
“Ra tumben banget kamu ngajak ketemu pas hari libur gini” tanya Letha.
“Gak suka?” kata Ara menatap Letha.
“Bukan gitu Ara ku sayang” jawab Letha mencubit kedua pipi Ara.
“Sakit Letha” kesal Ara memukul tangan Letha.
Ara tambah kesal melihat cengiran khas milik Letha.
“Letha” panggil Ara beberapa menit kemudian.
“Ada apa ra?” tanya Letha.
“Bantu cariin kerjaan dong buat aku” kata Ara to the point membuat Letha tersedak ludahnya sendiri.
“Ih Lethaaa seriusan” kesal Ara melihat respon Letha.
“Mo kerja apa sih Ara sayang?” tanya Letha.
“Pelayan cafe juga bisa, yang penting pagi bisa sekolah” enteng Ara.
Ara mendongak melihat dua pelayan berjalan kearah mejanya. Ara bertepuk ria dengan mata berbinar melihat pesanannya sudah datang dan tersaji didepannya.
Letha terkekeh geli melihat tingkah Ara yang sekarang, yang kadang cuek, kayak anak kecil, polos dan masih banyak lagi ekspresi wajah yang ia lihat dari Ara.
Ia sedikit lega Ara mulai mau berbaur dengan orang lain terutama dirinya.
Ting
^^^*Pria Misterius**🧐*^^^
^^^Selamat makan malaikat kecilku👐🏻^^^
Ara mengenyit melihat isi pesan yang menandakan sang pengirim sedang berada disekitaranya. Ia menoleh menatap sekeliling cafe yang tidak menunjukkan tanda mencurigakan.
“Bodo amat lah” gumam Ara cuek.
“Ada apa ra?” tanya Letha.
“Enggak ada udah ah makan dulu kayaknya enak banget”
Ara melahap dua porsi roti maryam dengan toping coklat dan parutan keju terlebih dahulu tanpa menawarkan Letha atau sekedar mengucapkan kalimat basa basi.
“Hati hati ra keselek tau rasa” ucap Letha menikmati pesanannya tanpa memperdulikan Ara yang melirik tajam kearahnya.
“Btw ra kamu yakin mau kerja?” tanya Letha dengan wajah serius.
“Hmmm” gumam Ara masih fokus melahap makanannya.
“Aku juga serius Aletha Lutfiana Wijaya” tekan Ara.
“Oh my god Ara kamu hafal naman panjangku aaaaaa. Aku seneng banget” heboh Letha.
Ara memutar bola matanya malas saat Letha mulai dengan kehebohannya.
“Letha” kesal Ara memperingatkan temannya yang mulai gila itu.
“Ok ok ok aku bakal cariin buat kamu dan aku jamin besok sepulang sekolah kamu bisa langsung kerja. Nanti aku akan bilang sama kakakku. Sepertinya cafe terkenal dekat sini sedang membutuhkan karyawan baru. Okay” kata Letha tersenyum penuh arti.
“Hmmm”
Mereka pun meneruskan acara makan yang tertunda karna obrolan tadi. Tanpa Ara sadari Letha sudah menyusun semua dengan sangat rapi, agar saat bekerja nanti ia tidak merasa curiga padanya.
...****...
Sepulang dari cafe Ara menyempatkan diri mampir ke panti asuhan ‘Kasih Ibu’ dekat apartementnya.
Dari jauh ia melihat banyak anak kecil berlari kesana kemari,m bermain bersama. Garis bibir Ara melengkung ke atas melihatnya.
Sudah hampir dua minggu ia tidak berkunjung ke sini dan sekarang ia datang dengan dua kantong ditangan kanan dan kiri berisi martabak yang ia pesan tadi.
“Kak Ara” teriak anak panti bersamaan.
Mereka berlari mendekati Ara, terlihat binar bahagia dimata mereka saat melihat Ara yang kini mengunjungi mereka.
“Noval kira kak Ara gak mau dateng lagi kesini ninggalin kita semua” ucap Noval bocah berumur 8 tahun itu.
“Iya Putri sedih banget kak Ara gak kesini lama banget. Kak Ara janji ya gak tinggalin kita” kata bocah bernama Putri yang berumur 6 tahun.
“Maafin kak Ara ya adik adik. Kakak sibuk sekolah jadi lama gak kesini. Tapikan kak Ara dah disini jadi jangan sedih lagi ok” kata Ara.
“Oiya kakak bawa sesuatu nihh kita masuk yuk kita makan bareng bareng di dalam. Yuk yuk” ajak Ara mengajak anak panti masuk ke rumah.
Dari dalam keluar wanita paruh baya, bu Wiwik pengurus panti ini. Bu Wiwik tersenyum melihat kedatangan Ara, gadis cantik yang ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.
“Nak Ara kamu datang nak” ucap bu Wiwik memeluk Ara.
“Iya bu. Maaf ya Ara kemarin kemarin sibuk banget sampek gak kesini dan gak ngabarin ibu” kata Ara merasa bersalah.
“Enggak apa apa nak, melihat kamu yang sehat seperti ini udah buat ibu tenang. Yaudah kita masuk yuk” ajak ibu Wiwik pada Ara dan anak panti lainnya.
Ara berjalan ke dapur menyiapkan piring kecil dan mulai membagi rata martabak yang ia bawa pada anak panti, bu Wiwik dan dirinya.
Mereka makan bersama di meja panjang yang sudah tersedia. Canda tawa memenuhi ruang makan panti. Disinilah Ara merasakan ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan sesungguhnya. Ia merasa disinilah seharusnya ia berada.
🔥🔥🔥🔥