Our Love

Our Love
Episode 124



Wanita biasanya mengambil keputusan berdasarkan hati, sedangkan pria berdasarkan logikanya. Hanya satu hal yang ia harapkan, semoga saja keputusannya itu tidak salah dan tidak berbalik menyakitinya.


Semoga.


Disaat sudah merasa agak tenang, Jimmy menyalakan mobilnya dan segera pergi.


*****


Livia akhirnya tiba di sebuah rumah mewah milik Janson, rasa penasaran membawanya untuk langsung menemui pria yang baru ditemuinya. Ia menekan bel, membuat wanita paruh baya keluar dari dalam rumah untuk menghampirinya. "Mohon maaf, apakah saya bisa menemui Janson?" tanyanya.


"Dengan siapa ya?"


"Saya Livia Wijaya."


Dengan segera wanita paruh baya itu membuka pintu mempersilahkan ia masuk.


"Aku tak menyangka kau akan cepat datang kesini." ujar seorang pria muda yang turun dari tangga untuk menyambut tamunya.


"Aku hanya ingin semuanya selesai."


Jason tersenyum, tangan kanannya terjulur ke arah sebuah ruangan seakan menunjukkan tempat mereka akan berbicara dan mempersilahkan agar Livia berjalan terlebih dahulu, "Ladies first."


Mereka berjalan ke ruangan dengan corak dinding yang terbuat dari kayu, Livia menatap beberapa dokumen-dokumen berserakan diatas meja. Ia membaca satu demi satu, semakin dilihat maka semakin ada banyak hal yang tak dimengerti.


Jason berdiri dibelakangnya sambil memerintahkan agar pelayan menyiapkan minuman untuk mereka, lalu menghampiri gadis itu, "Aku tidak menyangka seorang Livia Wijaya bisa seenaknya membaca dokumen-dokumen milik orang yang baru dikenalnya." ujarnya bersandar di pinggir meja sambil menatapnya.


"Aku memang sudah lama tidak dididik sopan santun sejak orang tuaku meninggal dan saat tahu siapa dalang yang membunuh mereka, jadi kau terima saja." ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya.


Jason hanya bisa tersenyum kecil, "Itu bukanlah alasan yang tepat dibalik sikap tidak sopan santunmu."


Livia berbalik menatapnya, "Sejak kapan kau mempunyai dokumen ini?" tanyanya pada pria itu. Jason terdiam menatap kertas yang berisi surat wasiat asli milik keluarga Wijaya. "Kenapa kau tidak memberikanku dari dulu? Kenapa baru sekarang?"


"Aku tidak tahu." Pria itu berjalan ke arah sofa saat melihat pelayannya datang membawa minuman, menyajikannya diatas meja kemudian pergi meninggalkan mereka."Minum dan duduklah, tidak baik berbicara sambil berdiri."


Livia berjalan menghampirinya, "Jawab pertanyaanku!"


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu?"


Jason menghela nafas, "Aku baru saja pulang dari luar negeri 2 Minggu kemarin, dan aku juga baru tahu saat aku pulang."


Livia duduk di sofa, "Kenapa selama 2 Minggu sejak kau tahu, kau tidak menemuiku atau bahkan memberitahuku soal ini? Kenapa baru sekarang?"


Jason menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sungguh wanita ini sudah seperti detektif saja. Banyak sekali pertanyaannya. "Begini ya, selama 2 Minggu ini aku sangat sibuk, dan hari ini aku baru bisa memberitahumu semuanya."


"Kau menyuruhku datang hanya ingin memperlihatkan semua dokumen-dokumen itu padaku?"


"Salah satunya memang itu. Kau masih berteman dengan mereka sampai saat ini?"


"Mereka siapa?"


"Anak-anak dari pelaku penyebab orang tuamu meninggal." Jason mengambil cangkir lalu meneguknya sekali.


"Aku berteman dengan mereka atau tidak, itu bukan urusanmu."


Jason meletakan kembali cangkir ke atas meja, lalu tertawa sinis, "Aku tidak mengerti akan jalan pikiranmu. Bagaimana bisa kau berteman dengan mereka selama ini?"


Livia menatapnya tajam, "Kau memata-mataiku?"


"Kau kira aku sekurang kerjaan itu. Aku melihatnya di beberapa portal berita online, dan juga komentar-komentar beberapa mahasiswa/i di kampus kalian."


"Kau memang kurang kerjaan sampai membaca komentar dari netizen." gumam Livia pelan.


"Kau berbicara sesuatu?" tanya pria itu.


"Tidak. Bukan apa-apa. Oh iya, apa ada hal lain yang mau kau bicarakan atau tunjukkan padaku? Jika tidak ada, maka aku mohon ijin untuk pamit." ujar Livia sambil berdiri.


"Tunggu.. ada hal lain yang mau aku bicarakan lagi."


-To Be Continue-