Our Love

Our Love
Episode 117



"Kalau papa tidak suka, lalu kenapa papa dulu memaksanya menikah dengan Kak Raka?"


"Kau tahu sendiri kalau anak itu pewaris tunggal perusahaan Wijaya. Sekarang perusahaan itu sudah hangus terbakar akibat ulahnya. Sungguh papa merasa kasihan pada kedua orang tuanya yang bisa mempunyai anak seperti itu. Anak macam apa yang menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun orang tuanya dengan susah payah."


Yeni mendengus kesal dan bergumam, memang orang tua macam apa lebih mementingkan kekuasaan daripada anaknya. Dengan malas gadis itu pergi meninggalkan mereka.


*****


Robert terduduk menatap gadis di depannya yang tengah terdiam memegang segelas teh. Baru saja ia membuka mulut untuk bertanya, Livia sudah mengeluarkan suara, "Apa menurutmu aku gadis yang bodoh?"


"Tentu saja kau tidak bodoh. Kenapa kau tiba-tiba berpikir seperti itu?"


Livia tersenyum sedih, matanya masih menatap teh dalam gelas gengamannya. "Bodoh karena aku menyia-nyiakan uang ratusan miliyar rupiah yang seharusnya jika aku perjuangkan sedikit lagi saja. Maka, aku bisa mendapat semua warisan papa dan mama."


Pria itu mengambil gelas dalam genggaman gadis itu dan meletakkannya di atas meja, kemudian terduduk diatas lantai mengengam tangan kekasihnya, "Untuk sebagian mungkin memang akan menggangapmu bodoh. Tapi, tidak untukku dan keluargaku. Kami tahu sekali bagaimana penderitaan dan perjuanganmu selama ini. Aku yakin kau punya alasan kenapa kau sampai menghancurkan semua hal yang sudah susah payah orang tuamu raih sehingga bisa membangun juga mempertahankan perusahaan yang terkenal."


Livia hanya bisa tersenyum tipis, ia sudah tidak rhau harus bersikap seperti apa lagi. Di satu sisi, ada rasa penyesalan saat dirinya terdiam menyaksikan si jago merah melahap perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh orang tuanya.


Disisi lain, menurutnya hal itulah yang bisa membuat para mantan orang kepercayaan papanya bisa berhenti untuk mengincar harta yang seharusnya bukan menjadi milik mereka.


"Kau merasa menyesal karena telah melakukan hal itu?" tanya Robert padanya.


Livia mengganguk, "Setelah dipikir-pikir aku bodoh juga ya.. menghancurkan perusahaan orang tuaku." Ia tersenyum tipis menatap pria yang masih terduduk sambil menggenggam tangannya, "Tak apa. Orang tuaku tidak hanya mempunyai perusahaan itu saja. Ada banyak properti yang mereka miliki. Aku hanya berharap mereka tidak akan marah, karena aku telah menghancurkan hasil jerih payah mereka selama ini."


Robert menyentuh pipi kekasihnya, "Percayalah. Orang tuamu tidak akan marah. Mereka pasti sangat sedih saat melihatmu seperti ini."


"Begitulah?"


Livia menatapnya bingung, "Kenapa?"


Dengan segera pria itu menciumnya sekilas, "Karena ini." ia pergi sebelum gadis itu mengamuk.


"Ash.. jangan suka menciumiku secara mendadak begini."


Pernyataan Livia membuat Robert berhenti dan berbalik, "Jika aku minta ijin terlebih dahulu apakah kau akan memberikannya?"


Gadis itu melempar bantal sofa ke arahnya, "Dalam mimpimu."


"Apakah kau dulu seorang cenayang?" Livia menatapnya bingung, "Karena kau bisa menebak bahwa setiap malam aku selalu memimpikanmu." godanya membuat Livia tertawa kecil.


"Jangan bercanda ihh.."


"Siapa yang bercanda, aku serius kau memang setiap malam hadir dalam mimpiku. Kau kasih aku pelet apa sampai-sampai aku begitu tergila padamu?"


"Entahlah. Aku juga bingung apa yang membuatku bisa jatuh cinta denganmu."


"Tentu saja itu karena ketampananku. Kau seharusnya bersyukur bisa mendapati kekasih dengan pekerjaan mapan sepertiku. Mungkin sepertinya aku harus menjadi dokter cinta agar bisa menganalisa pelet apa yang kau berikan padaku." Pria itu berjalan menatap wajah Livia, "Bagaimana jika aku mengambil sample pertamaku terlebih dahulu?"


"Sample apa?"


"Ini." Untuk kedua kalinya pria itu menciumnya dna benar-benar pergi meninggalkan Livia yang mengamuk.


-To Be Continue-