My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 64



Alex mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menatap Letha yang masih merasa kedinginan.


Sesampainya di rumah megah milik keluarga Mahesa, Alex menengok Letha yang tertidur dibalik selimutnya. Kalau sudah seperti ini Letha akan susah dibangunkan. Jadi Alex memutuskan menggendong Letha dengan hati-hati menuju kamar Letha yang berjarak dua kamar dari kamarnya.


Alex berjalan menuju pintu utama yang sudah berjajar para pelayan yang menyambutnya pulang. Bi Surti berjalan mendekat melihat tuannya menggendong Letha.


“Ada apa dengan non Letha tuan?” tanya bi Surti cemas mengikuti langkah Alex.


“Bibi tenang aja Letha cuma ketiduran di mobil tadi bi. Oiya bi setelah ini tolong gantiin bajunya ya soalnya basah” ucap Alex tersenyum ramah.


Bi Surti menghela nafas lega mendengar penjelasan Alex. Bi Surti pun segera membukakan pintu kamar Letha dan masuk diikuti Alex.


Alex membaringkan Letha diatas ranjang dengan perlahan.


“Bi aku tinggal ganti baju dulu ya. Tolong gantiin Letha. Makasih bi” ucap Alex berlalu pergi ke kamarnya.


Bi Surti segera melakukan perintah tuannya untuk menggantikan baju Letha yang basah dengan baju yang lebih hangat.


Selesai mandi dan ganti baju Alex menuju kamar Letha. Ia berdiri disamping pintu kamar menunggu bi Surti keluar dari dalam.


Sesaat Alex ingat sesuatu, ia mengambil ponsel di saku celana nya dan menghubungi seseorang.


“Hallo Lex” jawab pria di seberang sana.


“Apa rapatnya berjalan lancar Rio?” tanya Alex.


“Rapat hari ini berjalan lancar. Besok pagi setelah rapat kita akan pulang. Ada apa?” ucap Rio yang menemani Tony ke luar kota.


“Tony bersamamu?” tanya Alex.


“Ya dia sedang kebingungan mencari ponselnya seperti hilang. Kau mau bicara dengannya? Ini dia orangnya” ucap Rio.


“Halo Lex. Ponsel ku hilang entah dimana. Bisa kau hubungi Letha? Aku lupa tidak bilang padanya kalau aku ke luar kota dan tidak bisa pulang malam ini. Sedangkan bi Sri sedang pulang kampung. Kau tau kan Letha tidak bisa ditinggal sendiri, aku khawatir padanya” cecar Tony khawatir.


“Ck kau ini memang pelupa. Kau menjatuhkan ponselmu di ruangan ku. Dan kau tau Letha kedinginan di halte bus menunggu jemputanmu. Hari ini hujan turun sangat deras kau tau” kesal Alex.


“Untung aku menemukan ponselmu dan menjemputnya. Kau ini benar-benar. Pergilah ke dokter dan minta padanya untuk membaut kembali otakmu itu. Ck kau ini masih muda tapi pelupa” sambung Alex masih dengan kesal.


“Hei hei hei es batu bisa tidak kau berhenti bicara. Katakan pada Letha aku minta maaf karna aku sungguh lupa. Dan terima kasih atas pertolonganmu. Jaga adikku yang cerewet itu dengan baik ya. Aku titip dia padamu malam ini. Jaga dia okay. Thanks bos” ucap Tony memutuskan sambungan telpon lebih dulu.


”Ck dasar” decak Alex bersamaan dengan bi Surti yang keluar dengan tergesa.


“Maaf tuan seperti non Letha terserang demam, non Letha terus mengigau memanggil kakaknya, tuan Tony”jelas bi Surti khawatir.


“Letha demam bi” ucap Alex masuk.


Alex duduk dipinggir ranjang menyentuh kening Letha yang panas. Alex langsung meminta bi Surti menghubungi dokter pribadi keluarga Mahesa, dokter Heru.


“Kak... kakak...”


Alex menggenggam tangan Letha lembut mencoba menenangkannya. Dan benar saja Letha berhenti mengigau memanggil kakaknya. Alex sudah tau jika sedang sakit seperti ini pasti Letha terus memanggil Tony. Letha akan semakin manja dan tidak mau ditinggalkan saat sakit.


“Kakak disini tidurlah” ucap Alex mengusap tangan Letha.


Tidak lama kemudian dokter Heru datang dan mulai memeriksa keadaan Letha.


”Tenang saja Lex, Letha cuma demam biasa nanti kamu kompres dia dan berikan obat ini untuknya ya” ucap dokter Heru menepuk pundak Alex.


Alex kembali ke kamar Letha dengan baskom berisi air dan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengkompres Letha.


“Lekaslah sembu” ucap Alex meletakkan handuk kecil itu di kening Letha.


...****...


Di apartement Ara.


Setelah istirahat sebentar Ara melanjutkan mengerjakan tugasnya ditemani Riko yang sibuk dengan laptopnya. Mereka tampak serius dengan tugas dan kerjaan masing-masing.


Drrttt dddrrrtt


Hingga ponsel Ara bergetar menampilkan nama ‘Kakak Ipar’ pada layar ponsel, Ara segera mengangkat panggilan tersebut.


“Halo kak” sapa Ara.


“Halo adikku sayang yang manis dan cantik juga baik hati” jawab Lisha semangat.


“Apa kamu sedang sibuk dek?” tanya Lisha to the point.


“Ara tidak sibuk kak. Ara cuma mengerjakan tugas matematika dan sebentar lagi selesai. Memangnya ada apa kak?” tanya Ara.


Riko yang tadinya fokus pada laptop melirik Ara yang sedang menerima telpon dari kakak sepupunya itu. Riko meminta Ara untuk mengaktifkan loudspeaker agar ia juga dengar apa yang dibicarakan mereka berdua. Ara diam menuruti perintah Riko.


“Tidak ada apa-apa. Kamu tenang saja Ra, kakak baik. Hanya saja kakak ingin mendengar suaramu, karna diluar masih hujan kakak tidak tega menyuruhmu kesini. Jadi kakak putuskan menelpon mu dek” jelas Lisha.


“Tapi kakak masih ingin kamu datang kesini” lirih Lisha terdengar sedih.


Ara jadi ikutan sedih mendengarnya mungkin saat ini kakak iparnya itu sedang mengidam bertemu dan mendengar suaranya. Ara mematap jam dinding yang menunjukkan pukul 19.00 dan dia masih punya 5 soal yang belum terjawab.


‘Apa tidak akan kemalaman kalo aku menyelesaikan tugas ini dulu? Di luar juga masih hujan. Tapi kasian kak Lisha’ pikir Ara menautkan alisnya bingung.


Riko yang melihat kebingungan Ara pun menghelas nafas.


“Selesai Ara mengerjakan tugasnya aku akan mengantarkannya ke rumah kakak. Jadi tenanglah dan biarkan Ara menyelesaikan les malam ini terlebih dahulu kak” ucap Riko membuat Ara menatapnya kaget.


“Ah kamu sedang mengajari adekku adik sepupu? Baiklah aku tidak akan mengganggu belajar Ara. Aku tunggu kedatangan kalian. Semangat adekku yang cantik. Jangan lupa bawakan aku martabak telor yang pakai telur dan martabak keju manis dengan parutan keju di atasnya. Makasih kedua kesayanganku. Bye” heboh Lisha diseberang sana memutuskan sambungan.


Riko dan Ara sesaat saling pandang hingga akhirnya tertawa bersama, menertawakan kehebohan Lisha yang sudah sering terjadi sejak Lisha hamil muda.


“Astaga martabak telor pakai telur? Memang mulai kapan martabak telor pakai daging” ucap Riko geleng-geleng dibalas tawa renyah Ara.


“Kak Lisha lebih mengerikan ya ternyata hahahaha” tawa Ara.


“Sudah-sudah cepat selesaikan tugasmu. Si bumil itu pasti akan memarahiku jika mengantarkanmu terlalu lama” ucap Riko.


Ara tersenyum mendengar ucapan Riko. Memang sejak hamil, sedikit kesalahan yang dilakukan Riko bagi Lisha itu adalah kesalahan besar dan berujung Lisha mengomel tiada henti pada Riko. Makhlumlah bumil.


‘Hahahah lucu sekali’ batin Ara.


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥