
Kini Alex, Riko, Fino dan Tony sudah sampai di lokasi kejadian dimana tuan Felix melakukan aksi bunuh diri. Fino menatap datar arus sungai yang sangat deras di bawah jembatan itu. Ia merasa kalau ini hanya rekayasa papa nya.
‘Enggak mungkin hanya masalah seperti ini papa milih untuk bunuh diri. Seperti nya papa udah rencanain ini agar semua orang percaya kalau dia udah mati. Astaga papa, kenapa gak tobat juga sih pa’ batin Fino.
Sebuah tepukkan di bahu membuat Fino menoleh ke samping, Riko tersenyum getir saat Fino menatapnya.
“Apa kau yakin dengan aksi bunuh diri papamu Fin?” tanya Riko saat merasa ganjal dengan kejadian ini.
Fino hanya bisa menghela nafas mendengar pertanyaan sahabatnya itu, tentunya ia tidak mudah percaya karena Fino paham betul bagaimana papa nya itu.
“Kali ini kita harus percaya agar bisa menangkap pria itu” geram Fino memgepalkan kedua tangannya.
“Ya kau benar kita ikuti saja permainan ini” desis Riko melirik tajam sungai yang mengalir deras itu.
‘Kali ini aku akan pastikan pria tua itu tertangkap. Tidak akan aku biarkan ia menyakiti Ara lebih dari sebelumnya’ batin Riko.
“Pria tua itu cukup pintar memarik perhatian bukan?” ucap Alex yang sudah berdiri di belakang Fino dan Riko.
“Dan sayangnya pria tua itu papaku” desis Fino meraup wajahnya kasar.
Fino sudah cukup frustasi dengan kejadian ini. Alex yang melihat wajah frustasi Fino hanya bisa menepuk bahu pria itu.
“Tony biarkan awak media meliput berita ini” perintah Alex.
“Baik tuan” jawab Tony berlalu pergi.
“Tapi Lex bukannya nanti Ara akan tau?” tanya Riko.
Tadi saat mereka pergi hanya Lisha yang tau dan mereka memutuskan untuk merahasiakan ini semua dari Ara. Tapi entah apa yang di pikirkan Alex saat ini.
“Biarkan Ara tau, dengan begini pria tua itu akan merasa bahagia kalau rencananya berjalan sesuai yang dia inginkan yaitu kita mempercayai kematiannya” ucap Alex menyeringai.
“Pasang wajah sedih kalian, terutama kamu Fin agar kita bisa menangkap pria tua itu” sambung Alex menatap Fino yang menampilkan seringai tajam.
“Semoga kali ini berhasil” gumam Riko.
Mereka pun memutuskan untuk segera pulang dan membiarkan Tony yang mengurusnya.
...****...
Di dalam kamar Ara baru saja tertidur karna lelah menangis di temani Letha yang masih setia duduk di samping Ara. Letha mengusap lembut rambut sahabatnya.
“Kasian banget sih Ra kamu, semoga masalah ini cepat terselesaikan” doa Letha.
Letha tau bagaimana perasaan Ara saat ini, Ara pasti sangat tertekan saat ini. Letha menghela nafas lalu beranjak keluar membiarkan Ara istirahat.
Letha menutup pintu kamar Ara dengan sangat pelan, ia takut Ara akan terbangun jika menimbulkan suara. Setelah itu Letha kembali ke ruang keluarga dan hanya ada Lisha yang termenung sambil mengusap perut buncitnya.
“Kak Lisha kok sendirian yang lain pada kemana?” tanya Letha sambil celingukan.
Lisha menghela nafas sejenak lalu menatap Letha yang kini duduk di sampingnya. Tak lama Lisha langsung memeluk Letha dengan derai air mata.
“Tadi polisi telpon dan bilang kalo papa Felix terjun dari jembatan. Apa papa Felix akan selamat? Kasian mas Fino” tangis Lisha.
Letha yang mendengar penjelasan dari Lisha pun terkejut. Letha membalas pelukan Lisha mencoba menenangkan si bumil yang masih saja menangis.
“Kak Lisha jangan nangis terus dong kasian dedek nya” ucap Letha lembut.
Lisha melepas pelukannya pada Letha, lalu mengusap perutnya diikuti oleh Letha.
“Mama jangan nangis lagi ya, kakek pasti baik-baik aja” ucap Letha menirukan suara anak kecil membuat Lisha tersenyum.
“Kenapa masalahnya jadi serumit ini?” gumam Lisha sambil sesekali menghela nafas.
“Sudahlah kak, kak Lisha jangan terlalu mikirin masalah ini. Kasian dedeknya biar kak Alex sama yang lain aja yang mikirin” ucap Letha.
“Iya, makasih ya Tha” ucap Lisha.
“Mendingan kakak sekarang istirahat aja dulu ya” ucap Letha.
Letha pun membantu Lisha menuju kamar untuk istirahat. Letha juga membantu si bumil berbaring baru ia keluar dari kamar.
Letha memilih berdiam diri di ruang keluarga sambil sesekali melihat ponsel di tangannya. Tak lama kemudian terdengar suara mobil membuat Letha berlari kecil menuju pintu utama.
“Pasti mereka sudah pulang” gumam Letha.
Dan benar saja saat Letha membuka pintu Alex, Fino dan Riko baru saja keluar dari mobil. Riko berjalan lebih dulu melewati Letha begitu saja yang berdiri di ambang pintu tanpa menyapanya.
“Ck dasar bucin” desis Letha saat tau kemana Riko melangkah, yang pasti ke kamar Ara.
Begitu pula dengan Fino yang langsung menuju kamar nya dimana sang istri sedang istirahat dengan raut wajah lelahnya.
“Ck ck ck mereka berdua memang sedang bucin. Lihat saja nanti kalo aku dah punya pasangan sendiri. Dasar bucin” decak Letha kesal saat Riko dan Fino melewatinya begitu saja.
Alex yang sudah berdiri di belakang Letha tersenyum kecil mendengar umpatan kesal dari gadis kecilnya.
“Jangan mengumpat nanti cantiknya hilang” ucap Alex mengejutkan Letha.
Letha berbalik menatap Alex yang sudah berdiri di depannya dengan senyum manis yang hanya Alex tunjukkan pada Letha dan Ara.
Seketika Letha merasa gugup dan salah tingkah saat Alex menatapnya lekat. Alex menahan tawa saat melihat Letha yang gugup dan salah tingkah. Alex langsung menarik Letha dalam dekapannya.
Letha hanya diam dalam dekapan Alex, ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat seperti habis lari maraton saja.
“Balas pelukanku Tha” ucap Alex pada Letha yang masih saja diam.
Perlahan Letha membalas pelukan Alex dan mulai menikmati hangat pelukkan mereka. Alex bahagia saat Letha merasa nyaman dalam pelukannya.
Alex sedikit merenggangkan pelukkannya dan menatap wajah Letha yang memerah karna malu. Alex pun memberanikan diri untuk mencium lembut kening Letha.
Letha yang mendapat perlakuan lembut dari Alex hanya bisa memejamkan mata dan berharap saat ia kembali membuka mata ini semua bukan mimpi.
Alex menangkup wajah cantik Letha dan kini keduanya saling menatap satu sama lain.
‘Apa ini waktu yang tepat untukku mengungkapkan perasaanku pada Letha? Tapi kalau tidak sekarang kapan lagi? Aku tidak ingin keduluan siapa pun’ batin Alex.
“Letha, kakak tau mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kakak mengungkapkan perasaan kakak. Tapi kakak gak mau mengundur waktu lagi. Kamu harus tau, entah sejak kapan rasa ini hadir, tapi yang pasti kakak takut kehilangan kamu, sedih saat melihat kamu menangis, dan bahagia saat melihat kamu tersenyum dan tertawa. Kakak ingin membahagiakan kamu bukan sebagai seorang adik, tapi sebagai wanita yang kakak cintai. Maaf jika kakak tidak bisa seromantis pria yang lain. Jadi ...” ucap Alex menggantung sambil menatap lembut Letha.
Alex lalu mengambil sesuatu dari saku celananya dan memperlihatkan sebuah kotak merah berisikan cincin cantik pada Letha. Cincin yang selama ini Letha inginkan, tapi sayang waktu itu ia tidak membawa dompet dan saat ia kembali untuk membelinya cincin itu sudah terjual dan hanya ada satu.
“Aletha Lutfiana Wijaya mau kah kau menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku nantinya” sambung Alex dalam satu tarikan nafas.
Halo semua akhirnya setelah selesai dengan segala kesibukan, hari ini author bisa up lagi. Maaf membuat kalian menunggu. Yang dari kemarin nunggu bang Riko dan bang Alex nih author kasih special buat kalian🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, like komen dan vote🔥🔥🔥🔥