Our Love

Our Love
Part 72



Papa Yeni berhenti memandang temannya yang kini menjadi tahanan, "Sepertinya lebih bagus karena aku bisa menghilangkan kau dari keinginanku untuk menguasai perusahaan Wijaya."


"Kau !!!!"


"Ah iya." Papa Yeni berjalan menghampirinya, "Kau pasti punya bukti kuat bahwa Livia adalah penerus asli kan ? Kalau kau ingin aku bebaskan dari sini maka, berikan informasi hal itu padaku. Hanya dengan itu kita akan menghancurkan wanita bernama Tiara itu. Bagaimana ? Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, kau diam saja disini."


"Kau mengancamku ?"


"Terserah kau mau berpikir seperti apa. Kau mau menggangpku mengancammu silakan. Jika kau anggap aku menolongmu juga silakan. Intinya, kita harus berkerjasama untuk menghancurkan Tiara begitu selesai maka, kita harus membunuh Livia agar tidak ada orang lain lagi yang menghalangi keinginan kita untuk menguasai seluruh harta Wijaya. Bagaimana ?"


Papa Jimmy terdiam, "Berikan aku waktu untuk memikrikan semua ini."


Papa Hanna dan papa Yeni saling memandang, "Baiklah. Ayo kita pergi." Mereka pergi meninggalkan Pak David (papa Jimmy) sendirian.


Tanpa mereka sadari Tiara sudah mendengar semua pembicaraan mereka., "Pada awalnya aku hanya ingin menemuinya namun siapa sangka aku mendapatkan satu hal menarik." Dia memegang ponsel lalu menciumnya, "Beruntunglah aku sudah merekamnya. Tiara kau memang pintar." Wanita itu langsung pergi masuk ke dalam mobilnya, "Halo, aku ada satu perkerjaan untukmu."


'Apa itu ?' tanya seorang pria dari ujung telepon.


"Kau masih berkerja di media kan ?"


'Ya. Kenapa ?'


"Aku mendapatkan suatu hal yang menarik. Bisakah kita bertemu ? Di kantormu misalnya ?"


'Datang saja ke kantorku.'


"Baiklah aku kesana." Tiara menutup teleponnya.


******


Ponsel Livia berdering, "Halo."


"Kau ada dimana ?" Tanya Robert.


"Rumah Jimmy."


"Kenapa kau berada disana ?"


"Hanya ingin menjenguknya yang sedang sedih karena papanya di penjara."


"Siapa ?" Tanya Jimmy.


"Robert menelepon." Dengan segera Jimmy mengambil ponsel Livia, "Dia sedang bersamaku jangan menggangu kami." Jimmy mematikan panggilan itu secara sepihak lalu memberikannya pada Via.


"Kenapa kau mematikannya ?"


"Kita sedang makan tidak boleh ada yang menggangu."


"Siapa tahu dia menelepon karena ada urusan penting."


"Aku tak percaya."


"Kau sangat tidak sopan mematikan telepon orang lain."


"Siapa suruh dia menggangu kita sedang makan."


"Kau harus meminta maaf padanya."


Jimmy menatapnya tajam, "Kau gila ? Kenapa aku harus meminta maaf padanya ?"


"Karena kau sudah mematikan panggilan teleponnya."


"Kalau kau tidak suka kau bisa meneleponnya kembali." Jimmy meletakan sendoknya, "Aku sudah tidak nafsu makan lagi." Dia pergi masuk dalam kamar.


"Dasar orang aneh." Gumam Livia. Ponsel gadis itu kembali berdering, "Ya ?"


"Kenapa panggilan teleponku dimatikan ?"


"Jimmy yang mematikan bukan aku."


"Baiklah aku akan kesana." Livia pamit pada asisten rumah tangga Jimmy lalu masuk ke dalam mobil Robert. Tanpa mereka sadari Jimmy melihat semua itu dari jendela kamarnya.


"Kenapa aku merasa kesal sekali dengan mereka ?" Gumamnya pelan.


*****


"Kau ngapain saja di rumahnya ?" Robert menatapnya tajam.


Livia bergidik ngeri, tadi Jimmy yang kesal ? kenapa pria disampingnya juga ikut-ikutan kesal ?


Pria aneh.


"Aku kan sudah jelaskan tadi kalau aku hanya menenangkannya dan dia memintaku untuk membantunya memasak. Hanya itu."


"Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu ? Bukankah kau sangat membenci mereka ? Kenapa kau sampai mau repot-repot untuk mengunjungi Jimmy ?"


Livia terdiam memikirkan haruskah ia menceritakan apa yang baru saja ia ketahui hari ini pada pria itu ?


atau


haruskah ia merahasiakan dan menyimpannya sendiri ?


Tapi, ia bisa gila jika menyimpan semua masalah sendiri.


Livia menarik nafas dan menghembuskannya, semoga pria disampingnya ini adalah orang yang sangat ia percayai.  "Aku menemukan hal mengejutkan di ruangan Jimmy tadi."


Robert memakirkan mobilnya di pinggir sebuah taman, "Lalu ?"


"Aku menemukan sebuah ruangan tepat dibawah meja Jimmy. Ruangannya sangat kecil dan hanya terdapat sebuah brankas yang dikunci dengan berbagai macam angka. Awalnya aku memasukkan semua angka yang aku tahu namun tidak menunjukkan hasil. Begitu aku ingin menyerah aku mengingat angka yang terakhir yang aku ketahui yaitu tanggal dimana perusahaan Sapphire Blue Corp muai berdiri."


Air matanya mulai mengalir.


Sial.


Kenapa aku jadi cengeng sekali ?


"Dan berhasil brankas itu terbuka, didalamnya terdapat sebuah dokumen yang berisikan pergantian nama dari perusahaan papa ke perusahaan yang dipimpin oleh keluarga Jimmy." Tangisan Livia pecah.


Mungkin gadis itu tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba saja menangis.


Akan tetapi, jauh dari hati kecilnya ia sangat kecewa akan apa ia temukan.


Sebuah pengkhianatan.


Robert terdiam, ia tidak menyangka Livia akan menjadi seperti ini. Memang sudah dari awal ia mencurigai keluarga Jimmy dan dugaannya selama ini benar. "Aku tidak menyangka mereka menyembunyikan selama ini dariku. Aku juga merasa sepertinya mereka-lah yang sudah membunuh papa dan mama demi semua ini. Mereka yang sudah aku anggap sebagai keluarga keduaku, tega melakukan dan menyembunyikan semua ini." Pria itu menarik Livia dan memeluknya.


"Keluargaku begitu baik padanya. Kenapa mereka begitu jahat pada kami ?"


Robert menghapus air mata Livia, "Mereka menginginkan harta orang tuamu. Kalau kau ingin menangis, maka menangislah. Aku akan ada disini untuk menenangkanmu dan selalu bersamamu."


"Aku harus melakukan sesuatu."


"Apa yang akan kau lakukan ?"


"Aku harus merebut kembali apa yang sudah menjadi milikku."


"Bagaimana caranya ? biarkan aku membantumu."


"Aku harus bersedia untuk menjadi anak angkat mereka atau dinikahkan dengan Jimmy."


"Tidak. Aku tidak setuju jika kau menikah dengan pria itu !"


"Kenapa ? Hanya dengan itu aku bisa merebut apa yang sudah mereka ambil selama ini."


"Aku tidak rela kau bersama dengan pria lain. Kau hanya milikku, Livia."


~To Be Continue~