
Tania berusaha menenangkan dirinya. Ini akan menjadi pertemuan pertamanya setelah sekian lama.
"Tenang, Titania. Semua akan baik-baik saja." Gumamnya pada diri sendiri.
Seyakin mungkin ia melangkahkan kaki mendekati sang mantan.
Ia sudah memutuskan akan tetap maju meskipun Nico tak menemaninya.
Kalian bertanya dimana dia ? Si gondrong itu tiba-tiba mendapat telepon dari Si kuncir Ray. Entah apa yang dikatakan kekasih Ema itu hingga raut wajah kakaknya berubah sangat serius.
Tania dapat melihat sosoknya.
Dia disana. Berdiri tegap menanti kedatangannya. Tatapan penuh damba terlihat jelas di manik hitamnya. Senyum yang sempat membuatnya berdebar kini terukir di bibir pria itu.
"Maaf membuatmu menunggu." Ujar Tania basa-basi.
"Tidak. Aku senang kau mau menemuiku, Tania."
Nampak jelas kebahagian di wajah si bungsu keluarga Alphanius. Lain dengan Tania yang datar saja. Ugh, sepertinya mereka bertukar peran.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Gray "
Luntur sudah senyuman Gray mendapati betapa dinginnya sikap Tania padanya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu." Ucap Gray mencoba bersabar.
"Hanya itu ?" Terdengar jelas nada sinis dari Tania.
"Haruskah kau bersikap arogan seperti itu ? Apa bersama Farel Mahendra membentuk kepribadianmu menjadi liar seperti ini."
Habis sudah kesabaran Gray menghadapi sikap arogan Tania. Harusnya Tania tahu sabar bukanlah sifat Gray.
"Jaga ucapanmu." Geram Tania. Ia tak suka jika Farel terseret dalam masalah unfaedah seperti ini.
"Lihat! Kau sungguh berubah. Sikapmu benar-benar barbaran. Hilang sudah sikap anggunmu." Gray terus melancarkan cibirannya.
"Masih punya muka kau mengkritikku. Lihat sendiri dirimu. Kau lebih arogan dariku. Kau lebih barbaran dariku." Balas Tania tajam.
Tentu saja Tania terpancing oleh hasutan mantan kekasihnya.
"Setidaknya aku meminta maaf padamu. Aku mengakui kesalahanku. Apa aku harus bersujud padamu baru kau akan memaafkanku? Hei, Titania. Aku datang ingin berbicara baik-baik. Bukan memperkeruh keadaan. Tapi, sikapmu benar-benar mengecewakan." Tutur Gray.
"Aku memaafkanmu. Bukankah aku sudah mengatakan itu dulu ? Lalu untuk apalagi kau mengatakan maaf kali ini. Apa yang sebenarnya kau inginkan, sialan." Teriak Tania.
"Aku benci melihatmu. Tak bisakah kau tak muncul dihadapanku sementara ini. Aku muak. Melihatmu hanya mengingatkanku betapa jahatnya perlakuanmu padaku." Sambungnya.
Ia tanpa sadar menumpahkan perasaan yang selama ini tak ia suarakan.
"Untuk apa lagi kau datang ? Biarkan aku menata hatiku dulu hingga pada saatnya nanti aku tak memandangmu dengan kebencian. Aku...."
"Titania."
"Aku terlalu naif mengatakan memaafkan. Semua yang kukatakan tak sesuai dengan yang kurasakan. Aku membencimu, Gray."
Melihat betapa emosionalnya sang pujaan hati, pemuda itu berinisiatif untuk memeluk tubuh mungil itu. Sudah berapa lama Tania bertahan dalam kesakitan tanpa ada yang tahu ? Dihadapan semua orang Titania adalah sosok yang tangguh. Betapa rapuhnya sosok ini. Karena kebodohannya ia menghancurkan hati Tania.
"Apa yang kau lakukan ." Tania mencoba melepaskan dekapan sang mantan kekasih.
"Luapkan ! Luapkan amarahmu padaku! Jangan kau tahan dirimu. Jangan kau sembunyikan ! Akulah yang bersalah disini. Akulah yang sudah menorehkan luka hati. Katakan saja ! Menyesakkan melihatmu pura-pura baik-baik saja. " tutur Gray tepat di telinga Tania.
Air mata tanpa disuruh mengalir di pipi garis itu. Deras dan semakin deras. Pemuda sialan ini kenapa sekarang harus muncul. Tembok dihatinya belumlah kokoh. Dirinya takut akan kembali jatuh dalam pesona sang mantan.
"Aku membencimu. Hiks.."
"Aku tahu. "
"Kau menyakitiku."
"Aku tahu."
"Kau mengkhianatiku. Kau.. hiks.. menghancurkan kepercayaanku."
"Aku tahu." Suara Gray yang biasanya begitu datar nan dingin kini bergetar. Ia menahan rasa sakit dan air mata yang siap jatuh.
"Kau membuatku menangis. Kau membuatku.. hiks... terluka. Kau.."
"Gray Alphanius brengsek "
"Maaf. Maaf. Maaf, Tania." Lirihnya penuh penyesalan.
Kedua insan yang pernah tertaut hatinya kini menangis. Mengapa takdir membawa mereka pada perpisahan ini ? Gray semakin erat memeluk tubuh Tania. Membiarkan wanita kesayangannya menumpahkan beban hatinya. Biarkan Tania menangis sepuasnya.
Yang bisa ia katakan hanya beribu kata maaf yang ia tahu tak akan bisa membayar betapa sakitnya pengkhianatan yang telah ia lakukan.
"Maafkan aku. " untuk kesekian kalinya Gray mengatakan maaf.
"Bodoh. Brengsek." Umpat Tania.
"Ya. Aku memang bodoh menyakiti bidadari sepertimu. Ya. Aku memang brengsek menyia-nyiakan wanita sepertimu." Aku Gray.
Tania mengurai dekapan sang mantan. Ia sadar tak seharusnya ia membiarkan Gray memeluknya, bagaimana jika Farel melihat? Akan terjadi kesalahpahaman.
Ia usap air mata ini.
"Maaf membuat bajumu basah."
"Tak apa."
"Tania."
"Apa kau bahagia sekarang ?" Tanyanya.
"Apa maksudmu ?"
"Dengannya apa membuatmu bahagia ?" Gray memperjelas.
"Apa aku terlihat tak bahagia? Aku bahagia. Dialah yang membantuku bangkit dari kehancuran hatiku." Jawab Tania mantap.
"Begitu ya." Lirih Gray.
"Kau pun harus bahagia, Gray" Seru Tania.
"Bagaiman caranya untukku bahagia, hm ?"
"Lupakan masalalu mulai buka lembaran barumu. Buka hati..."
"Tak semudah itu." Selanya cepat.
"Aku bukan kau yang akan mudah memberikan kesempatan pada seseorang. Aku bukan kau, Tania. Aku masih menginginkanmu kembali padaku." Jujur Gray.
"Gray..."
"Dengarkan aku ! Apa tak ada kesempatan untukku , Tania ?"
"...."
"Apa tidak ada sedikit pun celah untukku lagi ?"
"Jawab aku. "
"Lupakan tentang pria itu. Lupakan mereka. Ini hanya tentang Kau dan Aku. Yang Aku menanyakan tentangmu ? Apa aku masih memiliki kesempatan? Apa aku masih memiliki tempat dihatimu walaupun itu kecil ?"
"....."
.
.
"Kau mengkhawatirkan Kak Tania"
"Aku percaya pada kakakmu, Adik ipar." Jawab Farel.
"Tapi aku tak percaya pada si Alphanius." Sambungnya.
"Ya. Kau tentu melihat dengan jelas dia masih mengharapkan kakakku Mungkin saja saat ini dia tengah membujuk kakakku." Ujar Artamia.
"Aku tahu. Jujur saja aku sedikit takut dengan keadaan ini." Jujur Farel.
"Tenanglah. Kakakku bukan wanita bodoh yang mau kembali pada seorang pengkhianat. "
"Hm. Saat seperti ini kau nampak seperti seorang gadis betulan."
"Brengsek. Aku memang seorang gadis."
"Aku terharu melihat kepedulian pada hubunganku dan Tania." Celetuk Farel pura-pura mengusap air mata.
"Astaga ! Aku khilaf."
Artamia segera membuat jarak dengan pria yang ia panggil Arel itu. Lalu memasang wajah galak lagi.
"Kau menyebalkan sekali, Mia."
Farel memasang wajah cemberut. Yang langsung dihadiahi jitakan dari Artamia. Tak peduli umur siapa yang lebih tua.
"Kau menjijikan. Ingat umurmu, Farel Mahendra." Artamia bergidik ngeri.
Artamia sendiri merasa senang pengganti Gray adalah Farel Mahendra. Jarang sekali mereka yang bisa masuk dalam lingkupnya. Farel tak hanya menginginkan Tania. Dia juga terus mendekatkan diri dengan kedua saudara Tania. Pelan tapi pasti Artamia dan Nico berhasil diluluhkan oleh Farel.
"Kuakui Farel cerdik. Dia sudah mendapatkan kepercayaan kami. Yang artinya dia mendapatkan sekutu yang kuat." Gumam Artamia.
"Apa kau mengatakan sesuatu." Tanya Farel.
"Aku mengatakan kau keriput."
"Bodo amat." dengus Farel.
Artamia memang omongannya pedas level tinggi. Mengalah adalah pilihan bijak.
.
.
"Tidak bisakah kau bersikap lebih baik pada Sakhira, Sai ?" Inari berkacak pinggang pada kekasihnya.
"Kurang baik apa aku ini ? Aku mau bungkam dengan semua polahnya itu sudah kebaikan, Inari."
Jawaban Sai yang kelewat santai membuat Inari gregetan sendiri. Inari tentu tahu bahwa kekasihnya ini sudah terlanjur tidak menyukai Sakhira. Sai pernah berkata bahwa apa yang dilakukan Sakhira sudah kelewatan batas. Tak mengherankan jika Sai bersikap seperti ini.
"Setidaknya kurangi ucapan pedasmu untuknya."
"Aku tak menghujatnya. Aku hanya mengatakan fakta yang ada. Apa salah ?"
"Astaga ! Dengan cara apalagi aku menghadapimu." Gemas Inari
"Dengarkan aku, sayang. Jangan kau paksakan seseorang untuk melihat dari sudut yang sama denganmu. Semua orang punya sudut pandang masing-masing. Termasuk aku. Aku akan diam jika itu diperlukan. Dan aku akan melakukan apapun jika itu diharuskan."
"Sai."
"Maaf Inari, Luffy. Aku tahu kau pasti akan disisi Sakhira. Tapi aku tak akan disisinya. Aku disini hanya karena Ray."
"Aku tahu, Sai. Aku tak bisa menyalahkanmu. Hanya saja keadaan ini begitu sulit. Kita seperti diharuskan memilih sesuatu yang dua-duanya kita inginkan." Ujar Luffy
Sakhira yang berada di dalam ruangan mendengar sedikit pembicaraan ketiganya. Ia menyesali perbuatannya. Karena kelakuannya semua menjadi sulit. Sakhira memaklumi sikap Sai. Dan ia berterimakasih pada mereka yang masih mau peduli dengannya.
"Maafkan aku. Dan terimakasih." Lirih Sakhira.
"Ema. " seru Inari kala melihat kedatangan kekasih dari Narayyan Zhao itu.
"Kau kenapa Ema ? Dimana Ray ?" Tanya Luffy melihat wajah murung Ema.
"Dia masih mengurus semuanya." Ema tersenyum tipis.
"Apa Ray berhasil menemukan jalan keluarnya ?" Kali ini Inari yang bertanya.
"Ya."
"Dia bermaksud mengorbankan hubungan kami." Ema mengatakannya dengan tersenyum kecut.
"Apa !!!?"
"Aku tak terima. Aku tak akan membiarkan ini terjadi." Seru Sai.
"Sai. Tunggu."
"Ini keputusan Ray. " ujar Luffy.
"Persetan. Sebelum dia melakukannya Aku akan mengatakan semuanya." Kata Sai serius.
"Jangan gila, Sai."
"Yang gila kalian ! Melindungi orang yang bersalah. Mengorbankan mereka yang tak punya sangkut pautnya. Atas nama persahabatan? Persetan !! Yang aku lakukan ini juga atas nama persahabatan." Tegas Sai.
Sai pergi menuju ke tempat Ray.
"Ada benarnya yang dikatakan Sai." Lirih Luffy
Ema dan Inari memilih diam.
.
"Jadi Tania sedang bersama Gray." Tanya Gio
"Ya. Kau terlambat, Kak."
"Aku tahu. Apa kalian sudah tahu kabar mengenai Sakhira ?"
"Dia tak penting. " jawab Artamia tak suka.
"Ada apa dengannya ?" Tanya Farel
"Sakhira mencoba bunuh diri."
"Apa ?!!!"
.
Bersambung