My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 81



Sore hari nya Ara sudah diperbolehkan pulang dan baru saja sampai apartement bersama Alex, Fino dan Lisha. Sedangkan Riko masih dalam perjalanan pulang dari luar kota yang membuatnya tidak bisa menjemput Ara.


“Sayang bagaimana kalo kamu menginap dirumah kakak saja untuk beberapa hari” ucap Lisha.


“Iya Ra ada benarnya kamu menginap dirumah kakakmu, toh mereka juga kakakmu sendiri kan” sahut Alex menyindir Fino.


“Menginaplah dirumah kakak Ra” ucap Fino.


Ara terdiam sambil menatap mereka bergantian. Sampai Ara mengingat sesuatu yang membuatnya menerima ajakan kakaknya untuk menginap beberapa hari.


‘Mungkin dengan aku menginap di rumah kak Fino beberapa hari, aku bisa menemukan jawaban dari semua ini’ batin Ara.


“Baiklah Ara menginap di rumah kak Fino tapi hanya beberapa hari saja” ucap Ara membuat lega Lisha.


“Akhirnya kakakkan bisa lega kalo kamu ikut kan ada yang jaga jadinya” ucap Lisha memeluk Ara.


“Baiklah kalo begitu aku pamit pulang dulu ya Ra” pamit Alex karena sedari tadi Tony terus menghubunginya karna rapat akan segera dimulai dan dirinya masih di apartement Ara.


“Iya kak. Kak Alex hati-hati ya dan makasih dah nungguin Ara dari pagi tadi. Semangat kerjanya kak” ucap Ara tersenyum.


“Pasti. Kalo begitu kakak pamit Ra, dah” pamit Alex berlalu pergi.


Alex memang menunggu Ara dari pagi tadi sampai sore, untung saja Tony tadi datang membawa setelas jas kerja nya jadi sekarang ia tinggal langsung meluncur ke kantor tanpa harus pulang kerumah untuk ganti.


“Kalian terlihat dekat” ucap Fino datar.


“Iya karena kak Alex sudah Ara anggap seperti kakak Ara sendiri” jawab Ara bahagia.


“Ya udah kalo gitu kita pulang ke rumah yuk sayang biar Ara bisa segera istirahat di kamarnya. Ara gak perlu bawa baju disana kakak sudah siapa baju buat kamu kalo sewaktu-waktu menginap dirumah kakak” ucap Lisha menuntun Ara.


Fino menghela nafas lalu bangkit menyusul istri dan adiknya yang sudah keluar lebih dulu.


...****...


Keesokan hari nya selesai sarapan Fino langsung berangkat kerja. Sedangkan Lisha dan Ara menghabiskan waktu berbincang di taman belakang rumah.


“Dek apa kepala kamu masih pusing?” tanya Lisha mengusap kepala Ara.


“Ara udah gak ngerasa pusing kog, kakak jangan khawatir nanti dedeknya ikut khawatir” ucap Ara mengusap perut buncit kakak iparnya itu.


Ddrrtt ddrrtt ddrrttt


Ponsel Lisha berbunyi menandakan panggilan telpon yang ternyata dari suaminya.


“Halo mas” sapa Lisha.


“Halo sayang, bisa mas minta tolong?” ucap Fino diseberang sana.


“Minta tolong apa mas?” tanya Lisha.


“Berkas untuk rapat nanti siang sepertinya tertinggal di meja kerja ku sayang. Bisa kamu antarkan ke kantor sekarang? Mas gak bisa pulang untuk mengambilnya karna setelah ini mas ada rapat sayang” jelas Fino pada istrinya.


“Mas tenang saja nanti biar aku antar berkasnya ke kantor” ucap Lisha.


“Makasih ya sayang. Kalo gitu mas tutup dulu telponnya. Kamu hati-hati ya nanti, suruh antar sopir jangan nyetir sendiri” pesan Fino pada istrinya.


“Iya mas. Semangat kerjanya ya mas. Semoga rapatnya lancar” ucap Lisha.


“Amin. Mas tutup ya” ucap Fino memutuskan sambungan telponnya.


“Berkas kak Riko ketinggalan dirumah kak?” tanya Ara.


“Iya dek dan kakak mau nganterin berkasnya dulu. Padahal kakak lagi malas keluar tapi kasian kalo gak diantar berkasnya mau buat rapat nanti siang dan sekarang mas Fino lagi rapat” ucap Lisha tersenyum manis.


“Ya udah kakak di rumah saja biar Ara yang antarkan berkasnya” sahut Ara semangat.


“Mana bisa seperti itu. Kamu baru aja pulang dari rumah sakit dek. Harus banyak istirahat. Masalah berkas biar kakak yang antarkan” ucap Lisha melarang Ara.


“Ara sudah ndak papa kak. Jadi biar Ara yang antarkan sekalian mau lihat perusahaan kak Fino tuh kayak apa sih. Dan kakak istirahat saja kasian tau dedeknya lagi males keluar kan jadi jangan dipaksa kak nanti marah lo” canda Ara masih dengan memaksa Lisha.


“Gimana ya?” ucap Lisha berpikir membuat Ara memasang wajah memelas.


Lisha pun tertawa melihat wajah melas dan sedih adik ipar nya yabg satu ini, bawaannya bikin gak tega gitu.


“Baiklah kamu yang antar berkasnya di antar sopir ya” ucap Lisha mengijinkan.


Ara pun bersorak bahagia diperbolehkan. Lisha segera mengambil berkas yang dibutuhkan suaminya dan Ara kembali ke kamar untuk ganti baju. Selesai ganti baju Ara berangkat dengan berkas ditangannya di antar sopir menuju kantor Fino.


...****...


Sesampainya di perusahaan sopir pribadi Lisha mengantarkan Ara sampai depan ruang kerja Fino, itu semua atas perintah Lisha sendiri. Setelah sampai di depan ruang kerja Fino sopir tadi pun pamit pada Ara dan menunggu Ara di lobby saja ucapnya.


Ara mengetuk pintu beberapa kali lalu masuk dan seperti kata Lisha tadi bahwa tidak ada orang diruangan ini karna Fino sedang ada rapat. Jadi Ara memutuskan duduk disofa menunggu kedatangan Fino sembari menatap ruang kerja Fino yang nyaman dengan desain interior yang memukau bagi Ara.


Ara bangkit mengelilingi ruangan itu sampai ia berhenti tepat di meja kerja Fino. Ara menatap bingkai foto pernikahan Fino dan Lisha, Ara tersenyum menatap foto itu.


Sampai mata Ara mengarah pada laci yang sedikit terbuka, tangan Ara meraih laci itu dan membukanya perlahan. Ara menghentikan niatnya yang ingin menarik laci itu lalu menutupnya.


“Gak papakan kalo aku buka. Lagian aku kog jadi kepo sama isinya sih. Maafin Ara ya kak, Ara lagi kepo ijin buka laci kak ya. Iya dek buka aja” ucap Ara sambil tertawa pelan.


Ara membuka laci perlahan dan hati-hati layaknya seorang maling yang takut ketahuan mencuri. Saat laci terbuka Ara menatap kotak perhiasan yang tersimpan rapi disana. Ara menatap kagum kotak perhiasan yang kini ditangannya.


‘Wah pasti ini kalung cantik untuk kak Lisha. Bolehkan kalo aku buka sekarang lagian aku juga gak akan bilang-bilang hihihi’ gumam Ara dalam hati sambil tertawa kecil.


Ara menutup laci dan duduk bersandar di kursi kebanggaan Fino, masih dengan kotak perhiasan ditangannya.


“Ah berasa sedang mencuri saja” ucap Ara.


“Baik mari kita lihat” sambung Ara menarik kursi merapatkan dirinya pada meja.


Ara menaruh kota perhiasan itu di atas meja dan perlahan membukanya.


Deg


Ara bangkit berdiri menatap kalung liontin itu dengan wajah terkejut, tubuhnya menegang seketika melihat kaling itu. Suara Alex seakan menggema dalam pendengarannya saat itu juga.


“Oh kalung ini di buat khusus dan hanya dimiliki keluarga besar kakak. Semua keluarga kakak memilikinya termasuk adik kakak”


“Ba-bagaimana bisa kalung ini ada pada kak Fino?” ucap Ara terbata.


“Mama” ucap Ara seketika.


Kira-kira kenapa Ara jadi teringat mamanya ya? Ada apa dengan mamanya dan kalung liontin itu? Terus ikuti kelanjutan ceritanya ya man teman🤗


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥