
Livia terkejut membulatkan matanya, "Maaf pak. Kalau begitu saya kembai berkerja. Permisi." Gadis itu keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy tersenyum melihatnya, "Gadis yang menarik." Telepon di meja berbunyi, "Ya ?"
"Pak, ada telepon dari Ibu Yeni Kusuma." Ujar Bu Jasmine membuat Jimmy mendesah pelan, "Ya." Ia menekan 1 tombol dan langsung tersambung ke Yeni. "Ada apa ?:
"Livia sudah memberitahu soal makanan yang belum kau bayar kemarin. Aku ingin menagihnya."
"Berapa ?"
"125 Ribu."
Jimmy berdecak, "Hanya segitu. Kau teleponku pagi-pagi untuk menagih uang segitu."
"125 ribu itu adalah uang. Kau jangan anggap remeh, diluaran sana ada banyak orang kesusahan untuk berkerja, 125 ribu sangatlah berarti untuk mereka."
"Ya ya ya. Ngomong-ngomong, kau kan kaya. Bisakah kau ikhlaskan saja ? uang sekecil itu sangatlah kecil bagimu."
"Hei, aku harus membayar makananmu juga mantan pacarmu. Ck, kalian berdua sangat mirip atau sengaja ya ? agar aku yang harus membayar makanan kalian ?" Yeni tertawa kecil, "Segitu miskin kah kau ?"
"Tiara juga belum membayar ?" Ia tertawa, "Malang sekali nasibmu."
"Berisik sekali. Cepat bayar tagihanmu sekaligus mantanu juga yang belum bayar dengan harga sama totalnya 250 ribu."
"Tagihannya dia ya kau tagih-lah langsung ke orangnya. Kenapa padaku ?"
"Kau kan mantannya. Buruan aku sangat sibuk."
Jimmy berdecak kesal, "Kau pernah dengar ada pepatah yang bilang 'Mengeluarkan uang untuk orang lain itu tidak akan membuat kita makin miskin' ?"
"Ya iya. Kalau urusannya sama mereka yang berada di ekonomi paling bawah aku ikhlas. Tapi, kalau kalian berdua. Ck. Enak saja. Buruan bayar, saya sangat sibuk."
"Saya juga sibuk Ibu Yeni Kusuma yang terhomat."
"Aku memang orang yang terhomat. Anda baru sadar ya ?"
Jimmy tertawa kecil, "Anda ternyata tipe orang yang sangat percaya diri sekali. Oh iya, apakah sampai sekarang orang tuamu atau prang tua Hanna mengetahui ada dimana Tiara berada ?"
"Kau tahu jika dia terus berada di dekat Livia. Tentulah akan sangat berbahaya bagi kita. Kau ingat, kemarin dia menyindir Livia untuk berhati-hati berteman dengan kalian. Aku rasa dia mengetahui sesuatu."
"Ya. Kami sedang berusaha membuatnya lenyap dari dunia ini agar dia tidak membongkar hal yang ia tahu ke Livia. Bukan cuma saya sana Hanna akan tetapi, kau dan keluargamu juga akan terlibat."
"Semua ini gara-gara kau yang bisa pacaran dengan wanita ular seperti itu."
"Dia masih mengincar kakakkmu ?"
"Semua ini karena kau. Dasar pria aneh. Begitu Livia berkenalan denganmu, kau malah selalu mendatangkan masalah baru buatku."
"Ck. Ini sudah jadi takdirmu untuk ikut campur dalam segara urusan yang disebabkan oleh orang tua kita kepada orang tua Livia."
"Kalau kau berani buat masalah pada Livia. Awas akan aku buat hidupmu hancur."
Ck. Seperti tak sadar kalau orang tuanya juga ikut membuat Livia hancur sejak kecil.
"Iyaaa. Apakah Livia pernah membahas mengenai perusahaan orang tuanya ke kalian ?"
Yeni menggeleng, "Tidak. Kau sendiri ?"
"Sama. Kau sudah menghentikan para pekerja senior yang dulu berkerja dengan orang tua Livia 'kan ? Aku tidak mau kalau mereka menyadari bahwa penerus satu-satunya keluarga Wijaya masih hidup."
"Ya. Sudah aku pecat mereka semua."
"Baguslah. Dari nada suaramu kau sepertinya sangat bahagia."
Jimmy tersenyum, "Ya sudah karena saya sedang good mood, anda kirimkan saja no rekeningmu ke email saya." Entah sejak kapan Jimmy mulai berbicara secara formal.
"Sekertarisku yang akan mengurusnya." Tanpa menunggu respon Jimmy, Yeni langsung memberikan telepon itu pada sekertarisnya. "Dih, langsung ditutup begitu saja. Dasar wanita aneh."
Baru juga ada hutang 125 ribu langsung ditagih, apalagi kalau aku ada hutang bernilai jutaan.. ihhh...
-To Be Continue-