
Saat ini Alex, Tony dan Fino sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas soal paket yang di tujukan untuk Ara.
Mereka tinggal menunggu ke datangan Riko yang masih dalam perjalanan. Sedangkan Ara di kamar sedang beristirahat di temani oleh Lisha, selesai di periksa dokter Heru.
“Kira-kira siapa pengirimnya?” ucap Alex membuka pembicaraan.
“Apa Ara punya musuh?” ucap Tony menatap Alex dan Fini bergantian.
“Itu tidak mungkin” jawab Alex.
“Ya itu sangat tidak mungkin. Karena selama ini Ara hanya berteman dengan Letha. Ara juga tidak pernah mengusik orang lain” tambah Fino.
Mereka tampak berpikir keras menebak siapa orang di balik pengiriman paket ini. Sampai terdengar suara derap langkah mendekat dan ternyata Riko yang baru saja tiba.
“Bagaimana keadaan Ara?” cemas Riko sampai di ruang keluarga.
“Tenang lah Rik. Ara sedang istirahat di kamar di temani istriku. Duduk lah” ucap Fino.
Riko pun duduk di samping Fino berhadapan dengan Alex dan Tony.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Ara?” tanya Riko.
Selepas rapat tadi Riko mendapat kabar dari Fino kalau Ara pingsan dan menyuruhnya agar segera datang ke rumah Alex.
“Jadi ada paket datang yang ditujukan untuk adikku. Awalnya bi Surti dan Ara bingung karna tidak ada alamat pengirim. Mereka juga menebak kalau paket ini dari dirimu. Dan saat di buka paket itu berisi bangkai anak kucing yang masih berlumur darah segar. Di dalam paket itu juga ada kertas bertulis ‘Kau akan mati Ara’. Hal itu lah yang membuat Ara ketakutan dan pingsan karna syok” jelas Alex dengan rahang mengeras menahan emosi.
Riko terdiam setelah mendengar cerita dari Alex. Sampai ia tersadar ada hal ganjal yang terjadi hari ini. Riko berusaha mengingat hal apa yang terjadi seharian ini yang menurutnya ada sangkut paut dengan paket yang di terima Ara tadi.
“Brengsek” teriak Riko menggebrak meja membuat Alex, Fino dan Tony terkejut.
“Kau ini kenapa malah menggebrak meja? Ck bikin kaget saja” kesal Tony.
Bukannya menjawab Riko malah menatap Tony tajam membuatnya menutup rapat mulutnya.
‘Ck kenapa tatapannya menakutkan sih’ batin Tony.
“Ada apa?” tanya Alex dan Fino bersamaan.
“Tadi sebelum rapat di mulai Clara datang ke kantor menyuruhku untuk berpisah dengan Ara dan kembali padanya. Dengan tegas ku tolak dan aku baru ingat, Clara sempat menggertakku. Aku yakin pasti pengirim paket itu adalah Clara” geram Riko.
“Sialan sepertinya dia ingin bermain-main dengan kita” ucap Fino mengepalkan tangannya.
“Tapi kita tidak ada bukti untuk menyeretnya ke penjara. Karena dia melakukannya semua ini dengan sangat rapi” ucap Tony.
Sedangkan Alex tampak diam memikirkan sesuatu yang pasti tebakannya saat ini benar.
“Ada pelaku utama di belakang wanita ular itu” ucap Alex datar membuat ketiga pria itu menatapnya penuh tanya.
“Maksudmu?” tanya Fino.
Alex menatap tajam ke arah Fino seakan menjawab pertanyaannya barusan.
“Tidak mungkin, orang itu masih di luar negri” ucap Fino.
“Ck kalian ini bicaralah yang jelas” kesal Riko belum paham.
“Felix Alardo” ucap Alex datar sambil menyandarkan punggungnya.
Fino memijat keningnya yang terasa pusing memikirkan ini semua.
“Maksudmu dalang sesungguhnya dari ini semua adalah Felix Alardo?” tanya Riko.
“Siapa lagi kalo bukan pria tua itu. Aku sudah menebak dia akan bergerak cepat setelah mendengar semuanya dan memanfaatkan orang lain untuk mencapai apa yang dia inginkan” ucap Alex dengan tenang.
“Kau pikir apa lagi selain itu semua? Orang yang kau sebut papa itu tidak akan pernah berhenti melakukan kejahatan sebelum di lenyapkan” ucap Alex penuh amarah.
“Tony suruh anak buahmu untuk selidiki dimana pria tua itu berada. Kirim juga beberapa irang untuk mengawasi wanita bernama Clara itu. Aku yakin wanita itu menerima kerja sama dengan pria itu untuk mendapatkan Riko. Perketat pula keamanan rumah ini. Lakukan apa yang harus kau lakukan saat ini” perintah Alex pada Tony.
“Siap tuan, kalau begitu saya permisi” jawab Tony bangkit pamit lalu pergi.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Fino tertunduk frustasi akan tingkah sang papa yang masih menyimpan dendam.
“Menjaga Ara dan jangan biarkan mereka menyentuh Ara walau hanya seujung kuku sekali pun” ucap Riko menepuk bahu Fino.
Riko paham betul bagaimana perasaan Fino saat ini. Akan sangat sedih melihat orang dalam hidupnya menjadi penjahat. Riko pun bangkit untuk melihat Ara di kamar, memberi waktu untuk Alex dan Fino berbincang.
“Aku mau lihat Ara dulu di atas” pamit Riko.
Alex hanya berdehem sebagai jawaban kalau ia mengijinkan Riko ke atas menggantikan Lisha menjaga Ara. Alex juga berpesan pada Riko agar Lisha istirahat di samping kamar Ara.
Hanya tersisa Alex dan Fino di ruang keluarga. Mereka saling diam menikmati keheningan dengan pemikiran masing-masing.
“Susul istrimu sana dan istirahatlah. Kau boleh menginap di sini” ucap Alex bangkit.
“Jangan menahan dirimu untuk membongkar segala kejahatan papa ku. Lakukanlah jika itu bisa menyelamatkan Ara dari bahaya yang berkepanjangan ini. Kau tidak perlu memikirkan ku. Karna yang terpenting adalah keselamatan Ara dan dirimu” ucap Fino ikut bangkit berdiri di belakang Alex.
“Setidaknya itu semua sebagai tebusan atas segala kejahatan papa pada keluarga mu” sambung Fino lalu pergi menyusul sang istri yang mungkin sedang istirahat.
Alex menatap punggung Fino yang melangkah menjauhi nya lalu hilang di balik tembok pembatas.
“Huh si tua bangka itu kenapa tidak cepat mati saja sih. Mempersulit keadaan masih saja hidup” kesal Alex mengacak rambutnya lalu pergi ke kamar.
“Sepertinya aku butuh istirahat. Astagaaa” gumam Alex.
Sedangkan di kamar Ara, Riko masih setia duduk menemani Ara yang masih tertidur pulas. Lisha sendiri sudah istirahat di samping kamar Ara. Perutnya yang semakin buncit membuat Lisha mudah lelah.
“Aku janji akan selalu jagain kamu Ra” ucap Riko sambil mengusap kening Ara lembut.
...****...
Di apartement mewah seorang wanita tertawa puas dengan apa yang ia lakukan hari ini.
“Ini masih awal sayang. Dan akan aku pastikan sebentar lagi kau akan menggali kuburan untuk kekasih kecilmu itu” puas wanita itu yang tak lain Clara.
Ddrrttt ddrrttt
“Halo” sapa Clara.
“....”
“Tenang saja semua akan berjalan lancar tuan” ucap Clara tersenyum miring.
“....”
“Aku dengan mereka akan bertunangan dalam waktu dekat ini. Sepertinya itu waktu yang tepat dalam menjalani rencana kita” saran Clara pada orang di seberang sana.
“....”
“Baik tuan” ucap Clara menutup telponnya.
Clara tersenyum miring sambil menatap indah nya kota sore ini. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Clara sudah di butakan oleh cinta.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥