
Tidak seperti dahulu.
Tidak ada lagi canda tawa kala mereka bersama.
Tidak ada lagi Gray yang menggoda Tania hingga ke dua pipi tembem milik gadis berperawakan mungil itu bersemu merah.
Kecanggunganlah yang kini menyelimuti mereka. Sama-sama bergelut dengan pikiran sendiri, tak ada niat memecah keheningan di dalam mobil ini.
Terlihat Gray sekali-kali melirik ke arah Tania dan segera mengalihkan pandangannya.
Ck, bukan Gray sekali.
Dimana sikap percaya dirinya pergi?
"Cantik." Gumam Gray saat mendapati mantan kekasihnya itu tengah tersenyum saat melihat kerlap kerlip lampu kota di malam hari. Merasa diperhatikan, Tania menjadi risih.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu." Ujar Gray yang akhirnya memecahkan keheningan.
"Katakan saja." Jawab Tania.
Jujur ada rasa sedih saat Gray melihat sikap Tania yang tak bersahabat.
"Sepertinya hubunganmu dengan Gio sudah lebih dari teman."
Ada nada menyindir ditangkap oleh indra pendengar Tania. Gray enggan mengakui bahwa ia memang sangat penasaran bagaimana hubungan dua orang yang sudah di lukainya. Tania tersenyum tipis.
" Aku rasa begitu." jawabnya tak jelas.
"Selamat kalau begitu." Ujar Gray getir.
"Hm. Terimakasih." jawab Tania
Kembali keduanya dalam keheningan.
" Tidak. Kau tidak boleh menangis, Tania." ucap Tania dalam hati.
" Aku tak rela kau bersamanya."
Bisik Gray.
Mobil sport milik Gray berhenti disebuah bangunan yang terbilang mewah. Tempat tinggal kekasih barunya dan mantan kekasihnya yang masih dicintai.
" Akhirnya sampai." kata Tania melepas sabuk pengaman.
"Terimakasih. " ujar Tania sedikit membungkukkan badannya kala ia sudah keluar dari mobil.
" Hn."
Jawaban andalan Gray Alphanius.
Tania bergegas untuk masuk. Ia yakin sekali akan mendapat omelan dari Ema yang mengkhawatirkannya.
Baru beberapa langkah kaki Tania berhenti. Sebuah tangan kekar menahannya. Menariknya ke dalam pelukan hangat pemilik tangan itu. Pelukan yang sudah lama tak ia rasakan. Pelukan yang masih terasa sama seperti dulu. Pelukan Gray. Rasa terkejut jelas terlihat di wajah Tania.
" Apa yang kau lakukan, Gray !" Tania meronta.
"Lepaskan aku ! . Aku tak mau Sakhira salah paham." ujar Tania masih terus mencoba melepaskan diri dari pelukan Gray.
" Aku tidak peduli." Jawab Gray enteng.
"Alpha , lep~mmhp."
Dengan lancang Gray mencium gadis yang bukan lagi menjadi miliknya. Seketika tubuh Tania menegang. Terkejut dengan yang dilakukan mantan kekasihnya.
Disisi lain Sakhira yang juga baru turun dari mobilnya tanpa sengaja melihat Gray dan Tania yang tengah berpelukan. Ia semakin menganga melihat mantan pasangan kekasih itu tengah berciuman. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Benar dugaannya.
Gray belum bisa mengganti posisi Tania dengan dirinya.
Inikah yang dirasakan Tania saat melihat pria yang dicintai mencium gadis lain ?
Inikah karma yang di dapatnya ?
Saat ia sudah kembali benar-benar mencintai Gray justru yang ia dapati adalah kenyataan yang menyakitkan.
" Kau masih mencintainya. Kau...hiks. Aku tidak akan melepasmu. Terlalu banyak yang ku korbankan untukmu." tekas Sakhira.
Sakhira memilih berlalu. Bersikap tak melihat adegan itu. Biarlah ia pura-pura tak tahu apapun. Asal Gray berada disisinya.
Tania menangis. Membiarkan bibirnya dalam lumatan mantan kekasihnya. Ia lelah memberontak, tenaganya tak cukup kuat untuk membuat pria itu mau melepasnya.
Bukan hanya Tania yang menangis,
Gray juga meneteskan cairan bening itu. Lewat ciuman itu Gray menyalurkan semua perasaannya.
Menyesal melepas sosok yang teramat
dicintainya. Ingin kembali merengkuh Tania dalam pelukannya.
Apakah masih ada kesempatan baginya memulai semua dari awal ? Maukah Tania kembali padanya dan memulai semua dari awal lagi ?
Mereka yang tersakiti mulai mengambil langkah baru. Gray yang berniat kembali pada gadisnya itu. Sakhira justru akan
mempertahankan hubungan yang ia jalin dengan Gray. Gio tidak lagi
menempati hatinya. Lalu bagaimana dengan perasaan Gio sendiri ?
"Kembalilah padaku, Tania." Lirih Gray usai melepas ciumannya.
"Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu." Sambungnya.
"Izinkan aku memperbaiki semuanya."
Kebisuan Tania membuat Gray berdenyut sakit. Apa memang ia sudah tak termaafkan ?
Gray lebih memilih Tania menamparnya dibandingkan menghadapi sikap diam Tania.
.
.
" *Untuk apa masih tersisa cinta dihati jika hanya menyakiti. Kau mampu berkata bisa memperbaiki semuanya, Gray."
" Hatiku terlalu sakit dengan semua luka yang kau toreh. Untuk saat ini aku tak bisa memberimu kesempatan. Aku tidak bisa kembali padamu*."
Gray mengerang frustasi. Kata-kata yang terlontar dari bibir gadis itu sebelum meninggalkannya membuat sakit serta semakin merasa bersalah. Tuhan begitu adil pada umatnya. Dulu Gray yang menorehkan luka, membuat air matanya terbuang percuma, menghianati kepercayaan dan cinta tulus Tania. Dan kini ia harus menelan mentah-mentah penolakan yang terkesan lembut namun menusuk hati. Menyesal. Meruntuki kebodohannya.
Sesampainya di dorm Gray memilih menyendiri.
"Argh." teriak Gray sudah sampai di
batas kesabarannya.
Ia lelah menahan semua sendiri. Lelah meratapi kepedihan yang tercipta karena ulahnya.
Tidak ! Tidak ada lagi Gray yang dulu dikenalinya. Seorang gadis polos yang sukses membuat hidup Gray berantakan.
Cinta dari gadis lugu itulah yang menyiksanya.
"Gray !"
Luffy menyentuh bahu Gray yang bergetar. Grqy yang tengah menutup wajahnya menggunakan tangannya pun menengadahkan wajahnya saat suara berat milik tuan berisik.
Luffy membulatkan mata, tak percaya. Air mata mengalir di pipi Gray . Luffy menepuk sahabatnya. Membiarkan sejenak Gray meluapkan emosi tertahannya.
"Kenapa sesakit ini." lirih Gray dengan suara bergetar.
"..."
"Bodohnya aku melepasnya. "
"Ya, kau memang bodoh. Brengsek."
"Diamlah."
Gray sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia cukup malu harus ketahuan menangis oleh Luffy si berisik.
"Temui Gio. Dan selesaikan ini semua. Hah.. aku lelah melihat kalian seperti ini." Gerutu Luffy.
"Bersikaplah jantan. Akui salah jika memang salah. Meminta maaflah itu tak akan membuatmu jadi tak keren." Ceramah Luffy. Gray tersenyum tipis.
"Sejak kapan kau bertingkah dewasa ?."
"APA ?!!!!!"
.
.
Tania mengurung dirinya dikamar.
Mengabaikan ketukan pintu dari penghuni lain rumah yang meminta untuk dibukakan pintu. Tania menyentuh bibir tipisnya.
Masih bisa ia rasakan ciuman penuh air mata malam itu. Ciuman penuh emosi. Juga ciuman terakhir mereka.
Bohong jika ia tak merindukan sentuhan Gray. Ciuman dan pelukan posesifnya. Hal yang membuat ia merasa berharga. Ia merindukannya tapi tak mau mengakui.
" Bersikaplah seakan tidak pernah terjadi hubungan yang lebih di antara kita."
Permintaannya sendiri pada Gray.
Tidak seharusnya ia menangis lagi karena sosoknya. Namun, semua begitu menyakitkan. Menyiksa fisik dan hatinya. Takdir sangat senang mempermainkan hidupnya. Lelah ia menangis. Sekeras mungkin Tania menampik atensi Gray dalam hatinya. Memaksa menutup hati untuk adik Aldiano Alphanius.
" Buka pintunya, Tania. " pinta Inari.
Terenyuh hati Inari mendengar tangisan Tania. Bukan hanya Inari. Sakhira juga merasakan sesak dihatinya. Ikut menangis dalam diam. Memeluk bantal yang ada diranjangnya. Biarlah yang lain menganggapnya tidak berperasaan.
Sakhira tidak peduli lagi.
Walaupun rasa bersalah itu masih menghantuinya, ia tidak akan mundur. Sudah terlalu jauh ia melangkah.
" Puas apa yang kau perbuat, Sakhira." Amuk Ema yang masuk tanpa permisi.
Sakhira menghapus air matanya dan merubah posisinya menjadi duduk.
" Kau tidak punya hati. Kau seperti iblis, Sakhira." Cecarnya.
"Aku sudah tak tahu lagi bagaimana menghadapimu. Disini akulah yang bertanggungjawab atas kalian."
Sakhira tersenyum getir. Kebimbangan menghinggapi hatinya.
"Sekarang aku harus bagaimana. " Sakhira semakin merasa bersalah melihat Ema yang juga nampak kacau.
Esok harinya.
Satria sengaja mengumpulkan semua anak asuhnya untuk membahas Tour yang akan dilaksanakan akhir tahun nanti. Sekaligus menjalani pengambilan gambar untuk majalah.
" Sebenarnya aku malas berada di samping pengkhianat." sindir Karin pada Sakhira yang kebetulan duduk disebelahnya. Sakhira menunduk dalam.
Gio yang masih peduli pada Sakhira diam-diam memperhatikan gadis itu. Merasa kasihan pada Sakhira yang dikucilkan.
Gio berjalan mendekati Sakhira.
" Tidak perlu mendengarkan mereka." Ujar Gio.
Tania yang melihat apa yang dilakukan Gio menatap haru. Ia merasa bangga memiliki Gio yang sudah seperti kakak baginya
" Giovani" Gumam Sakhira dengan mata memerah menahan tangis.
Senyum hangat terpancar diwajah Gio. Disodorkannya sapu tangan untuk menyeka air mata yang sempat menetes di pipi gadis yang sempat memilik hatinya.
Melihat perlakuan Gio pada Sakhira membuat Gray berpikir Gio masih menyimpan perasaan pada Sakhira.
"Beruntung sekali ya yang kelak menjadi pasangan Gio. Begitu baiknya. " sindir Ema.
"Berisik, Ema." Gerutu Ray.
Gray dan Tania tanpa sengaja bertemu mata. Membuat jantung ke dua insan itu berdetak tidak normal.
"Tania/Gray " bisik keduanya.
Satria Winatajaya akhirnya hadir dan segera memulai rapat itu.
" Aku keberatan dengan Gray dan Tania yang dipasangkan."
Ema menjadi orang pertama yang menentang usul Satria.
" Aku juga tak setuju." Timpal Inari dan Karin.
" Tentu aku tak setuju. " ucap Ray saat Satri menatapnya meminta bantuan.
Satria menghela nafas mendengar kalimat protes yang keluar dari mulut anak asuhnya itu. Tadinya ia berharap Narayyan Zhao ada di pihaknya. Hah.. pupus sudah.
" Kenapa kalian harus keberatan ? Ini masalah pekerjaan. Profesional lah." Kata Satria.
" Anda pasti sudah tahu apa yang terjadi di antara mereka. Jadi untuk apa mereka dipasangkan. Apa anda tidak kasihan pada mereka. Ditambah bagaimana dengan kekasih baru Gray ? Mohon Pikirkan hal tersebut, Tuan Winatajaya" Jelas Ema.
Satria memijit keningnya pelan.
Permasalahan ini membuat kepalanya semakin pusing.
Akhirnya dengan melalui perdebatan yang alot. Duet Gray dan Tania tetap dijalankan. Argumen yang dilontarkan tak bisa merobohkan keputusan sang CEO . Mau tidak mau semua setuju keputusan itu.
Sedangkan Gray dan Tania tak berkomentar apapun. Mereka hanya diam.
Jujur saja, Gray merasa senang bisa dipasangkan dengan Tania lagi. Beda dengan Tania yang merasa sesak mendapati dirinya kembali teringat ke masa lalu. Ke masa-masa indahnya bersama Gray.
Duet itulah awal semua perasaan cinta yang ada dihati ke duanya terungkap. Tania tidak ingin kembali ke kenangan yang akan semakin membuatnya sulit melupakan Gray. Ia ingin protes namun bibirnya kelu. Tania hanya diam menyaksikan perdebatan yang masih berjalan, ketidaksetujuan ada duetnya dengan Gray.
Oh, Tuhan, betapa sulitnya
posisinya sekarang ini.
Bersambung.