Our Love

Our Love
Episode 129 (Episode Terakhir)



"Dia berbahaya." Lirih Jimmy. Livia terdiam, sudah sejak lama ia juga sudah mengetahui jika Tiara berbahaya. "Kau juga tahu sendiri Yeni dan Hanna juga ternyata tidak sebaik yang kamu kira."


"Oh, jadi kamu yang baik untuk aku gitu?"


"Tentu saja, karena aku mencintaimu."


Livia terdiam, sungguh ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. "K..kau tidak sedang bercanda 'kan?"


Jimmy menatapnya dengan serius, "Apakah wajahku menunjukkan bahwa aku bercanda?"


Gadis itu menggeleng, "Sejak kapan?"


"Sejak aku bertemu lagi denganmu. Aku tahu bahwa sekarang kau sudah memiliki kekasih, namun aku hanya ingin mengatakan agar aku juga bisa merasa lega."


"Ceritakan semuanya." Jimmy mengganguk dan mempersilahkan Livia untuk kembali duduk. Dia memulai cerita sejak mereka masih kecil, mengenai kronologi kematian orang tua gadis itu juga sangkut pautnya orang tua Hanna dan Yeni, tanpa adanya kebohongan lagi.


Karena jujur Jimmy juga sudah muak dan lelah akan semuanya, ia ingin segera mengakhirinya meskipun mengorbankan kedua orang tuanya sendiri. Ia tak perduli jika dianggap anak tak berguna ataupun anak durhaka.


Pria itu hanya ingin terlepas dari rasa bersalahnya, memang egois namun, ia tak perduli. Setelah selesai berbicara, tidak ada respon dari gadis itu. Jimmy berdiri berjalan ke arah tangga menuju lantai 2 untuk pergi ke kamar, meninggalkan Livia sendirian. Baru saja menaiki 1 anak tangga, ia berhenti, "Aku mohon setelah kau mendengar semua ini, kau jangan datang lagi kesini. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal." Jimmy melanjutkan menaiki anak tangga.


Ya..ia berharap semua ini sudah selesai.


Cerita dirinya dan Livia sudah ditutup.


Biarkan ia menyimpan rasa cinta ini sendirian.


Satu-satunya cara yang menurutnya ampuh untuk bisa melupakan Livia yaitu dengan tidak berkomunikasi dan bertemu lagi. Begitu tiba di kamar Jimmy segera berjalan ke arah kamar mandi, ia terduduk di pojok kamar mandi menangisi semua ini.


Ya Tuhan, kenapa rasanya begitu sakit dan perih?


Sekarang ia tidak punya apa-apa lagi.


Orang tuanya sudah ia penjarakan.


Gadis yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain.


Disela-sela tangisannya hati Jimmy berteriak keras.


Kini semua cerita dirinya dan Livia telah usai.


Jimmy bahkan tidak tahu bagaimana ia harus melalui hari esok.


Apakah ia akan kuat menghadapi semua ini?


Dalam hati beribu kali ia mengucapkan kata maaf pada orang tuanya, bahkan sekarang ia tidak sanggup untuk menemui mereka lagi.


Mereka pasti sangat membencinya.


Jimmy sudah tidak perduli lagi akan semua ucapan-ucapan buruk dari semua orang. Karena juga mereka tidak akan mampu mengerti akan apa yang ia rasakan dan alami selama ini.


Hanya tangisan dan lirih yang tiada berhenti terus bergema. Tidak ada satupun orang yang perduli atau bahkan kasihan padanya.


Livia? Gadis itu juga tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia hampir sama seperti Jimmy, masih mencoba mencerna semua ini dan tidak tahu harus berbuat apa.


Senang? tidak.


Entah kenapa ia tidak senang akan semua ini. Bukan dengan cara seperti ini yang diinginkannya. Livia memang ingin orang tua Jimmy masuk dalam penjara atas apa yang mereka perbuat di masa lalu.


Tapi.. kenapa?


Kenapa rasanya sakit saat tahu ada orang lain jauh lebih terpuruk dari semua ini?


Livia juga tahu bahwa ia tidak bisa berlari naik dan menenangkan pria itu. Livia juga merasa bersalah namun, ia tidak bisa berbuat apapun lagi.


Semua sudah menjadi bubur.


-The End-