
Sudah tiga hari sejak pertengkaran Riko dan Ara waktu itu, dan kondisi Ara sendiri sudah membaik walau masih sering mual di pagi hari.
“Kamu yakin tidak mau ke dokter sayang?” tanya Riko memapah istrinya keluar dari kamar mandi.
“Enggak” lirih Ara.
Riko menghela nafas, resiko punya istri keras kepala pikirnya.
“Oke kita gak akan ke dokter, tapi kalau besok pagi masih mual kita ke dokter mau gak mau” tegas Riko.
Ara memutar bola mata malas mendengar penuturan suaminya ini,
Tak!
“Aduh kog dijitak sih?” rengek Ara.
“Siapa suruh mutar mata kayak tadi?” tanya Riko berkacak pinggang.
Bukannya takut Ara malah memeluk manja suaminya.
“Maafin gak sengaja” dengan wajah dibuat seimut mungkin.
“Hih gemesin banget sih” gemas Riko yang tak tahan melihatnya.
“Hehehe, Ara lapar” manja Ara mendusel di dada bidang Riko.
“Lapar? Mau makan pakai apa? Kayaknya bibi udah selesai masaknya. Kita kebawah ya” ajak Riko.
“Mau nya salad buah aja” ucap Ara bergelayut manja dilengan suaminya.
“Salad lagi?” heran Riko menatapa istrinya.
Mendengar nada sang suami yang keberatan dengan permintaannya membuat Ara menepis kasar lengan Riko dengan wajah cemberutnya. Oh ayo lah itu malah terlihat menggemaskan dimata Riko.
Beberapa hari ini Ara tidak hentinya minta dibuat kan salad buah untuk sarapan. Itu pun harus Riko yang membuat saladnya. Pernah dua hari lalu bi Sri yang menyiapkan salad buah untuknya, bukannya di makan Ara dibuat mual kembali. Dan anehnya saat makan salad buatan sang suami mualnya hilang seketika.
Dari situlah bi Sri menyarankan tuannya untuk mengantarkan istrinya periksa. Tapi karena keras kepalanya sang istri Riko harus ekstra sabar.
“Kak Fano gak mau buatin salad buahnya kan” rengek Ara.
“Bu-bukan gitu sayang, aku cuma heran aja beberapa hari ini kamu minta dibuatin salad buah dan itu pun harus aku yang buat kan aneh gitu” ucap Riko dengan wajah polosnya.
“Tapi aku bakalan buatin apapun buat kesayanganku ini” sambung Riko saat melihat wajah badmood sang istri yang menjadi.
“Ck dasar nyebelin, tapi pengen peluk” gerutu Ara sambil memeluk suaminya.
Riko terkekeh membalas pelukan hangat istrinya. Beberapa hari ini mungkin Ara sedikit bertingkah aneh mulai dari makan harus makan ini itu buatan dirinya pula, sifat manja Ara pun juga naik turun.
“Yaudah sekarang kita ke bawah ya sayang, aku buatin kamu salad buah dulu hmm” ajak Riko merangkul istri kecilnya.
Mereka pun beranjak menuju dapur, Riko menyuruh sang istri untuk duduk saja di meja makan. Sedangkan ia mulai berkutat dengan beberapa buah yang sudah di bersihkan dan siap ia jadikan salad.
“Cepetan kak” ucap Ara saat merasa air liurnya akan jatuh hanya dengan membayangkan salad buah buatan suaminya itu.
Riko tersenyum menatap Ara gemas “Sabar, bentar lagi sayang”
10 menit kemudian.
Riko membawa semangkuk salad buah dan meletakkannya di depan Ara yang sudah siap menyantap sedari tadi. Riko langsung menahan tangan sang istri.
“Doa dulu sayang” ucap Riko dibalas cengiran oleh Ara.
Ara meletakkan sendoknya dan berdoa sebelum makan. Hal kecil seperti ini lah yang pernah Riko bayangkan dulu dan kini sudah menjadi nyata untuknya.
“Dah selesai doa, boleh dimakan?” tanta Ara membuat Riko tertawa kecil sambil menganggukkan kepala.
“Pelan-pelan makannya sayang” ujar Riko mengusap surai hitam sang istri.
“Hmmm enak” Ara menyantap saladnya dengan semangat.
Sampai tiba pelayan menyiapkan beberapa lauk di atas meja makan yang seketika mengganggu Ara, seketika rasa mual kembali menyerang saat mencium bau beberapa makanan.
Spontan Ara bangkit berlari ke kamar mandi yang tidak jauh dari dapur. Riko yang paham gelagat sang istri langsung mengikutinya.
Huueekk
Huueekk
Huueeekk
Ara memuntahkan semua yang baru saja ia makan sambil menangis di depan kloset. Riko yang masuk langsung memijat tengkuk sang istri.
“Hiks gak mau” rengek Ara.
“Tapi kamu muntah terus lo Ra, bikin aku panik”
“Enggak mau pokoknya gak mau kak, Ara mau ke kamar aja tapi lemes hiks” rengek Ara yang masih saja kerasa kepala.
Riko hanya menghela nafas lalu mengangkat tubuh lemas Ara ke dalam dekapannya. Saat melewati meja makan Ara langsung menutup hidungnya.
“Kenapa? Masih mau muntah lagi?” tanya Riko masih dengan raut wajah cemasnya.
Sedangkan Ara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Sesampai nya di kamar Riko membaringkan sang istri di atas ranjang dan duduk di sampingnya.
Ara perlahan duduk bersandar lalu menatap Riko dengan wajah polos menggemaskan.
“Kenapa? Mau makan sesuatu?”
“Saladnya bawa sini kak” lirih Ara.
“Mau makan di sini? Yaudah tunggu sebentar ya”
Riko segera bangkit untuk mengambil semangkuk salad milik istrinya yang masih tersisa banyak. Tak butuh waktu lama Riko datang bersama semangkuk salad milik Ara.
Seperti tidak terjadi apa-apa Ara menyantap salad buahnya dengan lahap. Setiap melihat salad buatan sang suami membuatnya semangat makan. Tak jarang Riko membuat satu porsi salad lagi. Tapi kali ini Ara hanya ingin menghabiskan tanpa menambah.
“Lahap banget sih, enak ya”
Ara hanya menganggukkan kepala sambil mengunyah makanannya. Riko dibuat sedikit lega dengan cara makan sang istri yang lahap. Tapi ia juga dibuat bingung dengan tingkah Ara beberapa hari ini. Sepertinya ia harus ekstra membujuj sang istri agar mau dibawa kedokter untuk diperiksa. Bukannya apa, ia hanya takut istri kecilnya ini kenapa-napa.
Tidak butuh waktu lama bagi Ara menghabiskan saladnya, Riko meraih mangkuk dan meletakkannya di atas nakas. Dan memberikan segelas air putih untuk Ara.
“Makasih suamiku” lirih Ara menunduk malu-malu kucing.
Riko terkekeh mendengarnya, walau pun lirih ia masih bisa mendengar ucapan sang istri barusan.
Cup.
“Sama-sama sayang” ucap Riko sambil mengecup bibir manis sang istri yang semakin membuat rona merah terlihat jelas di kedua pipi Ara.
“Malu” gumam Ara masuk kedalam dekapan sang suami menyembunyikan rona merah di pipinya.
Krucuk krucuk...
Ara langsung duduk tegap menatap Riko yang menyengir kuda. Suara perut Riko barusan benar-benar mengacaukan keromantisan mereka.
“Kakak laper ya, maafin Ara ya belom bi-“
“Sssttt diem” potong Riko sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara.
Riko menangkup wajah sang istri lalu mengecup seluruh wajahnya membuat Ara tertawa kegelian.
“Kamu istimewa Ra bagi aku. Jadi jangan pernah mikir yang enggak-enggak okay? Kamu istri terbaik bagi aku sayang” ujar Riko memeluk Ara.
“Makasih kak, udah nerima segala kekurangan Ara. Sekarang kakak makan dulu sana akutemenin” sahut Ara.
“Enggak usah, kamu istirahat aja. Kakak makan sendiri aja. Sekarang kamu istirahat aku makan sebentar okay cantik”
“Okay tampan” balasa Ara.
...****...
Hallo semua, akhirnya bisa ketemu kalian lagi. Ya ampun udah lama banget lo ya aku gak up ini. Astaga maapin ya gais.
Semoga kalian suka dan aku mau kasih info nih, kalo ekstra partnya bakal q tambahin 2 lagi.
Trus kira-kira kalo q buat sequal dri novel ini kalian mau anak dari pasangan siapa nih?
• Riko & Ara
• Alex & Letha
• Fino & Lisha
• Tony & Arumi
Jangan lupa komen ya. Makasih sayangkuh semua😁