Our Love

Our Love
Part 56



Hanna langsung masuk begitu saja ke ruangan papanya, "Papa, sudah menemukan Tiara belum ?" Tanyanya.


Papa Hanna menggelengkan kepala lalu menjawab, "Dia susah sekali ditangkap."


"Apakah papa tahu ?" Tanya Hanna terduduk di sofa.


"Tidak." Jawab papa Hanna berjalan duduk ke arah sofa lalu duduk disamping puterinya sambil tertawa.


Papanya itu suka sekali mengajaknya bercanda.


Sudah lama sekali mereka tidak bercanda gurau seperti ini.


Meingat Hanna dan orang tuanya sama-sama sibuk sehingga mereka jarang ada komunikasi satu sama lain terlebih lagi bisa bercanda gurau seperti sekarang.


Ahh...


Waktu cepat sekali berlalu..


Bagi papa Hanna, meskipun  puterinya sudah besar. Namun, baginya Hanna masih kecil dan selalu akan menjadi anak kecil kesayangannya. Teringat jelas dalam ingatannya bagaimana beliau melihat Hanna pertama kali ada di dunia ini.


Akan bagaimana Hanna berlajar merangkak, berjalan, hingga pertama kalinya memanggilnya papa dan mama.


Beliau sangat merindukan masa-masa itu.


Andai saja bisa terulang kembali.


Tapi, itu sudah sangat tidak mungkin.


Hanna memukul pelan lengan papanya, "Hanna serius nih. Jangan bercanda." Ujarnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


Papa Hanna masih tertawa melihat tingkah puterinya, "Oke..oke.. Papa akan berhenti tertawa. Jadi, apa yang kau mau bicarakan ?"


Hanna mengambil bantal sofa lalu meletakannya diatas paha, "Gini loh, Pa. Kemarin si Tiara, wanita jahat itu datang disaat aku dan yang lainnya tengah berkumpul di sebuah kafe, lalu dengan dia sengaja mengatakan kepada Livia untuk berhati-hati pada kami semua. Bukankah sudah jelas kalau wanita ular itu menyindir kita dan sengaja menunjukkan kalau sewaktu-waktu bisa saja ia mengatakan semua hal yang ia ketahui pada Livia." Ujar Hanna gusar. Biasanya yang menjadi sasaran Tiara adalah Yeni tapi, malah dirinya yang kena sekarang.


Kan aneh banget ?


Dari awalnya ia mencari gara-gara dengan Livia sampai saat ini malah dirinya dan Yeni yang kena.


Pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita itu.


Tapi, apa yang tengah direncanakan wanita itu ?


Dia benar-benar tidak bisa dianggap remeh.


Mulai hari ini dia harus selalu waspada akan apa yang dilakukan oleh Tiara.


Wanita itu sangat berbahaya.


"Papa tak menyangka dia bergerak secepat itu." Ujar Papa Hanna meminum kopinya. "Papa kira wanita itu membenci Livia. Kenapa seakan-akan dia jadi membela gadis itu ?"


"Ya makanya, papa cari dia sampai ketemu donk. Aku dan Yeni tak mau kalau sampai Livia mengetahui semua ini."


"Kau sungguh tak merasa curiga ada apa diantara Livia dan Tiara itu ?"


Ya.


Jika ditanya seperti itu maka, Hanna curiga.


Sangat curiga.


Tapi, apakah mungkin Tiara dan Livia memang ada sesuatu ?


Ah.. tidak...


Itu tidak mungkin..


Ayolah Hanna...


Jangan berpikir yang aneh-aneh..


Tidak mungkin terjadi sesuatu diantara mereka berdua..


Iya..


Itu tidak mungkin..


Ayo Hanna..


Pikir positif..


Pasti bisa...


Hanya dia dan Yeni yang tahu perbuatan apa yang orang tua mereka lakukan pada Livia.


Teman-teman mereka yang lain seperti Nia, Narul juga Ai Chan sama sekali tidak mengetahui hal ini.


"Lagipula dari dulu papa dan teman-teman papa ingin membunuh Livia namun, kalian semua menolaknya. Dengan membunuh Livia maka semua masalah selesai." Ujar Papa Hanna yang menatap puterinya.


Tidak.


Hanna tidak mau papanya semakin menambah dosa dengan membunuh Livia.


Ada rasa empati pada gadis itu dan dia juga tak mau sampai Livia meninggal.


Bagaimana pun juga Livia adalah teman dekatnya.


Akan tetapi, Hanna tidak tahu harus berpihaj dan bersikap seperti apa.


Gadis itu juga sangat stress akan semua masalah-masalah ini yang tak ada habisnya.


"Livia temanku pa, dia sudah cukup menderita karena orang tuanya meninggal saat ia kecil."


"Kau kira jika ia tahu semuanya, ia masih menggangap kalian adalah temannya ? Kau kira ada orang yang mau berteman dengan anak dari pembunuh orang tuanya. Berpikirlah Hanna. Suatu saat nanti, Livia akan membenci kalian semua." Ucap Papa Hanna sembari melipat kedua tangannya di dada.


Kenapa puterinya ini sangat keras kepala dan membela Livia ?


Hanna dan Yeni tahu sekali akan konsekuensi dari apa yang orang tua mereka lakukan di masa lalu hingga berefek sampai saat ini.


Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga mereka tidak ingin melihat orang tuanya masuk penjara.


Tidak.


Mereka tidak akan rela.


Livia orang yang baik.


Tidak pantas harus dibunuh seperti itu hanya demi keuntungan keluarganya juga orang lain.


"Maka dari itu, kembalikan perusahaan Wijaya padanya. Untuk Livia yang membenci aku dan yang lainnya biarkan itu akan menjadi masalahku dan yang lainnya bukan urusan papa." Hanna berpindah duduk ke sebelah papanya.


Apa susahnya mengembalikan semua yang seharusnya dimiliki oleh Livia ?


Dia pantas mendapatkannya.


Sudah cukup penderitaan yang dialami Livia selama ini akibat ulah orang tuanya, orang tua Yeni dan semua orang kepercayaan Papa Livia di masa lalu.


Sudah waktunya untuk Livia bahagia dan mendapatkan apa yang memang seharusnya menjadi miliknya.


Tapi, tidak dengan memasukkan papanya ke dalam penjara atas perbuatan yang sudah dilakukannya.


Tidak.


Dia tidak akan rela.


"Perusahaan Wijaya tidak ada di tangan papa. Lagipula kau itu kenapa sih ?" Tanya Papa Hanna dengan bingung akan sikap puterinya.


Biasanya gadis itu tak pernah mau perduli akan apapun yang orang tuanya lakukan ?


Kenapa jadi seperti ini sekarang ?


Aneh.


Hanna melemparkan tasnya ke sofa, ia frustasi akan semua ini. Jujur ia juga merasa bersalah pada Livia namun, Hanna tak bisa msmasukkan orang tuanya juga orang tua teman-temannya dalam penjara. Sejahatnya mereka bagaimanapun itu adalah orang tuanya yang sudah melahirkan dan membesarkannya sejak kecil.


"Pokoknya papa harus membunuh Tiara bagaimana pun juga. Ia akan sangat berbahaya bagi kita semua, Pa." Ujar Hanna memegang tangan papanya dengan tatapan memohon.


Oke.


Jika papanya masih bersih keras, maka satu-satunya cara adalah menyingkirkan Tiara dari Livia.


"Kau jauh-jauh datang kemari hanya ingin membicarakan hal itu ?" Tanya papa Hanna menyingkirkan tangan puterinya dari tangannya. Anak itu kalau ada mau-nya saja pasti akan bertingkah seperti ini.


"Ya." Jawab papa Hanna singkat.


"Kau yakin tak mau kami membunuh Livia saja ? agar kita semua bisa tenang dan Tiara tidak menggangu lagi ?" Tanya Papa Hanna sekali lagi untuk memastikan apakah puterinya bersungguh-sungguh atau tidak.


"Pa..." Keluh Hanna.


Kenapa mereka bersih keras sekali ingin membunuh Livia ?


"Ya ya. Papa mengerti. Kau tak merasa ada yang aneh dengan Tiara ?" Tanya papanya sekali lagi.


Aneh ?


Apa yang aneh dengan wanita ular itu ?


Hanna merasa tidak ada yang aneh.


"Maksud papa ?" Hanna bingung akan pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya.


"Bukankah awal-awal dia datang dan mencari masalah dengan Livia. Kenapa sekarang ia mencari masalah dengan keluarga Kusuma dan kita ?" Tanya papa Hanna menyakinkan.


Ah iya.


Hanna lupa akan hal itu.


"Kau tak merasa ada yang aneh ?" Tanya papanya dengan penuh selidik.


Hanna terdiam memikirkan ucapan papanya. Memang ada benarnya juga.


Iya juga sih.


Sejak awal kemunculan Tiara sangat membenci Livia.


Tapi, kenapa sekarang dia bertindak seakan-akan berpihak pada Livia ?


Apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan ?


"Papa dengar kalau idola Korea Selatan yang sangat kau gilai akan mengadakan konser di Jakarta. Kau sudah membeli tiketnya ?" Tanya Papa Hanna.


Hanna tersenyum masam, "Hanna tahu mereka akan datang. Tapi, tidak bisa karena bentrok dengan jadwal sidang OJT (On The Job Training). Jadi, ya mau bagaimana lagi."


Papa Hanna mengacak pelan rambut puterinya, "Salah satu teman papa ada mengadakan fanmeeting mereka. Kau mau papa kasih tiket VIP ?" Tawar Papa Hanna.


Mata Hanna berbinar lalu tersenyum, "Sungguh ?"


Papa Hanna mengganguk mengatakan, "Iya. Sungguh. Kau mau ? Kalau mau nanti akan papa atur. Bagaimana ?"


Hanna bersorak kegirangan memeluk sang papa, "Hanna mau. Makasih ya Pa." Ujar gadis itu mencium pipi papanya. "Hanna sayang papa." Timpalnya.


******


Tiara berdiam diri di apartemennya memikirkan tindakan apalagi yang harus ia lakukan. "Nona, ini makan siang anda." Ujar Seorang pelayan baru membawa makan siang kepada majikannya yang tengah duduk di kursi roda.


"Aku bingung bagaimana caranya memancing agar orang-orang mau membicarakan mengenai Perusahaan Wijaya yang sudah tenggelam beritanya." Gumam Tiara pelan.


"Maaf nona, kalau saya agak lancang. Kenapa nona tidak buat berita palsu saja akan perusahaan itu ? mungkin semua orang akan kembali mengingat dan mempertanyakan hal yang sama." Saran dari pelayan tersebut.


Terkadang ucapan pelayan itu memang ada benarnya juga.


Well, setidaknya pelayannya yang baru ini lebih berguna daripada pelayannya yang lama dan tak berguna itu. Beruntunglah uang yang dia keluarkan untuk membayar pelayan itu tidaklah sia-sia. Tiara sempat berpikir, mungkin dia harus menaikkan sedikit gaji pelayannya atau mungkin memberikannya sedikit hadiah. Ah, itu nanti saja urusan belakangan.


"Pintar. Tolong ambilkan laptopku." Perintah Tiara. Pelayan itu menurutinya dan pergi meninggalkan majikannya sendirian. Dia melihat berita apa saja yang tengah hangat jadi pembicaraan di masyarakat. Beberapa menit berlalu, mata hitamnya mendapati ada 1 berita mengenai tertangkapnya pengedar obat-obatan terlarang di salah satu kota. Orang yang tertangkap itu adalah anak buah barunya.


Ash...


Dasar tak berguna..


Menyusahkanku saja..


Itulah kenapa Tiara sangat tidak suka jika ada orang-orang baru bergabung dengan geng-nya pasti akan seperti ini hasilnya.


Bukannya menguntungkan malah menyusahkan.


Tiara tidak mau tertangkap polisi, dia harus mencari cara agar publik dan polisi tidak mempertanyakan dan menelurusi lebih lanjut akan pengedaran obat-obatan terlarang. "Apa yang harus aku lakukan ?"


Dia mengigit kukunya sambil terus memandang ke arah laptop yang masih menyala. Tiara harus mengalihkan pemberitaan tersebut agar tenggelam dan tidak ada orang yang membicarakannya lagi.


Tapi, apa ?


Berita apa yang harus ia pakai untuk menutupi kasus yang akan menyeret namanya ?


Aduh apa ya...


Pikir..


Ayo Tiara pikir...


Hal apa yang harus dia lakukan untuk 'setidaknya' menutup pemberitaan akan kasus itu.


Wanita itu mengacak rambutnya lalu terduduk di kasur, "Ash.. aku bisa gila kalau begini." Gunamnya.


Tiara menatap dinding yang ditempeli berbagai foto-foto orang paling dibencinya kini terpampang jelas ada di depannya. Mata hitamnya terus menatap laptop miliknya lalu foto Jimmy, Livia, dan Yeni yang sudah dicoret dengan spidol merah secara bergantian. Setetika dia mendapatkan ide setelah mengamati kedua benda tersebut secara bergantian.


Yes.


Akhirnya...


Aku mendapatkan sebuah ide brilian.


"Tiara, kau memang pintar." Ujarnya yang tersenyum sambil mengetik sesuatu di laptop miliknya. Kini dia tahu berita palsu apa yang akan ia munculkan untuk menutupi atau mengalihkan isu mengenai tertangkapnya seorang pengedar obat-obatan terlarang. "Aku akan membuat mereka sangat ketakutan dan membuat 'dia' mengakui bahwa 'dia' adalah penerus satu-satunya, dan 'mereka' harus merasakan ketakutan yang aku rasakan selama ini."


Setelah selesai mengetik sesuatu, Tiara menelepon seseorang, "Hallo. Aku butuh bantuanmu untuk memalsukan beberapa dokumen."


"Aku tidak mau terkena banyak masalah lagi. Kau tahu salah satu anak buahmu sudah ditangkap oleh polisi. Jika dia berani membongkar maka kita semua akan terseret termasuk dirimu." Ujar orang dari sebrang telepon.


"Iya aku tahu. Sudahlah turuti saja apa kataku. Besok atau lusa aku sudah mau semua data yang aku inginkan kau selesaikan. Aku akan kirim lewat e-mail untuk lebih lanjut. Kalau sudah selesai maka akan aku bayar dengan harga tinggi. Awas jika kau berani membongkarnya, kau tahu anak buahku ada dimana-mana. Untuk yang sudah ditangkap polisi itu biar jadi urusanku."


"Ya." Jawab orang tersebut.


Tiara menutup teleponnya, lalu menelepon anak buahnya yang lain. "Kau sudah dengar di berita soal anak baru itu ?"


"Ya boss. Apa yang akan kau lakukan ?" Tanya anak buah Tiara yang lain.


"Aku tak mau tahu caranya bagaimana dan jangan sampai ada yang curiga bahkan polisi sekalipun. Buat anak baru itu berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri."


"Baik boss." Tiara menutup kembali panggilan telepon itu.


Besok mereka semua akan mendapatkan berita yang sangat mengejutkan.


Dia tertawa.


Maafkan aku Livia.


Tapi, aku harus melakukan ini agar kasus anak buahku yang tertangkap polisi tidak akan muncul ke banyak pemberitaan di media massa.


Itu tidak mungkin.


Ya.


Mungkin akan muncul juga tapi masyarakat tidak akan perduli, mereka akan lebih perduli akan pemberitaan yang aku sebarkan besok.


Biar semua orang-orang jahat itu mendapatkan akibat atas apa yang mereka perbuat selama ini.


Maaf ya Livia.


Kali ini aku harus mengorbankanmu untuk kepentinganku sendiri.


*****


Jam makan siang telah tiba, Robert menghampiri Livia, "Ayo kita pergi makan. Ada yang mau aku bicarakan."


"B..baik." Beberapa orang tampak bersorak melihat mereka namun ada beberapa juga yang tidak menerima hal itu.


"Kita tunggu traktirannya ya kalau kalian jadian." Ujar salah seorang karyawan membuat Livia dan Robert tersenyum tak jelas.


Suara deheman seseorang membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut terdiam, "Ada apa ini ?"


"Jimmy, kenapa kau bisa berada disini ?" Tanya Robert pada temannya.


"Aku ingin bertemu dengan Livia mengenai perkembangan video yang sudah dia edit."


"Tinggal sedikit lagi pak, nanti setelah jam makan siang saya akan memperlihatkannya pada bapak."


"Tunggu. Kalian akan pergi berdua ?"


"Tentu saja. Ayo pergi." Robert menarik Livia pergi, Jimmy pun ikut menyusul dengan segera ia masuk ke kursi belakang mobil Robert.


"Kenapa kau ikut-ikutan masuk ?" Tanya Livia yang sudah tidak berbicara formal lagi. Ayolah, memang mereka berada di area pakiran mobil dan di dalam mobil itu hanya ada dirinya, Robert dan Jimmy saja.


"Kau calon adik angkatku. Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengan pria lain sekalipun itu adalah teman baikku "


"Robert tidak akan melakukan hal-hal buruk padaku."


Kenapa sih pria yang satu ini ?


Aneh banget.


"Aku tidak percaya. Anggap saja aku tidak ada."


"Ada yang mau aku bicarakan dengan Livia. Bisakah kau pergi ?" Pinta Robert.


"Ya katakan saja disini. 'Kan sudah saya bilang anggap saja saya tidak ada disini."


"Percuma kau usir juga. Dia tidak akan berubah pikirannya." Ujar Livia.


"Itu tahu. Calon adikku angkatku memang pengertian." Jimmy mengacak rambut Livia.


Livia berbalik menatap tajam ke arahnya, "Jangan memgacak rambutku. Aku tidak suka."


"Kenapa ? Sejak kecil kau paling suka kalau aku mengacak rambutmu."


"Kau..."


"Tunggu. Kalian sudah mengenal sejak kecil ?" Robert baru pertama kali mengetahui fakta ini.


Jimmy meletakkan tangannya di bahu Livia, "Tentu saja. Kau kira kenapa keluargaku mau mengangkatnya jadi adik angkatku ? kalau bukan karena keluarga kami sudah saling mengenal sejak kecil. Ya kan ? Calon adik angkatku." Jimmy mengacak rambut Livia lagi.


"Jimmy !!!!" Teriak Livia yang membuat pria itu tertawa.


Satu-satunya yang terdiam adalah Robert. Pria itu tahu akan masa lalu kelam Livia dan hari ini ia mengetahui bahwa mereka teman dari kecil bahkan orang tua mereka saling mengenal. Semua puzzle akan masa lalu Livia dan Jimmy perlahan menjadi satu di pikirannya.


Tanpa disadari Livia dan Jimmy, mata Robert menatap tajam keduanya dan tangannya terkepal.


Jadi, keluarga Jimmy adalah pembunuh keluarga Livia ?


Suatu hal yang sangat tak diduganya.


-To Be Continue-