Our Love

Our Love
Part 60



"Aku masih tak mengerti akan alasan kenapa Hanna dan Yeni jadi begitu." Ujar Narul pada kedua temannya, Ai Chan dan Nia.


Yeni dan Hanna tidak pernah seperti itu pada mereka. Kenapa mereka berdua begitu enggan sekali kalau Nia, Ai dan Narul mengetahui sesuatu ?


Apa yang mereka berdua sembunyikan ?


Kenapa semua orang jadi se-misterius itu ?


Semakih lama berpikir membuat Narul semakin penasaran, akan apa yang sebenarnya terjadi ?


Dan akan apa yang tidak mereka ketahui ?


Jika Yeni dan Hanna tidak mau membocorkannya, maka mereka harus mencari cara lain untuk mengetahuinya.


Tapi apa ?


Semua hal ini sangat membingungkan mereka.


Nia merangkul Narul, "Kita jangan berbicara disini ke perpus kampus saja sekalian kerjain skripsi dan laporan OJT (On The Job Training). Disana ada ruangan yang kedap suara jadi lebih aman." Kata Nia membuat kedua temannya terdiam dan menyetujui hal itu. Dengan segera mereka pergi ke perpus setelah mendapatkan ijin dari Yeni.


Sekesal-kesal dan semarahnya mereka bagaimana pun juga Yeni adalah atasan mereka yang harus dihormati. Mereka tidak akan mencampur adukkan antara masalah pribadi dengan masalah di kantor. Jadi, semarah apapun mereka harus bersikap profesional di tempat kerja.


Itu adalah hal yang paling utama dan penting.


Hal itu berlaku di semua tempat, baik itu sekolah ataupun perkantoran sekalipun.


"Kamu sudah sampai bab berapa di laporan OJT (On The Job Training) ?" Tanya Ai Chan.


"Aku sih sudah semua tinggal ngerapiin yang bab 4 dimana harus dijelasin kan kerjaannya ngapain aja tiap hari." Jawab Nia.


"Aku juga bab 4 belum selesai dan yang bab 3 soal profil perusahaan." Timpal Narul. "Eh, tapi yang punya Livia gimana tuh ya yang bab 4. Dia sering kena masalah hingga harus istirahat dulu karena takut traumanya kambuh."


"Entahlah, kita doakan saja mudah-mudahan laporan OJT (On The Job Training)-nya lancar." Ucap Nia.


"Amin." Ucap Narul dan Ai Chan.


"Kalian sidangnya mau kapan ?" Tanya Ai Chan.


"Aku kayaknya mau barengan ama Livia deh. Kalian gimana ?" Jawab Narul.


"Kami di minggu kedua saja sidangnya." Jawab Nia. "Kalau Hanna ama Yeni ga tahu ya."


"Jadwal skripsi kita juga sama ya ? 1 dosen pembimbing." Ujar Narul. "Ya ampun, aku seneng banget loh. Kita temenan dari awal-awal perkuliahan, lalu sampe sekarang bareng terus. Semoga kita bisa wisuda bareng ya."


"Amin..Kalau sidang OJT (On The Job Training) ini uda kelar aku mau fokus cari beberapa judul untuk diajuin ke dosen pembimbing nanti." Kata Ai Chan.


Nia menyenderkan badannya di kursi, "Kau enak sudah menemukan judul. Lah, aku ? Belum sama sekali menemukan apa yang mau dibahas dan mau mengambil kualitatif atau kuantitatif di laporan skripsi." Ujarnya.


"Aku akan ambil kuantitatif sih, karena suka hitung-hitungan." Ujar Ai Chan memegang bahu Nia, "Tenang saja, kau pasti akan segera menemukan judul yang cocok untuk skripsimu."


"Iya nih. Aku juga belum tahu mau ambil judul apaan untuk skripsi." Timpal Narul.


"Yang soal Yeni dan Hanna bagaimana ? kita masih marahan dengan mereka gitu ?" Tanya Narul.


"Ya mau gimana. Mereka tak mau jujur dengan kita." Jawab Nia.


"Mungkin memang tak semua hal harus kita tahu sih Nia. Mau berbaikan lagi dengan mereka ?" Pertanyaan Narul membuat Ai Chan dan Nia terdiam seribu bahasa.


Ya yang dikatakan oleh Narul memang ada benarnya sih.


Mereka sudah berteman hampir empat tahun masa iya karena hal sepele ini, pertemanan mereka jadi putus.


Sepertinya mereka memang harus memikirkan pertemanan ini lagi.


"Kalau uda Skripsi aku akan berhenti dari kantornya Yeni. Mau lebih fokus saja ke laporan itu." Ujar Nia.


"Sama Ni. Yeni dan Hanna juga pernah bilang gitu kok ke aku." Kata Ai Chan. "Kalau kau ?" Tanyanya sambil menatap Narul.


"Ya. Aku juga akan melakukan hal yang sama." Jawab Narul.


"Setelah kita semua wisuda, pokoknya kita harus berlibur bersama tanpa ada seorang pun yang menggangu. Bagaimana ?" Tanya Ai Chan.


"Setuju Ai. Pokoknya kita harus berlibur hanya kita ber-enam. Tidak boleh ada pria yang ikut." Ujar Narul dengan antusias.


"Mau liburan kemana dulu nih ?"  Tanya Nia.


"Malang aja bagaimana ? atau mau ke Singapore ?" Tawar Ai Chan.


"Malang aja Ai." Jawab Narul.


"Oke. Sip. Sudah ditentukan ya. Setelah wisuda kita akan ke Malang untuk berlibur bersama." Ucap Nia yang dijawab dengan anggukan kepala kedua temannya, Narul dan Ai Chan.


Ponsel Narul berbunyi


(Lagu : Charlie Puth - Attention)


Oh-oh, ooh


You've been runnin' round, runnin' round, runnin' round throwin' that dirt all on my name


'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd call you up


You've been going round, going round, going round every party in L.A


"Ash. Menggangu saja. Sebentar ya, ada telepon dari kantor." Ujar Narul pada teman-temannya lalu agak pergi menjauh sedikit untuk mengangkat telepon.


*****


"Robert, bisakah kita pergi ke makam papa dan mama saja ?" Tanya Livia saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Baiklah." Jawab Robert menurutinya.


Lagi pula memang sudah lama pria itu tak mengunjungi makam orang tua Livia.


Tidak ada salahnya juga pria itu bisa mendoakan orang tua Livia sekaligus meminta restu dari mereka untuk hubungannya dengan gadis yang sangat dicintai.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan ? Disaat ada orang lain yang mengaku sebagai diriku. Aku punya beberapa bukti bahwa aku adalah penerus Perusahaan Wijaya yang asli dan terakhir. Aku bingung apa yang harus ku lakukan sekarang. Fokus-ku bukan kepada Tiara yang mengaku-ngaku sebagai aku. Tapi, pada informasi mengenai dimana Pak Rahmad berada. Beliau yang tahu akan semua masalah ini." Ujar Livia yang mengeluarkan semua keluh kesahnya. Selama ini hanya Robertlah yang paling dia percayai.


Pria itu kini tahu semua rahasia di masa lalu yang kelam itu.


Hanya dia yang selalu ada untuknya selama ini.


Andaikan..


Andaikan dulu mereka tidak putus karena Robert memutuskan untuk kuliah kedokteran di Luar Negeri.


Mungkin mereka sudah menikah sekarang.


Ah...


Rencana Tuhan tidak ada yang mengetahuinya, mereka dipisahkan lalu dipertemukan kembali saat ini.


Mungkin itu pertanda kalau mereka sebenarnya sudah ditakdirkan bersama.


Well...


Hanya Tuhan yang mengetahui-Nya.


"Jika seandainya, kau tahu bahwa orang tuamu meninggal bukanlah karena murni kecelakaan melainkan disengaja. Apa yang kau lakukan ?" Tanya Robert penasaran.


Dia tidak tahan harus menyembunyikan sebuah rahasia dari gadis itu.


Buatnya, Livia adalah cinta pertama sekaligus terakhirnya.


Gadis yang sangat dicintainya.


Gadis yang sangat ingin dia lindungi.


Gadis yang sangat ingin dia buat bahagia bahkan tidak boleh ada setetes air mata mengalir di pipinya.


Gadis yang suatu hari nanti akan menjadi ibu dari anak-anaknya.


Sungguh keinginan yang sangat diharapkan untuk menjadi kenyataan.


Kenyatana itu mungkin akan membuatnya sangat sakit, tapi itulah kenyataan yang harus Livia ketahui dan terima.


Entah itu dalam waktu yang cepat atau lambat.


Suatu saat nanti Livia akan mengetahui semua kebenarannya.


Apa aku harus mengatakannya ?


Aku tak bisa membayangkan akan bagaimana reaksinya nanti jika seandainya aku mengatakan yang sejujurnya.


"Apa maksud ucapanmu itu ?" Tanya Livia sembari menatapnya tajam.


Pria itu menyembunyikan sesuatu darinya.


Sangat jelas sekali.


Ah.. sudahlah..


Semua orang juga punya banyak hal yang mereka rahasiakan.


Jika dia tak mau menceritakannya, ya sudah tidak usah dipaksakan juga.


Livia juga sudah terlalu lelah akan semua hal ini.


"Aku hanya bertanya saja tidak ada maksud lain. Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan dariku ?" Tanya Livia penuh selidik.


Robert tertawa kecil, "Tidak." Ujarnya bohong.


Maaf Livia.


Aku harus berbohong padamu.


"Kita sudah sampai di area pemakaman." Tambahnya.


Ahh..


Pada akhirnya dia tak mampu untuk berkata sejujurnya.


Dasar pengecut.


Marahi saja dirinya yang tak mampu berkata yang sejujurnya pada gadis itu.


Robert memaki dirinya sendiri dalam hati.


Dasar bodoh...


Livia segera turun dari mobil dan berjalan menuju makam orang tuanya yang bersebelahan.


Baru saja gadis itu dan Robert tiba di area pemakaman, sudah ada bunga tegeletak di atas masing-masing makam. "Bunga ini lagi." Gumam Livia pelan. Sejak kedua orang tuanya meninggal 12 tahun yang lalu. Setiap tahunnya selalu ada bunga di makam mereka.


"Sampai sekarang kau belum tahu siapa yang menaruhnya ?" Tanya Robert ikut berjongkok disebelah Livia yang dijawab dengan gelengan kepala gadis itu. Tangannya ikut memegang makam orang tua Livia yang saling bersebelahan. Dalam hati, pria itu berdoa.


Om..tante...


Kalian tidak perlu khawatir...


Saya akan selalu menjaga dan melindungi Livia.


Saya sangat mencintai puteri om dan tante.


Saya harap om dan tante mau merestui hubungan kami suatu saat nanti.


Lihatlah Livia tumbuh jadi anak yang kuat.


Om dan Tante sudah berhasil mendidik Livia hingga seperti ini.


Aku sangat bersyukur karena om dan tante bisa membuat Livia hadir di dunia ini hanya untukku seorang.


Setelah Livia selesai berdoa, lalu mengatakan, "Aku sudah berulang kali bertanya pada penjaga makam dia hanya bilang memang ada seorang pria tua datang tiap tahunnya dan menaruh bunga ini di makam papa dan mama. Namun, pria tersebut tak pernah memberitahu siapa dirinya."


Ponsel Robert berdering, pria itu pergi meninggalkan Livia sendirian. "Papa mama..Bagaimana kabar kalian ? Livi, lelah.. Pa..Ma.. trauma Livi masih belum sembuh, aku harus memikirkan Laporan OJT dan skripsiku, pekerjaanku, informasi tentang perusahaan kita yang hilang, teror chat itu yang bilang ada Livi tak boleh percaya pada teman-teman Livi, lalu ditambah ada seorang yang mengaku-ngaku sebagai penerus terakhir perusahaan kita. Otak dan badan Livi lelah memikirkan semua ini." Livia tertidur di makam mamanya, "Bisakah Livi menyusul papa dan mama saja disana ?"


Air matanya mengalir. Di umurnya yang masih muda sudah ada banyak masalah datang. Mungkin ia terlihat dari luar seperti tak perduli. Namun, otaknya tak berhenti untuk berkerja memikirkan bagaimana penyelesaian akan semua masalah. "Livi, harus bagaimana, Pa, Ma."


Robert datang setelah menerima telepon, ia berjongkok membelai rambut Livia lalu berkata, "Menangislah jika itu membuatmu tenang. Aku akan selalu disini menemanimu."


"Makasih ya kau mau menemaniku..Maaf, kalau aku selalu merepotkanmu bahkan kau jadi suka bolos kerja karenaku." Ucap Livia tertawa kecil.


Pria itu menatap kedua makam orang tua Livia.


Om.. tante..


Saya berjanji akan selalu menjaganya dan memberikannya kebahagiaan.


Om dan tante tidak perlu khawatir..


Robert menghapus air mata Livia, "Jangan merasa begitu. Ingatlah, kau berharga bagi orang tuamu dan teman-temanmu."


Juga kau sangat berharga bagiku.


Livia tersenyum kecil, "Iya. Makasih ya.."


"Sekarang kau mau kemana ? Aku temani." Ucap Robert mengacak rambut Livia dengan gemas.


"Aku mau perpustakaan kampus untuk selesaikan laporan OJT (On The Job Training) karena malam ini kelasnya terakhir dan minggu depan sudah mulai sidangnya." Kata Livia.


"Baiklah ayo." Ucap Robert sambil mengacak kembali rambut Livia.


"Ash, jangan mengacak rambutku." Keluh Livia cemberut membenarkan rambutnya membuat Robert tertawa puas melihat tingkahnya.


"Aku gemas sih ama wajahmu yang cemberut itu." Jawab Robert kali ini mencubit kedua pipi Livia.


"Sakit tahu." Rintih Livia melepaskan kedua tangan Robert dari pipinya.


"Aku masih mencintaimu." Ucapan Robert membuat Livia terdiam.


Pria itu memukul dirinya sendiri.


Ash..


Kenapa tiba-tiba dia mengucapkan hal itu ?


Mudah-mudahan saja Livia tidak marah saat mendengarnya.


Robert mengaruk kepalanya yang tak gatal, "M..maaf." Ucapnya kikuk.


Livia tersenyum.


Jujur.


Gadis itu sangat senang mendengarnya.


"Tak apa. Santai saja. Jadi, mengantarku ke Kampus tidak ?" Tanya Livia yang pipinya masih memerah.


"K..kau tidak marah ?" Tanya Robert memastikan.


Gadis itu menggeleng, "Tentu saja tidak. Aku malah senang kalau kau mengatakan hal itu." Ujarnya sambil menundukkan kepala.


Duh.. Malu sekali..


Robert tersenyum lebar.


Setidaknya masih ada harapan untuk mereka kembali bersama.


Pria itu merasa sangat senang sekali.


Akhirnya...


Ada tanda-tanda bahwa kemungkinan besar mereka akan kembali bersama.


Hanya menunggu sedikit waktu.


Keinginan Robert selama ini, sebentar lagi akan tercapai.


Terima kasih Tuhan.


Karena Engkau telah mempertemukan kembali aku dengannya.


Semoga semua masalah ini cepat selesai sehingga mereka bisa melanjutkan ke tahap pernikahan.


*****


Nia sama sekali tidak bisa fokus mengerjakan laporan OJT (On The Job Training) yang dimana sebentar lagi mereka akan disidang. "Aku tak habis pikir apa yang mereka sembunyikan."


"Aku juga tidak bisa konsen mengerjakan laporan OJT (On The Job Training) ku." Ai Chan menatap kedua temannya, "Apa maksud perkataan Jimmy yang dimana seharusnya Yeni membunuh Tiara ?"


"Sepertinya Tiara mengetahui sesuatu yang dimana membuat keluarga Jimmy, Hanna dan Yeni merasa terancam sehingga mereka ingin membunuhnya." Ujar Narul. "Apa semua ini berkaitan dengan Livia ?" Tanyanya.


Mereka saling memandang satu sama lain, "Kita harus menemui Tiara sekarang. Aku pernah lacak ada di mana rumahnya." Ujar Ai Chan yang disetujui kedua temannya. Mereka berberes dan menemui wanita itu. Mereka tidak akan tenang sebelum mengetahui semuanya akan apa yang sudah terjadi.


-To Be Continue-