabannya tetap saja sama.


Sungguh tidak dimasuk di akal.


Dia yang dulu sudah membunuh keluarga Wijaya demi mendapatkan  harta dan setelah kejadian  dua belas tahun berlalu, ternyata puteri keluarga tersebut masih hidup. Sekarang suaminya tiba-tiba saja menjadi baik.


Entahlah, tidak ada yang mengerti akan jalan pikiran suaminya itu.


Apakah dia benar-benar bersubah karena sudah mendekam di penjara ?


Atau karena masih ada hal lain yang ingin dia capai namun, tidak ingin menceritakan hal tersebut pada siapapun.


Hanya dia dan Tuhan yang tahu akan hal ini.


Sebagai sang isteri tentu saja, wanita paruh baya itu sangat berharap jika kali ini suaminya benar-benar berubah dan sungguh berniat mengembalikan perusahaan itu kembali menjadi milik Livia,  sebagaimana seharusnya.


Selama ini mereka hidup dihantui dengan rasa bersalah yang begitu bersar.


Setiap kali melihat Livia, seakan membuat otak mereka menarik kembali akan kejadian kecelakaan tragis itu yang telah mereka lakukan.


Livia bagaikan perwujudan  arwah penasaran dari orang tua nya yang tidak terima akan kematiannya yang begitu tragis.


“Mama sudah mendapatkan pengacara yang bagus untuk membela papa.” Ujarnya.


Papa Jimmy (Pak David) menggelengkan kepala kemudian mengatakan, “Tidak usah. Pasti juga akan susah untuk mengeluarkan ku juga. Yang terpenting kau uruslah surat-surat untuk menjadikan Livia sebagai anak  angkat kita.”


“Ya.” Jawab isterinya. Wanita peruh baya itu juga sudah lelah jika terus menerus memaksa suaminya untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Pasti tidak mungkin dia mau mengatakannya. “Kalau begitu aku permisi.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan. Pak David (suaminya/papa Jimmy) sendirian.


Tidak lama datanglah Papa Yeni untuk menjenguknya, “Lama kita tak bertemu.” Ujarnya yang duduk tempat bekas duduk isteri Pak David (Papa Jimmy) tadi.


“Kenapa kau kesini ?” Tanyanya kesal.


Bagaimana tidak.


Setelah, dia masuk ke dalam penjara.


Teman-temannya sudah jarang sekali menjenguknya di dalam penjara.


Ck.


Saat temannya berada di atas langit saja mereka selalu datang dan memuj-mujinya.


Dan sekarang saat dia jatuh ke level paling bawah dalam hidup, mereka malah pergi menghilang seakan tidak pernah mengenalnya.


Mungkin ada benarnya kata-kata dari sebagain orang.


Kau akan tahu siapa saja yang masih bertahan padamu, saat kau berada di dalam level terbawah dalam hidupmu.


Dan sekarang terbukti.


Papa Yeni tertawa pelan lalu berkata, “Aku tentu tidak bisa terus-menerus menemuimu. Belum lagi kau sudah di diagnosa oleh  polisi bahwa kau positif menggunakan narkoba. Apa kata rekan kerjaku, client-ku dan keluargaku jika aku terus berterman denganmu yang merupakan pengguna obat-obatan terlarang. Tentu saja namaku akan ikut tercemar, bahkan aku bisa dituduh juga ikut menggunakan obat-obatan terlarang itu sama sepertimu. Oh, tidak. Meskipun aku ini jahat tapi, aku tidak akan pernah mau menggunakan obat-obatan terlarang itu. Masih ada hal yang lebih baik aku lakukan dari pada mengonsumsi hal tersebut.” Jelasnya panjang lebar.


“Lalu, sekarang apa maumu datang kemari ?” Tanya Papa Jimmy (Pak David).


“Kapan kau akan mengumumkan Livia sebagai anak angkatmu ?” Tanyanya.


“Apa urusanmu mengetahui hal itu ?” Tanyanya balik.


“Aku ingin segerea menjodohkan Livia dengan puteraku Raka.” Ujarnya.


“Kau gila ? Livia sudah berpacaran dengan keluarga Robert. Kau tentu mengenal keluarga itu.” Kata Papa Jimmy (Pak David).


Papa Yeni mengganguk pelan lalu berkata, “Iya. Aku tahu. Maka dari itu, aku datang kesini untuk meminta bantuanmu. Jika kau berhasil membantuku untuk membuat Livia menikah dengan Raka puteraku maka harta keluarga Wijaya akan kita bagi dua. Bagaimana ? Tentunya setelah mereka menikah, aku akan memaksa Raka agar mengalihkan semua kekayaan Wijaya menjadi miliknya baru kita akan membunuh Livia. Begitulah rencanaku, bagaimana menurutmu ?” Jelasnya panjang lebar.


“Kau sudah gila ? Kau tahu keluarga Robert itu punya kenalan seorang petinggi di kepolisian. Aku tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian lagi.” Jawab Papa Jimmy (Pak David) menolak tawaran dari temannya. “Dari


pada kau mengurusi hal itu, lebih baik kenapa kau tidak mencari Tiara itu dan menghancurkannya ?” Timpalnya lagi.


Papa Yeni bersandar di kursi sambil melipat kedua tanganya di dada, lalu berkata, “Kemarin Yeni meneleponku kalau Tiara berada di Villa keluargamu yang di Bandung. Wanita ular itu mengancam puteriku bahwa dia akan membongkar semuanya kalau sampai kita berani macam-macam padanya.”


“Dan kau takut akan hal itu ?” Tanya Papa Jimmy (Pak David)


Papa Yeni tertawa keras.


Takut ?


Yang benar saja.


“Kalau dia berani macam-macam, maka aku bisa membongkar kalau dia lah penerus terakhir keluarga Wijaya yang palsu. Menurutku, Raka dan Livia itu sangat cocok. Coba kau bayangkan jika mereka bersatu pasti nama besar keluarga kami juga akan semakin bagus jika terucapkan. Livia Wijaya Kusuma. Bukankah itu nama yang sangat bagus ?” Tanyanya.


“Seharusnya kau ikut masuk dalam penjara sepertiku.” Geram papa Jimmy (Pak David).


“Tidak mungkin. Kalau dihitung-hitung diantara kita berempat yang dulunya  adalah orang kepercayaan keluarga Wijaya, kau lah yang paling banyak melakukan dosa. Kau yang sengaja merusak rem mobil mereka hingga mereka meninggal. Kami bertiga tidak melakukan hal apapun. Namun, sialnya dirimu. Kau berniat membunuh satu


keluarga itu malah menyisahkan Livia yang masih hidup sampai sekarang.” Ujar Papa Yeni


Papa Jimmy (Pak David) mengucapkan sumpah serapah pada temannya dalam hati, tak lama dia berkata, “Bukankah kalian bertiga menikmati hasilnya ?”


“Pak Rahmad, bahkan tidak mengambil apapun dari kekayaan Wijaya yang sudah kita rampas. Hanya aku, Papa Hanna dan kau yang berfoya-foya akan uangnya. Aku tidak tahu apa yang di pikiran Pak Rahmad, bahkan sampai sekarang kami tidak mengetahui ada dimana dia. Tapi, baagus lah kau sudah memecatnya. Bisa bahaya kalau beliau dan Livia bertemu. Semua rencana kita bisa kacau. Justru, diantara kita bertiga kau lah yang paling berdosa dan serakah. Aku, kau dan Papa Hanna memang merencanakan pembunuhan itu. Tapi, kau yang meng eksekusinya. Bahkan, diantara kami berdua malah kau yang berhasil menguasai perusahaannya bahkan merubah namanya sekarang menjadi Sapphire Blue Corp. Coba pikirkan sekarang, siapa yang paling pantas untuk masuk dalam penjara.” Ujarnya sambil tersenyum lalu saat beliau berniat pergi perkataan Papa Jimmy (Pak David) membuatnya terdiam."Kau tahu, waktu itu Tiara datang bersama Robert ke kantor pengacara. Tidakkah kau merasa ada sesuatu yang aneh diantara mereka berdua ?"


"Aku memang sedang menyelidiki apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua." Ujar Papa Yeni. "Lebih baik, kau urusi saja dosa yang sudah kau perbuat disini." Pria itu pergi meninggalkan Papa Jimmy (Pak David sendirian)


Ya memang benar apa yang dikatakannya.


Sebagian besar dosa berada di tangannya.


Dialah yang sudah menyebabkan orang tua Livia meninggal, dan dia juga yang mengambil sekitar tujuh puluh persen aset dari perusahaan Wijaya lalu kemudian merubah namanya seperti perusahaan yang sudah dikenal oleh banyak masyarakat. Sapphire Blue Corp.


Tanpa mereka berdua sadari, Tiara sejak tadi bersembunyi dan merekam pembicaraan mereka.


Sungguh beruntung sekali dia.


Sekarang dia mempunyai dua rekaman pengakuan para manusia jahat itu.


Jika mereka berani berbuat macam-macam padanya, maka bisa saja dia meyebarkan semua pembicaraan mereka.


Beruntungnya kau ini Tiara.


Dengan segera wanita itu masuk ke dalam ruangan berkunjung, “Hai om.” Ujarnya duduk di depan Pak David (Papa Jimmy). “Mau apa lagi kau kesini ?” Tanyanya judes.


“Megunjungi om. Memangnya tidak boleh ?” Tanya Tiara balik.


“Tidak. Aku tidak butuh tamu sepertimu.” Ucapnya.


Tiara tertawa kecil lalu mengatakan, “Kenapa om galak sekali sih ? Seharusnya om bersikap baik selama di penjara ini agar om bisa cepat keluar karena tingkah laku om yang baik selama di penjara.”


“Kau ‘kan yang sudah memasukkanku ke dalam penjara dan merekayasa agar seakan-akan aku menggunakan narkoba padahal sebenarnya aku sama sekali tidak pernah mau menyentuh barang terlarang itu.” Ujar Pak David (papa Jimmy) yang menatap tajam ke arah Tiara.


Tiara berpura-pura terkejut dan mengatakan, “Om menuduhku ? Om tidak punya bukti bahwa aku pelakunya. Lagian kenapa aku harus memasukkan om dalam penjara ? Om, sebaiknya jangan menuduh yang macam-macam padaku tanpa bukti. Itu jatuhnya fitnah loh. Ingat, fitnah itu jauh lebih kejam dari pada pembunuhan. Dan kalau aku tersinggung aku bisa saja menambahkan pasal baru ke dalam hukuman om, yaitu pasal pencemaran nama baik. Tapi, karena aku memang wanita yang sangat baik. Aku tidak akan menuntut om kok atas pencemaran nama baik. Seharusnya om berterima kasih padaku. Karena aku, maka hukuman om tidak akan makin lama.” Ujar Tiara panjang lebar.


Wanita itu senang sekali karena semua keadaan berada di dalam gengamannya.


“Maaf nona. Waktu berkunjung sudah habis.” Ujar seorang polisi datang menghamnpiri meeka.


Tiara tersenyum menatap pak polisi, “Baik pak. Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya permisi” Ujarnya lalu pergi.


****


Disaat Robert dan Livia tengah asyik makan siang tiba-tiba saja ponsel Livia berdering. Dari Tiara. Dengan segera dia mengangkatnya, “Ada apa ?”


Tiara berjalan menuju mobilnya menagatakan, “Ada yang harus aku bicarakan denganmu.”


“Katakan saja.” Ujar Livia.


“Aku berharap kau tidak mau menerima pengangkatan anak dari keluarga Kurniawan.” Ujar Tiara yang mengalakan mesin mobil.


“Kenapa aku harus menuruti apa yang kau katakan ?” Tanya Livia.


“Karena jika kau melakukannya maka, mereka berniat untuk membunuhmu.” Ujar Tiara yang mulai keluar dari wilayah kantor kepolisian.


Livia tertawa kecil lalu mengatakan, “Terima kasih atas peringatanmu. Tapi, aku akan tetap menerima pengangkatan anak angkat itu.”


“Kenapa kau tidak mempercayaiku ? Mereka berniat membunuhmu. Kau tidak tahu ada surat wasiat yang dibuat ayahmu sebelum dia meninggal ?” Tanya Tiara padanya.


Llivia terdiam sejenak.


Gadis itu tahu bahwa ayahnya pernah menulis surat wasiat untuk berjaga-jaga sebelum beliau meninggal.


Surat wasiat asli itu masih dipegang oleh Livia sejak ia kecil


Yang dipegang oleh pengacara keluarganya adalah surat copy-an saja.


Pengacara keluarganya pernah bertemu dengan Livia sekali saat dia masih kecil.


Entah apakah pengacara itu lupa atau bagaimana.


Jika seandainya Tiara mengaku sebagai penerus terakhir Wijaya seharusnya, pengacara itu tahu kalau penerus alsinya bernama Livia Wijaya bukannya Tiara.


Sepertinya gadis itu harus kembali mencari pengacara itu dan menemuinya.


“Kau mendengarkan ku tidak sih ?” Tanya Tiara membuyarkan lamunan Livia.


“Iya. Aku tahu. Sudah ya. Aku tutup dulu lagi makan nih.” Ujar Livia langsung memutuskan panggilan teleponnya.


“Siapa ?” Tanya Robert usai Livia memasukkan ponselnya dalam tas.


“Nanti aku bicarakan saat di mobil. Disini berbahaya kalau ada yang mengetahuinya.”Ujar Livia.


“Baiklah.” Kata Robert.


Setelah selesai makan mereka langsung, menuju mobil, “Tiara yang meneleponku tadi. Dia mengatakan agar aku menolak pengangkatan anak oleh keluarga Jimmy karena mereka ingin membunuhku karena dari wasiat papa.” Ujar Livia saat mereka sudah di dalam mobil.


“Memang apa isi dari surat wasiat itu ?” Tanya Robert penasaran.


“Isinya mengenai kalau kekayaannya papa jatuh ke tanganku saat beliau sudah meninggal. Namun, jika aku juga ikut meninggal juga maka seluruh harta jatuh ke sebuah panti asuhan.” Jelas Livia padanya. “Aku menyetujui akan pengangkatan anak itu agar aku bisa segera mengambil alih perusahaan papa dari mereka. Hari ini hari sabtu ya ? aku lupa.”


“Memangnya kenapa ?” Tanya Robert penasaran.


“Aku ingin menemui pengacara papa itu. Entah beliaumasih ada atau tidak. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya juga.” Ujar Livia.


“Siapa namanya mungkin aku bisa membantu mencarinya ?” Tanya Robert.


“Kalau tidak salah namanya Pak Markus Hendrawan.” Ujar Livia.


“Baiklah nanti aku akan bantu kau mencarinya.” Ujar Robert.


“Makasih ya dan aku minta maaf karena selalu merepotkanmu.” Ujar Livia penuh rasa bersalah.


Robert mengacak rambut kekasihnya lalu mengatakan, "Tenang saja. Aku justru senang bisa membantumu. Santai saja. Jangan merasa bersalah begitu. Yang aku tidak mengerti adalah si Tiara. Kenapa dia seakan membantumu ? Sejak kapan wanita itu berubah menjadi baik.”


Livia mendesah pelan dan mengatakan, “Maka dari itu, aku juga tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu. Berulang kali aku tanya dia tetap saja tidak mau menjawabnya. Dan malah menyuruhku berhati-hati dengan teman-temanku sendiri karena menurutnya, dua diantara mereka ada yang ingin berbuat jahat padaku. Aku tidak tahu. Apakah aku harus mempercayai ucapannya atau bagaimana. Aku bingung.”


“Dia tidak menyebutkan siapa ?” Tanya Robert memastikan.


“Tidak.” Jawab Livia pelan.


Pria itu terdiam. Dia hanya tahu papa Jimmy (Pak David) adalah orang harus dijauhi dari Livia, tapi agak mengejutkan juga kalau dua dari ke lima teman Livia juga orang yang jahat. “Hari senin kau sibuk ?” Tanyanya.


“Iya. Padahal kalau libur aku ingin menemui Tiara juga mencari pengacara papa.” Ujar Livia.


“Kamu kan seharusnya sudah selesai magang. Berarti bebas donk, kalau kau ingin masuk atau tidak ?” Tanya Robert.


“Iya sih. Nanti akan aku coba bicarakan pada Jimmy.” Ujar Livia.


“Aku juga akan mengajukan surat pengunduran diri. Aku ingin berkerja di Rumah sakit papa saja .” Kata Robert.


“Kenapa ?” Tanya Livia penasaran.


“Kamu tidak ada disana. Lalu, buat apa aku kerja disana kalau kau tidak ada disana lagi ? Lebih baik aku harbiskan waktuku menolong orang-orang di Rumah sakit.” Gerutu Robert membuat Livia tertawa kecil.


“Kau kerja di Rumah Sakit, maka kita juga akan jarang bertemu Dokter Robert.” Goda Livia padanya.


“Aku hanya berkerja tidak setiap hari kok. Aku kan dokter umum. Jadi, tak apalah jika aku ada bolos dikit.” Ujar Robert dengan santai.


“Jangan gitu. Kesehatan pasienmu lebih penting tahu.” Tegur Livia.


“Iya Nyonya Robert.” Goda pria itu membuat wajah Livia memerah, “Tuh kan memerah pipinya.”


Gadis itu memukul lengannya pelan, “Ash.. jangan mengajakku bercanda. Fokuslah menyetir.” Perintahnya.


“Baik nona.” Ujar Robert sambil tersenyum. Tak lama Hujan pun turun dengan derasnya, “Astaga malah hujan mana deras pula.” Keluhnya.


“Malah baguis. Aku suka sekali dengan hujan. Terlebih lagi disaat aku sedang sedih maka aku akan hujan-hujanan agar tidak ada seorang pun tahu kalau aku sedang menangis.” Ujar Livia pelan.


“Ya aku tahu itu. Saat sekolah dulu kau pernah hujan-hujanan sambil menangis.” Kata Robert, “Malah  jalanan macet sekarang.Tapi, tak apa. Aku bisa berduaan lebih lama denganmu disini.” Godanya melirik Livia.


“Kau tahu ya ? Dulu aku sama sekali tidak mempunyai teman. Dari kecil sejak papa dan mama meninggal sampai remaja, aku selalu diejek sebagai anak haram atau anak yang dibuang oleh orang tuanya. Sudah berulang kali aku mengatakan kalau mereka sudah meninggal namun, tidak ada satupun dari mereka yang mempercayainya. Sungguh kasihan ya diriku ini.” Ujarnya yang tak terasa Livia mulai mengeluarkan air mata.


Setiap kali membahas orang tuanya.


Pasti air matanya akan keluar.


Dia benar-benar rindu sekali pada mereka.


Andaikan..


Andaikan dia diberikan 1 kesempatan sekali lagi saja..


Dia ingin sekali bertemu dengan mereka...


Robert memegang tangan Livia erat lalu menghapus air matanya lalu mengatakan, “Jangan menagis. Aku tak suka melihatmu menangis dan menderita seperti ini. Tersenyumlah. Sekarang kau punya aku dan keluargaku yang bisa kau anggap sebagai orang tua kandungmu sendiri.”


Livia memegang tangan Robert dan mengatakan, “Terima kasih ya. Terima kasih kau mau menerimaku apa adanya. Terima kasih karena kau selalu ada dimana aku sangat membutuhkan seseorang dan terima kasih atas segala yang kau lakukan untukmu. Aku beruntung sekali bisa memilikimu.”


Robert tersenyum mencium sekilas kekasihnya, “Aku juga sangat berterima kasih padamu. Karena kau mampu bertahan hingga pada titik ini. Sekarang yakinkan pada dirimu sendiri. Kau tidak sebarang kara di dunia ini


sekarang. Aku.. Aku selalu ada untukmu.” Ujarnya dengan lembut.


Mungkin yang dikatakan orang kebanyakan memang ada benarnya.


Ketika ada orang yang pergi dari hidup kita untuk selamanya.


Maka, Tuhan telah mempersiapkan orang yang baru dalam hidup kita.


Walaupun, Livia sangat sedih karena rasa rindu dan penyesalan yang amat mendalam.


Tapi, gadis itu sadar.


Tuhan tidak meninggalkannya sendiri.


Tuhan mengirimkan sosok Robert ke dalam hidupnya.


Pria yang sangat mencintainya.


Pria yang mau menerima segala kekurangannya.


Dan Pria yang sangat dicintainya melebihi apapun.


Livia sangat bersyukur karena memiliki pria itu dalam hidupnya sekarang.


Robert tersenyum kecil, “Jangan seperti itu. Kau malah semakin membuatku ingin segera menikamu tahu.” Ujarnya membuat Livia tersenyum kecil.


~To Be Continue~