
O U R L O V E
**Cerita ini hanya karang fiksi semata.
Warning ! Typo, Kata-kata kasar.
Selamat membaca**.
.
.
Sepasang mata bulat milik seorang gadis berparas ayu ini tak lepas dari pemandangan di depannya. Seakan adegan di depannya itu lebih menarik walaupun perlahan rasa sakit menjalar di hatinya.
"Tidak, tidak boleh aku seperti ini." batin gadis cantik itu.
Ingin sekali ia menjauh dari tempat itu, namun kakinya seakan tak mau diajak berkompromi.
" Sudah tak tersisa tempatku untuk disisimu." lirihnya dengan air mata yang perlahan turun.
Indra pendengarannya menangkap suara gelak tawa ke dua insan yang tak menyadari keberadaanya. Miris.
Nama gadis itu Titania Scarlet tengah tersenyum miris.
Keputusannya untuk melepas pria yang dicintainya justru menyiksa dirinya sendiri. Tapi itu lebih baik daripada bertahan hanya sebatas status saja.
"Tania." tegur Ema membuat Tania mengalihkan pandangannya.
" Tidak perlu kau bersedih lagi karna cecunguk itu. Kau pantas mendapat yang jauh lebih baik dari senpai brengsek itu." ucap Ema membawa tubuh Tania ke pelukannya.
" Ema." lirih Tania.
"Abaikan mereka." Pinta Ema. Tania menanggapi dengan anggukan.
Rasanya menyenangkan memiliki orang-orang yang begitu peduli dengan dirinya. Selalu memberi semangat disaat ia tengah terjatuh seperti sekarang ini.
.
.
.
- Dorm Badboys-
Sebelumnya mari kita mengenal siapa saja penghuni Dorm yang mendapat julukan Badboys. Ada Narayyan Zhao yang merupakan aktor dan komposer lagu. Ada Sai Devano sang pelukis handal yang juga terjun dalam dunia entertaiment sebagai model dan aktor. Luffy August si serba bisa dengan pembawaan yang ceria.
Lalu, Giovani Fernandes, putra bungsu dari keluarga Fernandes ini juga seorang aktor, model sekaligus penyanyi. Dan yang terakhir adalah sang prodigi dari keluarga Alphanius, Gray Alphanius merupakan aset berharga dalam agensi mereka. Dia seorang model, aktor, penyanyi, tak jarang ia juga bergerak di belakang layar.
Mereka semua bergabung dalam sebuah grup band bernama D'devils. Kelima pemuda multitalenta dengan sejuta pesona.
Alasan mereka dikenal Badboys karena kedekatan mereka dengan sejumlah wanita. Tampang yang rupawan dengan latar belakang keluarga yang terpandang tentu menjadi daya tarik yang sulit ditolak. Mereka juga cenderung mengabaikan apa yang dikatakan oleh netizen. Sehingga menimbulkan spekulasi publik bahwa mereka gemar bergonta-ganti wanita.
" Apa si biang kerok belum datang juga, Ray ?" Tanya Luffy
Narayyan atau akrab dipanggil Ray hanya menggelengkan kepala. Luffy menarik nafas dalam, keadaan di dorm yang belakangan ini tidak bersahabat membuatnya pusing sendiri. Perang dingin yang terjadi dua pemuda dingin yang memicu semuanya. Luffy berharap suasana tak menyenangkan ini segera berakhir.
Semua terjadi bermula dari Gray yang diam-diam menjalin hubungan gelap dengan Sakhira Amira yang notabene kekasih dari Giovani Fernandes. Selain membuat retaknya hubungan sesama asuhan dari agensi yang sama, ulah dari sang super star keturunan Alphanius itu juga menyulitkan hubungan asmara lainnya.
Seperti hubungan Ray dan Ema yang merenggang. Sai dan Inari juga kena imbasnya. Kedua kekasih sahabatnya itu merupakan sahabat baik dari Titania Scarlet, gadis manis yang menjadi korban kebrengsekan bungsu Alphanius.
Luffy yang merupakan teman akrab kedua biang kerok itu tak menduga bahwa mereka akan tega melakukan hal ini. Mereka semua tahu Sakhira juga bersahabat dengan Tania. Begitu juga Gio dan Gray.
Kegilaan macam apa yang sudah mereka lakukan ini!?
" Apa kau sudah mendapatkan kabar terbaru tentang Tania, Ray? Ema dan Inari bisa dihubungikan ?" Tanya Luffy.
"Jangankan mendapat kabar. Panggilanku dijawab saja sudah seperti keajaiban. Dasar merepotkan." Gerutu Ray.
Usai skandal yang dibuat biang kerok itu Ema mengabaikan Ray.
Membuat si pemalas uring-uringan. Kalau kata Ema itu akibat yang diterimanya karena menyembunyikan fakta perselingkuhan dua biang kerok itu.
"Tania baik-baik saja. Dia punya Ema dan Inari yang setia menyemangatinya." Sahut Sai.
"Jangan kalian kira hubunganku membaik dengan Inari. Aku harus mendengarkan ocehannya yang sangat panjang sebelum ia mau menjawab satu pertanyaanku. Jika salah bertanya aku hanya akan berakhir diceramahinya lagi." Ujarnya lagi kala melihat kilatan menyelidik dari Luffy dan Ray.
"Ck !."
"Itu resiko kalian menyembunyikan hubungan Sakhira dan Gray" Seru Gio sembari membawa segelas kopi ditangannya. Gio dengan santainya ikut bergabung.
"Kami tak bermaksud menyembunyikannya, Gio." Elak Luffy merasa bersalah.
Sedangkan Ray dan Sai tak membantahnya.
Toh, ini akibat yang harus diterimanya. Atas nama persahabatan mereka diam. Meskipun mereka tahu yang menjadi pihak tersakiti juga sahabat mereka.
Tapi sungguh, si malas dan si maniak mi instan itu tak menyangka dampaknya akan begitu besar. Kerenggangan.
Persahabatan mereka benar-benar diambang kehancuran. Menyesal pun tak akan mengembalikan segalanya yang telah terjadi.
Di kepala jenius pemuda Zhao itu terus berusaha dengan berpikir keras untuk menemukan solusi. Akan tetapi sampai sekarang jangankan solusi untuk berpikir tenang saja sulit ia dapatkan.
Tiba-tiba orang yang tengah mereka bicarakan datang. Gray tak pedulikan tatapan tak bersahabat Narayyan dan Sai. Apalagi tatapan dingin Gio. Luffy sendiri mencoba tetap bersikap biasa saja. Meskipun tunggal dari pasangan August itulah yang pertama kali melayangkan bogem mentahnya kala pertama kali mengetahui hubungan gelap Gray.
"Kau masih sempat datang kemari? Bukannya wanitamu selalu menempel padamu, Alpha?" Sindir Sai.
"Bukan urusanmu, Sai" Gray melayangkan tatapan tajam pada kekasih Inari.
" Kukira kau akan terus menemani Sakhira, Gray." Kali ini Luffy yang bersuara.
" Kau iri padaku ? " cibir Gray.
Gray jelas tahu bagaimana perasaan Luffy dulu pada gadis cantik itu. Ditambah hingga sekarang pemuda berkulit tan itu masih sendiri.
" Cih, apa yang harus diirikan dari pria tak setia nan bajingan sepertimu." Sai lah yang menjawab dengan sengit.
Gio yang memilih tak bersuara beranjak pergi dari ruangan itu. Giovani masih belum bisa memaafkan kelakuan Gray yang tega menusuknya dari belakang. Ia malas melihat wajah datar pemuda Alphanius. Dan juga ia memiliki janji dengan seseorang.
" Sudah jangan seperti itu, Sai. Kekasih orang tentu lebih menantang daripada kekasih sendiri." Sindiran pedas Ray membuat Gray mendidih.
Gray memilih melengos pergi, menghindari terjadinya baku hantam. Bagaimana pun ia tak mau memperkeruh keadaan. Untuk saat ini Gray akan memilih diam saja. Ia tak menampik bahwa title brengsek sangat tepat untuknya.
" Ternyata mulutmu lebih beracun daripada mulut Sai, Narayyan Zhao" Cibir Luffy.
Ray mendengus mendengar cibiran si pirang.
"Eh? Dimana Gio ?" Tanya Sai kala tidak melihat si Fernandes itu.
.
.
.
.
.
Gio dan Tania tengah duduk bersama di sebuah bangku taman tidak jauh dari dorm Tania.
"Maafkan atas keterlambatanku tadi." Ujar Gio
"Tak apa." Tania memaklumi keterlambatan Gio.
"Apa kau tak memiliki kegiatan hari ini ?" Tanya Tania takut-takut ia telah mengganggu waktu Gio.
"Apa kau sudah baik-baik saja , Tania?"
Kali ini Gio yang mengajukan pertanyaan. Pertanyaan klise memang.
"Bagaimana denganmu ?" Tania berbalik bertanya.
"..."
"Apa aku terlihat baik-baik saja ?"
"..."
"Aku berpikir kenapa nasib kita seperti ini, Gio ? Dilukai oleh orang-orang yang kita sayangi. Dikhianati oleh orang yang kita percayai. Untuk pertanyaanmu itu aku ingin menjawab baik-baik saja. Tapi aku sedang tak baik-baik saja."
"Apa yang mesti kulakukan ? Sungguh aku tak mau membenci. Sulit sekali memaafkan. Sulit sekali bersikap biasa saja tanpa mengingat apa yang telah terjadi. " ujar Tania tak menyembunyikan suara bergetarnya. Menahan tangis. Menahan sakitnya dikhianati. Melupakan kejadian itu begitu sulit dilakukan.
Keduanya dikhianati sahabat dan pujaan hati mereka.
Ironis, bukan ?
Benar adanya bahwa orang terdekatnya yang sering kali menorehkan luka dihati kita.
" Aku tak tahu harus menjawab apa, Tania. Aku sama sakitnya dengan apa yang kau rasakan. Aku hanya berharap satu hal untukmu. Sesakit apapun luka yg sudah ditorehkan Gray dihatimu. Aku harap kau tidak akan trauma menjalin~" belum selesai Gio berkata.
Tania sudah menyelanya," Jangan
mengkhawatirkanku. Disini bukan hanya aku yang terluka. Kau juga terluka bukan. Dan kau juga jangan trauma untuk memulai kisah cinta yang baru."
" Katakan padaku, Titania Scarlet. Adakah dalam benakmu keinginan untuk membalas mereka ?" Tanya Gio. Tania menatap dalam pemuda di depannya.
"Entahlah. Kupikir yang saat ini menjadi prioritasku adalah menata kembali hati yang hancur ini."
"Apa artinya kau tak akan memberikan kesempatan kedua jika Dia memintanya?" Tanya Gio.
"Bagaimana denganmu ?" Tania berbalik bertanya.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Masih terlalu pagi bagi seseorang untuk bertamu. Namun, tidak bagi si pelaku yang sudah seenaknya membunyikan bel rumah yang menjadi dorm Badboys.
Ray sembari mengomel tak jelas membukakan pintu untuk tamu yang pagi- pagi sudah mengganggu tidurnya.
Mata Ray langsung terbuka lebar saat mendapati Tania lah yang datang.
"Merepotkan." Gerutunya.
" Selamat pagi, Ray. Maaf mengganggu acara hibernasimu." sapa Tania ramah.
" Selamat pagi. Masuklah, Tania." Ray menguap lebar. Tania terkekeh melihat pemuda yang terkenal malas itu.
" Sudah lama kau tidak datang kemari sepagi ini. Sejak kau berpisah dengan.... "
" Aku mau bertemu Giovani. Aku ada janji dengannya." Sela Tania sebelum Ray menyelesaikan ucapannya.
Gray yang baru keluar dari kandangnya (read: kamarnya) terkejut mendapati mantan kekasihnya sudah ada di tempat mereka sepagi ini.
Ia tengah bercengkrama dengan Ray dan yang lainnya. Tatapan Gray bertemu dengan mata indah Tania. Diluar dugaanya, Tania tidak membuang pandangannya melainkan tersenyum manis padanya.
Senyum yang masih menggetarkan hatinya.
"Maaf membuatmu menunggu." seru Gio menghampiri Tania di ruang tamu.
"Tak apa. "
"Apa sekarang kalian memiliki hubungan khusus ?" Selidik Luffy melihat interaksi keduanya.
"Apa yang kau katakan. Tentu saja tidak." Sangkal Gio cepat. Tania sendiri hanya tersenyum malu.
"Benarkah ? Lalu untuk apa kau pagi-pagi berani datang kemari." Luffy masih belum puas jawaban Gio
" Aku ada urusan dengan Gio. Benarkan ?" Tania mengerlingkan matanya ke Gio bermaksud meledek.
" Hn."
Entah mengapa Gray yang memperhatikan dari jauh merasakan sesak di hatinya.
" Hei, Titania Scarlet. Jika memang kalian berkencan kami merestui kok." teriak Sai melirik Gray yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Tentu. Aku yakin Gio tidak akan menyakitimu." Timpal Luffy dengan polosnya.
"Kalian bertingkah seperti kakakku saja." kata Gio jengah.
"Untuk sekarang aku dan Tania tak lebih dari teman." Sambungnya.
Mereka asyik menggoda Tania dan Gio dengan sesekali menyelipkan sindiran untuk Gray. Gray tidak ikut bergabung bersama yang lainnya. Akan tetapi ia menajamkan indra pendengarannya untuk mencuri dengar pembicaraan.
" Aku dengar kau mengambil proyek film terbaru, Tan ?" Tanya Ray membuka topik pembicaraan lain.
"Ya. Aku sudah cukup lama vakum dari dunia akting. Jadi kurasa tawaran menjadi lawan main Farel Mahendra cukup menarik." Jawab Tania antusias.
"Dan Inari juga akan bermain di film yang sama denganku loh, Sai Devano" Lanjut Tania menatap Sai jahil.
"Inari-ku pasti bermain antagonis." Tebak Sai yang diiyakan yang lainnya.
"Ah. Kau sempat mengidolakan Farel bukan? Itu jackpot ! Bisa bermain dengan idolamu sendiri." Seru Luffy heboh sendiri.
Sekedar informasi Tania, Ema, Inari dan Sakhira juga bernaung dalam agensi yang sama dengan D'devils.
Karena itu semenjak semua tahu tentang perselingkuhan yg dilakukan Gray dan Sakhira, kebanyakan dari rekan satu agensi yang mengenal mereka bersikap acuh dengan mereka.
Melihat bagaimana cerianya Tania membuat Ray yang melihatnya menduga bahwa sosok Titania mulai kembali lagi menjadi Titania yang dulu sebelum Gray menorehkan luka dihatinya.
Dalam hati Tania bertekad akan menunjukan pada mantan kekasihnya itu jika ia masih bisa bersinar tanpa adanya dia disisinya.
Seperti sekarang ini Tania tengah asyik berbincang dengan para pria tampan disekelilingnya. Ia tak perlu lagi menjaga jarak dengan mereka. Toh tak ada lagi yang akan cemburu.
Sedang seseorang memandangi dengan tangan terkepal dan tatapan yang sulit dijelaskan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung