
Riko menggelengkan kepala saat sambungan telpon sudah ia putus. Tak mau ambil pusing Riko segera membuatkan bubur untuk Ara.
Di dalam kamar Ara mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar matahari yang masuk.
Ara menatap jam dinding dikamarnya yang menunjukkan pukul 08.30 pagi. Ia berusaha duduk menatap sekelililng mencari seseorang yang menemaninya.
“Apa kak Riko pulang?” gumam Ara lesu.
Ckleck
Ara menoleh saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Menampakkan pria tampan dengan nampan ditangannya.
“Sudah bangun ya. Apa masih pusing?” ucap pria itu menaruh nampan di atas nakas samping ranjang tidur Ara.
“Sudah mendingan” jawab Ara.
“Syukurlah aku bisa lebih lega Ra” ucap Riko mengusap pipi Ara lembut.
“Aku enggak suka lihat kamu sakit, lihat kamu pucat kayak gini aku gak tega Ra. Aku seperti merasa gagal buat jagain kamu” sesal Riko.
Ara tersenyum malu mendengar ucapan Riko, digenggam tangan Riko yang masih betah mengusap pipinya.
“Ara janji gak akan sakit lagi demi kak Riko” ucapnya tersenyum.
Tak bisa dipungkiri bila rasa takut kehilangan mulai hadir dalam benak Ara. Ara merasa bahagia menerima segala perhatian dan kasih sayang dari pria didepannya ini. Tapi ia juga merasa takut sewaktu-waktu Riko akan pergi meninggalkannya.
“Hei, kenapa nglamun?” tanya Riko membuyarkan lamunan Ara.
Ara tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Kalo gitu sekarang waktunya kamu makan, biar kakak yang suapin” ucap Riko mulai menyendok bubur buatannya tadi.
“Kenapa bubur lagi si kak?” rengek Ara.
“Kamu masih sakit Ara jadi harus makan bubur yang mudah dicerna sama pencernaanmu yang kecil mungil itu” ucap Riko asal yang dibalas tawa kecil dari Ara.
“Mana ada pencernaan kecil mungil kak Riko ada aja deh” tawa Ara.
“Sekarang makan dulu jangan ketawa aja nanti ini tangannya patah megang sendok terus isinya bubur berat loh” canda Riko semakin membuat Ara tertawa lepas.
Ara pun menghentikan tawanya dan menerima suapan demi suapan dari Riko. Begitupun dengan Riko yang telaten menyuapi Ara.
Sesekali mereka bercanda membuat suasana pagi ini semakin indah. Selesai makan Ara segera minum obat yang sudah disiapkan Riko.
“Pinter banget sih, anak manis” ucap Riko mencubit kedua pipi Ara.
“Ih kok di cubit sih kak sakit tau” keluh Ara memegang bekas cubitan Riko.
Ting tong ting tong ting tong
Suara bel apartement Ara yang di tekan berurang kali mengalihkan pembicaraan mereka. Mereka saling tetapan seakan saling tanya siapa tamu itu.
“Kamu tunggu sini aja biar aku yang bukain” ucap Riko berlalu pergi.
Riko berlari menuju pintu utama dan membukanya. Di balik pintu berdirilah sepasang suami istri yang akan bertamu.
Riko menghela napas menatap kedatang merekea siapa lagi kalau bukan si bumil Lisha dan Fino.
“Lama banget sih bukain pintunya” semprot Lisha menerobos masuk.
Fino mengikuti istrinya sambil menepuk bahu Riko. Ia pun menutup pintu dan menyusul mereka.
“Dimana Ara? Dia sakit apa? Sudah kamu bawa kedokterkan? Sudah periksakan? Trus gimana hasilnya? Gimana kata dokter? Kamu ini juga gimana sih kog gak jagain Ara. Pasti saat ini Ara merasakan kesakitan. Ka-“
“Sayang” panggil Fino menghentikan kehebohan istrinya itu.
“Maaf sayang tapi aku khawatir sama Ara, pasti Ara sakit karena kamu ya Rik” tuduh Lisha menunjuk adik sepupunya itu sengit.
“Sayang pliss” ucap Fini sekali lagi memperingatkan istrinya.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥
Sibumil makin crewet ya gais. Dasar si Lisha🤣🤣