
"Kita lapor kantor polisi aja atas penculikan Tiara pada Livia." Saran Nia.
"Tidak Nia." Ujar Jimmy, Yeni dan Hanna bersamaan.
"Kenapa ? Kalian kok kompak banget sih ?" Ai Chan menatap bingung.
"Keluarga kita kan kaya semua, Ai. Jangan lapor polisi lah. Ribet ntar. Nanti anak buah papa ku yang urus semua." Jawab Hanna.
"Betul Ai. Jangan dikit-dikit lapor polisi deh." Yeni ikut menimpali. "Lagi pula, Livia tidak kenapa-kenapa kok."
"Beritaku sudah kau hilangkan semua, Ai ?" Tanya Livia.
"Sudah dan Perusahanku yang dikerumuni wartawan. Ck. Bagus sekali kalian malah menambah kerjaanku." Jimmy berdecak kesal.
"Kau kira perusahaan ku tidak ? Aku, Hanna dan Ai Chan juga ikut terseret karena pemberitaan sialan itu."
Livia menunduk, "Maaf ya. Kalian jadi ikut pusing dalam masalah ini."
Robert mengelus kepala Livia pelan, "Ini bukan salahmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri."
Ponsel Livia bergetar ada sebuah pesan WhatsApp masuk.
+62812xxxxxxxx : Kau telah ditipu oleh mereka. Berhati-hatilah
Livia terdiam membaca pesan tersebut.
Siapa orang yang mengirimkan pesan tersebut ?
"Makan yuk.. Laper nih.." Ujar Narulita.
"Mau pesan delivery atau makan diluar ?" (Hanna)
"Delivery aja, Na. Lagi males jalan." Ujar Nia.
"Pada mau makan apa ?" (Ai Chan)
"Fast food aja." (Yeni)
*******
"Liv, kau kenapa sih dari tadi melamun saja ?" Tanya Nia yang kini hanya berduaan dengan Livia di kamar. Setelah selesai makan malam dan bercanda ria, semua teman-temannya pamit pulang.
Gadis itu hanya tersenyum dan menggeleng, "Tidak apa-apa kok. Hanya kecapean saja."
Nia berdiri, "Ya sudah tidur saja. Aku juga mau balik ke kamar untuk kerjain laporan OJT dan skripsi." Tanpa menunggu jawaban Livia, ia keluar dari kamar tersebut.
Apa yang harus aku lakukan sekarang ?
Pesan masuk itu terus mengusik pikiranku.
Apakah benar isi pesan itu bahwa salah satu dari orang-orang terdekatku ada yang menipuku ?
Tapi, siapa yang mengirimkan pesan tersebut ya ? Ditelepon juga tidak diangkat.
Livia menelepon Robert, "Hallo.."
'Apa terjadi sesuatu padamu, Liv ?'
"Tidak. Bisakah aku meminta bantuanmu ?"
"Apa itu katakan saja ?'
"Bantu aku cari seseorang yang bernama Pak Rahmad. Nanti aku akan kirimkan data yang aku tahu saja."
"Kalau boleh tahu kenapa kau mencari orang itu ?"
"Berhubungan dengan perusahaan papa. Aku masih penasaran."
"Baiklah, akan aku bantu sebisaku."
"Terima kasih ya. Maaf merepotkan."
"Apa itu ?"
"Bisakah kita kembali seperti dulu ?"
*******
Livia mengetok pintu ruangan Jimmy, "Permisi pak."
Jimmy menatap Livia, "Tumben sekali kau memanggilku bapak. Masuklah."
"Ini editan trailer terakhir untuk acara ulang tahun perusahaan ini." Livia memberikan hasil editan di dalam flashdisk.
"Kau duduk saja disana. Biar aku melihatnya dulu." Ujar Jimmy dan gadis itu menurutinya.
Livia termenung memikirkan pertanyaan Robert semalam. Sungguh, ia sama sekali tak memikirkan soal percintaan sekarang. Di kepalanya sudah terisi dengan Laporan OJT, skripsi, pekerjaannya, mengenai SMS yang masuk kemarin, mengenai perusahaan orang tuanya dan juga Pak Rahmad.
Jimmy menjentikkan jarinya di kening Livia, "Jangan melamun." pria itu duduk diatas meja menatapnya.
"Ash, sakit tahu."
"Kau memikirkan apa sih ?"
"Tidak ada."
"Ahh, kau memikirkanku ya ? Baru beberapa hari aku tempatkan kau devisi Multimedia dan sekarang sudah mulai merindukanku ya ?"
Livia tertawa mengejek. Pria ini sudah gila. "Bagaimana dengan hasil trailernya ?"
Jimmy menjentikan jarinya di kening gadis itu, "Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau sedang memikirkan apa sampai melamun begitu ?"
"Tidak ada pak."
"Jangan bohong. Dosa tahu."
"Saya tidak berbohong pak. Beritahu saja apakah ada salah dari trailer tersebut ?"
"Keras kepala banget sih tinggal jawab doank apa susahnya ?"
"Dibilang tidak. Ya tidak. Ga percayaan banget sih." Livia tak perduli akan etika pada atasannya itu.
"Ucapanmu memang tak bisa dipercaya. Jawab jujur. Kalau tidak, maka aku juga tidak akan memberikan penilaian akan trailer tersebut."
Tukang ancam. Menyebalkan.
Livia berdiri, "Ya sudah. Saya permisi Pak Jimmy yang terhomat." gadis itu pergi.
Jimmy menuju mejanya lalu menelepon sekertarisnya. Sementara itu Livia tampak begitu kesal segera menekan tombol lift. Untunglah ia sendirian dalam lift tersebut. "Heran deh, bersikap profesional dikit kenapa sih. Hanya bilang 'oke. trailernya bagus. Kamu boleh berikan ke kepala devisimu.' Apa susahnya sih bilang gitu aja."
Tak terasa lift berhenti di lantai devisi multimedia. Baru saja ia ingin keluar dari pintu lift, rekan kerjanya berlari menghampiri Livia yang masih di dalam lift yang terbuka. "Kamu disuruh balik lagi ke ruangan Pak Jimmy. Dia bilang ada banyak kesalahan pada trailernya."
Livia membulatkan matanya. Pria itu tidak mengatakan adanya kesalahan. Ash.. pria itu benar-benar....
"Makasih." Dengan segera Livia menutup pintu lift dan menekan tombol paling atas.
Jimmy tersenyum memandang pintu ruangannya, "3..2..1"
Brakkk..
"Kau tidak mengatakan akan kesalahan di Trailer itu." Livia masuk ke ruangannya tanpa ada kata permisi.
"Apakah aku bilang seperti itu ?" Jimmy memasang wajah tanpa dosa. "Kau dengar sendiri dari tadi aku tidak berkomentar akan trailer tersebut."
"Tapi tadi...."
Ucapan Livia terpotong karena Jimmy tertawa kecil, "Ayolah jujur saja. Kau kangen padaku. Jangan buat alasan klasik seperti itu."
Pria gilaaaa.....
-To Be Continue-