Our Love

Our Love
Part 38



"Aku juga tak habis pikir kenapa Yeni mau berteman dengan Livia. Anak-anakku sama sekali tak tahu soal itu. Hanya anakmu Hanna yang tahu dan masih mau berteman dengan Livia. Tolong jaga mulut puteri dan putra kalian agar tidak membocorkan hal ini pada Yeni ataupun Raka, anakku." Papa Yeni menatap kedua temannya dengan tajam.


"Bagaimana dengan urusan gadis bernama Tiara itu ?" (Papa Hanna)


"Aku akan menyewa seseorang untuk membuatnya celaka ya setidaknya Tiara harus koma di Rumah Sakit." Jawab Papa Yeni. "Dia harus membayar karena sudah membuat keributan di perusahaanku dan seenakjidatnya mengaku di media massa ingin menjadi menantuku, Cih."


*****


Hanna mengetok pintu ruangan Yeni, "Yen, aku ijin mau ajak Livia makan siang bareng boleh ? Sekitar jam 13.30 baru balik mungkin."


"Tumben sekali. Aku ikut Na. Si Ai Chan ama Nia tidak mau ikut juga ?"


"Entah. Aku belum tanya mereka."


"Bentar." Yeni menelepon, "Ai, lagi sama Nia tak ?"


"Iya kenapa ?"


"Aku ama Hanna mau ke kantor Livia ajakin dia makan siang. Kalian mau ikut ?"


"Bentar tanya Nia dulu." Ai Chan mendekati meja Nia setelah itu ia balik ke mejanya, "Nia diajak makan siang ama kakakmu Yen."


"Ya uda kau mau ikut ? kalau mau, kita ketemu di pakiran aja ya. Pakai mobilku."


"Tidak Yen. Devisiku ajak makan siang bareng. Sorry ya."


"Oke." Yeni menutup teleponnya. "Nia dan Ai Chan tak bisa ikut. Kita berdua saja ayo turun."


Hanna terdiam. Niat awalnya sengaja kesana ingin berbicara dengan Jimmy malah menjadi seperti ini.


Haruskah ia membongkar semua itu ke Yeni ya ?


Tapi, ia sudah berjanji pada papanya untuk tidak memberitahukan pada siapapun.


*******


Yeni tiba di depan ruangan Jimmy, "Livianya ada ?"


"Maaf nona, Livia sudah pulang 30 menit yang lalu." Jawab Bu Jasmine.


"Kok bisa?"


Jimmy membuka pintu ruangannya, "Oh kalian. Livia sudah aku suruh pulang tadi. Bu Jasmine suruh OB belikan makanan untukku. Kalian mau makan di luar ? Kebetulan ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua."


"Apa itu ?" Yeni menatapnya bingung. "Terkait perusahaan kita bertiga."


Hanna membulatkan matanya, "Kau sudah mengetahuinya ?"


"Baru saja tadi."


"Apa yang kalian berdua sembunyikan dariku ?" Yeni menatap tajam ke arah mereka.


"Makanya aku menawarkan bagaimana jika kita berbicara di dalam sambil makan siang."


"Ya sudah. Belikan aku fish and chip dan minumannya ice americano." Yeni menatap bodyguard wanitanya.


"Aku mau nasi capcay dan ice americano juga."


"Baik nona."


Jimmy membuka pintu ruang kerjanya, "Mari masuk."


Yeni duduk di sofa, "Jelaskan semuanya sekarang."


Jimmy mendesah pelan, "Tidak sabaran sekali sih. Kau tahu Livia satu-satunya ahli waris dari perusahaan Wijaya ?"


"Kami tahu akan hal itu ternasuk teman-teman yang lain."


"Kau tahu kematian orang tua Livia karena ulah orang tua kita." Jimmy menatapnya.


"Aku tidak.. Apa !!"


"Ya aku tahu." Jawab Hanna.


Yeni menatap Hanna, "Sejak kapan kau tahu ?"


"Sejak sebelum kenal kalian."


"Dan kau merahasiakan selama ini dariku ?"


"Aku mana tahu kalau kau sama sekali tidak mengetahui semua ini." Ujar Hanna.


"Kalian tidak berbohong kan ? Jangan bercanda. Aku tak suka."


"Awalnya aku juga tak mau percaya tapi memang seperti itu kenyataannya. Kami memang tak punya bukti, kau bisa tanyakan langsung ke ayahmu mengenai hal itu."


Yeni melipat kedua tangannya di dada, "Bagaimana dengan Livia ?"


"Dia sama sekali tidak tahu akan soal itu. Aku rasa yang dia tahu hanyalah perusahaan keluarganya itu sudah bangkrut akibat ulah paman dan bibinya." Jawab Hanna.


"Dan Tiara, wanita gila itu datang ke kantor untuk memerasku dia mengancam akan menyebarkan info ini ke publik." Ujar Jimmy memainkan ponselnya.


Yeni mendelik tajam, "Apa kau bilang??"


"Dia juga tadi datang menemuiku juga untuk mengancam cuma bedanya dia tak meminta uang."


"Menghancurkan kau dan Livia. Aku sudah memberitahu papaku. Aku rasa paling dia juga akan memberitahu ayah kalian soal Tiara." Hanna menatap pintu yang terbuka. OB dan Bodyguard Yeni mengantarkan makanan serta minuman pesanan mereka.


"Kau bisa istirahat makan siang dulu." Ujar Yeni pada bodyguardnya.


"Baik.Kalau begitu saya permisi." Bodyguard Yeni berserta OB pergi.


"Ya sudah masalah Tiara tak perlu diambil pusing. Para ayah kita yang akan mengurusnya ini. Sekarang bagaimana ini keadaan kita dan Livia ?" Yeni membuka makanannya.


"Kalau kalian berdua aku tak tahu. Kalau aku sepertinya akan menyuruh papa mempercepat untuk mengangkat Livia jadi adik angkatku lalu kemudian menyerahkan seluruh perusahaan ini padanya seperti yang sudah seharusnya."


Yeni tertawa meremehkan, "Lalu, kau dan keluargamu akan jadi gelandangan begitu ?"


Jimmy tersenyum menatapnya, "Bukankah kalian juga akan ikut jadi gelandangan ? Separuh saham perusahaan kalian berada disini akibat ulah orang tua kita."


"Livia tidak akan sejahat itu membiarkan kita jadi gelandangan." (Hanna)


"Kau yakin ? Aku rasa tidak. Mengingat papamu lah yang menyebabkan orang tuanya meninggal 12 tahun yang lalu, dan kakekku juga ikut meninggal akibat ide dari papamu."


"Jangan mengada-ngada. Itu tidak mungkin."


"Kau bisa bertanya sendiri kepada papamu, Hanna Aurelia Wibowo. Diantara kita papamu lah menjadi penyebab orang tua Livia meninggal." Jimmy menatap Yeni, "Dan papamu ikut andil dalam meninggalnya paman dan bibi Livia."


"Lalu kau juga sama. Papamu mengambil alih perusahaan Wijaya dan mengubah namanya lalu menutupinya selama 12 tahun belakangan ini."


Tiara yang datang ke perusahaan Jimmy langsung masuk ke ruangannya, "Dan jangan lupakan karena kalian, Livia jadi seperti sekarang. Kalian bertiga adalah anak dari orang-orang yang menghancurkan hidup Livia selama 12 tahun ini. Kalian lah yang membuatnya trauma." Tiara tersenyum mencibir, "Aku penasaran bagaimana jika Livia tahu bahwa 2 sahabat kampusnya dan 1 teman kecilnya yang sangat dekat padanya adalah anak dari orang-orang yang sudah membuatnya kehilangan seluruh anggota keluarganya. Pasti sangat menarik sekali jika Livia mengetahuinya."


"Kau mengancam kami semua ?" Yeni datang menghampirinya.


"Tentu saja. Kartu AS kalian berada di tanganku sekarang. Kalau kalian berani macam-macam akan aku bongkar semuanya ke Media dan Livia." Ancam Tiara.


Yeni tertawa merendahkan, "Apa kalaupun kami hancur tentunya kau tidak dapat keuntungan apa-apa. Dan juga, aku akan bisa membongkar semua kebusukanmu. Kau adalah anak haram dari seorang yang kaya dan kau salah satu penjual obat-obatan terlarang dari Luar negeri yang masuk ke Indonesia. Jika kami hancur tentunya kau pun akan kami bawa."


Yeni memukul Tiara sampai pingsan dengan tangannya. "Kau punya tali ?"


"Ada sebentar." Jimmy menuju mejanya.


Yeni menelepon papanya, "Pa. Aku sudah membuat Tiara pingsan bisa anak buah papa mengurungnya agar tak berbuat ulah lagi. Aku benci melihatnya selalu menganggu Kak Raka dan mengacau di perusahaan kita."


'Dimana alamatnya ?'


"Perusahaan Jimmy."


"Kenapa kau pergi kesana ?"


"Papa lupa, kita ada kontrak kerjasama dengan mereka." Jawab Yeni bohong.


Tentu saja membahas masalah yang papa buat hingga aku kena dampaknya.


"Ya sudah anak buah papa akan menunggu di pakiran mobil perusahaan itu. Nanti mereka akan menghubungimu."


"Ya." Yeni menutup teleponnya.


"Ini talinya." ujar Jimmy.


"Kau ada lift khusus langsung ke pakiran mobil ?"


"Ada di ruangan ini langsung tembus ke bawah cuma jarang aku pakai." Setelah mengikat tangan dan kaki, membekap mulut Tiara. Yeni menyuruh Jimmy untuk menyembunyikan wanita itu.


"Apa tidak bahaya kalau kau biarkan dia hidup ?" Tanya Hanna.


"Aku tak mau mengotori tanganku yang suci ini dengan darah kotor di tubuhnya." Yeni melanjutkan makanan. "Kau saja yang bunuh kalau kau ingin."


"Aku juga tak mau mengotori tanganku."


"Jadi apa yang harus kita lakukan ?" Jimmy menatap mereka.


"Ya tidak melakukan apa-apa. Bersikaplah seperti biasa di depan Livia." Ujar Yeni tanpa menatapnya.


"Aku mau tanya, kalian sudah tahu orang tua kalian begitu pada Livia kenapa masih berteman dengannya sampai sekarang ?"


"Aku saja baru tahu hal ini dari kalian."


"Kau tidak mengecek latar belakang mereka dulu ?"


"Kau gila ? untuk apa aku mengecek sahabatku sendiri. Kau pikir aku sekurang kerjaan itu. Ck." Jawab Yeni.


"Kalau aku ya, awalnya ingin tahu bagaimana sosok dari ahli waris Wijaya. Tapi, semakin berteman dengannya malah semakin membuatku merasa bersalah. Maka dari itu, aku selalu mencoba untuk membelanya kalau kau atau Tiara berbuat aneh-aneh." Ujar Hanna.


"Aku tidak berbuat aneh-aneh Hanna."


Yeni berdiri, "Hanna, ayo balik ke kantor."


"Hei.. ini sampah makanan kalian harus diberesin."


"Kau kan CEO disini. Suruhlah OB mu bereskan." Yeni dan Hanna berjalan mendekati pintu.


"Oi, Tiara itu gimana oi ?"


Yeni berbalik membuka ponselnya, "Anak buah papaku sudah dibawah. Kau gendong Tiara ke basement menggunakan lift pribadimu."


Jimmy bergumam, "Entah kenapa aku merasa jadi babumu sih."


-To Be Continue-