
"Kau marah pada Tiara kenapa aku yang kena ?" Jimmy mengelap mulutnya dengan Tissue. "Ya sudah aku pergi. Soal pekerjaan yang aku berikan pada Livia. Besok saja. Aku sudah agak lupa. Bye." Jimmy pergi.
"Ga jelas." Gumam Nia. Mereka pun selesai makan dan saat akan membayar...
"Jimmy dan Tiara belum membayar makanannya ?" Livia yang menerima bill terkejut melihat ada 2 menu lain yang tertera disana.
Yeni langsung merebut bill tersebut, "Ash.. Mereka berdua benar-benar... Besok pagi kau ingatkan atasanmu untuk membayar makanannya padaku." Mau tidak mau ia lah yang harus membayarnya. Livia mengiyakan.
Sungguh hari yang buruk.
"Yang sabar ya."Narul menepuk pundak Yeni.
"Setiap ada mereka pasti ada hal buruk terjadi." Gumam Hanna.
Yeni terdiam sibuk menghitung berapa jumlah tiap makanan dan minuman yang mereka pesan. Setiap mereka makan Yeni atau Ai Chan lah yang menjadi tukang hitung. Tidak ada yang memaksa atau menyuruh mereka. Itu sudah jadi kebiasaan setiap kali mereka berkumpul.
"Livia, kau tidak sedang memikirkan ucapan Tiara itu tadi 'kan?" Hanna menatapnya sembari menunggu Yeni selesai menghitung.
Gadis itu menggeleng, "Ga." Ujarnya berbohong. Perkataan Tiara tadi hampir sama dengan pesan masuk yang selalu ia dapat dari orang yang tak dikenal.
Apakah pesan tersebut dari orang yang sama ?
Bahkan sampai saat ini, ia belum menemukan titik terang akan kebenaran sesungguhnya mengenai dibalik kematian orang tuanya juga perusahaan Wijaya. Begitu ia coba search di internet maka yang muncul hanya infomasi biasa juga pemberitaan kematian orang tuanya. Hanya itu.
Haruskah ia meminta bantuan dari Robert ?
*****
Livia kini tiba di kantornya. Hari senin. Untuk sebagian orang tak menyukai hari itu, termasuk dirinya. Memang aneh tapi itu lah kenyataannya. Disaat kita sibuk berkerja atau sekolah sangat ingin cepat libur namun, jika dikasih libur panjang malah ingin berkerja/sekolah.
Walau bagaimana pun kita harus bersyukur karena diluar sana ada banyak orang yang tidak seberuntung kita.
"Maaf pak. Saya kira bapak sudah tiba di kantor." Livia menundukkan kepala.
Jimmy membuka pintu, "Masuklah." Ucapnya menatap 2 wanita itu. Bu Jasmine membacakan jadwal Jimmy hari ini, begitu selesai ia pergi meninggalkan mereka.
"Maaf pak, saya hanya mau menyampaikan pesan dari Yeni agar bapak membayar tagihan makanan dan minuman kemarin kepada beliau."
Jimmy menatap bingung namun seketika ia tertawa kecil, "Jadi, kau dari tadi terbengong di depan pintu hanya karena menagih makanan dan minuman kemarin yang belum aku bayar ? Astaga. Baiklah nanti akan aku telepon dia untuk hal itu. Ada lagi ?"
"Bapak kemarin bilang ada pekerjaan untuk saya. Kalau boleh saya tahu, pekerjaan apa ya pak ?"
"Oh itu. Hanya ingin kau melanjutkan lahi pekerjaanmu yang biasanya."
Cuma itu ?
Livia mengira ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan.
"Hanya itu ?"
"Ya."
"Kenapa harus jauh-jauh datang ke kafe kalau hanya mengatakan hal seperti itu." Gumam Livia.
"Saya bisa mendengarnya."
Livia terkejut membulatkan matanya, "Maaf pak. Kalau begitu saya kembai berkerja. Permisi." Gadis itu keluar dari ruangan Jimmy.
Jimmy tersenyum melihatnya, "Gadis yang menarik."
-To Be Continue-