
Yeni dan Raka segera menuju lantai atas diikuti oleh semua orang. Kamar Tiara, Jimmy dan Robert pun tidak menemukan apa-apa. Akan tetapi, begitu mereka cek ke kamar Yeni dan teman-temannya.
"Tuh kan ketemu di kopernya Livia." Ujar Tiara tersenyum.
"Tidak. Aku tidak mencurinya Yeni." Livia melakukan pembelaan.
Yeni menatap Hanna, "Iya..iya.." Jawab Hanna seakan mengerti ia menarik tangan Nia keluar dari ruangan itu.
Raka mengembalikan perhiasan kepada pelayan, "Lain kali jagalah baik-baik."
"Lapor saja ke polisi karena Livia sudah mencuri perhiasan pelayanmu."
"Iya nanti kita lapor polisi. Sekarang semuanya kumpul di ruang tamu." Perintah Yeni.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu kecuali Nia dan Hanna yang pergi entah kemana. "Yeni, Livia tidak mungkin mencuri." Ujar Robert.
"Mau dibela seperti apa lagi ? Sudah jelas buktinya ada di koper Livia." Ujar Tiara yang bermain ponsel.
"Yeni, kau kan uda kenal aku 4 tahun ini. Ayolah, kalau pun aku mencuri untuk apa aku mencuri perhiasan pelayanmu. Kenapa tidak sekalian barang-barang berhargamu aku curi dari dulu ?"
Yeni hanya terdiam. Tak lama, Hanna dan Nia ke ruang keluarga. Hanna berbisik sesuatu ke telinga Yeni. "Sudah aku duga." Gumam Yeni setelah selesai mereka duduk di sofa.
Raka terdiam memandang adiknya, "Jadi bagaimana ?"
"Tanyakan saja pada pelayannya apakah dia mau lapor polisi atau tidak."
Pelayan itu membuka suara, "Tidak usah dilaporkan polisi karena perhiasan saya sudah kembali."
"Ya sudah. Selesai kan. Kalian boleh pergi." Yeni menyuruh pelayannya untuk membubarkan diri.
"Yeni, bukan aku yang mencurinya !!" Livia masih kekeuh pada perkataannya.
"Iya Yen, Via tak mungkin melakukan hal itu." Narul yang dari tadi diam mulai bersuara.
"Pelayan bodoh, kenapa Livia tidak dipenjara saja ? malah dimaafkan. Bagaimana coba kalau keulang lagi." Tiara pergi dari ruang tamu.
"Yeni.. bicara jangan diam saja." Livia memegang tangan Yeni. "Bukan aku pencurinya." Yeni terdiam lalu pergi.
Nia merangkul Livia, "Sudahlah. Kita percaya kok bukan kau yang mencurinya."
"Tapi Yeni..."
"Dia memang begitu karena moodnya lagi jelek. Kau tahu sendiri, sejak Jimmy bawa wanita itu kesini dia selalu menahan diri untuk tidak mengomel." Hanna ikut menenangkannya. "Kita percaya kok bukan kau yang mencurinya."
********
Nia bangun lebih awal, "Belum pada bangun rupanya." ia berjalan menuju taman bunga di halaman belakang. "Pagi Bibi.." Gadis itu tersenyum menatap beberapa pelayan tengah sibuk menyiram tanaman.
"Pagi Non Nia. Tumben bangun lebih pagi."
"Iya nih Bi. Udara disini sangat segar kalau pagi hari."
"Mau bibi buatkan sesuatu ?"
"Teh tawar hangat ya bi."
"Baik Non." Pelayan itu pergi.
"Kemarin Livia yang terbangun dan sekarang kau." Tiara datang menghampiri dengan memakai baju tidur yang cukup terbuka.
"Memangnya kenapa ? Kau itu kan cuma tamu tak dianggap disini." Nia duduk di bangku taman.
"Kau..."
"Kenapa ?"
Tiara memandang Nia dari atas hingga bawah, "Aku heran kenapa Raka bisa mau berpacaran dengan gadis sepertimu."
"Aku juga heran kenapa kau tidak punya urat malu sedikitpun. Kau yang membuat Jimmy tak suka padamu malah Livia kau salahkan. Kau dibuat tak bisa jalan dengan normal sampai sekarang malah Yeni kau salahkan juga. Dan sekarang aku kau salahkan karena berpacaran dengan Raka." Nia menggeleng pelan sambil tersenyum, "Sungguh jika aku jadi kau maka aku tidak berada disini sekarang."
Tiara menyadari pelayan datang mengantarkan minuman teh hangat langsung berpura-pura terjatuh seakan didorong oleh Nia, "Awwww..." Nia yang menatapnya hanya tersenyum sinis. Sebentar lagi drama akan dimulai.
Seorang pelayan datang menolong Tiara, "Nona tidak apa-apa ?" ia membantunya berdiri.
"Sssttt.. jangan berteriak. Yeni tak suka paginya diganggu. Nanti dia murka loh apalagi kemarin kau membuatnya terbangun pagi. Jangan sampai kau ulangi lagi untuk 2 kalinya. Kalau Yeni, si singa betina itu ngamuk pada kau baru tahu rasa."
"Kalau kau tak mau Yeni terbangun maka jangan mendorongku. Kau lupa aku ini sedang sakit dan tidak bisa berjalan normal."
"Ihh, siapa juga yang mendorongmu." Nia enggan menatapnya.
"Wanita murahan !!! Kau dan Livia sama saja !!!"
"Apa kau bilang ??" Nia menatap tajam ke arahnya. "Jaga ya omonganmu."
Yeni membanting pintu kamarnya membuat semua orang terkaget dan terbangun. "SIAPA YANG RIBUT DI HALAMAN BELAKANG !!" Tentu saja. Kamar yang ditempati Yeni bersama teman-temannya menghadap ke halaman belakang jika ada keributan disana tentu lah ia dengan gampang mendengarnya. Namun, ia terlalu emosi sehingga tidak menegok ke jendela untuk melihat siapa yang tengah ribut.
"Astaga Yeni.. Jangan buat kaget pagi-pagi." Raka, Jimmy, Robert dan teman-teman Yeni pada terbangun akibat bantingan pintu kamarnya.
"Maaf, non. Ada non Tiara dan non Nia di halaman belakang."
Yeni mengacak rambutnya kasar menarik kaos baju Jimmy, "Kau !! Kau harus membawa Tiara Pulang sekarang juga !!! Kau yang membawanya kemari dan kau juga yang harus memulangkannya !!! Aku tidak mau tahu !!! Kalau kau tidak memulangkannya sekarang juga maka kerjasama perusahaan kita akan BATAL !! AKU PASTIKAN KAU AKAN BANGKRUT !! MENGERTI !!!! Jangan ada yang mengganguku sampai jam 12 Siang." Yeni mengacak rambutnya kasar lalu masuk ke dalam kamar.
"Wanita sinting. Pagi-pagi sudah begitu." Jimmy merapikan kaosnya.
"Dia memang begitu. Karena Yeni selalu berkerja sampai tengah malam. Saat weekend seperti ini ia memang selalu tidur sampai siang dan ia sangat benci jika ada yang menggangu jam tidurnya." jelas Raka.
"Aku mau menyusul Nia ke sana." ujar Narul yang diikuti oleh semuanya.
Tiara tersenyum sinis, "Kenapa aku harus bersikap sopan pada orang sepertimu ?"
"Nia..." Ujar Hanna. "Sudahlah Nia. Yeni mengamuk tadi. Karena kalian berisik."
"Salahkan saja wanita itu."
Jimmy menarik tangan Tiara, "Kita harus pulang sekarang !!!"
Tiara menghempaskan tangan Jimmy, "Aku tak mau !!"
"Kau pulang sekarang atau kau akan tinggal nama besok. Aku akan bersiap-siap. Dan aku harap kau juga sama." Jimmy pergi. Sial, hari paginya jadi kacau karena wanita gila itu. Memang sejak awal harusnya ia tak mengajak wanita itu kemari.
Nia mendorong Tiara dengan sengaja, "Tadi kan kau berpura-pura terjatuh lalu menuduh aku mendorongmu dan sekarang aku lakukan sesuai ucapanmu. Byeeee.." Ia menggandeng tangan Raka. Mereka semua pergi meninggalkan Tiara sendirian.
*********
Tepat jam makan siang, Yeni turun ke lantai bawah untuk makan. "Sudah nyenyak tidurnya ?" Raka menatap Yeni.
"Sedikit. Tamu tak diundang itu sudah pergi kan sama Jimmy."
"Sudah." Jawab Nia.
"Baguslah sejak dia datang moodku jadi jelek terlebih lagi memfitnah Livia mencuri lagi. Padahal dari CCTV dia yang sengaja menaruh perhiasan tersebut ke koper Livia. Hanna dan Nia sudah mengeceknya.
"Dasar ular." Gumam Narul.
"Kalau aku tak punya agama sudah aku mutilasi wanita itu. Menggangu liburan orang saja. Setelah makan siang kita akan langsung balik ke Jakarta. Pass sampe Jakarta ke Mall Yuk.."
"Aku tidak ikut ya. Mau ngebut untuk laporan OJT." Ujar Livia.
"Oke."
Nia yang sedang memainkan ponselnya terdiam membaca 1 berita. " Yen. Baca deh. Tapi, hp aku jangan dibanting ya."
"Aku akan ganti kalau nanti kena banting oke."
"Ash.. banyak data penting disini. Tak jadi. Kalian buka Grup aja aku screenshot."
Yeni dan teman-temannya membuka grup Chat mereka karena penasaran Robert dan Raka pun ikut melihat.
Pranggg...
Yeni melempar ponselnya entah kemana. "Dia benar-benar tidak kapok ya. Aku sudah bersabar loh selama ini."
"Nanti gue akan hapus berita itu Yeni."
"Tidak usah, Ai. Aku punya ide." Yeni tersenyum. 3 pemberitaan yang diberikan Nia terpampang jelas di layar ponsel teman-temannya.
" YENI KUSUMA MENGUSIR MANTAN PACAR CEO SB CROP DARI VILLANYA."
"YENI KUSUMA BERTEMAN DENGAN SEORANG PENCURI."
"MANTAN PACAR SB CORP DAN CEO PERUSAHAAN KUSUMA BERPACARAN ??"
-To Be Continue-