
"Ijinkan saya memberikan hadiah juga untuk acara hari ini." Papa Yeni berdiri menghadap semua orang yang ada disana, "Saya dan Pak David selaku ayah angkat dari Livia telah sepakat untuk menjodohkannya dengan putera saya, Jimmy."
Semua orang tampak terkejut termasuk Livia dan Robert. "Maaf om, saya tidak akan setuju akan adanya perjodohan ini." ujar gadis itu padanya, "Saya sudah memiliki kekasih."
Semua orang tidak menyangka akan mendapat kejutan dalam acara ini. Siapa sangka anak baru yang masuk kerja selama 3 bulan adalah penerus terakhir keluarga Wijaya yang masih hidup. Kini semuanya terasa masuk akal dimata para karyawan, mengenai alasan kenapa Livia begitu mudah sekali diterima berkerja dan langsung menjadi satu-satunya orang yang dapat berkerja satu ruangan dengan CEO mereka.
Karyawan-karyawan tersebut menduga kalau memang sudah sejak awal keluarga Kurniawan mengetahui semua ini. Ibu Jasmine tersenyum menatap orang-orang yang tengah berbisik dibelakangnya, "Berhati-hatilah bagi teman-temanmu yang dulu sering membully Livia. Saya juga tidak dapat memastikan akan tetapi, jika perusahaan Wijaya dapat bangkit lagi. Maka, ia akan memecat orang-orang yang dulu membully bahkan membicarakannya dari belakang."
Beberapa orang bergidik nyeri saat mendengar hal itu, "Dia statusnya hanya sebagai anak angkat keluarga Kurniawan. Kenapa kita harus takut padanya?" kata seorang diantara mereka. "Lagipula sekarang perusahaan Wijaya sudah tidak ada."
Belum sempat Bu Jasmine menjawab, perhatian mereka kembali tertuju pada Robert yang mengatakan, "Kami akan segera menikah. Jadi, anda tidak perlu repot-repot untuk menjodohkan mereka."
Semua orang sekali lagi terkejut akan perkataan itu. Acara apa ini sebenarnya? Livia lebih merasa ini adalah ajang siapa yang dapat memberikan pengumuman paling mengejutkan.
Kenapa dengan mereka semua?
Raka ikut naik ke atas panggung lalu berbisik pada papanya, "Sudahlah Pa. Biarkan mereka berdua bersama."
"Kau.." Papa Yeni menatap tajam ke puteranya.
Livia sangat kaget akan apa yang baru saja ia dengar. Robert secara tak langsung melamarnya di depan umum. Walau gadis itu sungguh belum siap, tapi...
"Iya. Kami akan segera menikah." Ucapan Livia mendapat teriakan riuh semua orang yang senang mendengarnya termasuk para wartawan makin sibuk memfoto mereka.
Ya.
Meskipun belum siap sama sekali, akan tetapi daripada gadis itu harus berada dalam satu tempat yang sama dengan keluarga barunya. Malah semakin mempebesar kemungkinan ia terbunuh. Dengan mereka menikah Robert akan bisa selalu bersamanya.
Apakah aku siap?
Aku mencintaimu.
Tapi, aku belum siap sama sekali untuk menikah.
Pernikahan. Tidak pernah terbesit sekalipun kata itu muncul dalam pikirannya.
Livia takut...
Takut akan rasa cintanya ini akan berubah menjadi memanfaatkan laki-laki itu secara tak langsung.
Dengan segera Jimmy mengambil alih, "Baiklah. Pasti kalian sudah sangat lapar bukan? Kami persilahkan agar para tamu bisa kembali duduk untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia."
Para tamu termasuk wartawan kembali duduk ke tempat masing-masing. "Kalian kalau mau saling memberikan pengumuman jangan disini. Semua orang jadi tidak fokus pada acara ulang tahun perusahaanku." Ujar Jimmy pada mereka sementara tamu-tamu lain sedang makan sembari diberikan video-video mengenai perjalanan awal mula dari Sapphire Blue Corp.
"Jika beliau tidak memulainya maka, aku juga tidak akan membalasnya." ujar Robert menarik Livia agar duduk semeja dengan orang tuanya.
Jimmy pun juga ikut menarik tangan gadis itu, "Dia bintang acara hari ini, sudah seharusnya Livia duduk bersama kami."
"Dia kekasihku sekaligus calon isteriku."
Livia melepaskan pegangan tangan Jimmy darinya, "Aku akan bergabung dengannya."
Jimmy menarik paksa tangan gadis itu, "Jangan kau hancurkan acara ini dengan kau duduk bersamanya."
-To Be Continue-