
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, itu berarti sudah satu jam Ara belajar bersama Riko.
“Ra kita cari makan dulu yuk. Kamu kan dari tadi belum makan” ajak Riko.
Hari ini Fino dan Lisha tidak bisa datang karna harus menghadiri pesta rekan bisnis Fino.
“Ayo kak Ara juga udah laper sebenernya hehehe” ucap Ara sambil meletakkan polpennya.
“Kamu mau makan apa?” tanya Riko membantu membereskan peralatan belajar Ara.
“Ara pengen bakso pe-“
“Tidak” sahut Riko memotong ucapan Ara.
“Kenapa?” tanya Ara memelas.
“Kamu jangan kebanyakan makan pedes. Sekarang kamu masih ujian kalo kamu sakit. Kamu mau tahun ini gak lolos SMA” sungut Riko kesal.
“Ck iya udah deh” lirih Ara mengerucutkan bibirnya.
‘Lihatlah sangat menggemaskan. Rasanya ingin segera ku halalkan saja’ gumam Riko sambil mengacak rambut Ara.
“Mau sate gak?” tawar Riko.
“Enggak” tolak Ara.
“Yakin nih? Ih padahal enak banget bayangin bumbu kacang yang guruh ah bikin ngiler” ucap Riko sambil memasang ekspresi tergiurnya.
Ara sendiri di buat menelan ludah membayangkan sepiring sate dengan bumbu kacang yang enak. Tapi ia sudah terlanjur menolak ajakan Riko tadi.
“Kalo kamu gak mau ikut y-“
“Ikut” teriak Ara spontan.
Ara segera berlari mengambil ponsel di kamarnya lalu kembali keluar dan menarik tangan Riko, membuat Riko terkekeh dengan tingkah Ara.
Mereka pun memutuskan berjalan kaki, mencari tukang sate yang sering lewat dekat apartement Ara. Dan benar saja tak jauh dari tempat mereka berdiri terlihat gerobak sate.
“Hmm enak banget satenya” ucap Ara sambil menikmati sepiring nasi dan sate yang dipesan Riko tadi.
“Makannya pelan-pelan Ra” ucap Riko.
“Iya aku tau tapi ini sangat enak” jawab Ara dengan mulut penuh nasi dan sate.
“Baiklah kalo begitu nikmati makananmu. Setelah itu kita pulang dan istirahatlah. Besok masih harus berjuang lebih keras lagi” ucap Riko mengusap kepala Ara.
Ara menganggukan kepala sambil tersenyum manis menatap Riko. Mereka berdua tampak menikmati makanan masing-masing.
...****...
3 minggu kemudian.
Setelah beberapa hari mengikuti ujian akhir kemarin, hari ini adalah hari yang paling dinantikan siswa kelas 12. Dimana hari ini akan ada pengumuman kelulusan bagi kelas 12.
Dengan langkah santai seorang gadis cantik berjalan memasuki area sekolah dengan ransel kesayangannya di pundaknya, siapa lagi kalo bukan Ara.
“Araaaaa” teriak seseorang berlari mendekatinya.
“Kenapa sih Tha? Masih pagi loh kamu dah teriak-teriak. Kasian telinga aku tau” omel Ara masih menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya.
“Hehehehe maaf” cengir Letha.
”Ah iya aku lupa, ayo kita ke kantin laper tau Ra” rengek Letha menarik tangan Ara.
“Emang kamu tadi enggak sarapan apa?” tanya Ara.
“Lagi males aja Ra, pengennya ngantin. Apa lagi setelah ini kita bakal pisah semua, kan jadi kangen nantinya” ucap Letha.
“Ya ya ya ya” jawab Ara males.
“Tapi jangan lama makannya. Sebentar lagi kita harus ngumpul di gedung aula” ucap Ara mengingatkan.
“Okok siap bu bos”
Letha pun langsung memesan semangkuk bakso dan dua jus jeruk. Karna tadi pagi Ara sudah sarapan bersama Riko, ia memutuskan untuk memesan jus jeruk saja.
“Kamu beneran enggak pesen bakso juga Ra?” tanya Letha.
“Enggak Tha, tadi pagi udah sarapan bareng kak Riko” ucap Ara.
“Ciiieee makin nempel aja nih” canda Letha.
“Iya deh iyaaa” ucap Letha.
Semakin hari memang Riko dan Ara semakin dekat, bahkan dimata Letha mereka seperti sepasang kekasih saja.
‘Dasar bucin tapi gak mau ngaku bucin. Padahal jelas-jelas tiap hari deket banget. Astagaaa’ gumam Letha.
-Gedung aula-
Suara haru terdengar nyaring dari dalam gedung aula, dimana baru saja diumumkan kelulusan bagi kelas 12 yang dinyatakan lulus 100%.
Ara dan Letha saling berpelukan menyalurkan kebahagiaan yang mereka rasakan.
“Kita lulus Ra... kita lulus” ucap Letha bahagia.
“Hiks hiks” tangis Ara.
Letha melepas pelukannya saat mendengar tangis Ara.
“Kamu kenapa Ra?” tanya Letha cemas.
“Hiks... A-aku lu-lulus... Hiks Tha” tangis Ara.
“Iya kamu lulus, kita lulus Ra” ucap Letha lega saat menyadari bahwa Ara menangis haru.
“Aku hiks lulus Tha dan hiks aku masuk sepuluh besar. Hiks apa aku ngimpi Tha?” tanya Ara dengan derai air mata bahagianya.
“Iya Ara sayang kamu masuk sepuluh besar. Dan ini bukan mimpi, ih gemes deh aku sama kamu” gemas Letha mencubit kedua pipi Ara.
Ara spontan memeluk erat Letha begitupun sebaliknya. Sedangkan di sudut ruangan Riko tersenyum menatapa Ara yang masih berpelukan hangat dengan Letha.
...****...
Alex baru saja memasuki ruang kerja nya. Ia baru saja menghadiri rapat bersama Tony.
Alex menatap Tony yang berjalan masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
“Sepertinya kamu memang sangat membutuhkan kacamata ya” sindir Alex pada Tony.
“Maaf tuan” ucap Tony tersenyum.
“Bagaimana dengan pengumuman kelulusan Ara hari ini Ton?” tanya Alex.
“Berjalan lancar tuan dan anda tau ...” ucap Tony menggantung.
“Kamu niat bicara tidak” ketus Alex.
“Ck kenapa punya bos se kaku ini sih” gumam Tony yang masih bisa di dengar oleh Alex.
“Aku mendengarnya Ton” sungut Alex sambil membaca berkas yang tadi ia terima.
“Cepat kamu katakan Ton, bagaimana pengumuman kelulusan Ara dan Letha hari ini?” tanya Alex kesal.
“Nona Ara mendapatkan peringkat sepuluh besar tuan. Dan itu kemajuan yang sangat pesat sesuai keinginan nona Ara. Nona Ara membuktikan bahwa dia juga bisa” ucap Tony.
Alex tersenyum mendengar kabar dari Tony. Ia menatap jam tangan yang menunjukkan pukul 09.15
“Apa jadwalku siang ini Ton?” tanya Alex.
“Siang ini anda ada pertemuan dengan investor dari jepang. Di lanjut dengan rapat pembahasan pembukaan hotel di luar kota” ucap Tony menjelaskan.
“Ck kenapa padat sekali jadwalku hari ini?” kesal Alex.
“Ya sangat padat tuan” jawab Tony santai membuat Alex menatapnya tajam.
“Kenapa masih disini?” Ketus Alex.
Tanpa berkata lagi Tony berbalik keluar dari ruangan Alex. Alex melongo melihat tingkah Tony barusan.
‘Ck dasar sekertaris gila. Mana ada sekertaris keluar ruangan tanpa permisi seperti dia. Untung sahabat’ gumam Alex lalu melanjutkan pekerjaannya yang sedikit tertunda.
...****...
Di sekolah Ara baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kantin menyusul Letha.
Di sepanjang koridor Ara mendapatkan tatapan sinis, iri, benci dan masih banyak tatapan tak enak menuju pada Ara. Ara yang merasa di tatap hanya santai dan cuek saja.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥