Our Love

Our Love
Part 39



Yeni berbalik membuka ponselnya, "Anak buah papaku sudah dibawah. Kau gendong Tiara ke basement menggunakan lift pribadimu."


Jimmy bergumam, "Entah kenapa aku merasa jadi babumu sih."


Mereka langsung memindahkan Tiara ke dalam mobil anak buah papa Yeni. "Ayo kita balik ke kantor, Na." Ujar Yeni.


*******


Livia masuk ke ruangan Robert di lantai bawah, "Kau sedang sibuk ?"


"Tidak. Tumben sekali mampir kemari, ada apa ?"


"Aku disuruh pulang lebih awal. Jadi, aku bosan makanya kesini. Siapa tahu ada yang bisa aku bantu."


"Kau tidak bersama Yeni dan Hanna ?"


Livia menatap bingung, "Maksudnya ?"


"Tadi aku lihat mereka datang. Makanya aku berpikir kau pergi bersama mereka.


"Aku tak tahu mereka datang kesini. Mungkin ada urusan bisnis dengan Jimmy."


"Kau bisa bantu menginput data ini ke computer ? Aku harus mengecek sesuatu."


"Oke."


"Nanti malam kau bertemu orang tuaku, bisa ? Mereka sangat merindukanmu."


"Bisa. Jam berapa ?"


Robert melihat jam tangannya, "Aku selesai jam 3 sore nanti kita langsung kesana."


"Aku tak bisa lama-lama jam 18.00 ada kelas."


"Baiklah."


Ponsel Livia berdering, "Ada apa ?"


'Kenapa kau tak memberikan info pulang lebih cepat ?'


"Ya mana aku tahu kalau kau dan Hanna datang ke perusahaan Jimmy."


Yeni mendesah pelan, 'Kau dimana sekarang ?'


"Masih di kantor ? Aku bantu Robert, nanti ada urusan sebentar baru ke kampus."


'Ya sudah. Bye.'


Livia menatap ponselnya. "Aneh sekali. Telepon cuma tanya aku ada dimana."


"Siapa ?"


"Yeni."


*******


"Sore om..tante." Livia tersenyum menatap orang tua Robert


"Livia.. tante kangen sekali padamu." Mama Robert berlari memeluknya.


"Anak sendiri tidak dipeluk gitu ?"


Mama Robert tersenyum, "Ayo masuk. Bantu tante masak."


"Aku tak bisa lama-lama tante soalnya harus ke kampus untuk kelas malam."


"Tak apa."


"Pa, ada yang mau aku bicarakan."


Papa Robert mengganguk pelan, "Kita ke kamar papa saja." Mereka pergi.


"Bagaimana hubunganmu dengan puteraku ? sudah ada kemajuan ?"


Livia tersenyum kecil menanggapi pertanyaannya, "Belum ada tante."


Mama Robert mendesah pelan, "Tante harap kalian bisa berbalikan, kalau perlu sampai menikah."


"Aku masih terlalu muda untuk menikah tante. Ada beberapa hal yang belum aku capai."


"Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi kau tidak membencinya kan ?"


Livia tertawa kecil, "Tidak. Dia pernah mengajak balikan cuma dari aku nya yang memang belum ingin berbalikan dulu. Tapi, aku juga tidak akan tahu kalau suatu saat nanti dia berhasil membuatku jatuh cinta lagi ya mungkin aku akan menerimanya."


"Tante ingin sekali punya anak perempuan. Kau tahu kan, tante hanya punya anak 1 dan itu hanya Robert. Terkadang jika suami dan anak tante pergi maka tante sendirian di rumah."


"Saat weekend aku bisa mampir untuk menemani tante di rumah. Kalau hari biasa agak susah karena aku sedang magang tapi, kalau selesai magang mungkin aku bisa lebih sering mengunjungi tante."


"Tante dengar kau berkerja di perusahaan Sapphire Blue Corp ya ? Gimana rasanya berkerja langsung dengan CEO barunya?"


"Biasa aja tante." Livia tersenyum paksa.


Menyebalkan.


"Tante harap kau tidak jatuh cinta padanya."


"Tidak tante."


Amit-amit.


Mama Robert memindahkan masakan yang sudah jadi ke atas meja makan, "Tante bingung kenapa kau memilih perusahaan itu ? kenapa tidak dengan perusahaan kami saja ?"


"Saya ingin mandiri tanpa harus cari bantuan ke orang lain tante."


Sebenarnya memang ada yang harus aku cari sih.


"Tolong panggilkan Robert dan papanya untuk makan."


"Baik tante."


*******


"Pagi Mba." Livia tersenyum menyapa resepsionis.


"Pagi juga mba Livia. Oh iya, Bu Jasmine berpesan kalau mba bisa berkerja di ruangan devisi Multimedia."


Livia menatap tak percaya, "Sungguh ?"


Aneh sekali tidak biasanya.


"Pak Jimmy sudah tiba ?"


"Sudah mba."


"Bisa tolong sambungkan ke beliau ?"


"Kenapa ? aku sibuk."


"Pak, kenapa saya tiba-tiba dipindahkan ke bagian multimedia ?"


"Kenapa ? Tak suka ?"


"Aneh aja. Bagus lah kalau begitu. Coba aja dari dulu aku di devisi itu."


"Begitu selesai pekerjaanmu baru berikan padaku untuk di edit."


Aku harus naik turun lift gitu


"Iya." Livia menutup teleponnya. "Makasih ya.." Ia langsung menuju lantai 3 bagian devisi multimedia. Sudah dipastikan ia akan jadi bahan perbincangan hari ini 😧.


"Kalian sudah dengar berita kalau anak baru itu mau dipindahkan kesini." (Karyawan 1)


"Anak baru yang 1 ruangan dengan CEO Jimmy itu ? Kok bisa dia dipindahkan kesini ?" (Karyawan 2)


"Mau jadi mata-mata kali disini, jadi dia ntar ngaduh ke CEO langsung." (Karyawan 3)


"Jangan salah dibalik tampangnya yang polos dan baik gitu, temennya anak pemilik perusahaan semua. Yeni Kesuma dan Hanna Aurelia Wibowo juga temennya. Hati-hati kalau dia ada disini." (Karyawan 4)


"Lagi pula dia sehebat apa sih bisa punya banyak koneksi begitu. Kalau aku jadi dia, lebih baik kerja dengan posisi tinggi dari pada jadi staff." (Karyawan 1)


"Jadi, kita harus berpura-pura bersikap baik gitu. Biar dia juga lapor ke Pak Jimmy mengenai hal-hal baik disini." (Karyawan 3)


"Baru kali ini aku dengar ada anak baru tapi diperlakukan istimewa begini, ck." (Karyawan 4)


Livia masuk ke ruangan tersebut membuat semua karyawan terdiam. "Kamu Livia ya ? Saya Rini salah satu karyawan disini. Mari, saya antar ke meja kamu."


"Makasih mba Rini." Livia tersenyum palsu.


Selama di devisi multimedia, tak banyak karyawan yang mengajaknya mengobrol. Mereka sudah sibuk dengan jadwal syuting untuk keperluan ulang tahun perusahaan. Livia hanya mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Telepon di meja Livia berbunyi, "Halo."


'Pekerjaanmu sudah selesai ?'


"Belum pak."


'Lama sekali sih.'


Kau kira mengedit video itu kayak buat telur ceplok tinggal balik langsung jadi. Ck.


"Sabar pak, baru juga saya tiba di kantor dan mengedit video." Livia tampak mengacuhkan tatapan aneh dari karyawan lain padanya.


"Berapa lama lagi ?"


"2 jam. Mungkin."


"Saya sudah tidak ada di kantor dalam waktu segitu. 30 menit lagi bawa ke ruangan saya entah itu selesai atau tidak." Jimmy langsung menutup teleponnya.


"Boss gila." Gumam Livia pelan.


"Siapa yang telepon tadi ?" Rini datang menghampirinya.


"Pak Jimmy, dia bertanya apakah sudah selesai atau belum videonya."


"Lalu, belum juga ?"


"Belum mba. Saya aja baru tiba di kantor dan mengedit video tadi begitu saya disini."


Rini menepuk jidatnya, "Aduh. Apakah masih banyak ?"


"Banyaklah mba."


Ya elah, biasanya juga aku telat buatnya Pak Jimmy biasa aja. Itu cuma karena dia lagi tak ada kerjaan aja makanya buru-buruin. Coba kalau ada banyak kerjaan, boro-boro mau cek.


"Pak Jimmy minta waktu berapa lama ?"


"30 menit."


Rini membulatkan mata, "Dani. Kau bisa mengedit dengan cepat kan ? Kau kerjakan editan untuk acara perusahaan nanti. Pak Jimmy minta harus selesai 30 menit lagi. Kalau sudah selesai bawakan ke Pak Jimmy." Perintahnya.


"Tapi mba, apa tidak apa-apa kalau mas Dani yang kerjakan ?" Tanya Livia memastikan.


*Wah.. kalau Pak Jimmy tahu bukan aku yang edit apakah dia akan marah *?


"Kau ikut kami syuting di ruangan Accounting hari ini." Perintah Rini membuat Livia terdiam mengikutinya.


"Dani, kenapa kamu yang kerjakan video itu ?" Ibu Sarah merupakan kepala Devisi Multimedia baru saja tiba di kantor.


"Rini bilang Pak Jimmy membutuhkan video ini 30 menit lagi jadi dia suruh saya yang kerjakan."


"Mana Livia, karyawan baru itu ?"


"Ikut Mba Rini untuk syuting di devisi accounting."


"Tugasnya Livia kan mengedit video untuk acara perusahaan. Kenapa kau yang mengeditnya sih ? Kalau Pak Jimmy tahu bisa marah dia."


"Jadi gimana bu ? Waktunya tinggal dikit lagi sebelum diberikan ke Pak Jimmy."


Telepon meja Livia berbunyi, Sarah mengangkatnya. "Hallo."


'Siapa ini ?'


"Saya Sarah kepala devisi Multimedia, pak."


"Livia mana ?"


"Err.. dia sedang ada di devisi accounting untuk bantu syuting disana."


Jimmy menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Masih kurang jelas kah ? Sewaktu pertama kali Livia berkerja disini saya minta kamu memberikannya tugas HANYA mengedit video untuk ulang tahun perusahaan saja ? Kenapa kau suruh dia sekarang ikut bantu syuting ?"


Sial. Baru datang ke kantor malah kena omel. Lagi pula bukan aku yang suruh malah aku yang kena marah.


"Maaf, pak. Nanti akan saya suruh Livia kembali."


"Tidak usah. Saya mau pergi meeting nanti. Besok saja baru saya lihat hasil video editan itu." Jimmy menutup teleponnya sepihak.


Bu Sarah memasang wajah kesal, "Kau kerjakan yang lain. Nanti biar Livia yang kerjakan."


"Tapi bu, 30 menit lagi...." Ucapannya terpotong oleh Bu Sarah.


"Tidak jadi hari ini. Besok pak Jimmy yang mau lihat." Bu Sarah langsung masuk ke ruangannya.


"Kenapa Bu Sarah habis terima telepon langsung wajahnya ga enak begitu ?" Seorang karyawan wanita menghampiri Dani.


"Mana aku tahu. Habis diomelin kali ama Pak Jimmy." Dani pergi.


*******


Jimmy menutup teleponnya dengan keras, "Baru tidak sampai 1 jam saja mereka sudah berani menyuruh Livia untuk bantu syuting." Ia tersenyum kecil, "Tak tahu saja kalau orang yang mereka suruh itu adalah pemilik asli perusahaan ini." Seketika ia memasang wajah sedih. "Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini ya.. Perusahaan yang 12 tahun papa bangun ternyata bukanlah perusahaan kami. Dan sekarang aku bersusah payah memajukan perusahaan ini hanya untuk gadis itu."


-To Be Continue-