Our Love

Our Love
Part 49



Walau begitu, ia sangat bersyukur mempunyai teman-teman seperti mereka. Dan akan selalu ia ingat sampai akhir hidupnya. Satu yang Livia harapkan dari mereka, jangan sembunyikan sebuah rahasia apapun darinya. Kau tahu, ada rasa dimana kau percaya penuh pada teman-teman terdekatmu lalu suatu ketika ternyata mereka menyembunyikan 1 rahasia besar yang akan berpengaruh terhadap hidupmu selama ini. Pasti akan merasa kecewa bukan ?


Sekalipun mereka berkata berbohong demi kebaikan kita. Ingat, Tidak ada yang namanya berbohong demi kebaikan. Sekali berbohong tetaplah berbohong. Livia akan lebih menghargai mereka jujur walau akan membuatnya sakit hati akan kejujuran itu. Bukankah semua orang punya pendapat tersendiri mengenai 'Berbohong demi kebaikan' ?


Suasana kafe sangatlah ramai dipenuhi oleh anak-anak muda, beruntunglah mereka mendapatkan ruang untuk parkir mobil. Begitu masuk kedalam semua mata memandang mereka. Cukup membuat Livia merasa risih, berbeda dengan temannya yang lain tampak biasa saja karena memang kemanapun mereka pergi selalu jadi pusat perhatian. "Pada mau pesan apa ?" Tanya Yeni begitu pelayan datang memberikan menu.


"Fish and Chips lalu minumnya Jus Alpukat." (Livia)


"Ayam Geprek sambal matah dan es teh manis." (Narul)


"Aku mau bakmi goreng dan jus jeruk." (Ai Chan)


"Kwetiau kuah seafood dan es teh tawar aja." (Nia)


"Fish and Chip lalu es teh manis saja." Yeni memberikan menu kepada pelayan. Pelayan tersebut mengulangi pesanan lalu pergi.


"Rame banget yakk disini." Nia melihat ke arah sekeliling.


"Hari minggu maklum-lah Ni." Ujar Narul yang mulai berselfie ria.


"Hanna, pasti datang kan ?" Tanya Livia.


"Dia bilang kerjaan yang Yeni kasih tinggal sedikit lagi. Bisalah dia ikut kita ntar." Jawab Nia.


"Nanti nginap aja di rumahku. Baru besok supirku yang akan antar kalian ke kantor." Ujar Yeni bersamaan dengan satu-persatu minuman mereka disajikan.


Ponsel Livia berbunyi, "Gimana kabarmu ?"


'Lebih mendingan sih ini juga habis minum obat dan baru mau tidur tapi, kau menelepon.'


"Oh, maaf menggangu. Aku hanya khawatir aja. Baguslah kau mulai mendingan."


'Ciee yang khawatir.'


'Oke sampai ketemu besok.'


Livia bergumam lalu mematikan teleponnya. "Siapa?" Tanya Nia.


"Robert. Dia lagi sakit cuma katanya uda mendingan sekarang."


"Cieee yang lagi khawatir. Lama-lama kalian bisa CLBK nih." Goda Nia.


"Ga lah. Yang bener aja. Sudah jangan bahas aku mulu." Makanan mereka pun datang dan disajikan oleh pelayan.


Ponsel Livia berdering ada 1 chat masuk yang bertuliskan,


'Aku sungguh kasihan padamu karena kau masih mau bergaul dengan mereka. Jika aku jadi kau maka, aku tidak akan mau berteman dengan mereka.'


Livia menatap bingung chat yang masuk dari nomor tidak dikenal. Ini sudah kedua kalinya. Dengan rasa penasaran, ia menanyakan siapa orang tersebut. Namun, tidak ada balasan sama sekali. Begitu ditelepon juga nomor tersebut tidak aktif.


Siapa orang ini ?


Bagaimana bisa ia mengetahui nomornya ?


Lalu, pesan tersebut. Apakah ia harus mempercayainya atau tidak ?


Teman-temannya ini begitu baik, mereka tidak mungkin melakukan hal buruk apalagi menyembunyikan sesuatu. Livia mencoba untuk mengabaikan chat masuk itu dan mempercayai teman-temannya.


Kalau kau mempunyai teman-teman dekat yang kau kenal hampir 3 tahun, dan kau berada di posisi Livia yang mendapatkan peringatan seperti itu ?


Apakah kau akan seperti Livia yang lebih memilih mempercayai teman-teman dekatmu dari pada peringatan dari orang yang tak kau kenal ?


Atau mungkin kau akan menyelidiki kebenaran atas informasi tersebut juga meragukan teman-temanmu sendiri ?


-To Be Continue-