My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Extra Part 6



Pagi hari di mansion Riko sudah sangat ramai dengan suara teriakan si bumil, siapa lagi kalo bukan Letha. Sungguh ini masih sangat pagi untuk Letha berkunjung, apa lagi berteriak memanggil nama Riko berkali-kali. Anggap rumah sendiri, pikirnya.


Alex sesekali menyuruh Letha untuk sedikit bersabar dan memberi nasehat bahwa tidak sopan berteriak di rumah orang. Sungguh Alex membutuhkan kesabaran ekstra melihat tingkah istrinya.


“Yuhuuuuu, selamat pagi semua Letha datang”


“Banguuuunn wahai penghuni rumahh, Letha dan My Hubby datang”


“Oooom Rikoooo dede Lethaa datang, bangunlah”


Kurang lebih seperti itulah yang diucapkan si bumil. Bi Sri berlari dari arah dapur sambil tersenyum ramah menyapa Letha.


“Selamat pagi non Letha” sapa Bi Sri.


“Pagi bi” pekik Letha berlalu memeluk bi Sri.


“Bagaimana kabar bibi? Oh iya si Ara mana bi? Belum bangun ya?”


“It-“


“Ah pasti mereka sering bangun kesiangan ya bi. Ck dasar mereka berdua ini, bisa-bisa nya seenaknya jam segini belum bangun. Tapi Om Riko ada di rumah kan bi? Enggak ada dinas ke luar kota kan? Oh iya mereka kan masih di kamar ya” ucap Letha sudah seperti kereta berjalan saja.


Bi Sri hanya tersenyum memakhlumi sikap si bumil satu ini, baginya Letha sangat lah lucu.


“Maafkan istri ku bi” lirih Alex di angguki bi Sri.


“Non Letha sudah sarapan?”


Mendengar kata ‘Sarapan’ mampu mengalihkan pikiran Letha. Ia langsung mengangguk semangat dengan bola mata berbinar. Uh menggemaskan.


“Belum bi, apa ada makanan di sini?” pertanyaan konyol terlontar begitu saja.


“Kebetulan bibi selesai masak, non Letha bisa tunggu di ruang makan. Biar bibi panggilkan tuan dan nyonya muda dulu” ucap bi Sri di angguki oleh Letha.


Letha langsung pergi ke ruang makan begitu saja melupakan sang suami, menyisakan Alex dan bi Sri di ruang tengah.


“Maafkan istri saya jika merepotkan bibi dan yang lain” ucap Alex ramah.


“Tidak apa-apa tuan, ibu hamil memang seperti itu. Dia akan sedikit sensitif dan mudah berubah dalam keinginan” sahut bi Sri dibalas senyum manis Alex.


“Oh ya bi, Ara sama Riko belum bangun?” Alex menatap arlogi silver miliknya.


“Tu-“


“Sopankah bertamu pagi buta seperti ini?” sahut suara dari arah tangga memotong ucapan bi Sri.


Alex terkekeh “Oh sorry bro, kau tau sendiri istri kecilku itu”


Bi Sri pun memilih untuk pamit menyusul Letha dan pelayan lain di ruang makan.


“Dimana adik manisku?” Alex menatap Riko yang turun sendiri.


“Ara masih istirahat di kamar” singkat Riko yang mampu disalah artikan oleh Alex.


“Jangan membuat Ara bergadang terus, kasian sekali nasib adekku itu”


Riko yang paham kemana arah pikir Alex pun hanya menghela nafas dan memilih duduk di sofa di ruangan itu.


“Bersihkan dulu otak kotormu itu” sungut Riko.


“Beberapa hari ini Ara sering mual dan muntah di pagi hari jadi aku menyuruhnya untuk istirahat saja. Setelah sarapan nanti aku akan membawanya ke dokter” ucap Riko lalu bangkit menuju dapur.


“Kalo begitu aku akan kedapur kau temani saja istrimu sarapan” tambah Riko.


Seperti biasanya di pagi hari Riko akan membuatkan salad buah untuk istrinya. Menyapa Letha sesaat yang duduk manis di meja makan, lalu beralih menuju dapur.


Di ruang tengah Alex masih mencerna setiap ucapan Riko sampai senyum manis terukir di bibirnya. Ia bangkit menelpon seseorang untuk segera datang ke mansion Riko.


Alex pun menyusul Letha di ruang makan yang terus berceloteh pada Riko, entah apa saja yang ia komentari tentang Riko. Si bumil satu ini memang sedikit cerewet.


“Kau bisa menyuruh suamimu jika kau lupa” kesal Riko yang sedari tadi mendengar omelan si bumil satu itu.


Tadi Letha sempat bertanya apa yang akan Riko buat. Setelah mendengar Riko akan membuat salad untuk Ara, Letha juga minta dibuatkan sekalian. Riko pun mengiyakan saja, tidak taunya ia malah beberapa kali kena semprot sang bumil hanya masalah bentuk buah yang ia potong.


“Ih dasar om om menyebalkan” ketus Letha sambil menyuapkan sendok penuh berisi nasi dan lauk ke mulutnya.


“Sayang, gak boleh gitu ah. Kamu mau apa hmm? Biar aku buatin ya, untuk kali ini aja jangan repotin Riko dulu ya. Ara lagi gak enak badan jadi kamu mau apa biar aku buatin dan Riko biar fokus urus Ara ya” jelas Alex lembut.


Bola mata Letha membulat mendengar kondisi Ara yang sedang sakit. Ia beranjak ingin menemui sahabatnya itu. Baru saja akan melangkah Alex sudah menahan tangannya sambil menggeleng.


“Habiskan dulu makanmu hmm” pinta Alex di angguki Letha.


“Kalian berdua ke mansionku hanya untuk numpang berdrama? Sopankah begitu?” Ketus Riko menaruh semangkuk salad di atas meja untuk Letha.


“Habiskan jangan sampai ada sisa” ketus Riko lagi sebelum berlalu ke kamar mengantarkan mangkuk salad untuk istrinya.


“Lihat Riko membuat salad dengan bentuk yang kau inginkan, nanti minta maaf pada nya hmm” ucap Alex mengusap lembut surai istrinya.


“Iya” jawab Letha berbinar menatap semangkuk salad dengan potongan buah berbentuk bintang.


Bagaimana pun kesalnya Riko ternyata tetap mengikuti keinginan Letha, Riko berpikir mungkin Letha sedang mengidam dan pastinya suatu saat nanti Ara juga kan seperti itu. Semua biarkan Tuhan yang tau kapan waktunya tiba.


Sampainya di kamar Riko menatap sang istri yang duduk bersandar pada sandaran ranjang dengan wajah cemberut. Menggemaskan.


“Kenapa lama sekali??” tanya Ara saat Riko duduk di sampingnya dengan semangkuk salad.


“Tadi ada sedikit drama di bawah, Alex dan Letha berkunjung kemari” jawab Riko.


“Kak Alex dan Letha? Kalo begitu ayo turun saja masa iya ada tamu tapi ditinggalin kan kasian, gak sopan juga” ajak Ara.


“Habiskan dulu saladmu sayang, baru kita turun. Takutnya kamu gak bisa makan dibawah seperti kemarin. Lagian Letha juga lagi sarapan di ruang makan” jelas Riko sambil menyuapi Ara dengan lahap menerima.


“Letha numpang makan” ucap Ara dengan mulut penuh membuat Riko terkekeh.


“Habiskan dulu baru bicara sayang” Riko menjawil hidung Ara.


“Gemesin banget sih, istri siapa sih” gemas Riko.


“Istrinya kak Fano” balas Ara malu malu meong.


Riko mengacak rambut Ara gemas sendirikan jadinya saat melihat pipi merah sang istri.


“Nanti siang kita ke dokter dan enggak ada penolakan. Seperti kata aku kemarin kalo pagi ini kamu masih mual dan muntah kayak tadi kita akan ke dokter” Riko mengusap pipi Ara.


“Iya iyaaa” lirih Ara tidak semangat.


Riko tersenyum mendengarnya, karena kesehatan istrinya adalah hal terpenting.


...****...


.


.


.


.


Hai semua


Udah lama banget enggak up


Jangan lupa mampir di novel baru ku ya. Dan terimakasih untuk dukungan kalian semua. 🥰🥰🥰


Tenang aku bakal buat Sequel dri cerita ini di tunggu aja ya🥰😍


Jangan lupa mampir di My December🔥