Our Love

Our Love
Lima



*Cerita ini hanya karang fiksi semata.


Awas ! Typo, Kata-kata kasar.


..


..


Selamat membaca* ~~~


"Gio ! kau tidak perlu mengasihiniku dengan bersikap baik padaku. Aku tahu kau sama dengan yang lainnya memandangku dengan tatapan jijik." Seru Sakhira saat berpapasan dengan Seniornya sekaligus mantan kekasihnya itu di lobby.


Gio merasakan kekecewaan yang


teramat sangat mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita itu. Tidak terbesit sedikitpun dipikiran Gio untuk mengasihani Sakhira, untuk merasa jijik dengan pengkhianatan yang diperbuat wanita itu.


Ia tulus melakukan semuanya. Tanpa meminta balasan. Sungguh tak pernah di duga apa yang dipikirkan Sakhira jauh dari yang diperkirakannya. Giopikir selama menjalin hubungan dimasa lalu sebagai sepasang kekasih membuat Sakhira mengerti bagaimana sikapnya.


" Aku tidak pernah mengasihinimu. Aku hanya peduli denganmu sebatas rekan." jawab Gio tenang.


" Cih, Dusta sekali kau ! Ku rasa kau bukan malaikat, Giovani Fernandes. Jauh dilubuk hatimu kau membenciku bukan ? Menghinaku dengan berbagai caci maki yang tidak kau ungkapkan." cibir Sakhira.


Picik sekali pemikiran wanita yang satu ini. Tidakkah ia bisa melihat ketulusan dari pria tampan ini. Cintanya pada Gray membutakan mata hatinya. Tidak peduli lagi


berapa banyak orang yang akan terluka karena dirinya. Walaupun ia harus menerima kebencian dari banyak orang, Sakhira rela asal ia bisa bersama Gray, pria yang


direbutnya dari Titania Scarlet.


"Sepertinya cintamu membutakanmu ya, Sakhira." Gio akhirnya membalas ucapan Sakhira dengan pedas.


"Jangan biarkan dirimu diperbudak cinta. Ah , itu bukan berarti aku mengguruimu. Aku hanya sekedar mengingatkan." Gio memberikan senyum sinisnya.


"KAU !!."


.


.


"Aku ingin kita berakhir disini, Sakhira."


" Jangan bercanda, Gray Alphanius ."


Tidak. Sakhira berharap apa yang


didengarnya salah. Gray ingin mengakhiri hubungan mereka.


Tidak akan.


Terlalu menyakitkan jika semuanya berakhir begitu saja setelah semua pengorbanan yang dilakukannya.


"Aku tak mau kita berakhir."


" Aku tidak bercanda, Aku ingin kita sampai disini saja."


"Aku baru menyadari kalau aku tidak pernah mencintaimu. Semua perasaan yang dulu kurasa hanya perasaan semu. Aku hanya tengah jenuh dengan hubunganku dengan Tania. Dan bodohnya aku mengambil langkah yang salah dengan melepasnya. Dan kurasa kau cukup peka akan hal itu, Sakhira." jelas Gray


"Kau mempermainkanku ! Aku benar-benar mencintaimu tapi sekarang kau mengakhiri semua. Kau menyia-yiakan semua perjuangan kita." ujar Sakhira dengan mata yang mulai memerah menahan air mata untuk tidak keluar dari tempatnya.


" Kurang apa aku ? Dengan mudahnya mengatakan berakhir ! Oh, apa jangan-jangan karena Tania kembali menggodamu ? Apa Tania ingin kau kembali padanya ? KATAKAN !." Teriak Sakhira yang tidak bisa lagi menahan emosinya.


Sakhira segera pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk. Ia ingin memastikan sesuatu pada Tania yang diyakininya penyebab Gray memutuskannya.


" Kau sungguh kejam, Gray." isak Sakhira.


Ia tak peduli tatapan heran orang-orang di Agensi. Dengan kasar ia seka jejak air mata.


" Dasar brengsek. Aku kembali menyakiti hati wanita." gumam Gray. Namun itu lebih baik daripada ia berada disisi Sakhira hanya sebatas bentuk tidak tega saja.


Sementara itu usai rapat di agensi yang menaunginya, Tania bergegas menuju lokasi syuting. Ada beberapa scene yang harus diambil hari ini.


"Farel. " panggil Tania menghampiri lawan mainnya.


"Ah. Kau sudah datang." Farel bersikap ramah.


"Hm. Ano.. Bisakah kita latihan bersama untuk tak selanjutnya


nanti." Pinta Tania.


Jujur saja Tania merasa panas di pipi kala mengingat adegan yang dilakukannya kemarin. Dimana ia harus melakukan adegan cukup intim menurutnya.


"Tentu saja." Jawab Farel cepat.


Selama menjalani syuting ini sikap Farel begitu baik dan lembut padanya. Sedikitnya ia merasa tersanjung. Sebelum dipertemukan dalam satu proyek film ini hubungan mereka sendiri sudah saling mengenal. Farel yang sudah terlebih dulu terjun ke dunia entertaiment dengan suka rela mau membimbing Tania.


Farel  berusaha menyembunyikan senyum lebarnya kala menyadari kekikukan wanita di depannya ini.


"Apa kau sudah melihat respon terhadap teaser film kita, Tania ?" Tanya Farel.


"Em. Aku tak menyangka respon mereka bagus. Semoga mereka tak kecewa nantinya." Harap Tania. Ia berusaha bersikap biasa. Sungguh pria di depannya memiliki kharisma yang tak kalah mempesona dengan mantan kekasihnya.


Dan bagaimana pun yang disodorkan oleh pihak produksi hanya beberapa teaser foto dan beberapa detik cuplikan film.


"Aku juga berharap demikian." Balas Farel.


"Kalau begitu ayo kita berusaha keras demi kesuksesan film kita."


"Tentu saja."


Keduanya tertawa.


.


.


Sejak menjalani syuting bersama Farel sudah beberapa kali mengantar pulang Tania. Kedekatan diantara mereka bukan hanya sekedar di lokasi syuting saja. Beberapa kali Tania dan Farel keluar bersama untuk sekedar jalan-jalan. Tentu saja tak banyak yang mengetahui hal tersebut. Keduanya memilih diam membiarkan semua mengalir begitu saja. Tanpa perlu mengumbar hal-hal yang hanya membuat spekulasi-spekulasi tak jelas.


Mereka tak butuh pengakuan publik. Cukup beberapa pihak saja mengetahuinya. Farel  sendiri tak berharap banyak dengan kedekatan diantara mereka. Ia cukup tahu polemik apa yang tengah dihadapi Tania. Ia ragu gadis bermata indah itu mau kembali menjalin hubungan asmara. Ia tahu butuh proses untuk menyembuhkan luka yang ditorehkan si brensek itu. Untuk sekarang ia cukup puas dengan kedekatan diantara mereka.


"Farel.


"Em."


"Kau melamun ? Ck. Sepertinya kau butuh merefresh diri untuk bisa kembali fokus. " gerutu Tania merasa sedaritadi ucapannya tak didengar lawan bicaranya.


Farel terkekeh.


"Aku terfokus padamu, Titania."


"Eh ?"


"Kurasa sudah cukup aku menahan diri." Farel tak mau menyimpan rasa ketertarikanya lagi.


"Persiapkan dirimu, Tania. Aku akan gencar mendekatimu."


Tania tak bisa untuk tidak terkejut. Dengan wajah sangat merah ia tak mampu menjawab perkataan Farel. Apalagi pria dewasa di depannya memberikan kecupan mesra di keningnya.


"Tuhan, diakah yang Kau kirimkan untukku ?" Bisik Tania


.


.


.


.


"Astaga ! Lihat ! Lihat ! Seorang Titania Scarlet bisa juga melakukan adegan se-hot ini." Pekik Inari dengan berlebihan.


"Sepertinya Farel Mahendra mahir dalam berciuman. " cerocos Inari.


" Ck, Kau sekarang sudah berani ya." timpal Ema.


" Tania kita semakin dewasa saja." Inari mencubit gemas pipi Tania yang memerah.


Mereka meledek Tania mati-matian usai mengetahui si bungsu keluarga Scarlet dan Farel melakukan adegan ciuman. Bagi mereka yang tahu bagaimana Tania begitu selektif dalam memilih job sebisa mungkin menghindari adanya adegan-adegan intim. Sebuah ciuman yang tak seberapa itu menjadi senjata mereka menggoda Tania.


Andai mereka tahu bahwa Farel dengan blak-blakan melakukan aksi pendekatan pada dirinya. Tania yakin ia akan jadi bahan ledekan selama seminggu penuh. Beruntung ia belum mengatakan pada siapapun.


" Berhentilah menggodaku." kesal Tania yang menjadi bahan ledekan. Ia mengerucutkan bibirnya.


"Bukankah kalian juga biasa melakukan adegan seperti itu." Sungut Tania.


"Tentu. Dan itu sudah biasa." Jawab Inari.


" Bagaimana perasaanmu, Nona Scarlet? Dicium mesra seorang Farel Mahendra. Berapa kali take untuk mengambil adegan ini? Ah.. kudengar lebih dari...."


Sebuah bantal mendarat dikepala Inari yang sudah mulai mengeluarkan sisi Ratu Gosip dalam dirinya.


" Aish, kau apa-apaan, Ema." Ketus Inari sembari memanyunkan bibirnya.


" Otakmu semakin konslet saja, Inari. Sepertinya bergaul dengan Sai membuat otakmu semakin keluar dari tempatnya."


"Ah.. tentu saja aku dan Sai pernah 'bergaul'." Seringai diwajah Inari benar-benar membuat mereka ingin melempar apapun kearah kekasih Sai Devano itu.


"Ish.. Dasar Mesum, Inari."


"Aku yakin Narayyan Zhao juga sudah 'menyerangmu', iya kan ?" Kali ini yang menjadi obyek bully-an beralih ke Ema.


"A-apa.."


Tania sendiri larut dalam pikirannya. Kilasan bagaimana jalinan kasihnya dengan Gray dulu.


.


.


Flashback


Di ruang tunggu milik Titania Scarlet. Dengan pintu yang tertutup. Kedua pemeran utama kita tengah menikmati waktu istirahat mereka. Terdengar erangan nikmat keluar dari bibir sang lakon utama.


Dengan tubuh terbaring diatas sofa ia membiarkan sosok pria itu menindihnya. Menginvasi setiap sudut mulutnya. Begitu ahlinya Gray memberikan kenikmatan dalam ciuman mereka. Saliva yang mengalir disudut bibir akibat pergulatan lidah mereka di dalam mulut sang gadis. Ia hanya melepaskan bibir Tania saat mereka membutuhkan pasokan oksigen.


"Gray ." Wajah Tania yang memerah terlihat semakin membuat ia begitu cantik. Gray membelai pelan pipi merah itu. Lalu, ia mendaratkan kecupan singkat di bibir basah itu.


"Kau sangat cantik, Tania." Suara serak milik Gray membuat meremang tubuh Tania. Pria ini begitu kuat menebar feremon miliknya. Membuat ia merasa begitu nyaman. Membuat ia tak bisa menolak sentuhannya. Membuat ia menyerahkan ciuman pertamanya.


Dua pasang mata itu saling mengagumi. Lalu perlahan Gray turun menyusupkan wajahnya di ceruk leher Tania. Menghirup aroma khas gadisnya yang begitu menenangkan. Hembusan nafas Gray membuat sang gadis mungil geli.


"Gray." Gumam Tania kala bibir kekasihnya mulai menciumi leher jenjangnya. Sedangkan tangan pria itu mulai membuka kancing kemeja Tania. Ciumannya semakin turun. Sesekali Gray menggigit kecil yang menimbulkan bercak merah di tempat yang kiranya tak terlihat.


Tiba-tiba dering ponsel milik Gray merusak momen mereka. Terpaksa Gray bangkit dari tubuh mungil yang ditindihnya itu. Begitu pula Tania yang bergegas bangun lalu merapikan kembali penampilannya. Gray sempat mengumpat pada si penelpon.


"Baiklah. Setelah selesai aku akan segera kesana." Ujar Gray lalu mengakhiri percakapannya entah dengan siapa.


Gray menyimpan kembali ponsel pintarnya. Ia mengalihkan netranya pada Tania yang sudah cukup rapi. Meskipun rambutnya nampak masih berantakan. Wanita kesayangannya ini begitu menarik perhatiannya diawal pertemuan mereka.


"Sebaiknya kita keluar. Mereka pasti menunggu kita." Ajak Gray memecah kecanggungan mereka.


"Em."


Jangan salah menduga jika mereka sudah melakukan hal yang lebih. Selama ini Gray hanya berani bermain tubuh atas kekasihnya. Ia tak mau merusak Tania. Ia akan bersabar untuk bisa menjebol mahkota milik kekasihnya dan mengubah ia menjadi wanita seutuhnya.


Back now


.


.


Tania meringis dengan pikirannya yang melalang buana ke masa-masa indah dengan Gray. Ayo ! Lupakan dia, gumamnya.


Saat ketiga wanita cantik itu tengah asyik bergurau tiba-tiba suara bantingan pintu yang cukup keras mengalihkan perhatian mereka.


"TITANIA." Teriak Sakhira dengan amarah yang tidak terkendali.


Sakhira membawa kaki jenjangnya ke ruang tengah dimana ketiga penghuni apartemen mewah ini berada. Dia menatap penuh benci


pada Tania yang dulu selalu ia sayangi dan lindungi.


" Ada apa, Sakhira ?" Tania terheran dengan sikap Sakhira yang baru tiba langsung dalam marah-marah tak jelas. Apa yang sudah ia lakukan ?


" Kau ! Benar-benar wanita tidak tahu diri." hujat Sakhira.


" Kau mengatakan apa pada Gray hingga ia memutuskanku ! Kau ingin merebutnya dariku ? Dasar wanita licik !." amuk Sakhira tanpa berpikir jernih.


Tania membulatkan ke dua manik indahnya. Putus ? Gray mengakhiri hubungannya dengan Sakhira. Lalu apa permasalahan dengan dirinya ?


Ia sudah menjauh dari mereka. Dan apa tadi yang didengarnya ? Ia licik? Tak berperasaan ?


Tidak pernah ia menyangka orang yang sudah ia anggap seperti saudara berpikir sekeji itu tentang dirinya.


" Kau ! Kau bermaksud balas dendam padaku ? Kau..."


" Cukup, Sakhira Amira." sela Ema


dengan nada tinggi.


" Apa kau melupakan jika kaulah yang merebut Gray dari Tania ? Kau tidak mau dengan apa yang kau ucapkan pada Tania ?" cecar Ema.


" Aku tidak memintamu untuk berbicara Ema Fernandes." seru Sakhira.


"Kalau kau memang benar-benar


menganggapku sebagai sahabatmu. Kumohon jauhi Gray! Kau dengannya sudah berakhir." Tegas Sakhira.


" Tak perlu kau minta pun aku sudah menjauh dari kalian." Tania akhirnya membuka suara.


" Aku berusaha rela jika kau bersamanya." tambah Tania


" Kalau begitu bantu aku membujuknya. Buat dia tak mencampakkanku seperti ini. Ini terlalu menyakitkan."


Sungguh mereka tidak bisa mengenali sosok Sakhira yang sekarang. Sakhira yang penuh ambisi tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sakhira yang lebih mementingkan dirinya daripada oranglain. Mereka seakan kehilangan sosok Sakhira yang dulu. Mereka merindukan Sakhira mereka yang dulu.


"Maaf aku tak mau ikut campur apapun permasalahan kalian."


" Aku ke kamar dulu. Selamat malam." pamit Tania bergegas masuk ke kamarnya. Ia tidak mau mereka melihatnya menangis, tidak mau membuat mereka kembali mengkhawatirkannya.


"Kumohon..." lirih Sakhira.


"Apa yang ada dalam kepalamu itu, Sakhira ! Kaulah yang tak memikirkan bagaimana perasaan Tania?! Kaulah yang dengan liciknya merebutnya dari Tania. Kaulah yang bodohnya mau terjebak dalam obsesi masalalumu dan melepas kebahagiaan yang kau dapat saat bersama Gio" Cecar Inari.


"Dan sekarang kau .. Sungguh aku tak mengenalmu lagi. Yang dipikiranmu hanyalah obsesi bersama Gray. Harusnya kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini, Sakhira. Sangat memalukan. Sadarlah !!! Jangan biarkan kau tertelan obsesimu sendiri. Karena yang kau rasakan hanya obsesi bukan cinta seperti yang kau gemborkan."


Inari muak melihat kelakuan Sakhira yang semakin menjadi. Ia harus membuka mata Sakhira agar menyadari semua perbuatannya.


"...."


"Aku sudah lupa kenyamanan yang ada di sini." Gumam Ema.


"Sakhira. Aku tak peduli hubunganmu dengan Gray seperti apa atau bagaimana. Bahkan fakta jika kini kau dicampakkan. Aku tak peduli."


"Hanya satu hal yang ingin kukatakan padamu. Dimana harga dirimu mengemis cinta padahal kau sudah dicampakkan?"


Sakhira terlonjak kaget. Membenarkan apa yang dikatakan sulung Fernandes.


"Jernihkan pikiranmu, Sakhira."


.


.


Gray memulai aksinya kembali mendekati sang pujaan hati. Ia tahu tak akan mudah untuk masuk kembali ke dalam lingkup Tania-nya. Perlu perjuangan ekstra mengingat banyaknya penjaga yang mengelilingi Tania. Ia yakin ini akan semakin sulit untuk mendapatkan kembali kepercayaan Nicolas si sister complex itu. Gray mengingat dengan jelas bagaimana protektifnya si sulung itu kala ia mendekati Tania.


Titania Scarlet adalah wanita yang paling sulit ia taklukan. Butuh waktu lebih dari beberapa bulan untuk bisa mendeklarasikan Tania sebagai kekasihnya.


Gray  terkekeh sendiri kala mengingat bagaimana Tania begitu berbeda dari wanita kebanyakan. Jika wanita diluar sana dengan senang hati melayangkan rayuan bahkan tubuhnya maka Tania justru tertarik dengan si berisik Luffy.


"Gray !"


Suara Luffy membawa Gray kembali dari nostalgia masa-masa bersama Tania.


"Tumben kau sudah rapi ? Dan.. Apa-apaan tadi dengan senyum psikopatmu. Ya Tuhan, Gray. Tolong jangan kehilangan kewarasanmu. Kasihan Ibumu." Celoteh Luffy tak memperhatikan Gray yang geram.


"Mulutmu itu memang tak punya filter."


"Eh? Apa maksudmu itu !?"


Sebagai seorang Luffy August yang tak kalah populer dari bungsu Alphanius didepannya ini, ia merasa tersinggung.


"Selain berisik. Pendengaranmu juga mengkhawatirkan ya."


Luffy bergidik ngeri melihat Gray yang dalam mood baik. Apa di tempat tinggal mereka ada penghuni tak kasat matanya ?


"Gray. Kau. Tidak. Sedang. Sakit. Kan." Tanya Luffy dengan penekanan di setiap katanya.


"Hn."


"Haha.. itu baru Gray."


"Tumben sekali tempat bak neraka ini disambut dengan tawa sumbang Luffy. Ada gerangan apakah ini." Kata Sai yang baru menampakkan batang hidungnya. Penampilan pemuda berkulit bak kertas itu sudah rapi.


"Astaga ! Apa yang keluar dari mulutmu itu sampah semua, Sai."


"Jika untukmu iya." Jawab Sai dengan senyum palsunya.


"Ucapanmu tajam sekali, Sai. Kasihan Luffy."


Kini Ray yang menimpalinya. Luffy memandang Ray dengan mata berbinar. Berharap mendapatkan sekutu.


"Tajam dan tepat adanya." Sambungnya sembari memamerkan seringainya. Sai dan Gray terkekeh.


Luffy menjambak rambut pirangnya frustasi. Bagaimana bisa dirinya yang begitu enerjik dan ceria bisa memiliki teman sebangsat mereka.


"Brengsek." Umpat Luffy.


Keempat pemuda tampan itu diam-diam merasakan kelegaan dengan atmosfir kali ini yang kembali seperti sedia kala. Setelah Gray dan Gio semalam menyelesaikan permasalahan mereka yang berakhir dengan adu bacot dan pukulan, perang dingin diantara keduanya cukup mereda. Terlihat bagaimana interaksi Gray dan Gio yang tak canggung kemarin.


Mereka juga sudah mengetahui jikalau Gray telah mengakhiri jalinan kasihnya dengan Sakhira. Dan mengakui bahwa ia masih sangat mencintai Tania.


Dan saat itu juga Narayyan bereaksi.


"Untuk yang satu itu. Aku akan bersikap netral. Aku tak akan membantumu untuk mendapatkannya."


Ray tak mau menghadapi Nicolas dan Paman Rey. Itu hanya akan membuat ia menguras lebih banyak tenaga. Dan itu sangat merepotkan.


Gio sendiri mengakui bahwa ia merasa nyaman dengan Tania. Tapi itu bukan perasaan cinta. Ia yakin. Mungkin perasaan yang ia miliki sama dengan Ray. Sekedar perasaan sayang seorang kakak pada adiknya. Lagian ia tengah dekat dengan seseorang.


Bersambung.