My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 107



“Terus ikuti mereka dan jalankan rencana kita. Ingat jangan sampai gagal, karna kali ini adalah peluang besar bagi kita untuk membunuh mereka” ucap wanita dengan dress sexy yang melekat pada tubuhnya.


“Siap bos” balas pria di seberang sana yang merupakan anak buah wanita itu.


Wanita sexy yang tak lain Clara pun tersenyum bangga karena sebentar lagi apa yang ia dapatkan akan segera menjadi miliknya.


“Kau akan mati gadis kecil” gumam Clara lalu tertawa puas.


Tidak lama kemudian ponsel nya berdering menampilkan nama seseorang yang membantunya untuk mendapatkan pria yang ia inginkan.


“Halo tuan” ucap Clara semanis mungkin.


“Apa rencanamu berhasil kali ini?” tanya pria dengan suara bass nya.


“Tentu saja akan berhasil karena mereka hanya berdua. Jadi tidak perlu menunggu waktu lagi. Dan salah satu anak buah ku sudah memutuskan rem mobil yang mereka gunakan. Bukankah akan sangat mudah membunuh mereka” ujar Clara tersenyum manis.


“Kau memang wanita licik yang berguna. Ingat jangan sampai gagal, karna aku tidak suka dengan kata ‘gagal’ dan sepertinya kau tau itu. Aku sudah memberimu beberapa anak buah jadi manfaatkan” ucap pria dari seberang sana.


“Tenang saja, kali ini anda akan mendengarkan kabar bahagia tuan Felix Alardo yang terhormat” jawab Clara dengan seringai khasnya.


“Baiklah ku tunggu kabar bahagia itu” ucap tuang Felix memutuskan sambungan telponnya.


“Akan ku pastikan semua berjalan lancar” ucap Clara mengambil tas dan kunci mobil menuju cafe yang tidak jauh dari lokasi yang akan terjadi.


Akankah Clara berhasil dengan rencana jahatnya?


...****...


Di mall Alex dan Ara baru saja keluar dan melangkah memasuki mobil yang terparkir rapi di basement. Selesai makan siang mereka memutuskan untuk pulang.


“Akhirnya pulang juga” ujar Ara menyandarkan tubuhnya pada sandaran mobil.


“Tapi seneng kan?” tanya Alex memasang sabuk pengaman adiknya.


“Seneng tapi juga kesel” ucap Ara tersenyum dengan perhatian Alex.


Alex mencebik bibirnya dan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Siang ini jalur kendaraan tidak begitu padat, mungkin karna sudah lewat jam makan siang. Jadi sudah banyak karyawan yang kembali bekerja.


“Kakak ngerasa gak sih kalau dua mobil di belakang tuh ngikutin kita dari keluar mall” ucap Ara merasa aneh dengan dua mobil di belakang.


“Perasaan kamu aja kali dek. Ya mungkin aja kan satu arah sama kita” jawab Alex santai.


“Iya mungkin sih kak. Tapi Ara ngerasa gak tenang kak. Kita akan baik-baik aja kan kak?” tanya Ara di balas usapan lembut di kepalanya oleh Alex.


“Kita akan baik-baik aja dan akan terus baik-baik saja. Jadi kamu tenang aja, okay” ucap Alex menenangkan adiknya.


Ara mengangguk walau hatinya belum merasa tenang sedikit pun. Ara tidak mau mengganggu Alex yang sedang menyetir. Sesekali Ara melihat dua mobil yang masih mengikuti di belakang.


Alex sendiri lebih fokus menyetir sambil mendengarkan beberapa intruksi dari alat yang terpasang ditelinga kanan Alex. Pastinya tanpa sepengetahuan Ara.


Saat tiba di jalanan yang sepi salah satu mobil tadi berpindah di samping mobil Alex dan seorang pria bermasker menodong pistol kearah kaca mobil Alex. Ara spontan menjerit ketakutan, rasa cemas nya kini terbukti.


“Kak Alex gimana ini kak” panik Ara.


“Tenang dek, kamu pegangan kakak akan ngebut” ucap Alex tenang.


Ara terus berdoa akan keselamatan dirinya dan Alex. Suara tembakkan beberapa kali terdengar dan selalu meleset karna keahlian Alex dalam menyetir.


Sebenarnya semua kaca mobil milik Alex sudah di ganti dengan kaca anti peluru, jadi Alex sedikit lega. Alex terus fokus dan sesekali melirik Ara yang memejam kan mata.


“Kau bilang mereka tidak bawa senjata. Ck menyebalkan” desis Alex pada orang di seberang sana.


“Maaf tuan” suara Tony di seberang sana.


“Kak Ara takut” tangis Ara yang membuat Alex merasa kasian karna membuat Ara dalam kondisi seperti ini.


“Tenang lah sayang” ucap Alex berusaha menenangkan Ara.


“Kau harus pastikan rencana ini berhasil untuk menangkap wanita sialan itu Ton” desis Alex.


“Suruh Riko menghubungi Ara, bantu aku menenangkan Ara” ucap Alex semakin menambah kecepatannya.


Tidak ada waktu lagi hari ini dia harus menyelesaikan masalah ini dengan rapi.


Ara masih belum menyadari kakaknya yang terus berbicara. Sampai ponsel Ara berbunyi dan tertera nama Riko disana.


Dengan tangan gemetar Ara mengangkat telpon Riko dan mendekatkan pada telinganya.


“Sayang” suara Riko cemas.


“Kak Fano” lirih Ara.


Ara menatap Alex yang kini juga menatapnya. Alex tersenyum sambil mengulurkan tangan mengacak rambut Ara.


“Semua sudah terkendali sayang, tenanglah” ucap Alex kembali fokus.


“Baik kak” jawab Ara pada Alex dan Riko.


Riko memutup sambungan telpon dan mulai mengambil pistol di tangannya bersiap dengan apa yang akan ia lakukan.


“Kau siap Rik?” tanya Tony.


Karena di mobil itu hanya ada Tony dan Riko sedangkan Fino berjaga di rumah Alex.


“Tentu saja mari kita lakukan dengan cepat” jawab Riko sambil mengangguk.


“Tuan di depan sana ada perempatan dan anda harus berhenti tepat sebelum perempatan karna dari arah kanan terdapat truk yang sudah siap menabrak anda. Aku percaya akan keahlian anda dalam mengemudi tuan” ucap Tony menjelaskan.


“Serahkan padaku” jawab Alex.


Alex menatap Ara sebentar yang terus berpegangan. Rambutnya yang acak-acakkan dan raut wajah ketakutan membuat Alex merasa sedikit bersalah.


“Ara dengarkan kakak. Pegangan yang kuat dan dalam hitungan ke tiga tutup matamu” teriak Alex menambah kecepetannya.


“Apa yang akan kakak lakukan?! Ini berbahaya kak!” teriak Ara semakin ketakutan.


Bagaimana tidak di depan sana ada perempatan dan Alex menambah kecepatan laju mobil mereka.


“Satu” ucap Alex mulai menghitung.


“Kak!” teriak Ara.


“Dua”


“Kak kita harus berhenti karna lampu merah” teriak Ara panik.


“Dengarkan kakak sekali ini saja Ara!” teriak Alex.


“Tiga” Ara segera menutup rapat kedua mata.


Alex langsung membanting setir ke kanan membuat mobilnya berputar di tempat bersamaan dengan Riko yang menembak ketiga ban mobil musuh yang berada di samping mobil Alex.


Sampai mobil itu terus melaju dan dari arah kanan truk dengan kecepatan tinggi menghantamnya. Kecelakaan pun terjadi.


Mobil Tony berhenti tepat di samping mobil Alex yang baru saja berhenti berputar. Tony dan Riko berlari mengetuk keluar mengetuk pintu mobil Alex.


Sedangkan di dalam mobil nafas Alex tampak bergemuruh. Alex menoleh menatap tubuh Ara yang bergetar masih berpegangan kuat walau mobil sudah berhenti.


Alex terkejut saat melihat bekas darah di cendela samping Ara. Tanpa memperdulikan ketukan Tony Alex menggenggam tangan Ara.


“Dek buka matamu” pinta Alex.


Perlahan Ara membuka mata masih dengan tubuh bergetar menahan takut yang luar biasa. Ara menangis saat Alex menangkup kedua pipinya.


“Kamu terluka sayang” panik Alex melihat kening Ara yang terluka. Mungkin terbentur kaca mobil tadi.


“Kak” lirih Ara lalu pingsan.


Alex langsung keluar dan berlari mengelilingi mobil membuka pintu mobil dan menggendong Ara.


“Ara” cemas Riko.


“Tony kau urus kejadian ini, biar Riko yang mengantar kami ke rumah sakit” ucap Alex.


“Cepat Lex” teriak Riko di balik kemudi.


Alex masuk di belakang dengan Tony yang membukakan pintu. Riko langsung melajukan mobil ke rumah sakit terdekat.


Tony di bantu anak buahnya mengurus kekacauan yang tersisa dan menangkap sopir truk yang terluka.


Hai kesayanganku🤗


Gimana nih menegangkan gak? Trus gimana dengan keadaan Ara ya.


Cus lanjut 👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥


Makasih🥰