My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 7



Pagi ini Ara sudah dibolehkan pulang dan beristirahat dirumah. Lisha sedang membantu memasukan semua pakaian Ara ke dalam ransel milik Fino yang tadi ia bawa. Fino sendiri sedang mengurus administrasi. Ara hanya terdiam diatas ranjang menatap pintu ruang rawatnya seakan menunggu seseorang. Terlihat dari rau wajahnya yang tak bersemangat.


“Hari ini Riko tidak bisa ikut menjemputmu pulang. Ia sedang mengajar saat ini. Tapi nanti sepulang dari mengajar ia akan menyusul ke rumah. Dan untuk beberapa minggu kedepan kamu harus tinggal bersama kami. Dan itu keputusan mas Fino” jelas Lisha seakan bisa membaca raut wajah Ara.


“Aku tidak menunggu pak Riko” ketus Ara.


“Siapa bilang kamu menunggu Riko adikku sayang. Aku hanya menjelaskan kalau dia tidak bisa ikut menjemputmu. Atau jangan jangan kamu menunggunya hmm” goda Lisha.


Ara terdiam merutuki kebodohannya. Kenapa ia bisa keceplosan. Padahal kakak iparnya itu hanya menjelaskan. Wajah Ara seketika memerah malu, namun ia berusaha biasa saja. Mencoba tidak ada kesalahan dalam setiap ucapannya tadi.


Lisha terkikik geli melihat wajah merah adik iparnya itu. Ia mendekat dan duduk disebelah Ara mengusap surai hitam sebahunya. Ara terdiam dengan perlakuan Lisha. Jujur Ara merasa nyaman dekat dengan Lisha. Sejak Lisha menikah dengan kakaknya, ia selalu menjaga jarak. Hingga beberapa hari ini ia merasa butuh akan kehadiran Lisha.


“Ara boleh peluk kak Aalisha?” Tanya Ara menunduk tak berani menatap wanita cantik disampingnya.


Lisha menarik Ara kedalam pelukannya tanpa menjawab pertanyaan gadis mungil itu. Ara merasakan dekapan hangat, sehangat dekapan mamanya yang kini sudah tenang di alam sana. Tak bisa membendung rasa rindu pada mamanya. Ia memeluk Lisha dengan begitu erat. Tak lama terdengar suara tangis Ara.


Lisha sangat paham dengan perasaan adik iparnya, ia dekap tubuh mungilnya. Tak henti ia usap surai hitam sebahu milik Ara. Sesekali ia mengusap punggung Ara dengan lembut.


“Menangislah karna kamu pun butuh menangis. Tapi setelahnya kamu harus tersenyum” ucap Lisha.


Merasa sedikit lega Ara melepas pelukannya. Ia melihat baju Lisha yang basah karna tangisannya. Ia menunduk sambil berkata.


“Baju kak Lisha basah” lirih Ara.


“Gak apa apa. Yang penting kamu merasa lega. Mulai sekarang apapun masalahnya kamu bisa cerita sama kakak. Oke” ucap Lisha tersenyum menghapus sisa air mata di pipi tirus Ara.


“Setelah ini kamu harus banyak makan untuk mengembalikan pipi gembulmu lagi” goda Lisha


Ara memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Lisha. Berbeda dengan Lisha yang tertawa kecil.


“Menggemaskan” gemas Lisha mencubit hidung mancung Ara.


“Kak Lisha nakal” rengek Ara membuat Lisha tertawa.


Ckleck


“Kakak rindu rambut panjang Ara. Dulu waktu kecil ara akan menangis jika mama mengajak ke salon potong rambut” ucap Fino tersenyum tipis.


“Ara nyaman dengan rambut pendek sekarang” jawab Ara to the point.


“Baiklah mari kita pulang, semua sudah bereskan mas?” sahut Lisha mengalihkan pembicaraan.


“Ah ya semua sudah beres. Mulai saat ini kamu tinggal sama kakak. Enggak ada penolakan” tegas Fino menatap wajah protes adiknya.


Ara mendengus tak suka. Tapi ia juga tidak bisa melawan, mau bagaimana pun ternyata ia juga membutuhkan seseorang untuk menjaganya.


Mereka bertiga beranjak menuju parkiran mobil yang sudah menunggu mereka di lobi depan rumah sakit.


Ara dan Lisha duduk dibelakang dengan Fino disamping supir. Lisha merangkul pundak Ara sambil mengelus rambut lembut. Ia sandarkan kepala Ara pada bahunya. Hingga tak lama Ara tertidur lelap.


...****...


.


.


.


.


.


.


.


Segini dulu ya gais...


Kita lanjut di next part