
"Kita harus segera menyingkirkan gadis itu. Aku tidak mau dia bebas dan membuat masalah yang akan merugikanku kelak."
"Boss ingin kami membunuhnya ?" Tanya salah seorang diantara mereka.
"Buang dia ke tempat yang jauh. Nanti kalian akan saya bayar."
"Baik Bos." Mereka mengendong Livia ke dalam mobil.
Ponsel Papa Hanna berbunyi, "Hallo.."
'Kau itu bagaimana sih ? Kenapa Tiara bisa kabur ?' Ujar Papa Yeni dengan marah.
"K..kabur ? Jelas-jelas dia berada di gudang dan aku sudah menyuruh anak buahku untuk membuangnya jauh-jauh."
Papa Yeni mendesah berat, "Kau lihat foto yang baru saja aku kirim ke WhatsApp."
Tanpa mematikan panggilan dengan segera Papa Hanna membuka WhatsAppnya dan betapa kagetnya beliau melihat foto Tiara yang tengah mengendarai mobil. "Lalu siapa wanita yang jadi sanderaku ?"
"Mana aku tahu !!"
"Cepat kalian bawa kemari gadis itu." Perintah papa Hanna pada anak buahnya. Tak butuh waktu lama, gadis itu dibawa kembali. Begitu penutup kepala dan matanya dibuka. Beliau sangat terkejut, "Livia ?"
"L...Livia ? Kau menyekap Livia disana ? Apakah kau sudah gila ??" Teriak papa Yeni.
"Aku tidak tahu kenapa Livia berada disini. Tapi, bukankah itu bagus ? Dengan membunuh Livia kita bisa menguasai seluruh perusahaan Wijaya bersama ? Tidak ada hal yang perlu kita takutkan lagi."
"Saran yang bagus tapi, yang lebih membahayakan kita adalah Tiara bukannya Livia. Kita harus menghabisi wanita itu terlebih dahulu baru Livia selanjutnya."
"Ya.. ya...ya.. terserah." Papa Hanna mematikan telepon secara sepihak. Ia menatap marah kepada anak buahnya, "Ada yang bisa jelaskan kenapa Tiara bisa kabur dan Livia berada disini ?" Para anak buahnya terdiam saling menatap satu sama lain. "Kalau tidak ada yang bersuara maka kalian bertiga akan saya bunuh !!!"
"B...begini boss..K...kami dijanjikan oleh Tiara kalau kami membebaskannya maka k...kami akan dilindungi olehnya. Karena wanita itu punya koneksi dengan mafia pengedar obat-obatan t..terlarang."
"Kalian berani mengkhianatiku !!! Habisi mereka."
"Baik bos.." Anak buah Papa Hanna menarik ketiga orang tersebut ke tempat yang jauh.
"Maaf pak.. kami minta maaf..." Teriak mereka. "Beri kami 1 kesempatan lagi.." Hingga suara itu pun tak terdengar lagi yang terdengar hanyalah suara tembakan pistol sebanyak 3 kali.
Suara tersebut membangunkan Livia, "Dimana aku ?" Papa Hanna memberikan isyarat agar para anak buahnya untuk berakting, ia membuka penutup mata Livia. "Om ?"
Papa Hanna memasang wajah khawatir, "Untung saja kau baik-baik saja Livia. Om dengar kau diculik maka dari itu om segera mencarimu dan menemukanmu disini."
"Bagaimana om bisa tahu aku ada disini ?"
"Om mengerahkan semua anak buah om untuk mencarimu. Hanna sangat khawatir begitu mendengar kau diculik." Ujarnya berbohong.
"Om tahu siapa yang menculikku ?"
"Tiara. Dia ingin membunuhmu karena kau sudah merebut Jimmy darinya. Begitu om tiba ia sudah kabur. Sini om bantu lepaskan ikatanmu dan kita harus segera pergi dari sini."
"Makasih om."
******
Di sepanjang perjalanan menuju kota. Livia terdiam menatap ke luar kaca jendela mobil. Ia sibuk memikirkan sesuatu.
Apakah benar Tiara yang menculiknya ?
Kalau iya dan seperti yang dikatakan Papa Hanna, bukankah sangat aneh. Setahu gadis itu, Tiara tidak lagi mengincar Jimmy tapi, lebih mengincar kak Raka.
"Om, bisa antarkan aku ke perusahaan Sapphire Blue saja ?"
"Kau baru saja diculik bagaimana bisa kau langsung berkerja ? Om akan mengantarkanmu ke kost-an saja."
"Baik om terima kasih."
Mungkin memang apa yang dikatakan om itu ada benarnya juga, ash..
kenapa sial sekali hari ini ?
Sudah diculik lalu, sekarang ponselnya sudah hilang entah kemana.
"Om dengar kau adalah ahli waris satu-satunya dari perusahaan Wijaya. Itu benar ?"
Livia mengganguk pelan, "Ya om. Aku tak tahu mengapa baru sekarang terungkap. Selama 12 tahun ini aku juga tak ingin publik tahu."
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan keluargamu itu sekarang ?"
"Aku tidak tahu om. Tidak ada kabarnya lagi."
Justru aku sedang mencari informasinya sekarang. Gumam Livia dalam hati. "Aku tidak ingin mengetahuinya." Ujarnya berbohong.
"Kau tak mau melanjutkan kembali perusahaan yang sudah susah payah orang tuamu bangun ?"
"Tidak." Jawabnya.
"Mau om bantu cari informasinya ?"
"Tidak usah om. Terima kasih."
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya ?"
"Ya. Hidup seperti biasanya. Menggangap bahwa semua itu sudah berlalu."
Tidak... Aku harus mencari perusahaan itu. Tidak mungkin perusahaan itu hilang begitu saja. Tapi, bagaimana caranya.. oh god...
Aku tidak mungkin menggunakan koneksi teman-temanku untuk mencari informasi itu. Aku tidak mau semua orang mengetahui apa yang memang seharusnya tak boleh mereka ketahui.
Siapa saja yang dulu pernah jadi karyawan kepercayaan papa ?
Papa Jimmy ?
Ah.. aku tidak mungkin bertanya hal itu padanya.
Papa Yeni ?
Semakin tidak mungkin. Entahlah, aku merasa janggal pada mereka berdua sejak kejadian orang tuaku meninggal.
Lalu, siapa karyawan papa yang masih aku ingat ya ??
Pak Rahmad (Ada di part 25) ?
Iya. Aku harus mencari bapak itu.
Aku yakin dia mengetahui sesuatu.
"Livia... Livia.." Papa Hanna menepuk pundaknya pelan.
"Ah, iya om. Ada apa ?"
"Sudah sampai di kost-an mu."
"Makasih om atas hari ini." Livia keluar dari mobil.
"Kalau kau ada masalah apa-apa. Hubungi saja om ya."
"Baik om.Terima kasih."
Papa Hanna menutup jendela mobil meninggalkan Livia, "Kalian cari dimana Tiara dan bawa dia ke hadapanku sekarang !!!"
"Baik pak." Jawab para anak buahnya.
******
Robert dan Jimmy berlari menghampiri Livia yang tengah bermain gadget di kost-an bersama dengan teman-teman Livia. "Kau tidak apa-apa ? Kami dengar kau diculik oleh Tiara ?" Tanya Robert khawatir.
"Tidak apa-apa. Justru Papa Hanna yang mengantarku pulang."
Yeni dan Jimmy menatap Hanna yang tampak terkejut mendengarnya, "Papa ku mengantarkanmu pulang ? Kok bisa ?"
"Oh. Om belum cerita ya ? Aku kira dia akan cerita ke kau. Tadi siang Papamu yang uda selametin aku. Aku tak tahu siapa penculiknya cuma papamu bilang itu kelakuannya Tiara karena dia masih marah padaku merebut Jimmy darinya. Pada akhirnya aku diantar pulang oleh beliau."
"Tiaranya gimana ?" Tanya Yeni. Karena yang ia, Hanna dan Jimmy ketahui adalah papa Hanna menculik Tiara tapi, entah bagaimana bisa Livia menjadi sasarannya.
"Kata om sih Tiara-nya kabur."
"Kau tak ingat siapa yang menculikmu ?" (Narul)
Livia menggeleng, "Aku dipukul dari belakang hingga pingsan."
"Kita lapor kantor polisi aja atas penculikan Tiara pada Livia." Saran Nia.
"Tidak Nia." Ujar Jimmy, Yeni dan Hanna bersamaan.
"Kenapa ? Kalian kok kompak banget sih ?" Ai Chan menatap bingung.
-To Be Continue-