Our Love

Our Love
Episode 120



Pelayan itu tersenyum, "Baik nona. Kalau begitu saya permisi." ujarnya menghampiri pelayan lain yang mengusir anak kecil berpakaian lusuh kemudian berbisik. Petugas yang dibisik melirik sekilas ke arahnya kemudian pergi. Pelayan suruhan Livia tadi berbicara sebentar kepada anak kecil tersebut. Tak butuh waktu lama, ia datang memberikan makanan dan minuman padanya.


Senyuman itu muncul dari wajah anak kecil tersebut, ia berterima kasih lalu pergi. Dengan perasan mood yang bagus, Livia membalas chat dari Narul tersebut.


^^^Livia : Ayo, kapan kita mau ketemu?^^^


Narul : Kalian bisanya kapan?


"Kau sudah gila ya?" Livia terkejut menatap tamu yang tak diundang datang menghampirinya.


"Kenapa kau ada disini?"tanyanya sambil meletakan ponsel diatas meja.


Tamu itu duduk di bangku kosong depannya, "Memangnya kenapa? ini 'kan tempat umum."


"Ada perlu apa?"


Seorang pelayan menghampiri mereka, lebih tepatnya ke arah tamu yang tak diundang tersebut, "Nona, apa ada yang ingin anda pesan?" tanyanya memberikan menu padanya.


"Aku mau chesee cake dan ice americano." ujarnya mengembalikan menu pada pelayan tersebut, setelah mencatat pesanan ia pun pergi meninggalkan mereka.


"Aku ingin membicarakan mengenai kerjasama kita." ujarnya besandar di sofa.


Livia sedikit memajukan badannya dengan setengah berbisik mengatakan, "Bukankah kau masih belum berhasil membunuh salah satu diantara mereka?"


Tamu Livia juga ikut memajukan badannya dan dengan suara kecil, ia kembali bertanya,"Bukankah juga perusahaan itu sudah kau hancurkan? dengan apa kau membayarku?"


"Kalau begitu anggap saja kerjasama itu tidak ada, karena kau tidak berhasil membunuh dan aku juga tidak ada uang untuk membayarmu."


"Sayangnya aku tidak mau hal itu dilupakan. Bagaimana jika kita pergi ke tempat yang sepi untuk membicarakan hal ini?"


"Aku sedang malas membahasnya, Tiara."


"Tanpa hitam diatas putih."


"Oke, meskipun tidak ada surat perjanjian. Akan tetapi, kau tidak bisa begini dong. Mau menyerah begitu saja setelah semua yang sudah mereka lakukan padamu, orang tuamu bahkan perusahanmu?"


"Kenapa sih kau begitu ingin sekali aku membalas dendam pada mereka?"


"Ayolah Livia, kita memiliki tujuan yang sama."


Pelayan kafe kembali datang dengan membawa makanan dan minuman pesanan Tiara, setelah itu ia pergi. "Aku sedang tidak mau Tiara, jangan memaksa." ucapnya yang memotong brownies yang dari tadi tak disentuhnya, dan memasukannya dalam mulut.


Tiara berbicara dalam suara kecil, "Aku yakin kau masih belum menyerahkan diri ke polisi karena ada sesuatu yang mengganjal di hatimu dan itu belum tuntas." wanita itu berpangku tangan, "Aku bingung kenapa sampai sekarang polisi masih belum juga menangkap pelaku pengeboman di perusahaan Wijaya. Apakah ada sesuatu hal yang belum aku ketahui?"


"Tidak ada." jawabnya singkat.


Mendengar respon Livia, wanita itu menjauhkan tubuhnya, mulai memakan cake di depannya. "Kau tahu, beberapa waktu lalu Jimmy datang menemuiku." Livia terdiam, mengacuhkannya dan terlalu sibuk dengan makanannya sendiri juga sesekali bermain ponsel. "Hei, kau mendengarkan aku tidak sih?"


"Aku dengar." jawabnya tanpa melirik ke Tiara, masih sibuk akan chat dari teman-temannya yang membicarakan mengenai kapan mereka dapat berkumpul bareng.


"Lalu, kenapa kau tidak meresponku?"


"Ini aku sedang meresponmu, yaitu dengan mengacuhkanmu."


"Kau sungguh tidak mau membalas dendam lagi pada mereka?"


"Untuk sekarang aku sedang tidak ingin. Kenapa sih kau begitu gigih ingin mengajakku berkerja sama?"


"Karena kini mereka sepertinya sudah mengetahui dimana papaku."


-To Be Continue-