Our Love

Our Love
Part 79



Maaf...


Maaf karena Livi tak bisa membuat papa dan mama bangga..


Maaf...


Livia memang anak tak berguna...


Maaf...


Karena Livi, papa dan mama meninggal..


Maaf..


"Kau menangis ?" Tanya Narulita saat melihat wajah


Livia memerah.


Robert segera memberikan tissu untuk mengelap air mata


Livia, "Kau kenapa ?"


Livia sudah tidak tahan karena air matanya terus keluar,


"Permisi." Ucapnya lalu pergi masuk ke dalam kamar.


Dengan segera Robert dan semua orang kecuali Yeni dan Tiara


mengikutinya karena penasaran kenapa Livia menangis.


"Kau tidak mengikuti yang lainnya ?" Tanya Tiara


menatap Yeni.


"Mau apa kau sebenarnya kemari ?" Tanya Yeni yang


menatap tajam ke arahnya seakan mau membunuhnya hidup-hidup.


"Aku hanya mampir saja. Memangnya tidak boleh ?"


Tanya Tiara dengan santai.


"Kalau kau berani macam-macam maka, aku akan membunuhmu


saat ini juga." Ancam  Yeni


"Wow.. aku tak menyangka seorang Yeni Kusuma punya


dendam kesumat padaku." Ujar Tiara lalu berdiri menatap Yeni kemudian


berbisik, "Kalau kau berani maka, aku akan membongkar semuanya."


Ancam wanita itu lalu pergi meninggalkan Yeni sendirian.


Sesampainya di dalam kamar, "Kau kenapa menangis


?"


Livia terdiam malah semakin menangis menjadi-jadi.


Air mata gila..


Kenapa dia begitu sensitif saat memikirkan orang tuanya yang


sudah meninggal ?


Hanya memikirkan mereka air matanya turun...


Sepertinya tanpa Livia sadari, jauh di dalam hatinya masih


menyimpan rindu yang sangat mendalam kepada orang tuanya.


Semua kenangan saat orang tuanya berkemah sambil


mengelilingi api unggun tiba-tiba saja membuatnya sedih dan merindukan hal itu


Livia.. kenapa kau begitu cengeng sekali sih ?


Robert memeluk gadisnya dengan erat, "Sudah jangan menangis lagi." Dia menghapus air mata Livia.


Gadis iu sudah mulai agak tenang, Nia segera memberikan air putih padanya. "Kenapa kau tiba-tiba menangis ?"


Livia menghapus sisa-sisa air matanya, "Aku hanya tiba-tiba saja teringat akan papa dan mama. Dulu kami pernah berkemah dan bernyanyi-nyanyi sambil mengelilingi api unggun."


Semua orang terdiam.


Nia, Narul dan Ai Chan angsung memeluknya untuk memberkan semangat.


Semtara Jimmy, Yeni dan Hanna terdiam.


Mereka merasa sedikit bersalah.


Jika orang tua mereka tidak merencanakan kecelakaan itu pasti  Livia akan senang karena masih mendapatkan kasih sayang orang tuanya.


Maaf..


Kau jadi seperti ini...


Maaf...


"Karena ini sudah malam. Lebih baik kita semua berisitrahat saja." Ujar Jimmy.


Robert mencium kening Livia, "Kalau ada apa-apa kau bilang saja ya. Aku ada di kamar sebelah."


Livia mengganguk sambil tersenyuim, "Makasih." Satu persatu dari mereka keluar kamar meninggalkan Ai Chan dan Livia berdua saja.


"Sudah jangan menangis lagi." Ujar Ai Chan mencoba menenangkannya.


"Aku hanya merasa bersalah aja Ai. Kenapa aku bisa-bisanya meminta papa dan mama untuk mengambil boneka ? kalau waktu itu aku tidak segois ini pasti mereka tidak akan meninggal. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena aku sudah membuat papa dan mama meninggal makanya hidupku jadi penuh masalah seperti ini dan aku tak bahagia."


Rasa bersalah itu terus menghantuinya.


Tidak bisa hilang.


Begitu mengikat.


Ai Chan memeluknya, "Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang sudah terjadi. Ini bukan salahmu. Memang sudah takdirnya seperti itu Livia. Aku yakin orang tuamu tidak akan marah kok, justru mereka akan sedih jika melihamu terus-terusan menyalahkan diri atas semua ini."


Ya.


Benar yang dikatakan oleh Ai Chan.


Livia tidak boleh terus menerus seperti ini..


Dia harus bangkit.


Mengambil kembali perusahaan orang tuanya.


"Iya. Ai. Makasih ya." Ujar Livia sambil memeluk Ai Chan.


"Sama-sama. Oh iya, aku mau tanya deh. Kalau Jimmy itu adalah temanmu dari kecil berarti papanya itu orang kepercayaan papamu ya ?" Tanya Ai Chan.


Livia mengganguk, "Iya. Ada empat orang kepercayaan papa, tapi, aku hanya tahu papa Jimmy dan satu lagi namanya Pak Rahmad cuma sampai sekarang aku tidak tahu ada dimana Pak Rahmad berada. Memangnya kenapa, Ai ?"


"Tidak. Aku hanya penasaran saja. Siapa tahu beliau itu mengetahui ada dimana perusahaan orang tuamu." Jelasnya.


Livia terdiam.


Dia memang tahu ada dimana perusahaan papanya.


Sudah diambil alih oleh keluarga Kurniawan dan mengganti namanya agar menghilangkan jejak.


Sungguh..


Sampai sekarang Livia masih sulit mempercayai hal itu.


Nanti kedepannya entah ada berita mengejutkan apalagi untuknya.


****


Robert masuk ke dalam kamar Jimmy, "Kau belum tidur ?" Tanyanya.


"Belum. Aku kira kau sudah tidur. Kenapa datang kemari ?" Tanya Jimmy padanya.


Robert berdiri di balkon kamar Jimmy sambil memandang langit malam, "Hari ini bulan purnama dan ada bintang. Kau tahu, sejak remaja Livia selalu senang melihat bulan dan bintang. Gadis itu menggangap bulan sebagai perwakilan dari papanya dan bintang adalah mamanya yang melihat Livia dari surga sana."


Jimmy terdiam memandangnya. Kenapa pria itu menceritakan hal ini padanya ?


Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan olehnya ?


Robert berbalik memandang Jimmy yang berdiri disampingnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "Aku tidak tahu apa maksuidmu mengajak Livia untuk berlibur kesini meskipun kau mengatakan padanya bahwa dia boleh membawa teman-temannya. Akan tetapi, aku hanya memperingatkan. Sekarang dia adalah milikku. Kau jangan sekali-kali berharap lebih."


"Aku sungguh tidak mengerti akan apa yang kau bicarakan ?" Ujar Jimmy menatapnya tajam, dia mengulurkan tangannya, "Aku ucapkan selamat atas cinta lama kembali berseminya kalian."


Robert menatap nya sekias lalu menjabat tangan Jimmy, "Terima kasih. Aku harap kau meminta orang tuamu untuk berhenti menjodohkan dirimu dengan Livia. Bagaimana pun kini gadis itu telah resmi menjadi milikku."


"Iya aku tahu. Kau tak perlu mengingatkan berulang kali." Ketus Jimmy.


"Lalu, bagaimana keadaan Om David ?" Tanya Robert.


"Papa masih ada di penjara. Susah untuk mengeluarkannya karena polisi sudah memeriksa bahwa papa positif menggunakan narkoba." Ujar Jimmy memasang wajah sedih.


"Aku turut sedih dengan apa yang sudah terjadi." Ucap Robert berusaha meneangkan Jimmy.


Bagaimana pun Jimmy adalah teman kuliahnya.


Meskipun dia tahu bahwa orang tua Jimmy adalah dalang dibalik kematian orang tua dari gadis yang dicintainya.


Sekarang, Robert bingung.


Pada siapa dia harus berpihak sekarang ?


~To  Be Continue~