Our Love

Our Love
Episode 121



"Untuk sekarang aku sedang tidak ingin. Kenapa sih kau begitu gigih ingin mengajakku berkerja sama?"


"Karena kini mereka sepertinya sudah mengetahui dimana papaku."


"Sungguh?" Tiara tersenyum penuh arti saat melihat Livia telah terpancing dan mau meresponnya. Susah sekali membuat gadis itu agar bisa merespon dirinya.


"Tentu saja, oleh karena itu aku datang ingin meminta bantuanmu."


"Bantuan apaan? kau tahu 'kan kalau aku sudah tidak punya apa-apa lagi."


"Tentu kau juga seharusnya tahu bahwa dirimu bukanlah tipe orang yang pandai berbohong. Siapa juga yang mau mempercayai bahwa perusahaan Wijaya hanya mempunyai 1 aset saja." Livia terdiam, ia tak mau berkomentar apapun. "Aku dengar kau adalah teman masa kecil Jimmy, benarkah itu?" tanyanya lagi.


"Ya." jawabnya singkat.


"Tidakkah kau berpikir jika bisa saja pria itu punya perasaan cinta atau suka gitu padamu?"


"Tidak."


Tiara memgang wajahnya dengan kedua tangan, "Bukankah itu sungguh cerita seperti di drama atau film romantis yang berjudul, 'Kisah Cinta Terpendam dari Anak sang pembunuh'?"


"Tidak juga. Kita hanya sebatas teman kecil."


Tiara membuat wajah sedih yang palsu, "Oh tidak. Kasihan sekali Jimmy yang cintanya bertepuk sebelah tangan."


"Kalau kau merasa kasihan ya balik saja dengannya."


Tiara kembali melipat kedua tangannya di dada, "Tidak, terlebih lagi setelah aku tahu apa yang ia lakukan pada ayahku dan keluargamu."


"Kenapa kau begitu perduli sekali pada keluargaku?"


"Tentu saja aku memiliki hutang balas Budi pada mereka."ujarnya dengan suara pelan.


"Kau bilang apa? Aku tidak dapat mendengar suaramu."


"Ah, sudah lupakan saja. Kau mau berkerja sama denganku atau tidak."


"Aku 'kan sudah bilang tidak tadi, Tiara."


"Kau tidak memberiku alasan dibalik penolakanmu itu."


"Kenapa aku harus menjelaskan alasannya padamu?" Tiara mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang diatas meja, "Lebih baik aku pergi saja. Kau hanya membuang waktuku saja." ujarnya pergi.


Jujur, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Entah kenapa dan bagaimana rasa ingin membalas dendam itu hilang. Yang ingin ia nikmati saat ini adalah ketenangan.


Ponsel Livia berbunyi membuat gadis itu mengambil dan menatap nama orang yang meneleponnya. Jimmy. "Halo." sapanya pelan.


'Bisakah kita bertemu?'


'Ada yang mau aku bicarakan. Kau ada dimana? Aku akan menjemputmu.'


"Aku ada di Star Cafe."


'Aku akan kesana.' ujarnya mematikan panggilan telepon secara sepihak. Ingin sekali ia menuntaskan semua ini?


Gadis itu lelah dengan para lelaki tua yang masih mengincar hartanya.


Seorang pria muda menghampirinya, "Permisi, apakah kau adalah Livia Wijaya?"


Gadis itu menatap bingung padanya, kenapa ia jadi memiliki banyak tamu hari ini? padahal niat awalnya hanya mau bersantai-santai saja.


"Iya betul. Maaf, anda siapa ya?"


"Apakah saya bisa duduk di bangku kosong ini?"


"Silahkan."


Pria muda itu duduk di bekas tempat Tiara tadi, kemudian mengeluarkan kartu nama miliknya. "Aku Jason, anak dari pengacara keluarga anda."


Livia menerima kartu nama tersebut dan membacanya, "Bagaimana bisa anda mengetahui saya berada disini? Bukankah kita baru bertemu?"


"Ini adalah cafe milik teman saya, jadi saya sering datang kesini. Saya mengetahui anda dari pemberitaan mengenai Puteri tunggal keluarga Wijaya yang masih hidup beberapa waktu lalu."


Gadis itu mengaduk pelan minumannya, "Aku kira orang-orang sudah lupa akan hal itu karena rasa penasaran mereka selama beberapa tahun ini sudah terjawab."


Jason hanya tersenyum kecil, "Tidak apa-apa 'kan kalau saya berbicara tidak formal kepada anda? karena sepertinya kita seumuran."


"Tentu saja." Livia melihat jam tangannya, "Akan tetapi, aku tidak bisa berlama-lama karena ada temanku sebentar lagi akan datang."


"Aku mohon maaf kalau sudah menggangu waktumu. Jika urusanmu selesai, kau bisa mampir ke kantorku yang berada di dekat sini. Ada beberapa hal yang mau aku bicarakan terkait dengan perusahaan keluargamu dan semua asetnya." jelas Janson.


"Baiklah." jawabnya singkat.


"Kalau begitu saya permisi."


Janson keluar dari kafe bersamaan dengan Jimmy yang baru saja datang. Dengan segera pria itu datang menghampiri Livia, "Siapa pria itu?"


"Temanku. Ada apa?"


"Aku baru melihatnya." ujarnya duduk di depan Livia.


"Apa yang mau kau bicarakan?"


-To Be Continue-