
"Sepertinya Tiara mengetahui sesuatu hal yang dimana dapat membuat keluarga Jimmy, Hanna dan Yeni merasa terancam sehingga mereka ingin membunuhnya." Ujar Narul menatap teman-temannya, "Apa semua ini berkaitan dengan Livia ?" Tanyanya dengan penuh penasaran.
Bisa saja hal itu terjadi kan ?
Mengingat dulu Tiara sangat membenci Livia, lalu sekarang malah seakan membelanya.
Masih teringat jelas pada saat Tiara pertama kali menemui Livia di ruangan Jimmy bahkan menuduh temannya itu sebagai perebut pacar orang, sehingga wanita itu menarik Livia ke lobby kantor Jimmy beruntung disana ada Yeni dan Robert menolongnya.
Akibat kejadian itu Livia mengalami trauma hebat dan mereka semua tahu akan masa lalu kelam yang selama ini gadis itu simpan rapat-rapat.
Ada rasa sedih, marah, semua jadi satu saat mereka mendengar apa yang terjadi pada Livia di masa lalunya. Beruntunglah sampai saat ini gadis itu menjadi gadis yang kuat. Walau berulang kali sering menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang sudah menimpa orang tuanya di masa lalu.
Setelah kejadian itu juga, Tiara mencari gara-gara dengan Yeni, Hal itu sudah tidak aneh untuk Nia, Ai Chan dan Narul bahkan sampai sekarang wanita itu sangat membenci Yeni dan keluarganya.
Aneh.
Semua teman-teman Livia juga merasakan hal itu.
Mereka semua menyadari akan bagaimana berubahnya Tiara yang kini seakan-akan berpihak ke Livia.
Sangat tidak masuk di akal.
Tidak ada yang tahu secara pasti akan apa alasan utama dibalik tindakan Tiara sekarang.
Mereka saling memandang satu sama lain, "Kita harus menemui Tiara sekarang. Aku pernah lacak ada di mana rumahnya." Ujar Ai Chan yang disetujui kedua temannya. Mereka segera berberes dan menemui wanita itu. Mereka tidak akan tenang sebelum mengetahui semuanya akan apa yang sudah terjadi.
"Kalian ? Bukannya kalian ada di kantor Yeni ? Kenapa bisa berada disini ?" Tanya Livia. Mereka bertemu dengan Livia dan Robert di depan perpustakaan.
Tumben sekali.
Tidak biasanya.
Livia mengira mereka masih berada di ruangan Yeni untuk membicarakan sesuatu.
Atau mungkin mereka kembali berkerja.
Sangat mengejutkan gadis itu bisa bertemu dengan teman-temannya di jam kerja kantor seperti ini.
Suatu kebetulan yang menyenangkan.
Ah.. sudahlah..
Mungkin mereka meminta ijin pada Yeni untuk mengerjakan laporan OJT (On The Job Training) dan skripsi di kampus.
"Jangan sebut nama Yeni di depan kita. Kau sendiri ?" Tanya Nia ketus.
Livia terdiam sejenak. Sepertinya mereka sedang bertengkar.
Apa yang terjadi pada mereka ?
Aneh sekali.
Apa yang mereka ributkan ?
Ah.. sudahlah..
Mungkin sebentar lagi mereka akan kembali berbaikan.
"Oh, aku habis dari pemakaman papa dan mama jadi langsung kesini untuk selesaikan laporan OJT (On The Job Training). Hari ini kan kelas terakhir dan minggu depan aku sudah mau sidang." Jawab Livia dengan santai.
"Ah iya aku lupa akan hal itu." Ujar Narul yang baru saja mengingat hal tersebut.
"Ya sudah batalkan saja rencana kita dulu." Jawab Nia
Livia dan Robert saling menatap bingung.
Mereka mau pergi kemana ?
"Memangnya kalian mau kemana sih ?" Tanya Livia mengutarakan apa yang ingin gadis itu ketahui.
"Kami mau beli makanan di bawah. Lapar banget nih." Ujar Ai Chan berbohong.
Narul memegang tangan Livia dan mengatakan, "Ayo kalian temeni kami makan dulu baru nanti kita ke perpustakaan. Bagaimana ?"
Livia memandang ke arah Robert seakan meminta persetujuan darinya. "Iya silakan saja. Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu ya." Ujar Robert.
"Kau tak mau makan dulu sebelum balik ?" Tanya Livia khawatir.
Robert menggeleng kemudian berkata, "Tidak. Aku tidak lapar kok. Kalau gitu aku permisi ya. Titip Livia."
"Iya tenang saja. Livia akan kita jaga kok." Jawab Ai Chan.
Robert pun pamit karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Pria itu merasa aman jika Livia sedang bersama teman-temannya. Mereka pasti akan menjaga gadis yang dicintainya dengan baik.
"Iya. Hati-hati." Ucap Livia sambil tersenyum memandangnya.
"Hati-hati nanti kalian bisa CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) loh." Goda Nia saat melihat interaksi mereka berdua.
"Apaan sih Nia. Ayo kita pergi ke kantin untuk makan dulu." Ajak Livia. Mereka turun dari tangga. Karena perpustakaan berada di lantai 2 sementara kantin kampus berada di lantai 1
"Pada mau makan apa nih ?" Tanya Nia.
"Aku mau makan ayam geprek saja." Jawab Livia.
"Kamu mah, makan ayam geprek mulu disini." Keluh Narul.
"Ya mau gimana. Namanya sudah suka ya susah." Jawab Livia dengan santai.
"Ya sudah. Aku mau makan nasi goreng saja. Nia dan Ai Chan kalian mau makan apa ?" Tanya Narul pada mereka berdua.
"Aku mau makan tom yam." Jawab Ai Chan.
"Aku kayaknya pengen empal gentong deh." Ujar Nia. Sesampainya di kantin mereka berpencar untuk memesan dan membayar makanan masing-masing. Setelah selesai mereka memilih untuk duduk di sofa dekat jendela.
"Ga terasa ya kita sudah mau 4 tahun ada disini." Ujar Nia saat mereka tengah duduk menunggu pesanan makanannya diantar. Mereka sudah membeli minuman yang sama. Jus Jeruk.
"Iya ya. Ga terasa banget waktu cepat berlalu." Timpal Narul.
Benar juga.
Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu.
Baru kemarin mereka mencari kesana-kemari perusahaan yang mau menerima karyawan magang namun, sekarang sebentar lagi mereka akan menyelesaikan masa magang tersebut.
Ada banyak masalah yang datang silih berganti, bahkan beberapa dari mereka tidak selesai sampai sekarang.
Ah...
Kenangan seperti ini pasti akan selalu mereka kenang untuk selama-lamanya.
"Aku kira kamu tadi diantar pulang oleh Robert." Ucap Ai Chan.
Livia membuka minumannya sambil berkata, "Memang awalnya mau begitu. Cuma aku kan bosan berada di kost-an. Ya sudah akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi makam papa dan mama."
"Kapan-kapan kau harus mengajak kami ke makam orang tuamu. Kita juga mau mendoakan mereka." Kata Narul.
"Iya pasti, Rul." Kata Livia bersamaan dengan makanan yang sudah mereka tunggu pun telah tiba. Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah mengantarkannya.
"Mari makan." Kata Ai Chan.
"Aku penasaran deh, kau masih cinta ya ama Robert ?" Tanya Nia membuat semburat merah di wajah Livia.
"Apaan sih 'Ni. Kenapa tiba-tiba tanya akan hal itu ?" Tanya Livia.
"Jawab saja iya atau tidak Livia." Tegas Nia.
"Iya Nia. Aku masih cinta dengan Robert." Jawaban Livia mendapat sorakan dari Narul, Nia dan Ai Chan.
"Kenapa kalian tidak langsung balikan aja ?" Tanya Ai Chan.
"Ya tak semudah itu, Ai. Aku sedang ada banyak masalah yang tak kunjung selesai. Belum lagi memikirkan akan 2 laporan tugas akhir kuliah." Jelas Livia.
"Jangan lama-lama kau anggurin tuh si Robert nanti dia dapat pengganti lu aja baru sadar." Balas Nia.
"Tapi, kayaknya ga mungkin deh 'Ni. Keliatan banget kok dari gerak-geriknya, dari cara dia menatap itu dia benar-benar bucin (budak cinta) Livia banget." Timpal Narul.
Livia tertawa kecil saat mendengarnya lalu mengatakan, "Apaan sih 'Rul. Yang benar saja."
"Memang benar kok kata Narul. Dia bucin (budak cinta) banget ama lu, Livia." Ujar Nia membela Narul.
"Iya. Kalian doain aja moga kita cepet balikan." Kata Livia.
"Amin." Ucap Nia, Narul dan Ai Chan serempak.
"Kalian kalau jadian traktir kita ya." Ujar Nia sambil bercanda.
"Iya. Kalau ingat." Jawab Livia.
"Kita ingetin ntar." Kata Nia.
"Kalian sudah selesai makan 'kan ? Ke perpus yuk." Ajak Narul.
"Duduk bentar dulu napa. Nih makanan baru masuk ke perut." Ujar Nia.
"Ihh.. laporanku masih ada banyak yang belum dikerjain, Nia." Keluh Narul.
"Ya sudah. Ayo kita ke perpus." Ajak Nia. Mereka mengambil tas lalu berjalan ke arah lift.
"Kenapa tidak naik tangga saja ? Hanya ke lantai dua ini ?" Tanya Livia.
"Kita habis makan Livia. Masa iya harus olah raga dengan naik turun tangga." Keluh Nia yang membuat Livia terdiam sejenak. Pintu lift pun berbunyi, mereka semua masuk ke dalam lift menuju lantai dua. Hanya beberapa detik mereka pun tiba di lantai dua, dan langsung berjalan menuju ruangan perpustaka yang berada di sebelah kanan dari tempat mereka keluar dari lift.
"Oh iya, kita lupa hari ini terakhir kelas OJT (On The Job Training). Aku juga kayaknya mau selesaikan laporan dulu deh agar minggu depan bisa sidang. Lebih cepat lebih baik. Kalau kalian berdua bagaimana ?" Tanya Narul membuat Ai Chan dan Nia saling memandang. Pada akhirnya, mereka memilih untuk tidak menemui Tiara karena laporan dan sidang OJT (On The Job Training) mereka lebih penting dari hal itu.
"Liv, kau tidak merasa aneh gitu dengan Yeni dan Hanna yang terlalu bersikap aneh padamu atau Tiara gitu ?" Tanya Ai Chan sambil membawa Livia masuk ke perpustakaan.
Kenapa mereka tiba-tiba bertanya hal seperti itu ?
Tentulah Livia merasa ada yang aneh disaat Tiara seakan membelanya begitu.
Namun, saat Livia mememui wanita itu tak mau mengakui akan apa alasan dibalik tindakannya itu.
Kalau sudah begitu, Livia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sungguh menyebalkan.
"Bukannya karena dia temanku jadi kalau aku ada masalah mereka yang akan membelaku ?" Jawab Livia dengan polos.
"Ya tidak begitu juga Liv, tadi setelah kau pergi si Jimmy mengatakan hal aneh ke Yeni dan Hanna." Ujar Nia yang sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Hal aneh apa, Nia ?" Tanya Livia penasaran.
Selama ini dia tidak merasa aneh pada siapapun dan hal apapun.
Oh ralat.
Ada tapi sedikit.
Nia mendesah pelan mendengar jawaban dari temannya, "Dia bilang kalau akan apa gitu yang intinya Yeni lah yang harus membunuh Tiara agar semua masalah ini selesai."
"Kami sudah memaksa Yeni dan Hanna untuk jujur tapi mereka diam saja akhirnya aku, Nia dan Narul uda ga mau temenan ama mereka." Timpal Ai Chan.
"Mungkin memang ada hal yang tak boleh kita tahu." Ucap Livia mencoba berpikir positif.
Bukankah dengan kita berpikir positif maka akan ada hal-hal baik yang datang ke kehidupan kita ?
Walau susah..
Tapi, tak ada salahnya untuk mencoba dari pada tidak melakukannya sama sekali. Setidaknya kita tahu akan hasil apa yang akan kita dapatkan.
Dari pada berdiam diri dan menunggu saja.
"Tapi, 'kan ini ada hubungannya ama kau dan kita-kita juga masa iya mereka tak mau memberitahu. Heran aku, apa susahnya sih jujur doank." Ketus Narul. "Pokoknya kita ga mau temenan ama mereka berdua sebelum mereka mau menceritakan apa yang terjadi."
Satu sisi mungkin orang lain akan mengangap sikap mereka itu kekanak-kanakan.
Namun, di sisi lain memang masuk diakal mereka marah karena temanmu sendiri merahasiakan sesuatu hal yang mungkin akan menyangkut orang lain dalam keadaan bahaya.
Tergantung dari mana orang yang mendengarkan itu menilai.
Sudahlah, kita juga tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan maka orang lain harus menurutinya.
Meskipun kita hanya sebatas teman dekatnya, bukan berarti seluruh hidup teman kia bisa kita atur.
Itu adalah hidup mereka, biarkan mereka lah yang menentukan mau dibawa kemana arah hidupnya.
Apakah ke arah hidup yang positif ?
Atau
Ke arah hidup yang bersifat negatif ?
Semua itu mereka yang tentukan, namun kita sebagai teman tak ada salahnya mengingatkannya jika orang tersebut berada di jalur yang salah.
"Jangan gitu ama temen sendiri." Tegur Livia pelan pada Narul.
"Ihh Livia, kenapa kita harus temenan ama mereka yang tak mau jujur sih ? Okelah, kalau mereka punya alasan sendiri kenapa mau sembunyikan hal itu. Tapi, kita juga berhak tahu karena ini bukan urusan pribadi lagi uda ke urusan kita bersama." Ujar Nia sambil membuka minumannya.
"Kau sendiri langkah apa yang mau kau ambil mengingat si Tiara sudah mengaku-ngaku sebagai kau ?" Tanya Ai Chan.
"Belum tahu." Jawab Livia dengan santai
"Livia !!!" Teriak Mereka bertiga geram akan temannya yang satu ini membuat semua orang di perpusatakaan memandang mereka.
Sungguh buat malu saja.
Bagaimana bisa ada orang setenang ini ?
"Ash.. jangan teriak ini di perpustakaan." Ujar Livia pada mereka.
"Kau lagian kenapa sih bisa setenang itu ? astaga.. ada orang loh yang mengaku-ngaku sebagai dirimu yang penerus terakhir perusahaan Wijaya." Kata Narul.
"Ya iya. Aku tahu itu. Lalu, kalian mau aku stress ? Mau aku menangis ? Mau aku tiba-tiba datang ke media massa untuk mengakui bahwa aku yang asli ? Ayolah, aku tak mau gegabah begitu." Jelas Livia yang fokus mengetik laporannya.
"Ya jangan bersikap tenang dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa, Livia." Geram Nia.
Livia tersenyum tak bersalah dan sibuk fokus akan laporan OJT (On The Job Training)-nya yang tak kunjung selesai dan berkata, "Aku rasa Tiara memang sengaja begitu hanya untuk mengertak Jimmy." gumam gadis itu pelan dan itu terdengar jelas oleh ketiga temannya.
"Apa maksud ucapanmu itu ? Kau juga menyembunyikan sesuatu hal dari kami ?" Tanya Narul menatap tajam ke arahnya.
Oh ya ampun...
Kenapa hari ini sepertinya semua orang menyembunyikan segala sesuatu dari mereka ?
-To Be Continue-