Our Love

Our Love
Part 89



Semua demi kebahagiaannya.


Kebahagian Livia yang sudah sejak kecil direngut oleh orang-orang jahat yang tak punya hati nurani itu.


Mereka semua harus mendapatkan balasannya.


*******


Senin.


Untuk sebagian orang adalah hari yang melelahkan karena sebagian dari mereka sudah harus mengakhiri masa weekend-nya untuk kembali lagi ke rutinitas masing masing. Ada yang berkerja, bersekolah, bahkan menjalankan kembali usaha yang mereka miliki. Tak terkecuali, untuk Livia yang kembali berkerja setengah hari untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hari ini adalah hari terakhir masa magangnya, walau baru 80 persen video yang sudah rampung menjelang perayaan ulang tahun perusahaan Sapphire Blue Corp. Perusahaan papa dan mama kandungnya namun, diambil alih dan diubah namanya oleh keluarga Kurniawan dengan cara yang licik.


Seharusnya mereka masuk ke dalam penjara dan membusuk disana. Tapi, terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Mereka masih bebas berkeliaran sampai sekarang bahkan sepertinya tidak ada raut wajah bersalah sama sekali atas apa yang mereka lakukan 12 tahun yang lalu pada orang tua Livia.


Gadis itu membenci kenyataan pahit yang ada di depannya.


Kenyataan bahwa para pembunuh itu masih bebas dan hidup mewah.


Kenyataan yang dimana tidak ada rasa bersalah sama sekali di raut wajah mereka.


Livia membencinya.


Membenci akan semua hal yang baru sekarang dia ketahui.


"Pagi." Ujar seorang resepsionis padanya.


Livia tersenyum, "Pagi juga." Ujarnya. Tak ada salahnya jika dia tersenyum pada mereka. Ini adalah hari terakhirnya di kantor. Bukan berarti dia akan melepaskannya begitu saja.


Tidak akan pernah.


"Aku dengar hari ini terakhir kau berkerja ya ?" Tanyanya penasaran.


"Iya. Aku mau fokus akan skripsi dulu." Jawab Livia dengan lembut. "Makasih ya atas bantuannya selama ini. Maaf juga kalau ada salah."


"Tidak apa. Saya juga minta maaf ya kalau ada kesalahan baik itu disengaja atau tidak." Ujar karyawan itu tersenyum pada Livia. Gadis itu pamit untuk menuju lantai paling atas ke Ruangan Jimmy. Apa yang harus dia lakukan sekarang ?


Membalaskan dendam ?


Entahlah.


Gadis itu hanya terlalu lelah akan semua ini.


"Jangan berdiam diri di depan pintu." Ujar Jimmy membuat Livia tersadar dari lamunannya. Gadis itu segera menyingkir agar Jimmy bisa masuk ke ruangannya.


"Kau tidak mau masuk ?" Tanya Bu Jasmine padanya.


"Mau ibu." Jawab Livia terkekeh kecil lalu masuk dalam ruangan tersebut diikuti oleh Bu Jasmine yang langsung membacakan jadwal Jimmy hari ini, begitu selesai beliau ijin pergi dari ruangan tersebut.


"Ya."


"Kau sungguh mau memenuhi permintaan papa dan mama mengenai mengangkatmu jadi adik angkatku ?" Tanya Jimmy penasaran.


Tentu saja.


Livia menatapnya lalu berkata, "Kau masih mau mengumumkan hal itu setelah nasib buruk yang menimpa papamu."


Dia memang pantas mendapatkannya, bahkan itu belum seberapa.


Jimmy bersandar di kursi menatap Livia, "Aku berniat untuk mengundurkan pengumuman itu mengingat persidangan papa sebentar lagi akan dilakukan."


"Kau yakin paman dan bibi akan senang mendengar hal itu ? Bukankah itu impian kalian dari dulu untuk mengangkatku jadi bagian dari keluarga Kurniawan ?" Tanya Livia.


Tentu saja hal itu tidak boleh berubah atau bahkan dibatalkan. Setelah gadis itu mengetahui siapa yang sudah merebut kebahagiaan juga nyawa orang tuanya.


"Justru nanti biar aku yang akan membicarakan hal ini pada papa dan mama. Lalu, kenapa kau jadi tertarik akan hal ini ? sudah berulang kali kita membahasnya dan jawabanmu selalu sama. Tidak." Jimmy menatapnya curiga.


"Aku sudah tidak merasakan kasih sayang papa dan mama bahkan kehangatan sebuah keluarga sejak kematian papa dan mamaku 12 tahun yang lalu. Apakah aku salah jika aku berubah pikiran karena hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari om dan tante yang sudah aku anggap seperti orang tua kandungku sendiri ?" Ucapan Livia membuat pria itu terdiam.


Tidak.


Ucapannya tidak salah.


12 tahun yang lalu pria itu sangat membencinya karena mengira bahwa Livia-lah yang membunuh kakeknya. Namun, ia salah. Justru orang tuanya-lah yang sudah merenggut kebahagiaan gadis itu sejak kecil.


Sial...


Kenapa rasa penyesalan ini begitu sesak dan tak bisa berhenti menghantuinya padahal itu bukan kesalahan yang diperbuat dirinya sendiri, melainkan kedua orang tuanya ?


"Kalau kau terdiam berarti apa yang aku ucapkan adalah benar."


"Kau sudah mendapatkannya dari keluarga Robert, kenapa juga harus mendapatkannya dari keluargaku ?" Tanya Jimmy yang kali ini membuat Livia terdiam.


Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dibawah meja sehingga pria itu tidak dapat melihatnya.


*Karena aku harus mendapatkan apa yang menjadi milikku sejak awal.


Karena kalian adalah pembunuh.


Kalian sudah menghancurkan kebahagiaanku dari kecil.


Aku...


Aku tidak akan pernah memaafkan kalian.


Kalian harus mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang keluarga kalian lakukan padaku selama ini.


-To Be Continue-