Our Love

Our Love
Episode 111 : Penolakan



"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita tinggal menunggu rencana baru dari Livia, penerus Keluarga Wijaya yang sesungguhnya dan kita harus melindunginya. Kau jangan membantu mereka agar bisa mendapatkan uang asuransi. Berikan uang asuransi itu pada Livia."


"Papa tidak memberikan dokumen-dokumen tersebut pada Polisi?"


******


Livia terdiam memandang ke arah luar kafe yang penuh dengan lalu lalang pejalan kaki walau hari sudah menjelang malam. Gadis itu berharap semua keputusan yang diambilnya tepat. Sebuah keputusan untuk mengakhiri semua ini. Ia sudah muak akan semua drama gila itu.


"Hai sayang." Robert baru saja datang langsung mencium kening kekasihnya. "Maaf, membuatmu menunggu lama."


"Tak apa. Kau mau makan malam apa?"


"Apa saja. Kau saja yang pesankan. Aku sudah kenyang hanya melihatmu."


Pipi Livia bersemu merah, "Jangan ngaco."


"Bagaimana hasil pertemuanmu hari ini?"


"Nanti saja kita bicarakan di mobil."


"Kalau begitu makanannya kita take away saja. Kita bisa makan di mobil."


"Makan di mobil?"


Robert mengganguk, "Ada satu tempat bioskop yang baru buka di dekat sini. Kita bisa menonton film dari dalam mobil."


Livia mengiyakan ajakan dari kekasihnya itu, semenjak pemberitaan akan dirinya yang diangkat menjadi anak oleh keluarga Kurniawan membuat Robert juga sibuk akan pekerjaannya sebagai dokter di Rumah Sakit milik orang tuanya, dan ia tetap tinggal di rumah pembunuh itu.


Entahlah sampai kapan harus berakting seperti ini. Keluarga itu sudah tak memperdulikannya terlebih perusahaan orang tuanya telah hancur.


Mungkin diantara kalian akan mengatakan Livia sudah gila karena menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh orang tuanya. Dia bukanlah gadis yang harus pasrah akan semua kejadian ini, lalu berserah pada Tuhan Yang Maha Esa sambil berdoa agar mereka dapat karmanya.


Dengan segala derita yang sudah ia alami dari kecil. Maka, jawabannya adalah tidak. Livia sudah dibutakan oleh rasa dendam dan pengambilan keputusan yang terburu-buru hingga membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


Tidak ada rasa kasihan.


Jika mereka tidak ada rasa kasihan padamu, untuk apa kau juga harus merasa kasihan pada mereka?


Mereka tidak pernah merasa menyesal atas apa yang sudah dilakukan pada orang tua Livia hingga meninggal hingga selama 12 tahun gadis itu tersiksa karena selalu menyalahkan dirinya atas kematian orang tuanya. Yang sebenarnya bukan salahnya sama sekali.


Mereka mengambil alih seluruh harta keluarganya bahkan mengganti nama perusahaan orang tuanya.


Jelaskan pada gadis itu. Bagaimana ia harus bersikap rela atas apa yang sudah dialaminya selama ini?


"Sayang." ucapan Robert membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Ah ya, ada apa?"


"Makanan kita sudah ada. Ayo kita ke mobil untuk menuju bioskop baru yang aku ceritakan."


"Ayo." Livia tersenyum menggandeng tangan kekasihnya pergi dari kafe. Beruntunglah karena jarak dari tempat tadi ke bioskop tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 10 menit dengan menyetir mobil.


"Kita menonton film tentang apa?"


"Action. Genre film kesukaanku." ucapnya sambil mencari parkir mobil yang berada di barisan tengah, beruntunglah bioskop tersebut tidak terlalu ramai.


"Setelah dari bimbingan skripsi aku langsung pergi ke tempat pengacara keluargaku dulu." Livia membuka pembicaraan diantara mereka sambil mengeluarkan beberapa makanan yang sudah dipesan tadi.


"Untuk apa kau kesana? Memangnya mereka akan bisa langsung mempercayaimu kalau kau sungguh penerus terakhir keluarga Wijaya yang dulu diberitakan sudah meninggal?"


Sudah 12 tahun tidak bertemu lalu tiba-tiba datang orang asing yang mengaku hal itu, tentulah semua orang juga tidak akan dengan mudah mempercayainya begitu saja.


"Mereka langsung tahu dari wajahku yang begitu mirip dengan Mama dan dari panggilanku saat masih kecil ke beliau. Aku datang kesana untuk memberikan bukti fotocopy surat wasiat Papa yang asli dan juga surat balik nama perusahaan keluargaku menjadi Sapphire Blue Corp."


"Kenapa kau mau bersusah payah atas semua ini? Kau bisa langsung memberikan bukti itu ke Polisi dan selesai. Tidak perlu melalui pengacara keluargamu itu."


"Aku akan ke kantor polisi suatu saat nanti." ujarnya menatap film yang sudah tayang sejak tadi. "Mereka tidak akan melepaskanku dengan mudah. Aku ingin semuanya segera berakhir. Aku lelah."


"Kita harus segera menikah agar aku bisa melindungimu dari mereka."


"Tidak. Kita tidak bisa menikah."


"Kenapa?"


Livia menatap Robert dengan sendu, "Kau tak bisa menikahi seorang penjahat sepertiku. Nama baik keluargamu akan rusak karenaku."


Gadis itu cukup sadar diri, kalau dirinya tengah dicari-cari oleh pihak kepolisian akibat pengeboman kantor Sapphire Blue Corp yang mengakibatkan timbulnya kerugian triliunan rupiah. Pria itu terlalu baik untuk dirusak nama keluarganya.


"Aku tidak mau dengar omong kosongmu itu. Kau berhak bahagia Livia setelah semua ini."


Gadis itu tahu. Namun, bisakah kau bayangkan betapa tidak enaknya dirimu yang sudah mendapatkan image sebagai pelaku kejahatan harus menikahi pria dari keluarga baik-baik dan juga terpandang? Ada rasa tidak enak dalam dirimu karena mereka yang tidak mempunyai salah apapun harus ikut terseret dalam masalahmu.


Livia tidak bisa tenang jika nama baik keluarga kekasihnya itu akan tercoreng. Belum lagi pembalasan dendamnya belum juga usai. Ia tidak tenang jika hanya mengebom perusahaan keluarganya sendiri.


Rasa bersalah pada orang tuanya masih ada. Akan tetapi, kalah dengan kebencian yang sudah tertanam. Livia masih tidak bisa merelakan semua itu.


"Jawab aku Livia. Apa alasan sesungguhnya kau menolak permintaanku ini?"


Gadis itu menatap mata kekasihnya, "Aku masih belum puas setelah hancurnya perusahaan keluargaku dan Om David yang masih mendekam di dalam penjara."


Robert terdiam menatap kekasihnya yang telah berubah. Dulu ia begitu baik, tegar dan selalu tersenyum walau trauma yang dialaminya. Tapi sekarang, dia berubah menjadi gadis yang penuh dengan kebencian juga pendendam.


Apa yang harus ia lakukan untuk membuat kekasihnya kembali seperti dulu?


"Kapan rasa benci dan dendammu akan hilang?"


"Saat mereka mendapatkan hal yang setimpal."


"Kau tidak berencana untuk berkerjasama dengan Tiara 'kan?"


"Aku akan berkerjasama dengannya untuk menghancurkan mereka."


"Livia, orang tuamu tidak akan senang saat tahu kau jadi berubah seperti ini."


"Mereka juga tidak akan senang saat aku tidak bisa membalaskan dendamku atas penghianatan yang dilakukan oleh orang-orang kepercayaannya."


"Aku tidak percaya kau bisa berubah seperti ini."


"Maka dari itu, menjauhlah dariku mulai sekarang."


"Aku tidak bisa.


"Maka, aku juga tidak bisa menikah denganmu. Maaf."


Robert memegang tangan kekasihnya, "Biarkan aku terus bersamamu. Aku berjanji akan mengembalikan Livia yang dulu aku kenal. Jangan menyuruhku untuk pergi. Aku mohon."


-To Be Continue-