
Italic \= Flashback
🍂
Dia adalah Sakhira Amira , aktris multitalenta yang memiliki banyak penggemar. Dia cantik dan juga pintar. Ia memiliki reputasi baik dalam seni peran dan model. Semua orang mengaguminya. Tak mengherankan Sakhira menerima banyak penghargaan untuk kerja kerasnya.
Hingga Titania Scarlet datang. Wanita berdarah keluarga Scarlet itu mengambil semua darinya. Dimulai dari lebih banyak tawaran pekerjaan untuk Tania ketimbang dirinya. Mereka lebih memilih Tania untuk menjadi bintang mereka. Ia hanya menjadi cadangan. Itu menyakitkan. Sangat.
Dalam benak Sakhira mencibir kesuksesan yang diraih Tania. Semua yang Tania dapatkan semata-mata karena nama besar keluarganya. Bukan usahanya sendiri.
Tak hanya masalah pekerjaan, Gray Alphanius yang teramat ia cintai juga jatuh dalam pesona Titania Scarlet. Tentu saja hal itu semakin membuat kebenciannya semakin dalam.
Suatu hari, Gray datang padanya. Mengatakan bahwa ia jenuh dengan Tania. Saat itulah Sakhira merasa mendapatkan celah untuk masuk ke dalam hidup Gray lebih dari teman.
Dengan tak tahu diri, ia menawarkan diri menjadi pelarian seorang Gray Alphanius. Ia memberikan apapun untuk pemuda yang begitu ia cintai. Melupakan fakta bahwa ia sudah memiliki Giovani Fernandes.
Kemudian, hari dimana Tania dan Gio mengetahui hubungan gelap yang Ia dan Gray jalani merupakan keinginan terbesarnya. Karena dengan begitu Gray akan seutuhnya menjadi miliknya. Meskipun ia harus menerima konsekuensi kemarahan dari para sahabatnya. Ia tak peduli. Sakhira bahagia mendapatkan obsesi cintanya.
Sesuatu yang dimulai dengan niatan buruk tak akan berakhir dengan baik. Dan Sakhira mengalami itu.
"Kenapa ? Aku sudah memberikan semuanya padamu, Gray. Lalu kini kau mencampakkanku ."
"Kau sendiri yang menawarkannya, Sakhira." Jawaban santai Gray membuat Sakhira marah.
"Apa hatimu tak tergerak sedikit pun untuk mencintaiku? Aku merelakan kehilangan semuanya demi kau. "
"Tidak."
Gray mencampakkannya. Dan sahabat baiknya mengabaikannya.
Tak ada satu pun yang berpihak padanya.
Titania Scarlet. Titania Scarlet.
Dia yang mendapatkan semua atensi dari semua orang.
"Kau harus menderita, Titania. "
Karena rasa iri dan benci itulah Sakhira Amira nekad melakukan apapun untuk menjatuhkan Titania Scarlet.
Inilah yang ia tuai dari yang ditaburnya. Perbuatannya membuat ia semakin dijauhi. Yang diterimanya hanya kemarahan dan kebencian. Tak ada belas kasihan.
Sakhira Amira menangis. Ia meratapi semua yang telah terjadi. Rasa sakit yang kian menggerogoti perlahan mengambil alih kewarasannya. Ia tak mau menerima keadaan ini.
Ia menyalahkan Tania. Mengapa harus ada dia hidupnya. Sakhira Amira adalah pemain utama bukan sekedar bayangan. Ia adalah bintangnya.
Usai meluapkan amarahnya, Gray pergi meninggalkan Sakhira. Tak mempedulikan sang wanita terus memanggil namanya.
"Bajingan. Aku membencimu, Tania. Aku benci kalian semua. Berani sekali memperlakukanku seperti sampah." Geram Sakhira. Ia usap kasar derai air matanya.
.
Meskipun tengah dalam mood buruk Sakhira tetap profesional datang memenuhi perintah Satria Winatajaya selaku CEO agensinya. Mungkin saja ada tawaran pekerjaan untuknya.
"Kau datang. Duduklah, Sakhira." Ujar Satria.
"Hm."
"Apa kau tahu alasan aku memanggilmu, Sakhira ?" Tanya Satria.
"Tidak. Memangnya ada apa."
"Kau belum melihat kabar ini." Satria menyodorkan sebuah artikel yang memuat berita mengenai Sakhira.
Sakhira begitu terkejut melihat isi dari artikel-artikel itu. Darimana mereka tahu ? Apa selama ini dirinya memang sudah menjadi target paparazi untuk dibongkar rahasianya.
"Sakhira Amira sang Ratu Drama. Arogansi sang gadis rupawan. Orang ketiga dalam hubungan Gray-Tania. Dan banyak lagi." Satria menyebut judul artikel tersebut.
"I-ini.. bagaimana bisa."
"Sakhira. Kau tentu sudah menerka akibat dari munculnya berita itu."
Sakhira diam. Ketakutan menghampirinya. Jangan sampai karirnya hancur. Tidak. Karirnya adalah segalanya.
"Semua membatalkan kontrak kerjamu. Tawaran yang ada untukmu pun mereka tarik kembali. Aku sudah berusaha membujuk mereka tapi nol hasilnya." Terang Satria.
"..."
"Yang sangat disayangkan adalah tingkah lakumu sebagai publik figur sangat sembrono. Kau lupa siapa dirimu. Kau seenaknya berbuat mengikuti egomu tanpa sadar bahwa setiap gerak gerikmu selalu diintai oleh paparazi."
"Siapa yang membocorkan permasalahanku merebut Gray dari Tania." Sakhira merasa bahwa Tania lah biang dari semua ini.
"Aku tak tahu siapa yang membocorkan masalah percintaanmu dengan Tania."
"Kau berbohong. Tak ada siapapun yang tahu kecuali mereka dan kau. Apa Tania yang melakukannya ? Tolong ! Jangan kau tutupi kenyataan itu , Tuan Satria." Ujar Sakhira.
"Kenapa bisa kau langsung menuduh Tania." Satria tak habis pikir dengan cara berpikir anak didiknya ini.
"Dia tentu sakit hati. Dia ingin menghancurkanku. Dia tahu benar betapa berharganya karirku ini. "
"Kau juga tahu betapa berharganya karir untuk Tania." Sang CEO menatap tajam Sakhira.
"Dan Kau salah. Disaat semua menjauhimu. Tania lah yang masih memikirkan perasaanmu."
Satria kesal melihat betapa menyebalkan Sakhira Amira dengan semua obsesinya. Dia sudah dibutakan hingga tak mampu melihat semua kebaikan dari Tania.
.
Satu minggu ini dilalui Sakhira dengan begitu berat. Ia tak memiliki banyak kesibukan. Ia hanya mendekam di aparteman miliknya.
Sakhira takut untuk keluar. Mengingat begitu banyak surat ancaman dan komentar netizen yang menyudutkannya. Hal itu terjadi karena kabar mengenai dirinya menjadi orang ketiga diantara hubungan Titania Scarlet dan Gray Alphanius. Dia juga mengkhianati kekasihnya sendiri.
Anonim_. Dasar wanita tak tahu diri. Mati saja sana !
Jzhsianpa . Wajahmu tak secantik kelakuanmu.
Ghianyoh. Haha.. boroknya ketahuan. Dasar pelakor.
Zhue Kegatelan sih. Hancurkan karirmu.
Begitulah komentar yang membanjiri akun sosial medianya. Mereka memojokkannya. Mereka menginginkannya mati.
Tak ada yang benar-benar pedulikan dia. Agensi memang sudah mencoba mengatasi semuanya. Tapi, tetap saja mereka kecolongan.
"Bahkan jika aku mati pun tak akan ada yang kehilangan." Lirih Sakhira.
Selain menerima banyak hujatan di dunia maya, Sakhira juga menerima kiriman aneh-aneh dari mereka yang menbencinya. Seperti yang ada di hadapannya kini. Boneka yang ditusuk paku. Bangkai. Dan surat ancaman tentunya.
Sungguh Sakhira tak tahu bagaimana bisa mereka mendapatkan akses ke dalam gedung aparteman nya. Karena keadaan dalam gedung ini sangat ketat. Bagaimana mereka bisa menyelundupkan semua ini ?
Karena tertekan seperti itu membuat Sakhira tak bisa beristirahat dengan tenang. Ia harus mengonsumsi obat tidur jika ingin tidur nyenyak.
Dalam keadaan depresi seperti ini Sakhira membutuhkan seseorang menemaninya. Selalu disisinya.
Andai hubungannya masih baik dengan Inari, Ema dan bahkan Tania. Mereka pasti dengan suka rela menemaninya.
Ya, andai saja.
.
.
Tania merasa terganggu dengan semua pertanyaan yang menanyakan masalalunya. Lagi lagi Gray. Lalu Sakhira. Ia bosan. Konferensi pers ini untuk mengklarifikasikan hubungannya dengan Farel. Bukan membahas dua orang pengkhianat.
"Apa benar kabar yang mengatakan bahwa Farel hanya menjadi pelampiasan dari gagalnya hubungan Titania dengan Gray ?."
"Tidak. Hubungan kami tak ada sangkut pautnya dengan masalalu Tania. Aku juga memiliki masalalu. Tak etis rasanya terus mengulik kehidupan masalalu kami. Sedangkan disini Aku dan Tania sedang menata untuk masa depan kami. Perlu kalian ketahui, Aku mencintainya sepenuh hati. Jadi tolong jangan berprasangka buruk tentang Tania-ku." Satria yang menjawabnya. Tersurat ketidaksukaan dari kekasih Titania Scarlet itu kala membahas masalah yang satu ini. Tania sendiri menggeggam tangan Farel untuk menenangkan.
"Lalu apa benar Sakhira Amira dalang dari bocornya hubungan kalian ?"
"Apa kalian tidak melihat akun sosial mediaku ? Bukannya aku sendiri yang mendeklarasikan hubunganku dengan Tania. Dan lagi kabar darimana itu. Aku tahu Sakhira Amira hanya sebatas teman seagensi Tania. Secara pribadi Aku tak mengenal siapa Sakhira Amira itu. Lagian untuk apa Dia melakukannya ? Dia juga memiliki segalanya, bukan."
Farel menuruti keinginan Tania untuk menutupi keburukan Sakhira.
Meskipun ia tetap memberikan sindiran halus.
"Satu pertanyaan terakhir. Pers ini akan ditutup." Ujar Satria jengah juga dengan mereka yang terus mengulik hubungan Farel, Tania, Gray dan Sakhira.
"Adakah rencana kalian untuk melangkah ke jenjang pernikahan ?"
Farel menyeringai senang. Pertanyaan yang ia tunggu. Hilang sudah bad mood-nya. Di balik panggung. Nico terus komat kamit mengeluarkan semua kata umpatannya. Kesal karena kalah berdebat dengan Nicolas Scarlet. Nico terpaksa menyetujui apapun yang dilakukan sialan itu.
"Tentu saja. Aku bahkan sudah membicarakan masalah itu dengan ayahanda Titania."
Tania mendelik. Ini tidak sesuai dengan yang mereka rencanakan. Bukannya mereka tak akan membahas masalah pernikahan?
"Dua minggu dari sekarang Aku dan Tania akan bertunangan. "
"Lalu ? Apa sudah ditentukan tempatnya ?"
"Apa akan diadakan pesta yang super mewah ?"
"Blaa.. blaa... blaa.."
Ini berita besar. Dengan kelihaian mereka selaku pemburu berita, mereka terus mencoba mengorek lebih dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
"Lalu, tepat di hari ulang tahun Tania. Kami akan melangsungkan pernikahan." Sambung Farel tak memperdulikan wajah kaget Tania. Pertanyaan beruntun dari mereka abaikan.
"Kau..."
"Aku sudah membicarakan semua ini dengan Ayahmu, Tania. Dan dia setuju. Nicolas dan Artamia juga sudah menyetujuinya.
Baiklah. Untuk kabar selanjutnya akan kami beritahukan melalui agensi kami. Terimakasih dan mohon restui hubungan kami."
.
.
Ditengah kabar bahagia yang datang dari pasangan fenomenal Farel Mahendra dan Titania Scarlet, Gray justru di dera kemarahan. Tak menerima kenyataan yang ada.
Ya, dia memantau melalui siaran langsung di sebuah stasiun televisi. Gray sudah memperkirakan bahwa Farel Mahendra sudah mendekati Reynaldo Scarlet. Tapi ia tak menyangka, bahwa seluruh keluarga Tania sudah merestui hubungan mereka. Pakai jimat apa si brengsek itu bisa meluluhkan Scarlet squad.
"Brengsek ! Bagaimana bisa dia meluluhkan sikap keras kepala dua Scarlet itu"
Dulu, Gray perlu berjuang keras untuk bisa mendapat restu dari Reynaldo. Ditambah menghadapi Nico yang dalam mode sister complex itu sangat menyebalkan. Tapi, Farel Mahendra dengan mudah mendapatkannya.
Tentu saja Gray tak terima. Dia adalah Alpha, dan Alpha akan mendapatkan apapun yang ia inginkan.
"*** ! Mahendrq sialan. Aku tak kan membiarkanmu mendapatkan Tania." Geram Gray.
"Harusnya aku tak menuruti Si Luffy. "
Kamar yang semula tertata begitu rapi kini telah berubah drastis. Banyak barang-barang pecah. Seperti kapal pecah saja.
.
.
Disisi lain, Ray dan yang lainnya sudah berada di Rumah Sakit tempat Sakhira menjalani pengobatan. Sesuai dengan yang diberitahukan Yuki, mereka bergegas menuju kamar inap Sakhira.
Sesampainya di depan ruangan tersebut, mereka berpapasan dengan Karim, dokter yang menangani Sakhira.
"Bagaimana keadaan Sakhira, Dok." Tanya Inari khawatir. Inari cukup mengenal sosok Dokter Karim.
"Dia sudah melewati masa kritisnya."
Mereka merasa lega mendengar kabar itu.
"Beruntung sekali Dia cepat dibawa kemari. Kalau tidak Sakhira mungkin sudah tak bisa diselamatkan."
"Maksud anda, Dokter?"
"Saat dibawa kemari dia dalam keadaan kritis karena ia menyayat tangannya. Dan dia juga overdosis."
"Apa !"
"Sakhira." Lirih Inari merasa iba. Ia yakin Sakhira pasti tertekan dan Dia sendirian tanpa ada yang menjadi sandaran baginya. Mendadak rasa bersalah menghampiri Inari.
"Apa kami bisa masuk untuk melihatnya ?" Tanya Luffy.
"Boleh saja. Tapi Dia sedang tertidur. Sebaiknya jangan diganggu dulu."
"Baiklah. Terimakasih, Dokter. "
"Ya. Kalau begitu saya permisi."
.
"Apa kita terlalu menekannya ?" Tanya Inari.
"Aku merasa bersalah dengannya." Bisik Luffy.
"Sakhira saja yang gak punya mental kuat . "
"Sai."
Gio segera menyumpal mulut sialan Sai.
"Ck. Harusnya kita tidak mengajak Sai." Ujar Gio.
Mereka sering kali lupa bahwa mulut Sai sering berkata seenak udelnya.
"Aku mengatakan apa adanya. Dia berani menyakiti orang lain. Tapi, Dia tak kuat menghadapi rasa sakit yang menimpanya. Apalagi namanya jika bukan mental tempe ?" Jelas Sai.
"Aku bukannya tak simpati dengan Sakhira. Hanya saja melihat kalian yang mendadak seperti ini membuatku muak. Menyesali dan menyalahkan diri tak kan membantu, bukan ? Yang sudah terjadi ya sudah." Sambung Sai.
Untuk pertama kalinya Sai berkata panjang lebar tanpa melepas filternya.
Inari dan Luffy terdiam. Ia tak membantah ocehan dadakan Sai. Akan panjang masalahnya jika berdebat dengan mulut nyinyir Sai. Ah, mungkin Sai salah satu admin akun gosip.
"Sudahlah. Ini bukan saatnya berdebat."
"Gawat !!" Seru Ema seusai menerima telepon dari seseorang.
"Apa lagi, Ema ? Ini juga sudah gawat."
"Luffy sebaiknya kau pergi ke tempat Gray." Perintah Ema tanpa menjelaskan apapun.
"Gray ? Untuk apa ?"
"Lakukan saja."
"Oi. Ema. Ada apa denganmu ?"
Inari tak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
"Tania mengumumkan pertunangannya dengan Farel Mahendra. Kau pikir Gray akan baik-baik saja." Terang Ema.
"Apa ??!!!"
Inari terduduk lemas. Hari Ini begitu banyak yang terjadi. Tak hentinya kejutan berdatangan membuat mereka susah untuk bernafas.
"Bagaimana bisa semua terjadi dihari yang sama ?" Gumam Gio.
"Aku bisa gila." Bisik Ray. Ema menenangkan sang kekasih.
"Tania tak pernah mengatakan masalah pertunangan. Kenapa tiba-tiba seperti ini ?" Gumam Inari.
Pikiran mereka terpecah belah. Mereke mengkhawatirkan keadaan Sakhira. Mereka juga mengkhawatirkan kewarasan Gray. Sedangkan untuk Tania mereka takut mengacaukan kebahagiaan Tania yang baru saja ia tapaki. Itulah salah satu alasan mereka tak memberitahu dulu keadaan Sakhira pada Tania.
"Kau temuilah Tania, Gio." Pinta Ray.
"Apa kau yakin ?"
"Entahlah. Kuharap kali ini berhasil. Cukup kejutan pertunangan Tania menghancurkan prediksiku."
"Baiklah. Aku akan menemui Tania."
"Ya. Kuserahkan padamu. "
Tanpa membuang waktu Gio bergegas menuju tempat Tania. Alasan Ray menyuruh Gio karena selain dirinya hanya pemuda Fernandes itu yang mendapatkan kepercayaan lebih dari Tania.
"Inari tetap disini. Ema dan Aku akan menemui Satria. Bagaimana pun jangan sampai keadaan Sakhira di ketahui publik. Ini demi nama baiknya juga. "
"Lalu aku ?" Tanya Sai.
"Kau. Sebaiknya disini saja... "
"Yakin? Gak takut Sakhira makin stress dengan adanya aku dan mulut tanpa filterku." Sai tersenyum palsu.
Ray menghela nafas. Ia tahu kekasih Inari ini sudah ilfil dengan Sakhira
"Kau pawangnya, Inari. Jangan biarkan Sai asal bicara."
"Baiklah." Inari melotot pada kekasihnya.
.
.
"GRAY."
Bersambung.