
Riko berjalan masuk ke kamar Ara dengan nampan di tangannya. Ia melihat Ara yang sedang melamun bersandar pada kepala ranjang.Ara sampai tidak menyadari Riko yang sudah berdiri di sisi ranjang.
Riko menaruh nampan di atas nakas samping ranjang Ara, lalu duduk di bibir ranjang membuat Ara terjingkat kaget.
“Kamu melamun sayang? Apa yang kamu lamunkan hmm?” tanya Riko.
“Ara cuma kepikiran papa Felix kak” jujur Ara.
Riko menangkup wajah Ara lalu mengecup mesra kening Ara.
“Jangan terlalu dipikirkan kakak gak mau kamu sampai jatuh sakit karna mikirin masalah ini. Biar kami para pria yang menyelesaikannya” ucap Riko mengusap lembut pipi Ara.
“Ingat apapun yang terjadi cerita sama kakak ya sayang, jangan sembunyiin apapun itu” sambung Riko.
“Iya kak Ara janji” ucap Ara tersenyum.
“Kalau gitu sekarang kita makan” ucap Riko mengambil piring dan siap menyuapi Ara.
“Kakak gak makan? Ara gak akan habis segitu banyaknya kak” ucap Ara menatap nanar seporsi piring jumbo.
“Kita makan sepiring berdua ya” ucap Riko membuat Ara tersenyum.
“Tapi Ara maunya di suapin sama kakak” rengek Ara manja.
“Pasti dong sayang” balas Riko tersenyum.
Riko pun mulai menyuapi Ara dan dirinya sendiri secara bergantian. Riko sengaja makan sepiring berdua agar Ara mau makan dan sadar atau tidak Ara akan makan lebih banyak. Trik jitu saat Ara sedang sakit dan malas makan.
“Udah kak Ara kekenyangan” manja Ara membuat Riko terkekeh.
“Kalo gitu minum dulu” ucap Riko menyodorkan segelas air putih pada Ara dan langsung diminum sampai setengah.
“Makasih kak” ucap Ara setelah minum.
“Sama-sama sayang” ucap Riko mengusap sudut bibir Ara saat melihat ada sisa nasi di sana.
“Kak” lirih Ara menunduk.
“Kenapa sayang? Apa ada yang sakit?” cemas Riko.
“Kak Fino pasti marah ya kak sama Ara” lirih Ara memainkan jari tangannya.
Riko menatap wajah sendu Ara, Riko meraih tangan Ara lembut.
“Kak Fino enggak akan bisa marah sama adik kecilnya yang cantik dan manis ini. Kita semua tau bagaimana perasaan kamu tadi sayang. Tenang lah kak Fino tidak akan pernah marah sama kamu sekali pun kamu nampar dia” jelas Riko lembut.
“Ara janji nanti bakal minta maaf sama kak Fino dan kak Lisha” ucap Ara menatap Riko.
“Dua hari kedepan kak Fino dan kak Lisha bermalam di rumah tante Lusi sayang” ucap Riko membuat wajah Ara kembali sendu.
“Pasti kak Fino ngehindar dari Ara kan kak” lirih Ara sedih.
Riko mengacak rambut Ara gemas, bagaimana bisa kekasihnya itu berpikiran pendek terhadap kakaknya sendiri.
“Kak Lisha lagi ngidam masakan tante Lusi sayang. Makanya itu mereka berdua menginap di sana, selain itu kak Lisha udah lama gak pulang kerumah orangtua nya. Jadi enggak ada yang menghindar dari adik manis nan cantik ini” goda Riko membuat Ara tersenyum kembali.
“Kak Fano gak lagi bohong kan?” tanya Ara memastikan.
“Enggak akan pernah kakak bohongin Rara cantik” ucap Riko mengusap surai hitam Ara yang semakin panjang.
“Kakak gombal terus” cibir Ara membuat Riko tertawa renyah.
“Udah ah jangan bercanda terus. Sekarang kamu istirahat dulu, kakak akan duduk di sini nemenin kamu” ucap Riko membantu Ara berbaring.
Riko menarik selimut sampai batas perut Ara. Riko juga mulai mengusap puncak kepala Ara agar gadis kecil itu segera memejamkan matanya. Dan benar saja tak butuh waktu lama Ara sudah tertidur pulas.
...****...
Disebuah kontrakan kecil pria paruh baya tertawa melihat berita yang berisi atas kematian dirinya yang mulai tersebar. Pria paruh baya itu tidak peduli dengan kasus pembunuhannya yang ikut menjadi berita.
“Bodoh kalian manusia bodoh hahahah” umpat pria paruh baya itu.
Tuan Felix mulai menghubungi anak buahnya.
“Lanjut rencana berikutnya, kerjakan besok malam saja. Dan pastikan gadis itu ketakutan. Jangan sampai tertangkap” perintah tuan Felix lalu memutuskan sambungan telponnya.
Tuan Felix pun beranjak keluar rumah, tidak lupa dengan masker dan topi hitam agar tidak tertangkap. Ia akan mulai mengintai dari jauh rumah Alex.
“Kali ini akan ku pastikan kalian mati ditanganku” gumam tuan Felix.
...****...
Di tempat lain Fino dan Lisha baru saja sampai di rumah orang tua Lisha, mertua Fino. Mama Lusi sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi di teras depan rumah.
“Mama” teriak bumil manja sambil berlari kecil.
“Jangan lari sayang” ucap Fino memperingatkan istrinya yang sudah berada dalam pelukan sang mama mertua.
Fino hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang masih manja pada sang mama.
“Jangan lari-lari nak, ingat kamu itu enggak sendiri lagi ada calon anak kalian yang harus kamu jaga” ucap mama Lusi menasehati putrinya yang semakin manja sejak hamil.
“Iya ma iya, Lisha bakal lebih hati-hati dan gak akan lari-lari lagi” ucap Lisha.
“Dari kemarin juga bilangnya gitu tapi masih aja diulangi” gumam Fino yang masih dapat di dengar oleh Lisha dan mama Lusi.
“Mas Fino” lirih Lisha menatap tajam suaminya.
Fino yang menyadari kesalahannya hanya bisa menelan ludah kasar. Fino merutuki mulutnya yang tidak bisa diam dan ember itu.
‘Astaga bumil satu ini benar-benar horor’ gumam Fino.
Mama Lusi menahan tawa melihat tingkah sepasang suami istri di depannya ini.
“Sudah jangan berantem terus gak baik tau. Mendingan sekarang kita masuk dulu, trus kalian berdua bersih-bersih baru kita makan bareng” ucap mama Lusi pada Fino dan Lisha.
“Baik ma” jawab Fino dan Lisha bersamaan.
Fino dan Lisha pun memutuskan untuk naik ke lantai dua dimana kamar Lisha berada, atau lebih tepatnya kamar Lisha yang kini juga menjadi kamarnya.
“Kamu istirahat dulu aja ya sayang. Mas mau mandi dulu” ucap Fino menuntun istrinya ke arah ranjang kamar.
“Makasih ya mas” ucap Lisha sambil mengecup rahang suaminya.
“Sama-sama sayang” balas Fino lalu mengusap perut buncin istrinya.
“Jangan nakal di dalam sana ya sayang” ucap Fino merasakan tendangan lembut dari dalam sana.
“Sayang dia menendang” ucap Fino bahagia lalu tak lama berubah cemas menatap istrinya.
Lisha sendiri di buat heran dengan raut wajah Fino yang berubah saat menatapnya. Terpancar rasa cemas dari kedua mata suaminya itu.
“Apa sakit saat dia menendang sayang?” tanya Fino cemas.
Lisha yang paham akan rasa cemas suaminya tertawa kecil sambil mengusap perut buncitnya.
“Kalo nendang kayak tadi itu tandanya bayi kita sedang sehat dan aktif mas. Bayi kita tau kalau papa nya sedang mengajak bicara. Jadi kamu jangan khawatirin apapun ya. Aku baik- baik saja mas” ucap Lisha.
“Syukurlah, kalau kamu merasa apapun itu bilang ke mas ya sayang” ucap Fino lembut.
“Pasti mas, makasih ya” ucap Lisha.
“Sama-sama sayang” balas Fino mengecup kening Lisha manja.
“I love you, mas” ucap Lisha.
“I love you to, sayang” balas Fino sambil tersenyum.
Selamat malam semua🤗, udah pada tidur gak nih? Author balik lagi buat kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya like, komen dan vote🔥