Our Love

Our Love
Episode 127



Jika Livia tidak melakukan apapun, maka ia 'lah yang harus melakukannya. Pria itu sudah membuat keputusan setelah memakan waktu yang cukup lama dan kini Jimmy memilih untuk mengungkapkan kebenarannya, meskipun orang tuanya sendiri yang menjadi taruhan. Ia sudah tidak perduli lagi dengan ucapan dari orang-orang diluar sana nantinya bahwa dirinya merupakan anak durhaka karena sudah memenjarakan orang tua kandungnya sendiri.


Mungkin suatu hari nanti ia akan menyesalinya. Tapi, kebenaran sepahit apapun memang harus diterima 'kan? Setidaknya Livia bisa sedikit tenang dengan masalah ini. Jimmy juga sebenarnya cukup muak akan semua ini. Walau bukan dirinya yang melakukan kesalahan, tapi rasa bersalah itu selalu datang menghantuinya.


Pemberitaan mengenai penangkapan keluarga Jimmy telah tersebar ke berbagai media begitu cepatnya, Livia tidak menyangka bahwa pria itu telah mengetahui semuanya. Ponselnya berdering, "Halo."


"Kau sudah mengetahui mengenai pemberitaan keluarga Jimmy?" tanya Tiara padanya.


"Sudah."


"Hanya itu saja reaksiku?"


"Kau mau aku bereaksi seperti apa? haruskah aku menangis tersendu-sendu dan sujud di hadapan Jimmy sebagai rasa terima kasih atas apa yang sudah dia lakukan padaku, gitu?"


"Ya tidak begitu juga maksudku. Menurutmu kenapa tiba-tiba Jimmy melakukan hal itu?"


"Mana aku tahu."


"Kau itu kenapa sih sensitif amat?"


"Siapa yang sensitif sih?" ujar Livia yang tak sadar sudah menaikan nada bicaranya.


Karena merasa kesal Tiara mematikan panggilan tersebut secara sepihak, sedangkan Livia hanya bergumam tak jelas atas tingkah wanita itu. Kenapa sih semua orang mengatur hidupnya? Apakah mereka sudah bosan dengan hidupnya sehingga harus mengurusi orang lain?


Robert tersenyum mengacak rambut kekasihnya, "Tentu saja aku ada disini untuk menemuimu. Kau mau pergi kemana?"


"Aku harus menemui Jimmy dan menanyakan kenapa dia melakukan hal itu."


"Aku akan menemanimu kesana." Mereka berjalan menuju mobil milik Robert. Sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka, yang ada hanyalah alunan lagu dari radio yang diputar. Livia memiringkan kepalanya menatap kearah luar memikirkan semua hal-hal yang memusingkan ini.


Ia bahkan tidak tahu harus bersikap seperti dan mengatakan apa pada saat berhadapan dengan Jimmy. Kenyataan bahwa selama ini pria itu tahu akan semuanya cukup membuat amarah dalam dirinya semakin memuncak.


Sejak kapan Jimmy tahu akan semua ini? Berbagai pikiran-pikiran negatif datang menghampiri. Bagaimana jika Jimmy sengaja melakukan hal itu untuk menjatuhkannya?


Bagaimana jika ia di-judge oleh orang lain sebagai wanita yang memanfaatkan Jimmy untuk pembalasan dendam? astaga, ia memang berniat untuk membalas dendam. Namun, tidak sampai sejahat untuk menjadikan orang lain sebagai bonekanya.


Livia masih punya hati untuk hal itu, tidak seperti mereka yang hidup dengan tenang sejak kejadian buruk itu.


Kenapa sih hidupnya sangat menyedihkan begini?


****


Berbagai portal berita online dan media sosial penuh kini terbagi menjadi 2 kubu, yang pertama membela Jimmy karena dianggap seorang anak yang berani membongkar kejahatan orang tuanya demi sebuah keadilan, dan kubu kedua merupakan orang-orang yang menjatuhkannya karena dianggap sebagai anak durhaka karena sudah memasukkan orang tua yang sudah susah payah merawatnya dari kecil hingga dewasa ke dalam penjara.


-To Be Continue-