
"Tidak usah, Ai. Aku punya ide." Yeni tersenyum. 3 pemberitaan yang diberikan Nia terpampang jelas di layar ponsel teman-temannya.
" YENI KUSUMA MENGUSIR MANTAN PACAR CEO SB CROP DARI VILLANYA."
"YENI KUSUMA BERTEMAN DENGAN SEORANG PENCURI."
"MANTAN PACAR SB CORP DAN CEO PERUSAHAAN KUSUMA BERPACARAN ??"
Raka menatap ketiga pemberitaan itu, "Apa yang akan kau lakukan ?"
"Kita ke 1 kamarku aja." Yeni naik ke lantai atas diikuti oleh yang lain. Begitu tiba di kamar, ia langsung mengunci pintu kamar dan menekan sebuah tombol dari ipadnya hingga dinding kamarnya berubah menjadi gelap dan kedap suara agar tidak ada seorangpun dapat menguping pembicaraan mereka dari luar.
Hanna meminjam laptop milik Yeni untuk melacak siapa yang sudah menyebarkan info. Walau sebenarnya mereka memang sudah tahu tapi tidak ada bukti nyata yang mengarah pada orang tersebut. "Ai Chan, buat 1 akun palsu. Pakai laptop ini saja yang sudah mau rusak." Yeni memberikan laptop gold padanya, "Di laptopku ada file CCTV mengenai Tiara yang memasukkan perhiasan ke tas Livia dan menuduhnya sebagai tersangka. Kau sebarkan itu di dunia maya. Tapi, wajah Tiara jangan di blurr biarkan saja. Nanti juga kalau TV dan media lain ambil mereka akan blurr wajah itu sendiri."
"Okee.." Ai Chan langsung mengerjakan tugasnya.
"Apa tidak apa-apa, Yen ?" Narul khawatir.
"Ini masih ditahap baik ya, Rul. Sementara namaku tercoreng di berbagai pemberitaan gara-gara wanita gila itu. Ai, lampirkan juga penjelasan bahwa karena video itu akhirnya aku mengusir Tiara dari Villa ini." Yeni menatap Raka, "Berita terakhir kakak urus sendiri."
"Ya."
"Akun palsunya Tiara, Yen." Hanna menatapnya.
"Tunggu aja sampai besok."
*********
Perusahaan Kusuma ramai dipenuhi oleh wartawan, "Kak. Kau yang urus ya.. atau kalian bertiga deh." Ujar Yeni menatap kakaknya juga pada Hanna, Nia dan Ai Chan. "Aku lagi pusing ama banyak kerjaan dibanding urus begituan."
Raka menggandeng tangan Nia, "Ayo kita berdrama." Mereka keluar dari mobil bersamaan dengan Yeni, Ai Chan dan Hanna yang berada di belakangnya. Sontak semua wartawan mengerumuni mereka.
"Apakah benar anda berpacaran dengan wanita dengan inisial T ?" Tanya seorang wartawan.
Raka tersenyum, "Tidak. Justru gadis disamping saya adalah kekasihku."
"Apakah benar pemberitaan mengenai pengusiran wanita inisial T itu bohong ?" Tanya wartawan yang lain.
"Iya itu bohong. Kami juga baru dapat kabar kalau ada video tersebar dimana wanita inisial T itu menjebak salah satu teman saya itu adalah benar. Kami tidak tahu siapa yang menyebarkannya. Kami sedang mencari tahu mengenai hal tersebut." Yeni berbicara.
"Lalu, bagaimana dengan anda yang mempunyai teman seorang pencuri ?"
Yeni tertawa kecil, "Saya bingung kenapa ada pemberitaan seperti itu. Yang benar saja. Kenapa saya harus berteman dengan seorang pencuri ? Yang ada sudah dari dulu kami jatuh bangkrut." Mereka pergi masuk ke dalam meninggalkan wartawan yang masih terus memberikan berbagai pertanyaan.
Hal tersebut pun disiarkan langsung secara Live di TV. "Untunglah kali ini tidak ada sangkut pautnya denganku." Jimmy mematikan televisi di ruangannya.
"Hmmh. Karena Tiara tidak ada masalah denganmu." Jawab Livia.
"Aku heran kenapa kau dan teman-temanmu yang lain mau berteman dengan gadis seperti Yeni ? Dia sangat galak."
"Dia galak kemarin karena memang tak suka diganggu. Aku rasa Raka sudah menjelaskannya padamu. Lagian siapa suruh kau membawa wanita itu kemarin."
Jimmy tersenyum menghampiri Livia, "Kau cemburu ?"
"Siapa juga cemburu. Kerjaanku sudah selesai. Mau cek dulu ?"
"Semuanya ?"
Jimmy mengganguk, "Iya. Itu tidak buru-buru kok. Kau bisa berhenti kalau kerjaanmu sudah datang. Sekarang kerjakan itu karena saya mah meeting di lantai bawah." Ia pergi.
"Kasih kerjaan tidak dikira-kira banyaknya." Gumam Livia.
******
Tiara melempar remote TV nya usai Raka dan Yeni memberikan klarifikasi secara live. "Sepertinya aku harus meminta bantuan seseorang untuk menghancurkan mereka semua. Tapi siapa ya ???"
Tok...tok...tok...
"Masuk."
Seorang pria berbaju hitam masuk, "Permisi nona. Saya membawakan semua data mengenai teman-teman dari Yeni Kusuma."
"Bagus. Kau boleh pergi nanti akan saya transfer." Pria itu membungkuk lalu pergi. "Coba kita lihat siapa dari orang terdekat Yeni yang bisa aku manfaatin."
10 menit berlalu, "Livia adalah anak tunggal dari keluarga Wijaya. Kenapa aku baru tahu akan hal ini ? Mengenai keluarga wijaya, perusahaan mereka juga sudah lama tidak aku dengar lagi sejak 12 tahun yang lalu tepat dimana kecelakaan orang tuanya juga kakek Jimmy.. Wow..gadis itu kenapa menyimpan banyak sekali rahasia yang aku baru tahu ?"
Tiara melemparkan 5 dokumen mengenai teman-teman Livia, "Hanya Livia dan Yeni yang menarik. Sisanya biasa saja." Mata hitamnya menatap 1 dokumen yang belum ia baca. Hanna Aurelia Wibowo.
******
"Ada yang bisa saya bantu ?" Ujar resepsionis perusahaan Kusuma pada tamu yang baru saja datang.
"Saya ingin bertemu dengan Ibu Hanna Aurelia. Saya belum membuat janji. Katakan saja Tiara datang ingin berbicara dengannya."
Resepsionis itu menelepon ke meja Hanna, "Bu, Ibu Tiara mencari anda. Baik bu." Ia menutup teleponnya, "Sebentar lagi beliau akan turun."
Tak butuh waktu lama, Hanna turun, "Kenapa mencariku?"
Tiara tersenyum, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kita bicara di cafe sebrang."
"Baiklah." Mereka pergi dari lobby.
Hal tersebut dilihat oleh Yeni dari computer CCTV miliknya. "Apa yang mereka bicarakan ?"
Begitu tiba di cafe, Hanna segera memesan ice americano. "Langsung saja karena ada banyak pekerjaan yang harus aku urus."
"Oke. Aku akan langsung saja. Bagaimana kalau kita kerjasama untuk menghancurkan Yeni dan Livia?"
Hanna tertawa kecil, "Apakah kau sudah gila ?"
Tiara memainkan sedotan minumannya, "Aku tidak gila. Kau harus membantuku mendapatkan Raka sekaligus menghancurkan Livia dan Yeni."
"Kalau aku tidak mau ?"
Tiara melipat kedua tangannya di dada, "Aku sudah mencari semua informasi mengenai kalian, termasuk kau. Kalau kau tidak mau membantuku maka..." Tiara berjalan menghampiri Hanna dan berbisik, "Aku akan menyebarkan info kalau 12 tahun yang lalu orang tuamu yang menyebabkan Orang tua juga paman serta Livia dan seorang kakek meninggal dunia. Tidak lupa bahwa orang tuamu sempat mengambil alih perusahaan Wijaya tapi sampai sekarang tidak ada kabar lagi mengenai hal itu." Tiara berdiri. "Aku tunggu jawabanmu hari ini." Ia menepuk bahu Hanna, "Tolong kau pikirkan." Tiara pergi meninggalkan Hanna sendirian.
-To Be Continue-