Our Love

Our Love
Part 40



Jimmy menutup teleponnya dengan keras, "Baru tidak sampai 1 jam saja mereka sudah berani menyuruh Livia untuk bantu syuting." Ia tersenyum kecil, "Tak tahu saja kalau orang yang mereka suruh itu adalah pemilik asli perusahaan ini." Seketika ia memasang wajah sedih. "Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini ya.. Perusahaan yang 12 tahun papa bangun ternyata bukanlah perusahaan kami. Dan sekarang aku bersusah payah memajukan perusahaan ini hanya untuk gadis itu."


Entah bagaimana reaksinya kalau ia tahu bahwa aku, dan kedua temannya penyebab ia kehilangan keluarganya sampai sekarang.


Ia menelepon kantor Kusuma, "Hallo.."


'Dengan Perusahaan Kusuma ada yang bisa saya bantu ?' Tanya resepsionis yang mengangkat.


"Bisa tolong sambungkan ke Bu Yeni dari Jimmy Sapphire Blue Corp ?"


'Baik sebentar ya pak.'


"Hallo."


"Yeni, ada yang mau saya tanyakan."


"Ada apa buru ? Saya sedang sibuk."


"Apa kau dan Hanna ada rencana memberitahukan hal ini pada Livia ?"


"Kau meneleponku hanya untuk bertanya hal itu ?"


"Memangnya kenapa ?"


"Aku kira kau mau berhenti berkerja sama. Ternyata itu doank. Ck."


"Kalau aku cabut kerja sama ini maka perusahaan Livia akan bangkrut bodoh. Kau mau temanmu jatuh miskin ?"


"Kalau kau berani membuat perusahaan itu bangkrut maka nyawamu akan aku ambil." Yeni menutup teleponnya secara sepihak.


"Galak amat sih."


Tok..Tok..Tok..


"Pak saatnya pergi meeting." Bu Jasmine mengingatkan.


"Ya."


******


"Lepaskan !!!" Tiara terus bergerak berharap ikatan di tubuhnya akan lepas. Sudah dari kemarin ia terkurung di tempat yang bahkan ia tak tahu karena kedua matanya ditutup. "Lepaskan aku !!!!"


"Bisa diam tidak ? Berisik banget sih !!!" Ujar seorang pria bertubuh besar.


"Kalau kau lepaskan aku maka, aku akan mengirimkanmu banyak senjata ilegal serta obat-obatan terlarang, bagaimana ? Dari pada kau hanya dikasih uang oleh bossmu ? Kau bisa hidup enak dibawah kekuasaanku. Kau akan menjadi pria yang paling ditakuti karena memiliki senjata tajam dan obat-obatan terlarang, bagaimana ? Uangmu akan terus mengalir setiap hari dari pada kau disini berdiam diri saja dari kemarin. Kalau kau mau, buka penutup mataku !!!"


Kelima pria berbaju hitam saling menatap, "Kami bisa dibunuh kalau kau hilang begitu saja."


"Cari lah penggantiku bodoh !!!"


"Sangat susah cari wanita dengan postur tubuh hampir sama sepertimu." Ujar pria berbadan besar itu sambil membuka penutup mata Tiara.


"Aku tahu siapa orangnya. Jadi bagaimana ? Kita deal ?"


Pria bertubuh besar itu tersenyum, "Nyawamu ada di tangan kami nona. Tuan besar berencana untuk mendorongmu ke jurang pada lusa nanti."


Tiara meneguk ludahnya pelan, "Kalau kalian mau berkerja sama denganku. Maka akan aku jadikan kalian sebagai orang yang mengedarkan obat-obatan terlarang ke bernagai daerah termasuk ke luar negeri. Kenalanku banyak mafia loh, kalau kau diancam oleh bossmu maka rekan mafiaku akan melindungimu. Jadi, bagaimana ?"


"Siapa yang akan menggantikanmu disini ?" Tiara tersenyum mendengar pertanyaan itu.


******


"Livia, segera pindahkan data kamera ini ke komputermu. Hati-hati kamera mahal itu." Perintah Rini.


"Baik mba."


"Livia, kenapa kau berada disini ? Bukankah harusnya kau berada di ruangan Jimmy ?" Robert bertemu dengan Livia di lift.


"Kau belum tahu ya ? mulai hari ini aku dipindahkan ke devisi multimedia."


"Kenapa ?"


"Entah. Tumben sekali kau berada disini ?"


"Bu Rini mencariku. Ya sudah aku kesana dulu ya." Robert masuk ke ruangan kepala devisi multimedia.


Dani datang menghampiri Livia yang tengah memindahkan data dari kamera ke komputer, "Kau terlihat akrab sekali dengannya ? Kalian pacaran ?"


Livia tersenyum, "Tidak. Kami temenan waktu SMA."


"Bagus lah kau tidak pacaran dengan Dokter Robert."Ujar Rini yang entah sejak kapan berada di ruangan itu.


"Mba, kenapa berada disini ? harusnya syuting kan sekarang ?"


"Mereka lagi sibuk banget mau penutupan akhir bulan." Rini duduk di samping Livia.


"Mba Rini, moodnya Bu Sarah kayaknya lagi jelek karena tadi dia tahu kau suruh Livia bantu syuting dan ya.. Pak Jimmy menelepon kayaknya sih marah-marah ke Bu Sarah." Ujar Dani.


Rini mengambil ponsel di mejanya, "Aku mau ke lounge dulu. Malas disini ada mata-mata dan tukang ngaduh." ia pergi.


*Sabar..sabar...


*Anggap aja dia kecoak betina yang dibunuh berapa kali pun tidak akan musnah dari muka bumi ini...


sabar**..


"Yang sabar ya, Liv. Mba Rini memang begitu orangnya dia cuma bercanda kok. Jangan terlalu diambil hati. Oh iya, kata Bu Sarah, untuk video editannya besok Pak Jimmy mau lihat." Dani coba memberikan penjelasan.


Livia tersenyum paksa, "Iya ga apa-apa kok. Makasih atas infonya."


Bercanda dari Hongkong.


Rini mengambil kopi pesanannya lalu duduk di sofa, "Menyebalkan. Baru pindah kesana aja sudah buat ulah."


Seorang wanita berambut blonde datang menghampirinya, "Kenapa mukamu cemberut gitu ?"


"Itu loh. Si anak baru, Livia dia dipindahkan ke devisiku hari ini."


"Livia yang mana ?"


"Ash.. Livia yang kerja di ruangan yang sama dengan Pak Jimmy."


"Owh, yang pernah dipermalukan di lobby oleh mantan pacar Pak Jimmy bahkan dibela oleh temannya."


"Iya yang itu."


"Kata Dani, Bu Sarah moodnya jelek karena habis diomelin ama Pak Jimmy gara-gara aku suruh Livia bantuin syuting di devisi accounting doank."


"Kok Pak Jimmy bisa tahu Livia bantu kalian syuting ? Bukankah itu memang tugas devisi multimedia ?"


"Aduh, Ra. Kau lupa atau memang tak tahu sih ? Dari awal Livia memang kerjaannya hanya untuk mengedit video untuk ulang tahun perusahaan kita."


Rara, wanita berambut blonde dari devisi Marketing itu berkata, "Memangnya kalian sendiri tak bisa mengedit video untuk ulang tahun perusahaan kita ? Kalian kan lebih berpengalaman dibandingkan si anak baru itu."


"Kau kan tahu ada banyak client yang harus kita edit video sesuai permintaan mereka. Ya mau ga mau lah kita harus cari anak baru untuk ikut bantu editing video punya client. Entah bagaimana malah dia datang khusus untuk edit video ulang tahun perusahaan doank."


"Sudahlah, dia kan cuma 3 bulan disini."


"Sebulan saja belum sampai. Baru 2 minggu disini dia. Anak-anak yang lain juga uda pada harus hati-hati juga karena kan takutnya Livia ntar ngaduh ke Pak Jimmy."


"Video yang aku minta uda selesai diedit belum ?"


"Belum dikit lagi."


Rara menghela nafas, "Ya sudah jangan lama-lama. Pak Dika (Kepala Marketing) sudah mulai nguber-nguber ke aku tanyain kapan videonya selesainya."


"Sabarlah."


"Ya sudah aku pergi dulu ya. Mau siapin untuk pameran lusa." Rara pergi.


"Bye.."


*******


"Baiklah kalau begitu saya permisi Bu Sarah." Robert keluar dari ruangan kepala devisi Multimedia langsung balik ke ruangannya.


Telepon di meja Rini berbunyi, "Halo.."


"Ke ruangan saya sekarang."


"Ya bu." Rini menutup teleponnya menatap sinis ke Livia yang tengah mengedit video sambil menuju ruangan Bu Sarah.


Tok...Tok..tok...


"Permisi bu."


"Silakan duduk.".


Rini menurutinya, "Ada apa ya bu ?"


"Kamu yang menyuruh Livia untuk membantu keperluan syuting di devisi accounting ?"


"Iya bu."


"Kamu tahu kan kalau tugasnya Livia itu hanya mengedit video keperluan ulang tahun perusahaan. Jangan pernah kau atau pun karyawan yang lain menyuruhnya mengerjakan hal lain. Pak Jimmy tadi marah ke saya akibat kelakuan kamu itu. Saya tidak mau ya kalau sampai anak itu resign gara-gara saya yang dikira galak disini."


"Sana kembali berkerja."


"Baik bu. Permisi." Rini keluar dari ruangan itu dengan wajah masam. Dengan segera ia membuka grup chat khusus devisinya yang tentunta tak ada Livia dan Bu Sarah di dalamnya.


**Rini : Pesan dari Bu Rini 'JANGAN PERNAH SURUH LIVIA UNTUK MENGERJAKAN HAL LAIN'


Dani : 😂 Habis diomelin ya ?


Rini : 😠 gara-gara Livia tukang ngaduh ke Pak Jimmy aku jadi kena marah.


Clara : Harus hati-hati kita ngomong atau ngapa2in sekarang. Ada mata-mata kiriman Pak Jimmy.


Rini : emang. Kan ngeselin yakk.. sekarang kita kerja kurang cukup ada CCTV tapi ada mata-mata juga 😣


Linda : mengerikan ya sekarang 😨😨 Kalau bukan karena gaji gede dan masuk disini sudah.. Aku uda keluar ihhh.. ga betah kalau kerja dimata-matai gitu**..


******


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu ?" Resepsionis menyapa Jimmy yang baru saja datang.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Hanna bisa ?"


"Bu Hannanya sedang meeting pak."


"Masih lama selesainya ?"


"Saya kurang tahu ya pak."


"Bu Yeni aja deh."


"Ngapain kau datang kemari ?" Hanna baru saja balik dari meeting datang menghampiri Jimmy.


"Bertemu kau lah. Ngapain lagi."


"Tumben, biasanya cari Yeni."


"Dia marah-marah mulu bawaannya. Bisa kita bicara sebentar ?"


"Soal apaan ?" Hanna melirik ke resepsionis, "Siapkan ruangan meeting."


"Baik bu."


"Soal perusahaan kita lah."


"Urusannya ama Yeni, kenapa ama saya ?"


Jimmy berdecak pelan, "Perusahaanmu juga nona Hanna."


"Bilang donk dari tadi."


Jimmy mengabaikannya memilih untuk masuk ke ruang meeting. Hanna menelepon Yeni, "Yeni.."


"Ada apaan ?"


"Jimmy datang kesini."


"Lalu ?"


"Dia mau omongin soal perusahaan kita."


"Kau aja deh, Na. Aku lagi banyak kerjaan ini ntar malam aja ga tahu apakah kau ngampus atau kagak. Uda ya.. Bye.."


"Sudah aku telepon tadi bossmu itu. Dia malah marah-marah." Jimmy menatap Hanna.


"Langsung aja. Kerjaanku banyak."


Jimmy tersenyum sinis, "Kau dan Yeni saja punya kerjaan tak sebanyak aku. Justru malah kalian yang sok super sibuk. Ck."


"Kau kan CEO pengganti sementara doank. Sebelum ditempati Livia."


"Tidak usah mengingatkan soal itu. Kau tahu dimana Tiara berada ?"


"Tidak."


"Dia sungguh akan dibunuh ?"


"Ya kali. Kalau kau datang kemari hanya berbicara soal Tiara mendingan kau pergi karena hal itu hanya akan buang-buang waktuku saja."


"Livia hari ini aku pindahkan ke devisi Multimedia."


"Kenapa ?"


"Hanya ingin mengembalikan dia ke sana. Karena memang awalnya dia harusnya ditempatkan disana. Tapi, tadi dia malah disuruh bantu sana sini. Kalau mereka tahu dia CEO aslinya tidak akan berani berbuat seperti itu."


"Kau malah semakin membuat Livia merasa jadi mata-mata kau disana."


"Aku tak bermaksud...."


Hanna memotong ucapannya, "Ya menurutmu tidak. Kalau menurut Livia dan karyawanmu yang berada disana ?"


Jimmy melipat kedua tangannya di dada, "Biar dia tahu bagaimana sifat dari karyawannya sendiri."


"Keluargamu bersungguh-sungguh ingin menjadikan Livia sebagai anak angkat ?" Jimmy terdiam sesaat, "Entahlah."


*********


"Aku masih bingung kenapa kau tiba-tiba ditempatkan di devisi ini ?" Robert dan Livia yang baru balik dari makan siang kini berada di depan pintu ruangan devisi Marketing.


"Entahlah aku juga tak mengerti." Livia memandang ke arah Lobby yang berada dibawahnya.


"Andaikan perusahaan papa dan mama masih ada.. Mungkinkah akan seperti ini rasanya ?" Gumam Livia pelan. Disaat mereka berdua terdiam, entah mengapa semua orang kini memandangnya dengan tatapan aneh lalu mereka saling berbisik satu sama lain.


"Kenapa semua orang menatapmu dan berbisik ?" Robert menyadari hal tersebut.


"Aku tak tahu."


********


Bodyguard Yeni masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa. "Yeni..."


Yeni yang sedang meeting pun menatap tajam ke arahnya. Sekertaris Yeni masuk ke dalam, "Maaf..Bu saya sudah melarangnya tadi."


Yeni tersenyum paksa di depan para clientnya, "Sebentar ya.."


Para client Yeni berdiri, "Tidak apa-apa kok bu. Lagi pula kami masih ada urusan lain. Kalau begitu kami pernisi dulu."


"Baik pak. Mari saya antar menuju lift." Yeni keluar sebentar dari ruangannya. Begitu sudah memastikan clientnya masuk lift, ia langsung menghampiri bodyguardnya. "Kenapa kau seperti tidak ada tata krama, hah ? Main masuk begitu saja."


Bodyguard Yeni memperlihatkan sebuah berita, "Coba anda lihat ini."


Mata Yeni membulat saat membaca berita tersebut, "Sialan.." Gumamnya pelan berlari menuju telepon, namun tidak diangkat. Ia pun menelepon orang lain, "Ai Chan mana, Ni ?"


"Lagi meeting, Yen."


"Hanna mana ?"


"Aku dengar dari Ai sih tadi lagi meeting di lantai 1 sama Jimmy. Kenapa sih ?"


"Kau buka aja portal berita nanti akan tahu sendiri." Yeni menutup teleponnya dan segera menelepon Hanna.


******


"Aku kira kau orang yang akan sangat jahat pada Livia mengingat apa yang kau perbuat padanya dari kecil sampai sekarang." Ujar Hanna.


"Kenapa kau jadi penasaran akan hal itu ? Itu urusan antara aku dan Livia."


Ponsel Hanna berdering, "Iya Yeni. Apaan ?"


"Ada Jimmy kan disana ?"


"Ada."


"Loudspeaker."


"Sudah."


"Kau baca portal berita sekarang. Aku tak mau tahu, kau dan Ai Chan atau suruh Jimmy yang mencari siapa pelaku yang menyebarkan berita itu !!!!! Kalau tak ketemu juga siapa pelakunya. Suruh Ai tenggelamkan pemberitaan itu di semua media." Yeni langsung menutup ponselnya.


Jimmy menggelengkan kepalanya, "Dia benar-benar lagi PMS ya ?"


Hanna, Jimmy, Nia, Robert dan Livia secara bersamaan membuka portal berita online. Mereka semua terkejut akan berita yang muncul entah dari mana sumbernya.


AHLI WARIS SATU-SATUNYA YANG TERSISA DARI PERUSAHAAN WIJAYA, ADALAH LIVIA WIJAYA ????


Berita yang tak boleh semua orang tahu. Kini tersebar. Livia memandang Robert, "Dari mana mereka tahu.. "


Beberapa karyawan memandang Livia, terrmasuk Rini. "Yang benar saja kau adalah Livia Wijaya yang pewaris perusahaan Wijaya itu ? Tampangmu tak menyakinkan." Rini menatap gadis itu dari atas hingga bawah, "Kalau benar itu adalah kau. Masih bisa hidup sampai sekarang?" Rini tertawa merendahkan, "Kalau aku jadi kau. Aku mungkin sudah bunuh diri karena sudah menjadi penyebab orang tuaku meninggal dan perusahaan Wijaya hilang entah kemana selama 12 tahun."


Tubuh Livia bergetar, "Tidak.. Aku bukan pembunuh..."


"Mana ada maling ngaku. Yang ada penjara penuh. Aku tak menyangka di kantor kita ada seorang pembunuh yang masih bebas berkeliaran selama ini."


-To be Continue-