
Selesai sarapan Alex menyuruh semuanya untuk berkumpul di ruang keluarga karena ada yang ingin ia sampaikan.
“Oke langsung saja, kita berempat sudah memutuskan untuk sementara waktu kita semua akan tinggal bersama di rumah ini. Kamar juga sudah di bagi. Di lantai atas aku, Ara, Letha, Arumi, Fino dan istrinya. Untuk Riko dan Tony di lantai bawah” ucap Alex tegas.
“Apa ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari lalu kak?” tanya Ara lirih sambil mematap kakaknya dari samping.
“Iya sayang. Jadi kakak harap kamu jangan kemana-mana dulu, termasuk kalian bertiga” ucap Alex sambil menatap Letha, Lisha dan Arumi secara bergantian.
“Sebelum kita menangkap pelaku utama di balik semua ini” sahut Riko datar.
“Apa belum tertangkap pelaku utamanya? Sebenarnya siapa sih pelaku utamanya? Bikin kesel deh. Bisa gak sih dia tuh diem aja gak usah pakek acara yang neror lah, apa lagi sampe mau ngebunuh orang. Bener-bener deh bikin greget gitu hih” omel Letha kesal sendiri membuat yang lain menggelengkan kepala.
“Ara juga penasaran sebenernya dia siapa sih kak? Dan kenapa dia tega banget, emang salah Ara sama kakak apa coba?” lirih Ara.
“Mungkin ini saatnya kamu untuk tau siapa pelaku utama itu dek” ucap Fino mematap lekat Ara.
“Fin” tahan Alex dan Riko.
“Me-memangnya siapa?” ucap Ara terbata, entah mengapa rasa gugup mulai menyerangnya.
“Pelaku utama yang ingin mencelakaimu dan Alex dia ad-“
“FINO HENTIKAN” bentak Alex memotong ucapan Fino.
Bukan karna apa, Alex hanya tidak mau membuat Ara sedih saat tau siapa pelaku utama di balik semua ini. Alex juga berusaha menjaga perasaan Fino dan Ara. Alex tau saat ini Fino sedang merasakan rasa kecewa yang amat dalam.
“Sudahlah Lex biarkan Ara tau” ucap Fino tegas.
“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Ara.
“Apa Ara kenal dengan pelakunya?” sambung Ara lirih.
Alex mengusap wajahnya frustasi begitu pula dengan Riko. Mereka berdua berharap agar Fino tidak memberi tahu siapa pelaku utama itu.
“Ya kamu sangat mengenalnya dengan baik” ucap Fino.
Tubuh Ara menegang saat mendengar ucapan Fino bahwa dia sangat mengenal pelaku teror kemarin. Riko yang berada di samping kekasihnya itu bisa merasakan bagaimana tegangnya tubuh Ara saat ini.
Riko mengusap punggung Ara lembut mencoba menenangkan kekasihnya itu.
“Sayang gimana kalo kita ke taman belakang saja kebetulan kakak udah pesen bunga yang ingin kamu tanam. Ayuk ikut kakak” ucap Riko berusaha mengalihkan pembicaraan sambil memarik lembut tangan Ara.
Ara yang masih bergelut dalam pikirannya hanya bisa mengikuti tarikan lembut Riko yang mengajaknya pergi ke taman belakang. Otaknya saat ini terasa kosong dan bingung.
“Pelaku itu papa Felix, Ara” ucap Fino lantang saat Ara baru saja akan melangkah.
Ara spontan berbalik mematap Fino tajam seakan tidak terima dengan ucapan Fino saat ini. Sedangkan Alex dan Riko hanya bisa menghela nafas.
Lisha menatap tak percaya pada suaminya sendiri. Ara melangkah mendekati Fino dan berdiri di depan kakaknya itu.
Plaakkkk
Mereka semua terkejut melihat apa yang baru Ara lakukan, dengan wajah merah menahan marah Ara menampar pipi mulus Fino.
“Jaga ucapan kakak! Papa enggak akan mungkin nglakuin ini semua!” teriak Ara tidak terima.
Fino menunduk mengusap pipi kirinya lalu bangkit menatap tajam Ara di depannya. Ara merasa bersalah melihat pipi Fino yang memerah karna tamparannya.
“Kamu bilang untuk jaga ucapan kakak? Asal kamu tau Ra, kakak sudah sangat menjaga ucapan kakak. Dan memang kenyataan memang begitu. PELAKU UTAMA DARI KEJADIAN INI ITU PAPA FELIX” teriak Fino di akhir kalimat.
“ENGGAK AKAN TEGA DARI MANA NYA ARA?! PAPA BAHKAN TEGA UNTUK NGEHUKUM KAMU BAHKAN SAMPAI MENCAMBUK KAMU. PAPA JUGA AKAN SANGAT TEGA MEMBUNUH KAMU, KARENA KAMU KETURUNAN MAHESA ARA. BAGAIMANA MUNGKIN PAPA MEMBIARKAN ANAK DARI SAINGANNYA TETAP HIDUP, HIDUP BERSAMA DENGANNYA SELAMA INI” bentak Fino frustasi berhasil menusuk hati Ara.
Tubuh Ara melemas seketika mendengar penjelasan Fino yang sempat ia lupakan selama ini. Dimana papa Felix akan menghukumnya saat melakukan kesalahan walau itu hanya seujung kuku. Ara terduduk di lantai dingin itu sambil terisak.
Letha membawa sahabatnya itu kedalam pelukannya, dan Lisha berusaha mengusap lengan suaminya untuk meredakan emosinya. Emosi akan perbuatan papanya selama ini.
“Bahkan sampai detik ini aku tidak ingin percaya kalau papa sudah melakukan kejahatan, tapi sayangnya memang ini kenyataannya Ra. Maafkan papa Ra, maaf atas semua yang papa lakukan padamu dan kedua orangtua mu. Maaf dek” tangis Fino mengusap wajahnya frustasi.
Ara semakin terisak dalam pelukan Letha mendengar ucapan Fino yang menyayat hatinya. Tidak hanya dirinya yang marah dan kecewa disini, masih ada Fino yang lebih kecewa.
“Letha bawa Ara ke kamar nya” pinta Alex di balas anggukan oleh Letha.
Letha menuntun Ara naik ke kamarnya di bantu Arumi. Sedangkan Lisha masih menenangkan suaminya. Di saat Ara sudah masuk kedalam kamar ponsel Tony berdering.
Tony berjalan sedikit menjauh untuk menerima telpon dari pihak kepolisian. Ia berharap akan menemukan titik terang setelah menerima telpon itu. Mata Tony membulat saat mendengar setiap penjelasan yang ia dengar.
“Baik pak kami akan segera kesana. Terima kasih” ucap Tony.
Tony berbalik menatap Alex, Riko, Fino dan Lisha masih duduk termenung di sofa ruang keluarga.
“Baru saja pihak kepolisisan menghubungi” ucap Tony membuat nya jadi pusat perhatian.
“Apa sudah ada kemajuan dalam pencarian pria tua itu?” tanya Alex.
“Sebaiknya kita langsung pergi ke lokasi sekarang” ucap Tony mencoba tenang.
“Katakan saja apa yang sudah terjadi pada papaku Ton” ucap Fino seakan tau apa yang sedang di pikirkan Tony.
“Ada apa Ton? Katakan saja” sambung Riko.
Tony menghela nafas sejenak sebelum mengatakan kabar apa yang baru ia terima.
“Polisi sudah menemukan mobil yang dikendarai tuan Felix di sebuah jembatan dan ....” ucap Tony menggantung.
Ia terlihat bimbang untuk melanjutkan ucapannya. Fino bangkit lalu menarik kerah Tony membuat Riko segera menahan Fino.
“Katakan semuanya Antonius Wijaya” gertak Fino.
Tony menelan ludah susah melihat wajah Fino yang mengerikan dan siap menerkamnya kapan saja.
“Lepaskan Fin” ucap Riko melepaskan cengkraman Fino pada Tony.
“Sabar mas, jangan seperti ini” ucap Lisha mengusap lengan Fino lembut.
“Katakan Ton” ucap Alex yang kini sudah berdiri di depan Tony membelakangi Riko, Fino dan Lisha.
‘Hah kenapa jadi aku yang seperti anak kecil takut papanya sih’ batin Tony meringis.
“Dan kemungkinan besar tuan Felix memilih untuk bunuh diri dengan cara lompat dari atas jembatana. Dengan arus deras di sungai itu, kemungkinan tuan Felix tidak selamat” jelas Tony akhirnya.
Hallo kesayangan author❣️
Akhirnya hari ini bisa up lagi🤗
Semoga kalian suka😊