
Cerita ini hanya karangan fiksi semata.
Awas ! Typo, Kata-kata kasar !
Selamat membaca ~~
.
.
Tiga hari lamanya mereka menyelesaikan proses pengambilan gambar. Disana pun hanya untuk melakukan pekerjaan mereka. Keinginan untuk tinggal lebih lama lagi harus pupus mengingat pekerjaan lain yang sudah menanti .
Dan sekarang mereka telah kembali dengan selamat ke tanah air mereka.
Selama perjalanan Gray berusaha kembali menarik perhatian Tania. Gray menyadari bahwa takkan mudah membuat Tania kembali jatuh hati padanya. Bahkan 'dayang-dayang' Tania dengan senang hati menjadi tameng baginya. Mau tak mau dirinya harus menghadapi Inari dengan kecerewetan luar biasanya. Ema dengan tatapan tajam dan sindiran pedasnya. Dan yang paling merepotkan adalah Sakhira yang selalu mendempet padanya.
Dan dengan bangsatnya cecunguk-cecunguk se-dorm nya hanya menertawakan dan mengejeknya. Bukan membantunya malah semakin mempersulit. Untung ia dikaruniai otak encer dengan sikap tenang.
"Bagaimana kemajuan rencana pendekatanmu ?" Tanya Sai.
"Belum ada kemajuan. Kekasih pirangmu itu selalu mengganggu." Gerutu Gray.
"Hei. Ema juga pirang. Luffy juga. Katakan dengan jelas." Protes Sai
"Terserah. "
"Aku sarankan kau lebih cepat bergerak."
Gray mengeryitkan keningnya.
"Farel Mahendra tengah mendekatinya." Sambung Sai dengan santainya.
"Apa ? Bukankah ia dekat dengan Arumi !" Gray tak percaya begitu saja.
"Entahlah. Aku hanya memberitahumu."
"Informasi ini kau dapatkan dari Inari ?" Selidik Gray. Ia yakin sekali karena kekasih Sai itu biangnya gosip. Ia bisa dengan mudah mendapatkan informasi apapun.
"Aku melihatnya sendiri." Jawab Sai.
"Kapan ?"
"Tadi sebelum aku pulang dari tempat Inari. Farel datang menjemput Tania." Jelas Sai dengan polosnya.
"Apa ?! Harusnya kau katakan sejak tadi, Bodoh."
Gray beranjak meninggalkan Sai yang nampak tak peduli.
"Berjuanglah. Semoga masih ada celah untukmu, Gray brengsek."
Tanpa Gray tahu, Sai masih menyimpan sebuah rahasia terkait pertemuan Tania dan Farel kala di pulau Dewata.
.
.
Senyum senantiasa terukir di bibir Tania dan Farel. Dihamparan rerumput hijau dan dibawah rindangnya pohon Tania dan Farel bercengkrama mesra. Tangan yang saling bertaut. Dengan nyamannya Tania berada di pangkuan si pemuda itu. Ia biarkan tangan kekar Farel melingkar indah di pinggangnya.
Farel begitu menikmati kebersamaan mereka. Apalagi dengan sikap Tania yang mau membuka diri padanya. Tak ada penolakan dari semua perhatian yang ia berikan. Rasa bahagia begitu memenuhi hati pemuda Mahendra itu.
"Kau begitu bodoh melepas wanita sebaik ini, Gray." Batin Farel.
"Titania."
"Ya?"
"Bisakah aku menemui Ayahmu ?" Tanya Farel.
"Untuk apa ?"
"Untuk meminta restunya." Jawab Farel singkat.
"Eh ???" Tania terkejut.
Farel terkikik melihat ekspresi Tania yang begitu menggemaskan. Dengan lancangnya ia mencuri kecupan dari bibir merah Tania.
"Secepat itukah kau mau menemui orangtuaku ?"
"Aku tak main-main dengan hubungan ini. Jika kau mau bulan depan bahkan minggu depan pun aku siap menikahimu." Ujar Farel.
Tania sendiri tak mampu berkata. Pemuda tampan ini sukses membuat ia menganga. Tak habis pikir dengan pemikiran si Mahendra ini.
"Aku akan membahagiakanmu, Tania. Aku mencintaimu." Tegas Farel.
"Aku tahu. Untuk itu biarkan aku mengobati luka itu. Biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku. Biarkan aku memilikimu." Jawab Farel.
Farel mendekatkan wajahnya hingga Tania dapat merasakan deru nafas pemuda itu. Perlahan ia menutup mata kala sesuatu yang lembut menyentuh bibir merahnya. Ciuman Farel begitu basah dan intens. Dengan tergesa Farel **** dan melumat bibir manis Tania. Membuai wanita tercintanya dengan ciuman. Tania membalas setiap tindakan Farel. Wanita itu membiarkan Farel mengeksplor bibir dan mulutnya. Lidah mereka saling bertemu. Saling bergerak. Berkumul di mulut sang wanita. Menjadikan setetes saliva mengalir disudut bibir mereka. Begitu manis. Begitu candu. Hingga kebutuhan oksigen yang harus terpenuhi membuat mereka menyudahi ciuman panas itu.
Farel tersenyum tulus sembari mengusap bibir Tania yang sedikit membengkak karena perbuatannya. Ia begitu menyukai wajah merona gadisnya.
"Kau manis sekali, honey."
"Berhenti menggodaku." Tania memukul lengan Farel disambut gelak tawa pemuda tersebut.
.
.
"Sudah sejauh mana hubungan mereka?" Tanya Ray pada sang kekasih, Ema.
"Yang kutahu Tania memberikan kesempatan untuk Farel. " jawab Ema singkat.
"Harus kuakui sejak hadirnya Tania mulai kembali seperti dulu. Ia lebih sering tersenyum. Ia nampak bahagia, Ray." Jelas Ema. Ia tak mau Gray datang kembali jika hanya menghancurkan Tania. Ema belum bisa memaafkan apa yang dilakukan Gray pada adik dan sahabatnya.
"Aku tahu. Bahkan si sialan itu menyusul Tania, bukan ?"
"Eh? Kau tahu darimana ?" Kaget Ema. Seingatnya ia tak pernah menceritakan hal ini pada si pemalas ini.
"Merepotkan." Gumam Ray.
"Aku tanpa sengaja melihat mereka."
"Ck. Dasar tukang intip." Umpat Ema.
"Terserah."
"Jujur aku mengkhawatirkan si bodoh brengsek Gray"
"Bagaimana pun ia sahabatku ? Meskipun aku telah mengatakan takkan ikut campur. Membayangkan ia tahu kenyataan ini. Akan sehancur apa si brengsek itu."
"Entahlah. Anggap saja ini buah yang harus ia tuai dari apa yang ditanamnya." Jawab Ema enteng.
"Kau terlalu kejam, Ema." Dengus Ray.
"Terserah. Yang terpenting bagiku Tania bahagia. Hanya itu. Kau tahu sendiri Tania sudah seperti adik bagiku. Tak kan kubiarkan si Alpha itu merusak kebahagiaan Tania."
Ray memilih diam. Karena ia sendiri menganggap Tania seperti adiknya. Tentu ia tak kan membiarkan siapapun menyakiti Tania. Gadis manis itu terlalu berharga baginya dan juga Ema.
"Sepertinya aku harus siap menghibur Gray. Merepotkan." Gumam Ray.
.
.
Dilain sisi, Gray terus mencari keberadaan Tania. Entah mengapa ia memiliki firasat tak menyenangkan. Apapun caranya ia harus segera menemukan Tania.
"Tania. Kumohon. Jangan biarkan pria itu disisimu." Gumam Gray untuk kesekian kalinya.
Ia mengumpati Inari yang tak mau memberitahukan keberadaan Tania padanya. Si pirang kekasih Sai dengan sadisnya menutup pintu dorm-nya kala melihat ia lah sang tamu. Betapa kurangajarnya si nona biang gosip itu bukan ?
"Tania."
.
.
Tak mengherankan jika Gray tak bisa menemukan keberadaan Tania dan Farel dengan mudah. Farel tentu sudah menduga kemungkinan datangnya Gray si pengganggu -baginya-.
Ia membawa Tania ke rumah pribadinya. Rumah minimalis yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.
Dan kini Farel tengah mendekap hangat pujaan hatinya. Tania tengah tertidur lelap dalam dekapan hangat pemuda itu.
Entah apa yang dipikirkan Farel. Tanpa pikir panjang ia menggunggah sebuah foto ke akun sosial medianya.
Ia sengaja mematikan kolom komentarnya. Dan dalam sekejap ponselnya terus saja berdering. Baik itu pesan, telpon maupun aplikasi lainnya terus berbunyi.
Entah kebetulan atau takdir yang sudah digariskan Tuhan.
Seseorang dengan lancangnya mengunggah sebuah foto yang diambil saat mereka di tempat syuting Tania. Seulas senyum ia sunggingkan, ia memiliki niat tersembunyi dibalik tindakannya.
"Menjauhlah darinya."
Bersambung