
Tiara masih tidak menyangka akan hal yang baru saja dia ketahui dari ayahnya semalam. Kalimat ayahnya itu sangat menghantui pikirannya sampai saat ini.
"Atau mereka akan menikahkan putera mereka ke Livia agar seluruh harta bisa jatuh ke tangan gadis itu dan mereka akan membunuhnya agar mendapatkan harta itu seutuhnya."
Tiara lupa jika pengacara orang tua Livia kembali memintanya untuk bertemu dengan semua orang-orang kepercayaan keluarga Wijaya. Wanita itu berdiri berjalan kesana kemari, "Apa yang harus aku lakukan ? Ayolah Tiara.. pikir.. pikir..."
*****
"Ya. Tapi, kami berdua telah sepakat." Ujar Papa Jimmy (Pak David) menatap isterinya lalu memandang dua anak muda yang berada didepannya, "Kami akan menikahkan kalian."
"Apa ?" Ucap Livia dan Jimmy yang kompak berteriak bersamaan.
Menikah ?
Bahkan kata itu saja tidak pernah terlintas dalam benak Livia.
Astaga..
Ide gila apa lagi ini ?
Tak bisakah sehari saja Livia tidak mendapatkan masalah ?
Tidak bisa sepertinya.
Mereka sedang tidak bercanda 'kan ?
Dulu meminta gadis itu untuk menjadi adik angkatnya.
Dan sekarang...
Malah disuruh menikah.
Yang benar saja..
Jimmy dan Livia sungguh tidak mengerti apa maksud dari kedua orang itu.
Dan lagi...
Livia mana mau menikah dengan pria seperti itu.
Livia masih mencintai Robert.
Apa yang sebenarnya mereka rencanakan ?
Kenapa mendadak begini ?
"Maaf om, tapi Livia belum siap untuk menikah dengan Jimmy." Tolak Livia secara halus.
Tentulah dia tidak mau menikahi pria itu.
Semoga papa dan mama Jimmy mau mengerti akan hal ini.
"Aku juga belum mau menikah, Pa." Ujar Jimmy pun ikut menolaknya.
"Loh kenapa ? Kalian kan sudah mengenal sejak kecil ? Bukankah Livia dari dulu menyukai Jimmy." Tanya Om David (Papa Jimmy) pada mereka.
Seketika wajah Livia memerah lalu mengatakan, "Itu kan dulu om. Sekarang sudah tidak lagi."
Memang benar.
Livia masih memiliki rasa cinta pada Robert sampai saat ini.
Dan hal itu tidak akan pernah berubah.
Papa dan Mama Jimmy berdiri, "Kami tidak menerima penolakan. Tepat ulang tahun perusahaan papa akan mengumumkan hal ini pada semua orang." Ucap Papa Jimmy (Pak Davidl bersama isterinya pergi dari ruangan itu.
"Pak Jimmy, kenapa tiba-tiba menyuruh saya untuk berkerja di ruangan ini lagi ?" Tanya Livia mencoba untuk melupakan hal yang baru saja dia dengar.
"Kenapa kau masih membahas hal itu ? aku kira kita sudah selesai membahasnya." Jawab Jimmy.
"Tapi, tetap saja saya lebih suka berkerja di ruangan lain." Keluh Livia padanya.
"Tanggung, kau tinggal 1 bulan lagi berada disini dan selalu saja ijin membuat karyawan lain merasa iri. Jadi, saya mau kamu berkerja disini agar kau tidak ijin mulu. Bagaimana bisa saya menilai hasil kerjamu selama ini kalau kau ijin terus-menerus ?" Tanya Jimmy menatapnya tajam.
Kau kira aku juga mau ijin mulu begitu ? Semua masalah ini juga hampir membuatku gila karena tidak ada habisnya malah selalu menambah masalah baru.
Jimmy menjetikkan jarinya di kening membuat gadis itu merintih kesakitan, "Jangan melamun. Aku tahu kalau aku ini tampan. Jangan segitunya juga kali, orang bisa risih kau terus tatap begitu."Ujarnya. Pria itu berjalan menuju meja Livia yang berada di pojok ruangan.
"Hei, kau tidak apa-apa karena apa yang dikatakan oleh Tiara kemarin ?" Tanyanya penuh rasa khawatir.
Semua orang menanyakan hal yang sama.
Ada apa sih dengan mereka ?
"Tidak apa-apa." Jawab Livia ketus.
"Sungguh ?" Tanya Jimmy yang tak mempercayainya.
"Maaf pak, ini di kantor saya tidak ingin mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan." Ucapan Livia membuat Jimmy terdiam. Sungguh ia tidak tahu akan keputusan papanya yang mendadak itu.
Apa lagi yang papa rencanakan ?
Bisa gila ia memikirkan semua ini.
"Baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan agar papa dan mamaku berhenti menyuruh kita menikah ?" Tanya Jimmy.
"Kau bilang saja tidak mau. Kita tidak saling mencintai. Kau bisa katakan hal itu. Aku rasa mereka akan mengerti kok. Sudah jangan mengganguku lagi ada banyak kerjaan nih." Jawab Livia ketus.
******
Yeni tengah berbincang kepada orang tuanya juga kakaknya akan wartawan yang berada di depan kantor mereka, "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Papa Yeni pada puterinya. "Jika kau tak bisa mengatasinya biar papa yang akan mencari jalan keluar yang lain."
"Memang apa yang akan papa lakukan ?" Tanya Yeni sambil sesekali melihat berkas-berkas di mejanya. Sangat banyak.
"Kalau kita membunuh Tiara itu sepertinya tidak mungkin karena sangat beresiko." Ujar Papa Yeni dan Raka.
"Lalu ?" Tanya Raka pun penasaran.
"Bagaimana kalau kau papa Jodohkan kamu dengan Livia ?" Tanya Papa Yeni pada putera dan puterinya.
"Apa ?" Teriak kedua kakak beradik itu sangat kaget akan apa yang diucapkan oleh papa mereka.
Ide gila macam apa ini ?
Sejak kapan papanya menyukai Livia ?
Yang benar saja.
"Kenapa ? Lagipula kita tahu pewaris sesungguhnya bukanlah Tiara melainkan Livia." Jawab Papa Yeni dan Raka dengan santai.
Jadi, semua itu karena harta lagi.
Ck.
Yeni sangat bosan mendengarnya.
Semuanya tentang harta..harta dan harta.
Tak pernah sekalipun papa mereka memikirkan apa yang diinginkan dan kebahagiaan anak-anaknya.
Yang ada dipikirannya hanyalah harta dan selalu harta.
Miris sekali.
Yeni berdiri lalu duduk disamping kakaknya lalu mengatakan, "Bukankah sebagian harta keluarga Wijaya sudah jatuh ke tangan keluarga Kurniawan ?"
"Awalnya memang begitu, namun karena ulah Tiara maka, pengacara orang tua Livia kini meminta papa, papa Jimmy (Pak David), Papa Hanna dan Pak Rahmad (Ayah Tiara) yang entah berada dimana untuk berkumpul membahas warisan itu belum lagi Tiara akan datang. Papa belum memberitahumu ya mengenai salah satu isi dari surat warisan dari orang tua Livia yang dimana berisi 'Jika Livia masih hidup maka seluruh harta Wijaya jatuh padanya. Lalu, jika Livia meninggal maka hartanya akan dibagi pada kami berempat." Jelas papa Yeni dan Raka dengan panjang lebar.
Apa ?
Kenapa ada surat wasiat seperti itu ?
Selama ini papa mereka tidak pernah menceritakan akan adanya surat wasiat itu.
"Berempat ? Lalu, siapa satu lagi ?" Tanya Yeni menatap papanya dengan penuh penasaran. Karena yang dia ketahui orang-orang kepercayaan keluarga Wijaya adalah papanya, Pak David (Papa Jimmy) dan Pak Rahmad (Ayah Tiara). Hanya itu.
"Pak Rahmad (Ayah Tiara). Salah satu orang kepercayaan keluarga Wijaya." Jawab Papa Yeni dan Raka. "Namun, sampai saat ini papa tidak tahu dimana beliau tinggal dan bagaimana kabarnya sekarang." Lanjutnya.
"Haruskah kita membawa Livia dan wartawan kesana ? Untuk menghancurkan Tiara di depan publik ?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba saja Ayah dari Hanna dan Hanna yang berdiri di pintu ruangan Yeni. Entah sejak kapan mereka berada disana.
-To Be Continue-