Our Love

Our Love
Sembilan



H A P P Y -  R E A D I N G


.


Sementara itu, Farel dan Tania tengah berada di kediaman Scarlet. Nampak jelas keresahan di wajah ayu sang Lady Scarlet. Selama perjalanan karirnya di dunia entertaiment Tania termasuk entertainer yang bersih dari skandal. Ia mencintai profesinya. Tania mendapatkan semua popularitasnya dengan usaha keras, bukan sekedar menjual sensasi. Dan untuk pertama kalinya ia menghadapi hal seperti ini.


Terlebih skandal mengenai percintaan cenderung menuai banyak hujatan dari fans yang tak rela idolanya memiliki kekasih.


Disaat mengalami keadaan seperti ini, Tania dikelilingi mereka yang menyayanginya. Beruntungnya Tania memiliki keluarga yang begitu peduli dengannya. Reynaldo, Nico dan Artamia mendukung sepenuhnya. Ditambah kehadiran kekasih barunya, Farel senantiasa menguatkannya bahkan Dia siap pasang badan untuk Tania . Dan jangan lupakan keberadaan sahabat-sahabatnya yang selalu siap membelanya.


Kini keduanya masih berada di ruang tamu usai berdiskusi dengan sang kepala keluarga Scarlet, ayah Tania, Reynaldo Scarlet.


"Aku percayakan anakku padamu, Farel Mahendra."


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Bisik Farel. Tangan mereka saling bertaut. Seakan menegaskan apapun yang terjadi mereka akan menghadapinya bersama.


Sembari mendekap sang pujaan hati, Farel tengah menyusun cara untuk membalas ulah sang biang kerok. Sebisa mungkin menjaga kepercayaan  ayah gadisnya padanya. Tania terlalu berharga baginya.


Tania menyamankan diri dalam dekapan hangat Farel Mahendra, kekasih barunya. Dalam hati bersyukur memiliki Farel dihidupnya. Seorang Farel Mahendra adalah anugrah dikehidupan Tania. Kehadirannya membuat Tania perlahan melupakan rasa sakit itu.


Pikiran Tania  kini melayang memikirkan nasib Sakhira Amira. Sungguh Tania tak menyangka Sakhira akan bertindak sejauh ini. Untuk menjatuhkannya. Menyesakkan. Bohong jika mengatakan ia tak marah. Titania sangat marah dan kecewa. Mengapa Sakhira dengan teganya berusaha menghancurkan karirnya ? Padahal Sakhira tahu bagaimana perjuangannya meniti karir hingga kini berada di puncak popularitas. Begitu banyak rintangan untuk menggapai semua itu. Bukankah dirinya sudah melepas Gray. Lalu apa lagi yang diincar Sakhira Amira darinya ?


"Bagaimana nasibnya ? Yang kutahu kini tak ada satu pun yang ada disisinya. Bagaimana caramu bertahan, Sakhira."


"Apa yang akan kau lakukan padanya ?" Tanya Tania.


Tadi Ayahnya meminta berbicara empat  mata dengan sang kekasih. Dan Tania menerka itu menyangkut Sakhira. Tak menutup kemungkinan sang Ayah akan membalas perbuatan Sakhira padanya.


"Kau tak perlu tahu. Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. " ujar Farel.


"Tidak bisa. Aku tak ingin kau melakukan perbuatan buruk hanya untuk membelaku."


"Dengarkan aku, sayang. Kau terlalu naif untuk menghadapinya. Yang dilakukannya sudah keterlaluan. Setidaknya biarkan Dia menerima buah dari perbuatannya." Farel mencubit gemas pipi chubby Tania.


"Tapi ... "


"Aku tak kan menghancurkannya. Hanya memberi dia peringatan keras."


"Bahkan jika kau memaafkannya, Aku tak akan membiarkannya lepas begitu saja."


"Kau membuatku khawatir, Farel."


"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja. Aku janji. "


"Aku mencintaimu. " bisiknya.


Tania semakin mengeratkan dekapannya pada sang kekasih.


.


.


Sakhira tak dapat berpikir lagi. Tekanan yang ia hadapi begitu menyesakkan. Yang ia harapkan hanya satu. Jangan Gray tahu lalu ikut menghakiminya. Itu saja. Untuk sekarang ia belum siap menghadapi Gray.  Namun sepertinya harapannya tak kan terkabul.


Disana, pria yang teramat ia cintai berdiri. Menatap tajam kearahnya.


"Kau datang." Seru Sai dengan seringai setannya.


"Ada apa ini?" Tanya Gray. Pemuda arogan itu kembali melirik sejenak kearah Sakhira. Dapat ia lihat betapa mengenaskannya penampilan sang gadis cantik itu. Dan Gray tak peduli.


"Dimana Tania, Sai ?" Kembali Gray bertanya.


"Apa banyak masalah membuat otak jeniusmu karatan?" Cibir Sai tak tahu tempat. Gray menghadiahi delikan.


"Aku tak mengatakan tahu dimana Tania. Aku hanya mengatakan tahu biang kerok yang terus mengusik seorang Titania Scarlet." Ujar Sai.


"Berani sekali dia melakukan hal tersebut. Punya nyali besar yah. Dia hanya tak tahu apa resiko yang akan didapatkannya." Kali ini Ema yang bersuara.


"Sangat mudah bagi keluarga Scarlet


menghancurkanmu." Gio melirik Sakhira.


Tanpa mengatakan siapa nama biang keroknya. Tatapan tajam Gray langsung mengarah pada sang gadis musim semi.


"Sakhira."


Untuk kali ini Sakhira tak merasa bahagia mendengar Gray menyebut namanya. Yang ia rasakan adalah ketakutan. Aura mengintimidasi sang Alpha benar-benar mencekiknya. Jika tadi ia masih  bisa berkutik menghadapi Inaru cs, tidak kali ini. Sakhira mengenal baik perangai sang pujaan hati. Dan kini ia telah membuat pemuda idamannya marah besar. Apa yang harus ia lakukan ? Menyangkalkah ? Atau mengakui saja.


"Ayo berpikir, Sakhira Amira." Batin Sakhira berusaha mendapatkan jalan keluar dari situasi tak menguntungkan ini.


Kali ini mereka diam, membiarkan Gray mengambil alih memberi pelajaran pada gadis keras kepala yang bebal.


"G-gray. Aku bisa menjelaskan."


Mati-matian Sakhira menyembunyikan rasa takutnya.


"Apa  yang harus dijelaskan, Sakhira Amira ? Kau !! Beraninya kau mengusik Tania lagi."


"T-tidak. Bukan aku yang melakukannya." Elak Sakhira.


"Cih. Disaat seperti ini kau masih berusaha mengelak. Dasar mak lampir." Umpat Sai.


"Diamlah." Inari menyikut perut sang kekasih.


"Lebih baik kita keluar. Biarkan Gray yang melakukannya." Saran Ray. Si jenius Zhao tentu tahu dengan gerak gerik Sakhira. Wanita tak tahu diri itu lebih tertekan menghadapi Gray. Jadi, mereka tak perlu lebih banyak lagi buang energi menghadapi Sakhira. Serahkan saja pada pawangnya, pikir Ray.


Tanpa mengatakan apapun lagi mereka memilih keluar dari ruangan tersebut.


Luffy menatap cemas kedua sahabatnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu. Tepukan pelan Gio di lengannya membuat Luffy  kembali melangkah keluar dari rungan itu. Membiarkan Gray mengurusnya.


"Berdoa saja semua permasalahan ini cepat menemukan titik penyelesaian. " bisik Gio.


"Kendalikan emosimu. Jangan memukulnya. Dia wanita." Pesan Ray sebelum meninggalkan Gray dan Sakhira.


"Kau salah, Ray. Dia wanita jadi - jadian. Makanya tak punya hati." Sai berkomentar.


"Semerdekamu saja, Sai." Balas Ray.


.


Disaat Sakhira harus menghadapi amarah Gray Alphanius. Nicolas Scarlet bergerak cepat untuk membalas perbuatan gadis menyebalkan itu.


Dengan kekuasaannya, Nico melancarkan aksinya, ia mengancam akan mengambil semua dana yang telah ia kucurkan pada semua perusahaan yang memakai Sakhira Amirq sebagai modelnya. Kecuali mereka bersedia memutus kontrak dengan sang model.


"Aku tak peduli akan sefrustasi apa saat kau tahu karirmu hancur. Inilah akibatnya jika kau berani mengusik kami." Desis Nico.


Sedangkan untuk Gray, Nico tak melakukan apa yang ia lakukan pada Sakhira. Alpha bukanlah keluarga sembarangan. Dan lagi keluarga Alphanius terutama Indira Alphanius sudah memberi pelajaran pada putranya itu.


" Menyaksikan Tania  bersanding dengan Farel Mahendra pasti melukaimu, Gray Alphanius. Dan pasti lebih menyakitkan daripada aku menghancurkan karirmu."


Biarkan pemuda itu jatuh dalam depresinya. Maka ia sendiri yang akan menghancurkan hidupnya. Nicolas tak perlu berbuat apa-apa.


Kejam ? Nico tak peduli. Mereka pantas mendapatkannya.


.


"Astaga ! Kenapa masalah bertubi-tubi datang." Teriak Satria. Rentetan telepon yang menanyakan kebenaran foto juga hubungan Titania Scarlet dan Farel Mahendra saja sudah membuatnya pusing. Sekarang ditambah pembatalan kontrak untuk Sakhira Amira terus berdatangan. Rasanya kepala ini akan pecah. Kelakuan anak didiknya benar-benar membuat ia kelabakan. Bukan masalah uang yang membuatnya begitu pusing, namun masalah nama baik perusahaan mereka yang tercemar. Bagaimana tidak kabar Sakhira ditolak semua perusahaan yang sempat menawari job sudah menyebar di semua media sosial. Ditambah lagi muncul artikel mengenai kelakuan Sakhira yang arogan.


"Karirmu berada diujung tanduk, Sakhira." Lirih Satria


"Pak, Atude Home membatalkan penawaran mereka untuk Sakhira."


"Para wartawan meminta klarifikasi mengenai foto Titania dan Farel."


"Pak Satria.... bla bla bla."


Satria mengerang frustasi.


"Diam !"


Hanya satu kata dan semuanya langsung diam. Mereka tentu sadar betapa beratnya beban sang CEO yang kini harus menghadapi dua masalah besar.


"Apa Titania sudah bisa  dihubungi ?" Tanyanya.


"Belum."


Satria menghela nafas. Tentu saja Tania pasti dalam lindungan Reynaldo dan Nicolas Scarlet. Satria menebak pasti Tania tak tahu apa yang dilakukan dua pria Scarlet itu.


"Lalu bagaimana dengan Farel ?:


"Dia juga tak menjawabnya."


"Sialan." Umpat Satria.


Satria Winatajaya butuh waktu untuk berpikir jernih.


.


"Kemarin aku marah padamu, Sakhira. Dan sekarang aku benar-benar membencimu, Jalang." Teriak Gray dengan amarah yang kian membumbung.


Sebisa mungkin Gray mengontrol amarahnya.


"T-tolong ! Dengarkan penjelasanku." Pinta Sakhira dengan tubuh gemetar.


"Penjelasan ? Persetan dengan itu."


"Aku aku hanya i-ingin mem-buatmu menyerah pada Tania. Aku hanya ingin kau tahu bahwa.. hiks.. Tania sudah bersama Farel Mahendra." Dengan susah payah Sakhira menjelaskan maksud dari semua perbuatannya. Namun, respon yang ia dapatkan tak sesuai dengan yang diharapkannya.


Sakhira mencoba menyentuh sang pujaan hati. Namun Gray mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh.


"Kumohon . Maafkan aku. Tolong !!!" Sakhira bersimpuh di hadapan Gray. Air mata mengalir deras di pipi mulus gadis berperawakan semampai itu.


"Aku melakukan semua ini karena Aku sangat mencintaimu. "


"Kau gila, Sakhira Amira." Desis Gray tajam.


Sakhira tertunduk.


"Ya. Aku gila. Aku gila dengan perasaan ini. Aku tak bisa  mengendalikan cinta ini. Aku benci dengannya. Titania Scarlet, dia mengambil semuanya dariku." Teriak Sakhira. Wanita itu meledakkan emosinya. Ia marah dengan mereka semua yang tak mau berada disisinya. Terlebih lagi Gray tak mau melihatnya.


"Titania mendapatkanmu yang kucintai dari dulu. Titania merebut sahabat baikku. Dia !!! Wanita munafik itu begitu lancang merampas semua yang harusnya menjadi milikku !! Aku sangat membencinya. Dia jalang bermuka polos."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Sakhira. Cukup keras Gray menghadiahinya tamparan.


"Semua pergi darimu karena kelakuanmu sendiri. Semua menjauh karena keegoisanmu sendiri. Jangan kau limpahkan kesalahanmu padanya."


Rasa panas yang masih menjalar di pipi Sakhira tak seberapa dibandingkan rasa sakit hatinya. Pujaan hatinya rela memukulnya untuk membela Titania Scarlet.


"Kau juga sama saja denganku. "


"Ya. Aku juga menyakitinya. Aku menghancurkan cintanya hanya untuk wanita tak waras sepertimu. Begitu bodohnya aku ! Dan kini aku sangat menyesalinya." Gray merasakan sakit kala mengingat wajah terluka Tania.


Sakhira dapat melihat kesedihan di mata hitam Gray. Dan juga kilatan cinta yang tentu saja bukan untuknya.


Kembali air mata membasahi pipi Sakhira. Semua yang ia lakukan sia-sia. Gray  tak juga melihatnya, kini Gray justru membencinya.


Gray merasa tak ada gunanya berlama-lama menghadapi wanita ini. Ia segera beranjak pergi tanpa mempedulikan Sakhira yang masih menangis.


"Titania Scarlet." Desis Sakhira.


.


.


"Sudah kukatakan jangan main fisik" Ujar Ray.


"Dia benar-benar gila." Gray tak menggubris Ray.


"Gila-gila itu mantan kekasihmu, Gray." Celetuk Sai.


"Kau menyindirku, Sai." Kata Gio sebal.


"O, iya. Aku lupa disini ada dua alumni Sakhira Amira."


"Bicaramu santai tapi bikin orang pengin nonjok wajahmu, Sai." Dengus Gio.


"Hancurkan saja mulut tanpa filternya." Timpal Luffy.


"Jahatnya. Jika kau hancurkan bagaimana aku bisa mencumbu Inari-ku."


"Terserah." Koar mereka jengah.


"Kita kembali ke topik. Dan Sai jangan berbicara jika tak penting. " ujar Ray.


"Baiklah."


"Apa kalian sudah mendapat kabar tentang Tania ?" Tanya Gray.


"Dia bersama Farel Mahendra." Jawab Ray santai.


"Apa ? Jadi semua itu benar ? Bahwa Tania sudah menjalin hubungan dengan Farel!."


"Ya. Farel sudah mendapatkan pengganti dirimu, Gray. " sahut Luffy.


Menyakitkan. Sangat menyakitkan. Wanita yang dicintainya sudah melabuhkan hati pada orang lain.


Sudah terlambatkah memperbaiki hubungannya dengan Tania ? Tidak, ia tak boleh menyerah.


"Begitu ya." Lirih Gray.


"Bisakah kalian membantuku menemuinya ?" Pintanya.


Bahkan jika kemungkinan mendapatkan Tania dibawah satu persen, Gray akan tetap mencoba. Ia yakin sedikitnya pasti masih ada cinta Tania untuknya. Terserah jika mereka mengatakan bahwa Gray Alphanius tak tahu diri.


"Nicolas Scarlet itu sister complex kelas kakap. Mana mungkin Dia mengijinkanmu menemui Tania." Kali ini Gio yang menjawab.


Gray mengiyakan ucapan Gio. Ia tak punya hak apapun lagi menyangkut Tania.


"Ditambah lagi si Farel itu dia benar-benar menjaga Tania." Sambung Gio


Gray tak menyukai pemuda itu. Mendengar namanya saja sudah membuat Gray marah.


"Dimana kau sekarang ?" Tanya Gio pada lawan bicara diseberang sana.


Ya, Tania menghubungi Gio setelah insiden tersebarnya foto itu.


"Aku ada di kediaman ayah, Gio. Farel juga menemaniku disini. Kau tak perlu cemas."


"Syukurlah. Kau berada ditempat yang aman."


"Apa kau baik-baik saja, Tania ?" Tanya Gio khawatir.


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, Gio. Sakhira Amira benar-benar ingin menghancurkanku. Saat ini rasanya begitu sesak untuk bernafas. Memikirkan bahwa selama ini Dia hanya berpura-pura menjadi sahabatku semakin menyakitkan. "


Gio dapat mendengar isakan Tania. Ingin rasanya ia berlari sekarang juga ke kediaman Scarlet untuk memeluk Tania. Menguatkan wanita cantik itu.


"Tania." Lirih Gio.


"Kumohon. Jangan katakan pada siapapun tentang keberadaanku saat ini ya."


"Tentu. Beristirahatlah sejenak. Aku akan berusaha menyelesaikan semua ini. "


Ya. Sejak awal Gio tahu keberadaan Tania. Namun Gio memilih bungkam. Adik Ema itu memegang janjinya pada Tania.


Hanya Narayyan yang menyadari kebohongan Gio. Hingga mau tak mau Gio mengatakan tentang Tania  yang menghubunginya.


"Aku akan menemuinya sendiri. "


"Jangan gila, Gray." Luffy  mencegah sahabatnya itu.


"Kau hanya akan dibunuh Nico jika kesana."


"Aku tak peduli. "


"Benar apa yang dikatakan Luffy. Biarkan semuanya tenang sejenak baru kau menemuinya." Saran Ray.


"Kau pasti langsung mengamuk jika melihat langsung interaksi Tania dengan si rel kereta merepotkan itu." Batin Ray.


.


.


Sakhira kini berada di apartemannya. Ia begitu terkejut kala mendapat kabar bahwa ia kehilangan semua job-nya. Bahkan mereka yang sudah lama menjadikannya model tetap juga memutuskan kontrak.


"Apa-apaan ini. Bagaimana bisa mereka seenaknya membuangku."


Sakhira melempar semua yang ada di meja. Suara benda berjatuhan tak ia pedulikan.


"Dan apa-apaan semua artikel gila itu. Darimana mereka mendapatkan semua foto itu. Arghhhhhhh !!!! SIALAN !!" teriak Sakhira frustasi.


Keadaan Sakhira semakin menyedihkan. Rambut berantakan. Aparteman yang seperti kapal pecah.


Dan kini dia sendirian.


Bersambung.